/  349
 
Pendekar Kelana > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
1
 _________________________________________________________________ 
 
Pegunungan itu jelas memperlihatkan sentuhan musim kering yang berkepanjangan. Pohon-pohonkehilangan banyak daunnya, bahkan ada di antara pohon-pohon yang gundul. Cabang dan rantingnyamencuat kering ke sana sini. Sebatang pohon besar nampak menyendiri di antara pohon-pohon yanglayu. Pohon ini nampak masih hijau segar. Mungkin karena akar-akarnya sudah mencari air jauh dibawah permukaan tanah yang kering kerontang itu. Sawah dan ladang terpaksa dibiarkan menganggursetelah dicangkuli, nampak terbuka dan dengan sabar menanti datangnya air hujan. Kalau anginberhembus kuat, nampak debu mengepul di permukaan tanah. Matahari bersinar teriknya, dan sedikitgumpalan-gumpalan awan putih tidak menjanjikan hujan yang di nanti-nanti itu. Anak-anak sungai tidakada airnya dan dasarnya yang masih agak basah itu dipenuhi rumput-rumput.Beberapa ekor kerbau yang ramping kurus mencoba untuk makan rumput yang tumbuh di tengah anaksungai. Seorang laki-laki setengah tua yang sama kurusnya meniru usaha kerbau-kerbau itu, mencabutirumput hijau. Untuk dimakan! Daripada mati kelaparan, terutama bagi anaknya yang masih kecil dirumah, diambilnyalah apa saja yang masih hijau dan masih hidup, untuk dimasak dan dimakan!Jauh di atas, beberapa ekor burung beterbangan. Mereka itu lebih beruntung karena dengan sayapmereka, mereka mampu terbang jauh untuk mencari makanan. Banyak serangga keluar dari sarangmereka di bawah tanah untuk mencari makanan yang amat kurang bagi mereka dan serangga-serangga ini menjadi makanan burung.Musim kering yang panjang, mengeringkan segala yang berada di atas permukaan bumi, menjadi masayang sengsara bagi para petani dusun.Dusun Ki-ceng di kaki pegunungan itu dilanda malapetaka musim kering yang panjang. Banyakpenduduk yang mati karena kelaparan. Satu-satunya sumber air yang berada di dusun itu masihmengeluarkan air, akan tetapi hanya sepersepuluh dari biasanya. Air yang mengucur kecil inilah yangsetiap hari dibuat rebutan penduduk dusun. Hanya sekedar untuk minum. Tubuh yang kurus keringdengan pakaian compang-camping itu kulitnya kelihatan kering dan dimakan kutu penyakit gatal. Perut
 
Pendekar Kelana > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
2
anak-anak membesar walaupun kaki tangannya mengecil, tanda dari busung lapar.Memang ada beberapa orang kaya di dusun itu, yang menjadi tuan-tuan tanah. Namun mereka samasekali tidak memperdulikan keadaan rakyat di sekitar mereka. Mereka menutup pintu gudang yangpenuh beras dan gandum itu rapat-rapat. Kalaupun ada yang mau menolong, tentu ada pamrihnya.Yang memiliki anak gadis cantik dan bersih, ditolong dengan menyerahkan gadisnya kepada sihartawan untuk di tukar dengan beberapa karung gandum atau beras.Keluarga Si Cun termasuk satu di antara para keluarga miskin itu. Si Cun sudah berusia limapuluhtahun dan isterinya beberapa tahun lebih muda daripada dia. Keluarga ini mempunyai tiga orang anak,yang pertama seorang anak perempuan dan yang dua orang lagi anak laki-laki. Anak perempuan itubernama Si Kiok Hwa, anak kedua bernama Si Leng dan yang ketiga bernama Si Kong, karena sudahtidak dapat lagi memperoleh makanan, maka ketika Hartawan Lui yang tertarik kepada kecantikan KiokHwa menurunkan bantuan, Si Cun terpaksa menyerahkan Kiok Hwa untuk menjadi selir hartawan itu,menukarnya dengan lima karung beras. Sungguh patut dikasihani nasib Kiok Hwa yang baru berusiaenambelas tahun itu. Ia dipaksa menyerahkan dirinya kepada Hartawan Lui yang usianya hampirtujuhpuluh tahun itu. Akan tetapi ia menerima nasib. Kalau ia tidak mau, berarti ia sekeluarga akan matikelaparan.Lima karung beras itu hanya bertahan beberapa bulan saja. Dan tak mungkin mengharapkan ulurantangan dari Kiok Hwa. Anak perempuan itu seakan-akan telah mati bagi keluarga Si, karena dilarangkeluar, apalagi memberikan apa-apa kepada keluarganya.Pada suatu hari, Si Leng, anak yang kedua itu, tidak pulang kerumah. Tentu saja ayah ibunya dan SiKong yang baru berusia sepuluh tahun menjadi bingung dan mencari kemana-mana. Akhirnyabeberapa orang tetangga datang menggotong Si Leng yang berusia empatbelas tahun itu dalamkeadaan sudah tak bernyawa lagi. Menurut cerita para tetangga, Si Leng hendak mencuri di rumahHartawan Lui, naik kepagar tembok dan ketahuan penjaga yang mengejarnya dan membacoknyadengan golok sehingga anak itu tewas!Si Cun sekeluarga menangis dan meratapi kematian anak mereka. Mereka tahu benar bahwa Si Lengpergi kesana bukan untuk mencuri, melainkan untuk menemui kakak perempuannya dan mintabantuan. Untuk masuk melalui pintu depan tentu tidak mungkin dan akan diusir para tukang pukul.Maka dia naik ke pagar tembok dengan harapan bertemu dengan encinya di bagian belakang gedungitu. Akan tetapi nasibnya buruk dan dia ketahuan tukang pukul, dituduh mencuri dan dibunuhnya! SiCun tidak berdaya. Mau melapor kemana? Yang berwajib di dusun itu adalah Lurah Ciu. Dan lurah initentu akan menyalahkan Si Leng yang dituduh mencuri dan memarahi Si Cun yang dikatakan tidakdapat mendidik anaknya.Kiok Hwa yang berada di gedung Hartawan Lui itupun mendengar tentang adiknya yang terbunuhkarena meloncati pagar tembok, akan tetapi iapun hanya dapat menangisi kematian adiknya itu, takdapat berbuat apa-apa.Dalam keadaan terhimpit itu, Si Cun terpaksa menggadaikan sawahnya kepada Hartawan Boan,seorang hartawan lain di dusun Ki-ceng. Dia memperoleh hanya sepuluh tael perak dan hutangnya itudibebani bunga yang tinggi, sepuluh prosen sebulan. Tanah itu menjadi milik hartawan Boan sampai SiCun dapat mengembalikan utangnya berikut bunganya.Uang sepuluh tael perak itu dibelikan beras, akan tetapi keluarga yang hanya tinggal tiga orang inisetiap hari harus makan bubur yang banyak airnya, itupun dibagi-bagi di antara tiga orang itu.
 
