Penderkar Lembah Naga > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
2
atas, sungguh tidak kelihatan semua kengerian itu, yang nampak hanyalah keindahan yang amatmentakjubkan. Apalagi di waktu matahari terbit atau waktu matahari tenggelam, bukan main indahnyapemandangan di kaki langit, di waktu bumi terbakar oleh sinar keemasan dan segala sesuatu nampak jelas dan indah.Memang tidak mengherankan kalau orang mendekati lembah itu, apalagi mendekati Istana LembahNaga yang kelihatan angker itu. Sebuah istana yang besar dan kokoh kuat, penuh dengan ukiran danarca-arca indah. Sayang istana itu tidak terawat sehingga tembok-temboknya yang tadinya putih itu kinipenuh dengan lumut hijau, demikian pula arca-arca itu. Istana ini dibangun oleh Raja Sabutai, raja liardari Suku Bangsa Mongol bercampur suku bangsa lain yang menguasai daerah tak bertuan di utara. Didalam cerita Dewi Maut telah diceritakan siapa adanya Raja Sabutai ini. Dia adalah keturunan seorang jenderal besar di jaman Dinasti Goan, di waktu bangsa Mongol menguasai seluruh daerah Tiongkok.Sebagai keturunan seorang jenderal gagah perkasa, Sabutai inipun amat besar ambisinya, cita-citanyasetinggi langit dan dia mengangkat diri sendiri menjadi raja di antara suku bangsa Mongol yang sudahterpecah-pecah dan lemah itu, dan dia pemah bercita-cita untuk menyerbu ke selatan dan untukmenegakkan kembali kebesaran bangsa Goan seperti pada ratusan tahun yang lalu. Akan tetapi cita-citanya itu gagal dan kandas di tengah jalan (baca cerita Dewi Maut) dan kini dia hanya puas denganmenjadi raja kecil di utara, jauh dari perbatasan.Istana Lembah Naga itu dahulunya di bangun oleh Raja Sabutai, dijadikan sebagai istananya danmarkasnya. Kemudian, dia memperbaiki istana itu setelah dia melakukan gerakan ke selatan dan gagaldan memberikan istananya itu kepada kedua orang gurunya, yaitu Hek-hiat Mo-li dan Pek-hiat Mo-ko,nenek dan kakek iblis dari Sailan yang amat sakti. Dalam pertempuran melawan orang-orang gagahyang dipimpin oleh kakek Cia Keng Hong ketua Cin-ling-pai, tewaslah Pek-hiat Mo-ko dan kalau tidakcepat muncul Raja Sabutai yang menyelamatkannya, tentu Hek-hiat Mo-li yang sudah terluka parah ituakan tewas pula. Pek-hiat Mo-ko telah tewas dan Hek-hiat Mo-li yang terluka itu dibawa pergi oleh RajaSabutai, semua orang gagah telah pergi meninggalkan Lembah Naga, dan istana itu menjadi sepi,sunyi dan menyeramkan. Semenjak itu, tidak ada lagi seorangpun manusia dari luar yang beranimendekati istana itu.Akan tetapi, benarkah demikian? Benarkah istana itu kosong tidak ada penghuninya? Sesungguhnyatidak demikian. Setelah semua orang meninggalkan istana itu dalam keadaan sunyi dan menyeramkan,masib nampak bekas-bekas pertempuran yang mengorbankan nyawa puluhan orang perajurit dan anakbuah kedua fihak, pada malam hari itu nampak sesosok tubuh wanita berjalan seorang diri di lembahini, sambil menundukkan mukanya dan menangis. Dia lalu menghampirl istana, memasuki istanaseperti bayangan setan yang bangkit dari kuburan, langkahnya ringan namun terhuyung-huyung dandia langsung memasuki sebuah kamar di dalam istana itu dan melemparkan tubuhnya ke ataspembaringan sambil menangis tersedu-sedu! Terbayanglah dalam benaknya ketika dia menyerahkandirinya, menyerahkan kehormatannya kepada seorang pemuda yang amat dicintainya, seorang pemudayang sama sekali tidak mau mengakuinya, tidak mau menerimanya, seorang pemuda yang dijunjungtinggi, dikaguminya dan dicintainya. Pemuda gagah perkasa yang kini telah pergi pulameninggalkannya seorang diri di tempat itu, padahal dia telah menyerahkan kehormatan tubuhnya,menyerahkan cinta hatinya, bahkan pula tangan kirinya! Tangan kirinya, sebatas pergelangan tangantelah putus, dibabat putus sebagai hukuman karena dia berani menolong pemuda itu yang tadinyamenjadi tawanan di situ, ketika tempat itu masih dikuasai oleh kakek dan nenek iblis Pek-hiat Mo-kodan Hek-hiat Mo-li. Dan kini, Cia Bun Houw, pemuda itu, telah meninggalkannya dan tidak maumenerimanya!Wanita itu masih muda, usianya baru dua puluh lima tahun, wajahnya manis sekali, dan pakaiannyaserba merah ber potongan ketat membungkus tubuhnya yang ramping padat. Dia bernama Liong Si Kwi
Leave a Comment