Pendekar Kelana > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
2
anak-anak membesar walaupun kaki tangannya mengecil, tanda dari busung lapar.Memang ada beberapa orang kaya di dusun itu, yang menjadi tuan-tuan tanah. Namun mereka samasekali tidak memperdulikan keadaan rakyat di sekitar mereka. Mereka menutup pintu gudang yangpenuh beras dan gandum itu rapat-rapat. Kalaupun ada yang mau menolong, tentu ada pamrihnya.Yang memiliki anak gadis cantik dan bersih, ditolong dengan menyerahkan gadisnya kepada sihartawan untuk di tukar dengan beberapa karung gandum atau beras.Keluarga Si Cun termasuk satu di antara para keluarga miskin itu. Si Cun sudah berusia limapuluhtahun dan isterinya beberapa tahun lebih muda daripada dia. Keluarga ini mempunyai tiga orang anak,yang pertama seorang anak perempuan dan yang dua orang lagi anak laki-laki. Anak perempuan itubernama Si Kiok Hwa, anak kedua bernama Si Leng dan yang ketiga bernama Si Kong, karena sudahtidak dapat lagi memperoleh makanan, maka ketika Hartawan Lui yang tertarik kepada kecantikan KiokHwa menurunkan bantuan, Si Cun terpaksa menyerahkan Kiok Hwa untuk menjadi selir hartawan itu,menukarnya dengan lima karung beras. Sungguh patut dikasihani nasib Kiok Hwa yang baru berusiaenambelas tahun itu. Ia dipaksa menyerahkan dirinya kepada Hartawan Lui yang usianya hampirtujuhpuluh tahun itu. Akan tetapi ia menerima nasib. Kalau ia tidak mau, berarti ia sekeluarga akan matikelaparan.Lima karung beras itu hanya bertahan beberapa bulan saja. Dan tak mungkin mengharapkan ulurantangan dari Kiok Hwa. Anak perempuan itu seakan-akan telah mati bagi keluarga Si, karena dilarangkeluar, apalagi memberikan apa-apa kepada keluarganya.Pada suatu hari, Si Leng, anak yang kedua itu, tidak pulang kerumah. Tentu saja ayah ibunya dan SiKong yang baru berusia sepuluh tahun menjadi bingung dan mencari kemana-mana. Akhirnyabeberapa orang tetangga datang menggotong Si Leng yang berusia empatbelas tahun itu dalamkeadaan sudah tak bernyawa lagi. Menurut cerita para tetangga, Si Leng hendak mencuri di rumahHartawan Lui, naik kepagar tembok dan ketahuan penjaga yang mengejarnya dan membacoknyadengan golok sehingga anak itu tewas!Si Cun sekeluarga menangis dan meratapi kematian anak mereka. Mereka tahu benar bahwa Si Lengpergi kesana bukan untuk mencuri, melainkan untuk menemui kakak perempuannya dan mintabantuan. Untuk masuk melalui pintu depan tentu tidak mungkin dan akan diusir para tukang pukul.Maka dia naik ke pagar tembok dengan harapan bertemu dengan encinya di bagian belakang gedungitu. Akan tetapi nasibnya buruk dan dia ketahuan tukang pukul, dituduh mencuri dan dibunuhnya! SiCun tidak berdaya. Mau melapor kemana? Yang berwajib di dusun itu adalah Lurah Ciu. Dan lurah initentu akan menyalahkan Si Leng yang dituduh mencuri dan memarahi Si Cun yang dikatakan tidakdapat mendidik anaknya.Kiok Hwa yang berada di gedung Hartawan Lui itupun mendengar tentang adiknya yang terbunuhkarena meloncati pagar tembok, akan tetapi iapun hanya dapat menangisi kematian adiknya itu, takdapat berbuat apa-apa.Dalam keadaan terhimpit itu, Si Cun terpaksa menggadaikan sawahnya kepada Hartawan Boan,seorang hartawan lain di dusun Ki-ceng. Dia memperoleh hanya sepuluh tael perak dan hutangnya itudibebani bunga yang tinggi, sepuluh prosen sebulan. Tanah itu menjadi milik hartawan Boan sampai SiCun dapat mengembalikan utangnya berikut bunganya.Uang sepuluh tael perak itu dibelikan beras, akan tetapi keluarga yang hanya tinggal tiga orang inisetiap hari harus makan bubur yang banyak airnya, itupun dibagi-bagi di antara tiga orang itu.
Add a Comment