• Embed Doc
  • Readcast
  • Collections
  • CommentGo Back
Download
Pendekar Sadis > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
1
_________________________________________________________________

PAGI yang amat cerah dan indah! Matahari, sesuatu yang perkasa adil dan murah hati, juga amat
indahnya, muncul di permukaan bumi mengusir segala kegelapan dan datang membawa keriangan dan
kesegaran kepada semua yang berada di permukaan bumi, memandikan segala sesuatu dengan
cahayanya yang keemasan dan yang menjadi sumber tenaga dari segala sesuatu yang tidak nampak.
Cahaya matahari seolah-olah membangkitkan semua yang tadinya penuh ketakutan dan kekhawatiran
tenggelam dalam kegelapan malam, mendatangkan kembali semangat hidup pada tumbuh-tumbuhan,
pohon-pohon besar, binatang-binatang dari yang kecil sampai yang paling besar, yang beterbangan di
udara maupun yang berjalan dan merayap di atas bumi.

Matahari pagi yang demikian indahnya, cahaya keemasan yang menerobos di antara gumpalan-
gumpalan awan yang berarak bebas teratur rapi di atas langit, embun-embun pagi yang berkilauan di
ujung daun-daun, kicau burung gembira, semua itu seolah-olah mengingatkan kita bahwa kegelapan
den kesunyian dan keseraman yang timbul bersama datangnya malam bukanlah peristiwa yang abadi,
melainkan hanya sementara saja. Demikian pula sebaliknya, kecerahan dan keriangan yang datang
bersama matahari pagi itu pun akan terganti oleh sang malam yang membawa kegelapan.

Baik buruknya siang dan malam timbul dari penilaian kita. Kalau kita sudah menilai bahwa yang siang
itu baik dan yang malam buruk, maka kita akan terseret ke dalam lingkaran baik dan buruk, senang dan
susah. Sebaliknya, kalau kita menghadapi siang dan malam, atau segala sesuatu yang terjadi di dunia
ini tanpa penilaian, maka tidak akan timbul pula baik buruk itu. Dan bukan tidak mungkin bahwa kita
akan menemukan keindahan dalam kegelapan den kesunyian malam itu!

Pagi hari yang amat cerah dan indah itu selalu mendatangkan keriangan pada semua mahluk, kecuali
manusia! Manusia terlalu diperbudak oleh perasaan yang timbul karena terlalu menonjolkan
keakuannya. Manusia terlalu mudah mengeluh, juga terlampau mudah mabuk. Di waktu menghadapi
peristiwa yang tidak menyenangkan, manusia mengeluh seolah-olah dialah orang yang paling sengsara
di dunia ini, dan di waktu menikmati peristiwa yang menyenangkan, manusia menjadi mabuk den lupa
diri!

Di dalam hutan di lereng bukit pada pagi hari itu pemandangannya amatlah indahnya. Dari ujung daun-
Pendekar Sadis > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
2

daun dan rumput sampai kepada awan, semua seolah-olah tersenyum gembira bersama cahaya
matahari pagi yang lembut dan menghidupkan. Akan tetapi, seorang wanita yang berjalan mendaki
lereng bukit itu, yang memanggul tubuh seorang pria, berjalan sambil menangis sedih! Sungguh, di
manapun juga di dunia ini, selalu terdapat manusia yang merasa sengsara dan tenggelam dalam
kedukaan.

Wanita itu masih amat muda dan cantik sekali, paling banyak dua puluh empat tahun usianya, berwajah
serius dan gagah. Biarpun dia memanggul tubuh seorang pria di pundaknya, namun langkahnya yang
tegap dan ringan itu jelas menunjukkan bahwa dia adalah seorang wanita yang memiliki ilmu
kepandaian tinggi. Memang sesungguhnya demikianlah. Wanita ini adalah seorang pendekar wanita
yang amat lihai, juga terkenal sekali, bukan hanya karena kelihaiannya sendiri melainkan karena dia
adalah cucu dari mendiang ketua Cin-ling-pai yang amat terkenal. Wanita ini bernama Lie Ciauw Si,
cucu luar dari mendiang ketua Cin-ling-pai dan dialah satu-satunya cucu Cin-ling-pai yang menerima
penggemblengan langsung dari mendiang kakeknya, yaitu mendiang Cia Keng Hong, pendekar sakti
yang pernah menggegerkan dunia persilatan itu. Maka, dapat dibayangkan betapa lihainya karena dia
telah mewarisi ilmu-ilmu dari Cin-ling-pai, biarpun harus diakui bahwa dia tidak atau belum menguasai
ilmu-ilmu tinggi itu secara sempurna seperti kakeknya.

