• Embed Doc
  • Readcast
  • Collections
  • CommentGo Back
 
Keaslian dan Keterpaduan dalam Pengelolaan WarisanBudaya Bawah Air
(Studi Kasus Situs Arkeologi Bawah Air Moko, Bau-Bau)
Oleh. Yadi Mulyadi
1
ABSTRAK 
Permasalahan keaslian dan keterpaduan dalam konteks pelestarianwarisan budaya, terutama dalam kerangka teori arkeologi merupakanhal yang sangat menarik untuk dikaji lebih mendalam terkait dengankajian
cultural resource management 
. Untuk itu pemahaman tentangkonsep dasar arkeologi untuk menunjang pelestarian dan pemanfaatanbenda cagar budaya menjadi hal yang tak terelakan lagi. Hal inilahyang menjadi tanggung jawab kita bersama dalam mewujudkannya.Pelestarian warisan budaya haruslah dilakukan dengan tetap mengikutiperkembangan yang terjadi di masyarakat, sehingga dapat menjadisolusi bersama yang merupakan
win-win solution
. Termasukmencermati dengan arif makna yang tersirat dibalik benda cagarbudaya yang menyimpan ilmu pengetahuan dan teknologi nenekmoyang kita, sehingga kita tidak boleh gegabah dalam melakukanpengelolaan warisan budaya, terlebih pongah dengan sedikit ilmu yangkita miliki.Makna inilah yang secara tidak langsung menginspirasi penulis untukmembuat tulisan singkat tentang pentingnya konsep keaslian danketerpaduan
 
dalam konteks pelestarian warisan budaya, yangdifokuskan pada warisan budaya bawah air, dengan studi kasuswarisan budaya bawah air di situs gua Moko kota Baubau yangmerupakan situs arkeologi bawah air berupa gua yang terendam air,dimana pada kedalaman 28 meter ditemukan tinggalan arkeologiberupa keramik kuno.A. _______ 
dan tidak hanya kapal karam di laut yang menjadi warisan budayabawah air
1. Prolog
Ada satu pertanyaan yang sangat menarik berkaitan denganpelestarian warisan budaya yang juga merupakan sumberdayaarkeologi, yaitu “untuk apa sebuah sumberdaya arkeologi harus
1
 
Staf Pengajar Jurusan Arkeologi Universitas Hasanuddin Makassar, sementaramenempuh pendidikan S2 Arkeologi di Universitas Gadjah Mada Yogyakarta
 
dilestarikan?” Ada banyak pendapat dari para ahli berkaitan denganpertanyaan tersebut, salah satunya Pearson dan Sullivan (1995)menyatakan bahwa sumberdaya arkeologi harus dilestarikan karenamerupakan bukti yang menarik tentang nilai dan kreativitas darimanusia pendukungnya dan juga merupakan bukti yangterdokumentasi tentang pemukiman suatu wilayah atau bagaimanahubungan tempat tersebut dengan dunia luar. Lebih lanjut diamenjelaskan bahwa sebuah sumberdaya arkeologi mempunyai sifatyang langka dan tidak dapat diperbaharui (Pearson and Sullivan, 1995:11 - 12).Ph. Subroto (2003) menyatakan bahwa sebuah benda cagarbudaya merupakan salah satu aset budaya bangsa yang perludilindungi karena nilai–nilai penting yang terkandung didalamnya(Subroto, 2003 : 1). Hari Untoro Drajat menyatakan bahwa bendacagar budaya mempunyai nilai penting walaupun setiap bendatersebut mempunyai nilai yang berbeda (Drajat, 1993: 1). Scovill dkk(1977) berpendapat bahwa rekaman dari sebuah sumberdayaarkeolologis merupakan bahan studi untuk melihat danmenggambarkan serta untuk menjelaskan dan untuk mengerti prilakudan interaksi manusia masa lampau sebagai bagian dari perubahanbudaya dan sistem lingkungan (Scovill dkk, 1977 : 45).Dengan nilai-nilai yang terkandung dalam sumberdaya arkeologitersebut yang sarat dengan makna, maka tentu saja pelestariansumberdaya arkeologi haruslah dilakukan dengan metode dan carakerja yang sistematis dan ilmiah serta berpegang dengan ketat padaprinsip-prinsip yang berlaku. Tapi justru hal inilah yang luput dariperhatian para arkeolog sekarang. Kegiatan pelestarian, termasukpemanfaatan warisan budaya selalu ditinjau dari sudut pandangkekinian, sudut pandang sistem budaya sekarang dan melupakankonteks sistem arkeologi, konteks sistem budaya masa lalu.
 
Dalam konteks pengelolaan warisan budaya bawah air,fenomena seperti ini pun terjadi. Perkembangan kajian arkeologibawah air di Indonesia dipicu peristiwa
The Nanking Cargo
di era -80anyang menyadarkan pemerintah akan besarnya potensi yangterkandung dalam tinggalan arkeologi bawah air khususnya kapalkaram. Dalam salah satu tulisannya, Tanudirjo menyatakan bahwakesadaran yang muncul pada saat itu lebih pada kesadaran akan nilaipenting benda cagar budaya bawah air dari segi nilai jualnya(Tanudirjo, 2006)
.
Pendapat yang serupa diungkapkan oleh Rochmani dalamtulisannya di buletin Cagar Budaya, bahwa nuansa nilai ekonomistinggalan arkeologi bawah air begitu kental, sehingga di Indonesiatinggalan tersebut lebih sering dianggap sebagai harta karun daripadabenda cagar budaya (Rochmani, 2003). Padahal jika kita merujuk padapemahaman yang disepakati oleh para ahli, jelas tinggalan arkeologibawah air adalah benda cagar budaya. Bahkan O’Keefe dan Prott(1984), seperti yang dikutip Tanudirjo (2006) memasukan tinggalanarkeologi bawah air sebagai warisan budaya. Sedangkan dalamKonvensi UNESCO tentang Perlindungan Warisan Budaya Bawah Air,disebutkan bahwa kapal-kapal karam dan tinggalan bawah air lainnyadianggap sebagai benda cagar budaya, dan untuk itu maka UNESCOmelarang eksploitasi komersial terhadap benda cagar budaya bawahair (Tanudirjo, 2006).Lebih jauh, jika kita cermati perkembangan arkeologi bawah airdi Indonesia sampai saat ini, terlihat jelas adanya dominasi
kapalkaram minded.
Baik penelitian maupun yang berkaitan denganpengelolaan tinggalan arkeologi bawah air selalu difokuskan padakapal karam yang tenggelam di laut yang ujung-ujungnya adalah nilaiekonomis dari muatan kapal karam tersebut. Tinggalan arkeologibawah air, yang ditemukan di perairan nusantara cenderungdipandang sebagai harta karun, sehingga dikatagorikan barang
of 00

Leave a Comment

You must be to leave a comment.
Submit
Characters: ...
You must be to leave a comment.
Submit
Characters: ...