Perdebatan dalam persidangan MPR/DPR pasca reformasi akan mengingatkanorang pada perdebatan Konstituante di zaman Orde Lama, di mana hal seperti ini tidakpernah terjadi pada Orde Baru. Demikian pula materi perdebatan disekitar tuntutanpembentukan masyarakat Indonesia baru yang berdasarkan Islam sebagaimanadiserukan fraksi PPP dan PBB. Atau rencana perubahan bentuk negara kesatuanmenjadi negara federal, bahkan lebih jauh dasar negara Pancasila yang selama inidisakralkan kini dituding sebagi penyebab disintegrasi bangsa akibat kekaburanpengertiannya. Dan Indonesia benar-benar sedang mengalami perubahan demiperubahan menuju Indonesia Baru yang belum jelas bentuknya seperti apa. Makasebagai kelompok mayoritas di negeri ini, kaum muslimin harus tampil ke depanmemberikan konsep pemikiran tentang Indonesia baru sesuai dengan ajaran agamanya.Disinilah diperlukan tampilnya para pembaru Islam yang akan mengoreksi pemikiranpendahulunya dan sekaligus mengembangkan pemikiran baru yang sesuai dengantuntutan reformasi.Tulisan ini terutama tidak bertujuan untuk mengemukakan paradigmapembaruan Islam secara mendetil, namun sebatas analisa awal yang mengemukakanpentingnya sebuah pengembangan paradigma baru pasca reformasi berdasarkanbeberapa fakta yang ditemukan. Terutama analisa terhadap paradigma pemikiran yangberkembang selama pemerintahan rezim Orde Baru yang telah melahirkan beberapabentuk gerakan pembaruan Islam, baik yang berhaluan modernis ataupunfundamentalis. Dengan adanya analisa awal ini diharapkan tampilnya paracendekiawan yang akan mengembangkan sebuah paradigma baru dalam pembaruanIslam di Indonesia yang bercita-cita untuk mengantarkan menuju Indonesia baru.Namun paradigma yang dikembangkan diharapkan bukan sebuah duplikat dariparadigma pemikiran sebelumnya.
Memahami Makna Pembaruan Islam
Kata pembaruan Islam seringkali menimbulkan kontraversi dankesalahfahaman, khususnya di kalangan kaum tradisionalis dan konservatif yang inginmempertahankan pemahaman dan penafsiran generasi Islam terdahulu, terutamamereka yang telah memutlakkan kebenaran dari pemikiran para generasi Islamterdahulu dan telah menutup pintu ijtihad kepada generasi sesudahnya. Karenamenurut mereka pembaruan berarti meninggalkan segala khazanah pemikiran klasikIslam yang kaya raya dan kembali hanya kepada al-Qur’an dan al-Sunnah sajasebagaimana diserukan kalangan modernis Islam. Namun makna pembaruan tidakselamanya tepat jika hanya diartikan kembali kepada al-Qur’an dan al-Sunnah ansich,karena realitasnya mereka yang menyerukan pembaruan juga menggunakan khazanahpemikiran Islam klasik terdahulu, seperti pemikiran Ibn. Thaimiyah, Ibn. Qayyim, Abd.Wahhab maupun Abduh dan lainya.Fazlur Rahman telah membagi pembaruan Islam menjadi beberapa priode,diawali dengan priode
revivalisme pramodernis, modernisme klasik, neo-revivalisme
dan
neo-modernisme.
Gerakan revivalisme pramodernis berakan pada seruan pembaruan yang