Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
0Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
6 Leo Adhar Effendi

6 Leo Adhar Effendi

Ratings: (0)|Views: 1 |Likes:
Published by Katie Greene

More info:

Published by: Katie Greene on Feb 25, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

02/25/2013

pdf

text

original

 
PEMBELAJARAN MATEMATIKA DENGAN METODE PENEMUANTERBIMBING UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN REPRESENTASIDAN PEMECAHAN MASALAH MATEMATIS SISWA SMPOleh:Leo Adhar Effendi
Mahasiswa S2 Pendidikan Matematika Sekolah Pascasarjana UPI
Abstrak
:Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan peningkatan kemampuanrepresentasi dan pemecahan masalah matematis antara siswa yang memperoleh pembelajaranmatematika dengan metode penemuan terbimbing dan pembelajaran konvensional. Selain itudiungkap pula interaksi antara pembelajaran dengan kategori kemampuan awal matematis siswa,serta sikap siswa terhadap matematika dan pembelajaran dengan metode penemuan terbimbing.Jenis penelitian ini adalah kuasi eksperimen.Sampeladalah 71siswakelasVIIIyang berasal daridua kelas padasalah satu SMPnegeridi Bandung. Keduakelasdiberikan pretes dan postes.Kelaseksperimen diberikan angket berupa skala sikap siswaterhadap matematika dan pembelajarandengan metode penemuan terbimbing. Hasil penelitianmenunjukan bahwa kemampuankemampuan representasi dan pemecahan masalah matematiskelaseksperimen lebih baik daripadakelaskontrol.Terdapat interaksi yang signifikan antarapembelajaran dengan kategori kemampuanawal matematis siswa.Siswa memiliki sikappositif terhadap matematika dan pembelajaran denganmetode penemuan terbimbing.
Kata kunci
:Metode penemuan terbimbing, kemampuan representasi matematis, kemampuanpemecahan masalah matematisAbstract: This study aimed to determine differences in the ability of representation andmathematical problem solving among students receiving mathematics learning with guideddiscovery method and conventional learning. In addition it also revealed the interaction betweenlearning the mathematical category of initial ability students, and students' attitudes toward mathand learning with guided discovery method. The study was quasi-experimental. Samples were 71students eighth grade from two classes at one junior high school in Bandung. Both classes aregiven the pretest and posttest. Class-scale experiment in the form of a questionnaire given students'attitudes toward math and learning with guided discovery method. The results showed that theability of problem-solving skills and mathematical representation of theexperimental class wasbetter than the control class. There is a significant interaction between the learning ability of earlymathematical category student.Student have a positive attitude toward math and learning withguided discovery method.Keywords:method of guided discovery, the ability of mathematical representation, mathematicalproblem solving ability
PENDAHULUAN
Dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) dinyatakan bahwa matapelajaran matematika perlu diberikan kepada semua peserta didik mulai dari sekolahdasar untuk membekali peserta didik kemampuan berpikir logis, analitis, sistematis,kritis, dan kreatif, serta kemampuan bekerjasama(Depdiknas, 2006). Adapun tujuan matapelajaran matematika untuk semua jenjang pendidikan dasar dan menengah adalah agarsiswa mampu:(1)Memahami konsep matematika, menjelaskan keterkaitan antarkonsep,dan mengaplikasikan konsep atau algoritma secara luwes, akurat, efisien, dan tepat dalam
 
