Kalau kita berbicara tentang masyarakat yang islami, maka ingatan kita akan terbayang pada masyarakat Islam di Madinah pada awal-awal perkembangan Islam dibawah bimbingan manusia yang mulia dan lihai dalam membentuk tatanan sosial yang rapi dan sempurna yaitu rasulullah saw. dimana beliau benar-benar berhasil membangun masyarakat yang madani, yang belum ada duanya di dunia ini. Di madinah rasulullah telah mencontohkan dan membuktikan serta memperlihatkan kepada seluruh dunia tatanan masyarakat yang sempurna , dimana seluruh anggota masyarakat yang heterogen itu hidup damai, sejahtra, saling tenggang rasa, aman dan saling mencintai hidup rukun berdampingan walaupun mereka berbeda keyakinan dan idiologi.
Ketika orang-orang barat membangga-banggakan kemajuan Yunani dan Rum dimasa lalu, tetap saja mereka tidak dapat menjadika kehidupan masyarakat Yunani dan Rum itu sebagai contoh tatanan sosial yang baik untuk diterapkan dalam kehidupan bermasyarakat mereka. Seperti apa yang didamba-dambakan oleh umat Islam akan kembalinya masyarakat Madinah dalam kehidupan mereka, yang berdasarkan syari\u2019at islam.
sesampainya di Madinah, Rasulullah saw. segera menegakkan masyarakat islam yang kokoh dan terpadu, dan sebagai langkah pertama kearah itu, Rasulullah saw membangun masjid. Tidaklah heran kalu masjid merupakan asas utama dan terpenting bagi pembentukan masyarakat islam, karena masyarakat islam tidak akan terbentuk kokoh dan rapi kecuali dengan adanya komitmen terhadap sistem, aqidah dan tatanan islam, halini hanya bisa ditumbuhkan melalui semangat masjid.
Diantara sistem dan prinsip islam adalah tersebarnya mahabba dan ukhuwah sesama kaum muslimin, tetapi ikatan ini tidak akan terjadi kecuali dalam masjid, dengan bertemunya kaum muslimin berkali-kali dalam sehari dimana kedudukan, kekayaan dan status sosial lainnya terhapuskan.
Dan juga sistem islam adalah terpadunya beraneka ragam latar belakang kaum muslimin dalam satu kesatuan yang kokoh diikat oleh tali Allah, ini pun bisa dilakukan bila masjid-masjid telah dibangun ditengah masyarakat muslim, karena masjid adalah tempat kaum muslimin beerkumpul mempelajari ajaran islam.
Negara manapun tidak akan berdiri tegak tanpa adanya kesatuan dan dukngan penduduknya. Sedangkan dukungan dan kesatuan tidak akan lahir tanpa adanya persaudaraan dan saling mencintai, suatu masyarakat yang tidak disatukan oleh ikatan kasih sayang dan persaudaraan yang sebenarnya, tidak mungkin bersatu pada satu prinsip.Tetapi persaudaraan juga harus didahului oleh aqidah yang menjadi idiologi dan
faktor pemersatu. Persaudaraan antara dua orang yang berbeda aqidah adalah mimpi dan khurafat.oleh sebab itu Rasulullah menjadikan aqidah islamiyah yang bersumber dari Allah swt. sebagaiasas persaudaraan yang menghimpun hati para sahabatnya.
Rasulullah menjadikan persaudaraan Muhajirin dan Anshar sebagai asas bagi prinsip-prinsip keadilan sosial yang paling baik di dunia. Prinsip-prinsip ini kemudian berkembang dan mengikat menjadi hukum-hukum dan undang-undang syari\u2019at yang tetap, yang berbasis pada ukhuwah islamiyah.
Dutsur yang dibuat oleh Rasulullah saw berdasarkan wahyu Allah swt dan ditulis para sahabatnyakemudian dijadikan undang-undang dasar yang disepakati kaum muslimin dan tetangganya yaitu Yahudi dan Arab Badui yang belum masuk Islam, merupakan bukti nyata bahwa masyarakat Islam sejak awal pertumbuhannya tegak berdasr undang-undang yang sempurna, bahwa masyarakat Islam sejak awal telah ditopang oleh poerangkat perundang-undangan dan manajemen yang diperlukan setiap negara.
Dalam sebuah tulisannya Amang Syafruddin Lc. Mengatakan bahwa dalam proses pembentukan generasi unggulan cukup dengan satu ayat . kita dapat melihat sistematika pembentukan manusia yang cukup indah digambarkan Al-qur\u2019an.
\u201cSebagaimana kamitelah mengutus seorang rasuldiantara kamu, yang membacakan kepada kamu sekalian ayat-ayat kami, membersihkan kamu, mengajarkan kepadamu al-kitab dan hikmah(As-sunnah), dan mengajarkan kepadamu apa-apa yang belum pernah kamu ketahui.\u201d (Q.S. Al-baqarah: 151)
pembelajaran. Tanpa deposito informasi, seseorang tidak mungkin dapat berpikir apalagi untuk menyimpulkan dan merumuskan sesuatu yang dihadapiatau dialaminya. Untu itu \u201cmembacakan
dalamungkapan ayat \u201cdan membersihkan kamu\u201d ini sangat diperlukandalam menetralisir pemikiran, perasaan dan moral-moral dari muatan-muatan negatif yang akan mengganggu dan merusak jaringan hidup manusia, sehingga potensi- potensi manusia teroptimalisasi kearah yang lebih efktif dan efisien.
penguasaan kedua sis ini. Al-Kitab(Al-qur\u2019an dan Hikmah(As-sunnah) merupakan sumber dan asl-usul ilmu pengetahuan yang membimbing seseorang dalam proses berpikir. Selain mengajarkan metologi mencari ilmu juga