• Embed Doc
  • Readcast
  • Collections
  • 1
    CommentGo Back
 
BRIMOB RANGERS WAR-6KERJASAMA BEBERAPA SATUAN TEMPUR DENGAN BRIMOB DANMANTAN RANGERS DALAM ROTASI XI TIMOR TIMUR, 1984-1985Anton A Setyawan, SE,MSiDosen Fak Ekonomi UMS dan Mahasiswa Program Doktor Ilmu Manajemen UGMe-mail:anton_agus@ums.ac.id ataurmb_anton@yahoo.com 
*Tulisan ini muncul sebagai respon atas mulai adanya komentar negative tentangdiskusi tentang Brimob dan Menpor dalam beberapa blog milik Brimob maupun websiteTNI.* Tulisan ini adalah bagian dari riset saya yang akan menjadi salah satu bab dalam buku “Resimen Pelopor, Pasukan Elite Yang Terlupakan”.* Tulisan ini berdasarkan wawancara dengan beberapa mantan anggota BrimobPolda DKI, Batalyon Infanteri 406, Marinir dan Kopassus yang pernah berdinas di KabViqueque Timor Timur dan juga penggalian pustaka yang berasal dari Dephan,International Crisis Group dan Jurnal Pertahanan Tlava.Operasi Seroja yang dilaksanakan pada akhir 1975 adalah operasi gabunganterbesar yang pertama kali dilakukan pada masa Orde Baru. Operasi ini pada awalnyamelibatkan satuan-satuan dari Batalyon 502 Raiders Kostrad, Kopassgat (sekarangPaskhas TNI AU dan Kopassandha (sekarang Kopassus) lewat penerjunan. Sementara,Batalyon 403 Raider dan Brigade 1 Infanteri Marinir melakukan pendaratan ampibidengan LST (Angkasa online). Pasukan Brimob dan sisa Resimen Pelopor mengambil bagian dalam operasi ini, namun dalam beberapa dokumen disebutkan tentang beberapakejadian yang memojokkan reputasi Resimen Pelopor yang waktu itu sebenarnya sudahdibubarkan.Operasi militer dengan kode Seroja selesai pada tahun 1979, pada saat itu hampir seluruh wilayah Timor Timur sudah dikuasai. Gerilyawan Fretelin masih bertahan diTimor-Timur Bagian Timur di sekitar wilayah Baucau ke Timur. Wilayah KabupatenViqueque terletak di Timor Timur Bagian Timur dan markas Xanana Gusmao beserta pasukannya ada di wilayah ini, yaitu di Gunung Matabea. Mereka yang pernah bertugasdi wilayah ini hampir pasti pernah diserang oleh gerombolan Fretelin.Pada tahun 1984, operasi Kikis digelar oleh ABRI. Polri menggunakan kode sandiRotasi XI terkait dengan operasi ini. Salah satu wilayah yang dianggap berbahaya di KabViqueque adalah Kecamatan Vatu Carbau. Di kecamatan ini pada pertengahan 1984, ada beberapa pasukan yang mempunyai pos penjagaan, yaitu Batalyon Infanteri 406 dariKodam IV Diponegor, satu kompi yang berasal dari Brigade 1 Marinir pimpinan Kapten(Mar) Kinkin Soeroso (saat ini menjabat sebagai Danpuspom AL dengan pangkatKolonel) dan beberapa orang anggota Intel AD yang berasal dari Kopassus. Mapolsek Vatu Carbau dipimpin oleh Letda (Pol) Kartimin mantan anggota Menpor yang berangkatke Timor Timur sebagai Kapolsek. Pada masa penugasan di Timor Timur beliau sudahlama bertugas di jajaran Reserse Polwil Surakarta. Terakhir kali mengalami pertempuranadalah pada tahun 1964-1965 yaitu pada masa pengejaran Kahar Muzakar di SulawesiSelatan.Pada tahun 1984 berdasarkan dokumen dari Tlava edisi Oktober 2008, pada
 
