Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
1Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
HAMKA

HAMKA

Ratings: (0)|Views: 23 |Likes:
ok
ok

More info:

Categories:Types, Reviews
Published by: Herry Liston Hutapea on Feb 26, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/24/2013

pdf

text

original

 
HAMKA : "Ketika Ulama Tidak Bisa Dibeli"
Ditulis ulang : Muhammad Ilham
(dikutip dari buku ―Mengenang 100 tahun HAMKA‖)
 Surat itu pendek. Ditulis oleh Hamka dan ditujukan pada Menteri Agama RI Letjen. H. Alamsyah Ratuperwiranegara. Tertanggal 21 Mei1981, isinya pemberitahuan bahwa sesuai dengan ucapan yangdisampaikannya pada pertemuan Menteri Agama dengan pimpinan MUIpada 23 April,Hamka telah meletakkan jabatan sebagai Ketua UmumMajeiis Ulama Indonesia (MUI). Buat banyak orang pengunduran diriHamka sebagai Ketua Umum MUI mengagetkan. Timbul bermacamdugaan tentang alasan dan latar belakangnya. Agaknya sadar akankemungkinan percik gelombang yang ditimbulkannya, pemerintah
dalam pernyataannya mengharapkan agar mundurnya Hamka ―
 jangansampai dipergunakan golongan tertentu untuk merusak kesatuan dan persatuan bangsa, apalagi merusak umat lslam sendiri 
.‖
Kenapa Hamka mengundurkan diri? 
Hamka sendiri mengungkapkan pada pers,pengunduran dirinya disebabkan oleh fatwa MUI 7 Maret 1981. Fatwa yang dibuat Komisi Fatwa MUI tersebut pokok isinyamengharapkan umat Islam mengikuti upacara Natal, meskipuntujuannya merayakan dan menghormati Nabi Isa. Menurut K.H.M.Syukri Ghozali, Ketua Komisi Fatwa MUI, fatwa tersebut sebetulnyadibuat untuk menentukan langkah bagi Departemen Agama dalam hal
umat Islam. ―Jadi seharusnya memang tidak perlu bocor keluar,‖
katanya.Fatwa ini kemudian dikirim pada 27 Maret pada pengurus MUI didaerah-daerah. Bagaimanapun, harian Pelita 5 Mei 1981 memuat fatwa
 
tersebut, yang mengutipnya dari Buletin Majelis Ulama no. 3/April 1981.Buletin yang dicetak 300 eksemplar ternyata juga beredar pada mereka yang bukan pengurus MUI. Yang menarik, sehari setelah tersiarnyafatwa itu, dimuat pula surat pencabutan kembali beredarnya fatwatersebut. Surat keputusan bertanggal 30 April 1981 itu ditandatanganioleh Prof. Dr. Hamka dan H. Burhani Tjokrohandoko selaku KetuaUmum dan Sekretaris Umum MUI. Menurut SK yang sama, padadasarnya menghadiri perayaan antar agama adalah wajar, terkecuali yang bersifat peribadatan, antara lain Misa, Kebaktian dan sejenisnya.Bagi seorang Islam tidak ada halangan untuk semata-mata hadir dalamrangka menghormati undangan pemeluk agama lain dalam upacara yang bersifat seremonial, bukan ritual. Tapi bila itu soalnya, kenapa heboh?
Rupanya ―bocor‖nya Fatwa MUI 7 Maret itu konon sempat
menyudutkan Menteri Agama Alamsyah. Hingga, menurut sebuahsumber, dalam pertemuannya dengan pimpinan MUI di Departemen Agama 23 April, Alamsyah sempat menyatakan bersedia berhentisebagai Menteri. Kejengkelan Menteri Agama agaknya beralasan juga.Sebab rupanya di samping atas desakan masyarakat, fatwa itu juga
dibuat atas permintaan Departemen Agama. ―
 Menteri Agama secararesmi memang meminta fatwa itu yang selanjutnya akan dibicarakandulu dengan pihak agama lain. Kemudian sebelum disebarluaskan Menteri akan membuat dulu petunjuk pelaksanaannya
,‖ kata E.Z.
Muttaqien, salah satu Ketua MUI. Ternyata fatwa itu keburu bocor danheboh pun mulai. Melihat keadaan Menteri itu, Hamka kemudian minta
iin berbicara dan berkata, menurut seorang yang hadir, ―Tidak tepat
kalau saudara Menteri yang harus berhenti. Itu berarti gunung yang
harus runtuh.‖ Kemudian inilah yang terjadi: Hamka yangmengundurkan diri. ―Tidak logis apabila Menteri Agama yang
berhenti.
Sayalah yang bertanggungjawab atas beredarnya fatwa tersebut …. Jadi
 
sayalah yang mesti berhenti,‖ kata Hamka pada Pelita pekan lalu. Tapi
dalam penjelasannya yang dimuat majalah Panji Masyarakat 20 Mei
1981, Hamka juga mengakui adanya ―kesalahpahaman‖ antara pimpinan
MUI dan Menteri Agama karena tersiarnya fatwa itu.Kepada TEMPO Hamka mengaku sangat gundah sejak peredaran fatwaitu dicabut.
“Gemetar tangan saya waktu harus mencabutnya. Orang
-orang tentu akan memandang saya ini syaithan. Para ulama di luar
negeri tentu semua heran. Alangkah bobroknya saya ini, bukan?” 
kataHamka. Alasan itu agaknya yang mendorong lmam Masjid Al Azhar inimenulis penjelasan, secara pribadi, awal Mei lalu. Di situ Buyamenerangkan: surat pencabutan MUI 30 April
itu ―tidaklah
mempengaruhi sedikit juga tentang kesahan (nilai/kekuatan hukum) isi
fatwa tersebut, secara utuh dan menyeluruh.‖ HAMKA juga menjelaskan,
fatwa itu diolah dan ditetapkan oleh Komisi Fatwa MUI bersama ahli-ahli agama dari ormas-ormas Islam dan lembaga-lembaga Islam tingkatnasional
termasuk Muhammadiyah, NU, SI, Majelis Dakwah IslamGolkar. Buya Hamka tercatat sebagai ketua MUI pertama sejak tahun1975. Keteguhannya memegang prinsip yang diyakini membuat semuaorang menyeganinya. Pada zamam pemerintah Soekarno, Buya Hamka berani mengeluarkan fatwa haram menikah lagi bagi Presiden Soekarno.
Otomatis fatwa itu membuat sang Presiden berang ‘kebakaran jenggot‘.
Tidak hanya berhenti di situ saja, Buya Hamka juga terus-terusanmengkritik kedekatan pemerintah dengan PKI waktu itu. Maka, wajarsaja kalau akhirnya dia dijebloskan ke penjara oleh Soekarno. Bahkan
majalah yang dibentuknya ‖Panji Masyarat‖ pernah dibredel Soekarnokarena menerbitkan tulisan Bung Hatta yang berjudul ‖Demokrasi Kita‖
 yang terkenal itu. Tulisan itu berisi kritikan tajam terhadap konsepDemokrasi Terpimpin yang dijalankan Bung Karno. Ketika tidak lagi

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->