pemecahan masalah, (2)Menggunakan penalaran pada pola dan sifat, melakukanmanipulasi matematika dalam membuat generalisasi, menyusun bukti, atau menjelaskangagasan dan pernyataan matematika; (3)Memecahkan masalah yang meliputikemampuan memahami masalah, merancang model matematika, menyelesaikan model,dan menafsirkan solusi yang diperoleh; (4)Mengkomunikasikan gagasan dengan simbol,tabel, diagram, atau media lain untuk memperjelas keadaan atau masalah; dan (5)Memiliki sikap menghargai kegunaan matematika dalam kehidupan, yaitu rasa ingin tahu,perhatian, dan minat dalam mempelajari matematika, sertasikap ulet dan percaya diridalam pemecahan masalah (Depdiknas, 2006).Demikian pula tujuan yang diharapkan dalam pembelajaran matematika oleh
 National Council of Teachers of Mathematics
(NCTM). NCTM (2000) menetapkan limastandar kemampuan matematis yangharus dimiliki oleh siswa,yaitukemampuanpemecahan masalah (
 problem solving
), kemampuan komunikasi (
communication
),kemampuan koneksi (
connection
), kemampuan penalaran (
reasoning
), dan kemampuanrepresentasi (
representation
).Berdasarkan uraian tersebut, kemampuan representasi dan pemecahan masalahtermuat pada kemampuan standar menurut Depdiknas dan NCTM. Artinya, duakemampuan ini merupakan dua diantara kemampuan yang penting dikembangkan danharus dimiliki oleh siswa.Pentingnya kemampuan representasi matematis dapat dilihat dari standarrepresentasi yang ditetapkan oleh NCTM. NCTM (2000) menetapkan bahwa programpembelajaran dari pra-taman kanak-kanak sampai kelas 12 harus memungkinkan siswauntuk: (1) menciptakan dan menggunakan representasi untuk mengorganisir, mencatat,dan mengkomunikasikan ide-ide matematis; (2) memilih, menerapkan, danmenerjemahkan representasi matematis untuk memecahkan masalah; dan (3)menggunakan representasi untuk memodelkan dan menginterpretasikan fenomena fisik,sosial, dan fenomena matematis.Dengan demikian,kemampuan representasimatematisdiperlukan siswa untuk menemukan dan membuat suatu alat atau cara berpikirdalam mengkomunikasikan gagasan matematisdari yang sifatnya abstrak menujukonkret, sehingga lebih mudah untuk dipahami.Selain kemampuan representasi,kemampuan pemecahan masalah matematissiswa juga penting untuk dikembangkan. Pentingnya pemecahan masalah dikemukakanBranca(1980), iamengemukakan bahwa kemampuan pemecahan masalah adalah jantungnya matematika.Hal ini sejalan dengan NCTM (2000) yang menyatakan bahwa
 
pemecahan masalah merupakan bagian integral dalam pembelajaran matematika,sehingga hal tersebut tidak boleh dilepaskan dari pembelajaran matematika. Selanjutnya,Ruseffendi (2006) juga mengemukakan bahwa kemampuan pemecahan masalah amatpenting dalam matematika, bukan saja bagi mereka yang di kemudian hari akanmendalami atau mempelajari matematika, melainkan juga bagi mereka yang akanmenerapkannya dalam bidang studi lain dan dalam kehidupan sehari-hari.Berdasarkan beberapa pendapat di atas, kemampuan pemecahan masalah harusdimiliki siswa untuk melatih agar terbiasa menghadapi berbagai permasalahan, baik masalah dalam matematika, masalah dalam bidang studi lain ataupun masalah dalamkehidupan sehari-hari yang semakin kompleks. Oleh sebab itu, kemampuan siswa untuk memecahkan masalah matematis perlu terus dilatih sehingga ia dapat memecahkanmasalah yang ia hadapi.Berdasarkanuraiandi atas, maka kemampuanrepresentasi danpemecahanmasalahmerupakan dua kemampuan yang penting dan harus dimiliki siswa. Namun,fakta di lapangan belumlah sesuai dengan apa yang diharapkan.
TrendinInternational MathematicsandScience Study
(TIMSS)sebuah studiyang diselenggarakan oleh
 International Association for theEvaluation of Educational Achievement 
(IEA), pada tahun 2007 menempatkan siswa kelas VIII Indonesia padaperingkat 36 dari 49 negara yang turut berpartisipasi dengan perolehan rerata skor siswayaitu 397, sedangkan rerata skor internasional adalah 500 (Mullis,
et al.,
2008). Skor yangdiperoleh tersebut berada signifikan di bawah rerata skor internasional.Kesimpulan dari laporan studiTIMSStersebut, tidak jauh berbeda dengan hasilsurvei PISA 2009. Prestasibelajarmatematika siswa di Indonesia dari data PISA beradapada peringkat 61 dari 65 negara yang turut berpartisipasi dengan perolehan rerata skor371, sedangkan rerata skor internasional adalah 500(Balitbang, 2011).Kenyataan di lapangan pembelajaran matematika masihcenderung berfokus padabuku teks, masih sering dijumpai guru matematika masih terbiasapada kebiasaanmengajarnya dengan menggunakan langkah-langkah pembelajaran seperti: menyajikanmateri pembelajaran, memberikan contoh-contoh soal dan meminta siswa mengerjakansoal-soal latihan yang terdapat dalam buku teks yang mereka gunakan dalam mengajardan kemudian membahasnya bersama siswa.Hal ini sesuai hasil temuan Wahyudin (1999)yaitu sebagian besar siswa tampak mengikuti dengan baik setiap penjelasan atauinformasi dari guru, siswa sangat jarang mengajukan pertanyaan pada guru sehingga guruasyik sendiri menjelaskan apa yang telah disiapkannya, berati siswa hanya menerima saja

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->