Pendekar Sadis > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
2
daun dan rumput sampai kepada awan, semua seolah-olah tersenyum gembira bersama cahaya
matahari pagi yang lembut dan menghidupkan. Akan tetapi, seorang wanita yang berjalan mendaki
lereng bukit itu, yang memanggul tubuh seorang pria, berjalan sambil menangis sedih! Sungguh, di
manapun juga di dunia ini, selalu terdapat manusia yang merasa sengsara dan tenggelam dalam
kedukaan.
Wanita itu masih amat muda dan cantik sekali, paling banyak dua puluh empat tahun usianya, berwajah
serius dan gagah. Biarpun dia memanggul tubuh seorang pria di pundaknya, namun langkahnya yang
tegap dan ringan itu jelas menunjukkan bahwa dia adalah seorang wanita yang memiliki ilmu
kepandaian tinggi. Memang sesungguhnya demikianlah. Wanita ini adalah seorang pendekar wanita
yang amat lihai, juga terkenal sekali, bukan hanya karena kelihaiannya sendiri melainkan karena dia
adalah cucu dari mendiang ketua Cin-ling-pai yang amat terkenal. Wanita ini bernama Lie Ciauw Si,
cucu luar dari mendiang ketua Cin-ling-pai dan dialah satu-satunya cucu Cin-ling-pai yang menerima
penggemblengan langsung dari mendiang kakeknya, yaitu mendiang Cia Keng Hong, pendekar sakti
yang pernah menggegerkan dunia persilatan itu. Maka, dapat dibayangkan betapa lihainya karena dia
telah mewarisi ilmu-ilmu dari Cin-ling-pai, biarpun harus diakui bahwa dia tidak atau belum menguasai
ilmu-ilmu tinggi itu secara sempurna seperti kakeknya.
Tubuh pria yang dipanggulnya itu seperti sudah mati saja, lemas dan wajahnya pucat seperti mayat, di
ujung bibirnya nampak darah, napasnya tinggal satu-satu. Siapakah pria itu? Dia pun masih muda,
bahkan masih amat muda, kurang lebih dua puluh satu atau dua puluh dua tahun usianya, amat tampan
dan pakaiannya amat mewah, seperti pakaian pria-pria bangsawan. Pria ini adalah suami Lie Ciauw Si!
Dia adalah seorang Pangeran, bahkan Pangeran dari dua kerajaan. Dia adalah putera kandung dari
Puteri Khamila yang menjadi isteri Raja Sabutai, seorang raja liar di utara daerah Mongol, maka tentu
saja dia adalah seorang Pangeran kerajaan utara ini. Akan tetapi, ayah kandungnya bukanlah Raja
Sabutai, melainkan mendiang Kaisar Ceng Tung, Kaisar Kerajaan Beng-tiauw dan hal ini selain
diketahui oleh Raja Sabutai, juga diakui oleh mendiang Kaisar itu sebelum meninggal dunia sehingga
secara resmi dia pun menjadi seorang Pangeran dari Kerajaan Beng-tiauw. Namanya adalah Pangeran
Oguthai, yaitu sebagai Pangeran utara, atau Ceng Han Houw, sebagai Pangeran Kerajaan Beng-tiauw.
Ceng Han Houw ini adalah seorang Pangeran muda yang semenjak kecil suka bertualang dan suka
sekali mempelajari ilmu-ilmu yang tinggi, bahkan yang berhasil mempelajari ilmu-ilmu silat tinggi dari
orang-orang sakti sehingga dalam hal ilmu silat, dia bahkan lebih lihai dibandingkan dengan isterinya
yang lihai itu! Kepandaiannya yang hebat membuat Pangeran ini menjadi tinggi hati dan sombong, di
samping ambisinya yang amat besar untuk menjadi jagoan nomor satu di dunia, bahkan kaiau mungkin
untuk merampas tahta Kerajam Beng-tiauw. Sikap inilah yang telah menjatuhkannya! Di bawah
Pimpinan Pangeran Hung Chih, yang dianggap sebagai Pangeran Mahkota, para pendekar yang sakti
telah bergerak menentangnya dan akhirnya Pangeran ini roboh dan terluka secara hebat sekali ketika
terjadi pertempuran. Juga semua pengikutnya, pasukannya, telah dihancurkan sehingga semua
usahanya itu mengalami kehancuran dan kegagalan. Pangeran Ceng Han Houw sudah kehilangan
segala-galanya, kecuali isterinya yang amat setia dan amat mencintanya itu. Isterinya inilah yang
membawa tubuhnya yang terluka parah itu, membawanya lari meninggalkan gelanggang pertempuran
di mana suaminya mengalami kegagalan, melarikannya siang malam sampai pada pagi hari itu, dengan
tubuh amat letih, pendekar wanita Lie Ciauw Si tiba di lereng bukit itu sambil menangis.
Hampir dia tidak kuat melangkah lagi, namun dipaksanya karena dia harus dapat membawa suaminya
yang sudah lebih mendekati mati daripada hidup itu sampai ke puncak. Dia mendengar bahwa di
puncak bukit itu tinggal seorang pertapa yang pandai sekali mengobati orang, maka harapan satu-
satunya hanyalah membawa suaminya menghadap pertapa itu.
Leave a Comment