Pendekar Kelana > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
3
Ketika hujan mulai turun, uang itupun habis. Untuk mengembalikan uang yang sudah menjadi dua puluhtael itu tentu saja Si Cun tidak sanggup. Dan karena tanahnya dikuasai hartawan Boan, terpaksa Si Cunbekerja kepada tuan tanah sebagai buruh tani! Dia mulai mencangkul tanah miliknya sendiri menjadiburuh tani. Curahan keringatnya untuk menyuburkan hasil sawah itu hasilnya bukan untuk dia,melainkan untuk tuan tanah Boan dan dia hanya kebagian sepersepuluh bagian. Hanya bisa pas sajauntuk makan setiap harinya, dan tidak ada sisa untuk ditabung sebagai pembayar utang. Dengansendirinya, hutang itu makin menumpuk, tertimbun bunganya sehingga setahun kemudian, hutangsudah menjadi berlipat ganda! Si Cun kehilangan anak gadisnya, kehilangan anak kedua, dankehilangan sawahnya pula!Setiap malam Si Cun dan isterinya merenungi nasib mereka dan air mata Nyonya Si Cun sampai habisterkuras karena setiap malam menangis. Mereka bertiga bekerja di sawah dari pagi sampai petang.Bahkan Si Kong yang baru berusia sepuluh tahun itupun membantu mencangkul di sawah.Kehidupan manusia di dunia ini teramat janggal, teramat tidak adil. Si kaya memiliki makanan, pakaiandan rumah yang berlebihan. Sedangkan si miskin yang tinggal di sebelah rumahnya, demikianmelaratnya sehingga untuk makan saja tidak cukup! Malaskah si miskin itu? Sama sekali tidak. Bahkanmereka bekerja keras siang malam untuk sekedar bertahan hidup. Menyedihkan memang. Apalagimelihat si kaya membeli barang-barang mewah yang tidak perlu. Padahal, uang yang dihamburkan itudapat menghidupi banyak keluarga miskin. Lebih menyedihkan lagi kalau banyak sekali uangdihamburkan untuk membeli senjata untuk mempertahankan diri. Padahal, uang untuk membeli senjataitu akan menghidupkan suatu bangsa yang sedang dilanda kemiskinan. Alangkah baiknya kalau dalamkehidupan ini manusia saling menolong, bangsa saling menolong sehingga tidak akan terjadipermusuhan. Alangkah indahnya kalau sinar kasih menyelimuti kehidupan kita, bukan permusuhan,dendam dan kebencian!Musim kering telah lewat. Sawah ladang nampak hijau segar. Lautan daun padi nampak menghijau dankalau angin bertiup daun-daun itu seperti menari-nari, merayakan musim panen yang segera tiba. Akantetapi semua yang serba indah itu bagaikan ejekan bagi keluarga Si. Sewaktu mereka bertiga menjagasawah yang mulai berbuah, mereka merenungi nasib mereka, seakan tenggelam dalam lautanmenghijau itu.Dengan bekerja keras tak mengenal lelah, Si Cun dan isterinya akhirnya dapat juga memetik hasilnya.Biarpun hanya memperoleh sepuluh bagian, namun karena hasil sawahnya banyak sekali, merekadapat menjual hasil itu dan mengembalikan hutang kepada Hartawan Boan sebanyak duapuluh limatael. Sawah itu kembali kepada mereka!Hidup mereka tetap miskin, sisa hasil sawah yang dijual dapat menahan mereka dari ancamankelaparan, akan tetapi mereka harus berhemat. Makan dikurangi, pakaianpun tidak membeli melainkanmemakai satu-satunya pakaian yang melekat di badan! Kalau sedang mencuci pakaian, mereka hanyamenggunakan selimut butut untuk menutupi tubuh mereka yang telanjang.Pengalaman pahit membuat seseorang menjadi kebal dan pengalaman itu tidak terasa pahit lagi.Makan sedikit bubur dengan garam tidak mendatangkan kesedihan bagi orang yang sudah terbiasadengan makanan itu. Kehidupan yang keras dan sulit tertanam dalam-dalam di jiwa Si Kong sehinggaanak ini dapat mandiri dalam usianya yang baru sepuluh tahun. Dia menjadi seorang anak yang tabahdan tidak cengeng. Dia seolah lupa lagi untuk menangis karena di waktu kecilnya sudah terlalu banyak

Share & Embed

More from this user

Recent Readcasters

Add a Comment

Characters: ...