sebuah formula yang lebih mendekati warisan dan tradisi yang telah diajarkan RasulullahSAW dan diikuti para shahabatnya yang telah membuktikan keunggulannya. Inilah salahsatu jalan selamat dan akan mendekatkan mereka menuju puncak kegemilangannya dimasa depan.Setelah mengalami masa kegemilangan dan kemun-duran silih berganti selamabeberapa abad dengan dinamika intelektualitasnya, para cendikiawan Muslim, yangterutama diantara mereka seperti Iqbal, Sayyid Hoseyn Nashr, Syed Naquib al-Attas, IsmailFaruqi dan Fazlur Rahman, membagi sistem pendidikan kaum Muslimin masa kini berjadibeberapa bentuk umum. yaitu :1. Sistem Pendidikan Tradisional2. Sistem Pendidikan Sekuler3. Sistem Pendidikan Gabungan Tradisional dan Sekuler4. Sistem Pendidikan Islamisasi Pengetahuan
Kristalisasi ini terjadi tidak terlepas dari latar belakang historis yang dialami kaumMuslimin dari awal kebangkitan Islam sampai terjadinya penjajahan Barat atas mereka.Berawal dari pergolakan-pergolakan politik dan pemikiran beberapa tahun setelahwafatnya Rasulullah saw, khususnya pada masa Khalifah Ali RA yang melahirkanbeberapa aliran pemikiran besar seperti Syi’ah, Sunni, Khawarij, Murjiah dan lainnya yangakhirnya melahirkan cabang-cabang pemikiran baru lagi. Aliran-aliran ini kemudianmembentuk sistem dan metode intelektual mereka sendiri-sendiri yang tidak ada titik temusatu dengan lainnya, bahkan tumbuh semacam fanatisme mazhab yang memakan korbanbesar di kalangan kaum Muslimin sendiri. Demikian pula halnya dengan interaksi-interaksimereka dengan peradaban-peradaban besar seperti peradaban Yunani, Romawi, Persia,Mesir dan lainnya yang telah melahirkan mazhab filsafat-rasional yang menjadi polemikpanjang sejarah intelektual kaum Muslimin. Pertentangan-pertentangan pemikiran yangkurang sehat di antara para ulama konservatif dan cendikiawan reformer yang melibatkanrezim-rezim penguasa diktator yang kurang berpengetahuan sehingga memihak satu alirandan melarang aliran lainnya, sangat mempengaruhi perkembangan intelektualitas kaumMuslimin dan metodologinya. Demikian pula halnya ketika ditutupnya pintu ijtihad sertatumbuhnya semangat taqlid sangat merugikan ummah dengan hilangnya pemikir-pemikirkreatif ummah. Akibat perdebatan panjang antara tokoh-tokoh mazhab yang tak kunjungberakhir, dan dominasi aliran tashawwuf al-Ghazaly yang sangat luas, ummah menolakaliran-aliran filsafat-rasional dengan segala keutamaannya secara membabi buta. Danakhirnya sampai abad pertengahan hijriah, mazhab tashawwuf sangat dominan dan sangatmempengaruhi metode intelektual kaum Muslimin, di samping mazhab fiqh dan kalam.Demikian pula halnya ketika penjajah-penjajah kafir Barat datang merobek-robekkepribadian dan metode intelektual kaum Muslimin dengan menyebarkan fahamSekulerisme melalui peradaban yang dibawanya dan menjadi dasar rujukan dalam segala
3
Untuk masalah ini lihat misalnya : K.G. Saiyidain,
Iqbal’s Educational Philosophy
(Lahore: Sh. Muhammad Ashraf,1942).Prof. Fazlur Rahman,
Islam and Modernity, Transformation of an Intellectual Tradition,
(Chicago : The Univ. Press,1982) khususnya bab II. Dr. Ismail R. Faruqi,
Islamization of Knowledge, General Principles and Workplan,
(Virginia : IIIT,1982) hlm. 5. Prof. Syed M.Naquib al-Attas,
The Concept of Education in Islam,
(Kuala Lumpur : ABIM , 1980) dan karyabeliau yang lain,
Islam and Philosophy of Science,
(Kuala Lumpur : ISTAC, 1989) dan juga
Islam and Secularism,
(KualaLumpur : ABIM, 1980). Prof. S.H. Nashr,
An Introduction to Islamic Cosmological Doctrines,
(London : Thames and Hudson,1978). Dr. Wan Mohd. Nor Wan Daud,
The Beacon on The Crest of A Hill,
(Kuala Lumpur : ISTAC, 1991).