dekade 1980-1990 di Timor Timur kekuatan Fretilin sekitar 1.350 personel dengansenjata G-3, SKS,SP, M-16,AR-15 dan FNC. Pasukan Falintil yang bermarkas di GunungMatabean sekitar 300 orang. Peran Brimob dalam pengamanan kawasan Vatu Carbauadalah sebagai anggota Polsek Vatu Carbau. Mereka berasal dari Polda DKI, Jawa Timur dan Kalimantan Timur. Satu-satunya yang bukan berasal dari Brimob, meskipun pernah berdinas di Brimob adalah kapolsek Letda (Pol) Kartimin. Berdasarkan keterangan darianggota Batalyon Infanteri 406 dan Batalyon Infanteri 413, pada saat melakukan patrolitempur gabungan maka tidak ada perbedaan apakah anggota Polri/Brimob atau satuantempur lain semua mendapatkan jatah patroli yang sama. Hal ini juga dikonfirmasi olehsatuan intel Kopassus dan Marinir, yang dipimpin oleh Kapten (mar) Kinkin Soeroso.Pada masa itu tidak ada perbedaan seragam antara TNI dengan Polri pada saat berada di daerah operasi tempur. PDH dari TNI dan Polri adalah seragam hijau tua,dengan pet rimba atau helm tempur (model helm sekutu pada PD II) yang membedakanadalah badge satuan. Tanda pangkat tidak pernah dipasang oleh anggota TNI/Polri yang berdinas di Timor Timur karena hanya mengundang tembakan sniper (khususnya perwira). Berdasarkan seragam yang sama ini, Falintil tidak memilih korban dalam aksi penembakan atau penyergapan apakah itu Brimob atau TNI atau bahkan Polri nonBrimob. Senjata yang dipergunakan oleh tiap satuan juga beragam, sebagian besar  batalyon infanteri AD bersenjatakan M 16, prajurit Marinir menggunakan AK 47sedangkan Brimob Polda DKI bersenjatakan AK 47, Brimob Polda Kaltim dengan senjataM 16 sedangkan anggota Polri dari Polda Jateng membawa senjata SKS atau seringdisebut Cung.Kejadian yang cukup dramatis pada penugasan di dalam Rotas XI tahun 1984adalah pada saat satu peleton gabungan yang terdiri dari unsur Batalyon Infanteri 406 danempat anggota Brimob yang dikepung 80 orang anggota Falintil di Batata. Pengepungandilakukan mulai jam 19.00 sampai dengan subuh. Satu peleton pasukan tersebut bertahandari hujan tembakan yang berlangsung semalam suntuk dan balasan hanya dilakukan daridalam pos pertahanan. Prajurit AD dan Polri mampu bertahan semalam tanpa bantuan.Mengapa tidak ada bantuan? Pada jam 19.45 satuan intel Kopassus sudah mendapatkan berita tentang pertempuran di Batata, namun tidak mungkin mengirim bantuan karenawilayah terlalu berat dan beresiko bergerak di malam hari dengan pasukan besar.Komandan pasukan di Vatu Carbau, yaitu Kapten (Mar) Kinkin Soeroso memutuskanuntuk mengirimkan pasukan bantuan yang akan beliau pimpin sendiri menjelang fajar  besok.Keesokan paginya, Kapten (Mar) Kinkin Soeroso, Letda (Pol) Kartimin, beserta150 pasukan gabungan yang terdiri dari Kopassus, Marinir, pasukan dari Batalyon 406dan Polri/Brimob berangkat menuju Batata. Para perwira mengendarai kuda karena jalanyang dilalui adalah padang ilalang dan jalan setapak. Butuh waktu satu hari penuh untuk mncapai Batata dengan medan yang sangat sulit. Dalam operasi inilah nampak tidak ada perbedaan antara TNI dan Polri karena yang bertugas sebagai
 point man
(prajurit)terdepan diundi tanpa membedakan berasal dari satuan apa. Sekitar 2 kilometer dariBatata terdengar tembakan sporadis yang mengarah ke pasukan bantuan. Komandan pasukan segera memerintahkan mengejar penembak gelap, namun tidak berhasil karenaternyata di wilayah itu dipenuhi bunker yang sulit dilacak.Akhirnya pasukan bantuan sampai di Batata dan menemukan bahwa seluruhanggota peleton gabungan selamat, meskipun hampir kehabisan amunisi karena melayani
of 00

Leave a Comment

You must be to leave a comment.
Submit
Characters: ...
You must be to leave a comment.
Submit
Characters: ...