Tubuh pria yang dipanggulnya itu seperti sudah mati saja, lemas dan wajahnya pucat seperti mayat, di
ujung bibirnya nampak darah, napasnya tinggal satu-satu. Siapakah pria itu? Dia pun masih muda,
bahkan masih amat muda, kurang lebih dua puluh satu atau dua puluh dua tahun usianya, amat tampan
dan pakaiannya amat mewah, seperti pakaian pria-pria bangsawan. Pria ini adalah suami Lie Ciauw Si!
Dia adalah seorang Pangeran, bahkan Pangeran dari dua kerajaan. Dia adalah putera kandung dari
Puteri Khamila yang menjadi isteri Raja Sabutai, seorang raja liar di utara daerah Mongol, maka tentu
saja dia adalah seorang Pangeran kerajaan utara ini. Akan tetapi, ayah kandungnya bukanlah Raja
Sabutai, melainkan mendiang Kaisar Ceng Tung, Kaisar Kerajaan Beng-tiauw dan hal ini selain
diketahui oleh Raja Sabutai, juga diakui oleh mendiang Kaisar itu sebelum meninggal dunia sehingga
secara resmi dia pun menjadi seorang Pangeran dari Kerajaan Beng-tiauw. Namanya adalah Pangeran
Oguthai, yaitu sebagai Pangeran utara, atau Ceng Han Houw, sebagai Pangeran Kerajaan Beng-tiauw.

Ceng Han Houw ini adalah seorang Pangeran muda yang semenjak kecil suka bertualang dan suka
sekali mempelajari ilmu-ilmu yang tinggi, bahkan yang berhasil mempelajari ilmu-ilmu silat tinggi dari
orang-orang sakti sehingga dalam hal ilmu silat, dia bahkan lebih lihai dibandingkan dengan isterinya
yang lihai itu! Kepandaiannya yang hebat membuat Pangeran ini menjadi tinggi hati dan sombong, di
samping ambisinya yang amat besar untuk menjadi jagoan nomor satu di dunia, bahkan kaiau mungkin
untuk merampas tahta Kerajam Beng-tiauw. Sikap inilah yang telah menjatuhkannya! Di bawah
Pimpinan Pangeran Hung Chih, yang dianggap sebagai Pangeran Mahkota, para pendekar yang sakti
telah bergerak menentangnya dan akhirnya Pangeran ini roboh dan terluka secara hebat sekali ketika
terjadi pertempuran. Juga semua pengikutnya, pasukannya, telah dihancurkan sehingga semua
usahanya itu mengalami kehancuran dan kegagalan. Pangeran Ceng Han Houw sudah kehilangan
segala-galanya, kecuali isterinya yang amat setia dan amat mencintanya itu. Isterinya inilah yang
membawa tubuhnya yang terluka parah itu, membawanya lari meninggalkan gelanggang pertempuran
di mana suaminya mengalami kegagalan, melarikannya siang malam sampai pada pagi hari itu, dengan
tubuh amat letih, pendekar wanita Lie Ciauw Si tiba di lereng bukit itu sambil menangis.

Hampir dia tidak kuat melangkah lagi, namun dipaksanya karena dia harus dapat membawa suaminya
yang sudah lebih mendekati mati daripada hidup itu sampai ke puncak. Dia mendengar bahwa di
puncak bukit itu tinggal seorang pertapa yang pandai sekali mengobati orang, maka harapan satu-
satunya hanyalah membawa suaminya menghadap pertapa itu.

Pendekar Sadis > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
3

Semua peristiwa di atas telah diceritakan dalam kisah Pendeker Lembah Naga. Dia telah melakukan
perjalanan dua hari dua malam, hanya berhenti untuk memberi minum, atau lebih tepat memasukkan
air ke dalam perut suaminya, karena suaminya itu hampir terus-menerus dalam keadaan tidak sadar.
Dia sendiri selama itu hanya minum sedikit air saja! Maka, ketika dia mendaki lereng bukit ini, kedua
kakinya sudah gemetar dan dia harus menggigit bibir dengan air mata menetes-netes untuk
menguatkan dirinya. Betapapun juga, berkat kepandaiannya yang tinggi, langkahnya masib nampak
ringan ketika dia terus mendaki ke atas, ke arah sebuah pondok di puncak yang sudah kelihatan dari
bawah. Melihat pondok kecil itu, Ciauw Si merasa seperti melihat cahaya yang penuh harapan,
tenaganya timbul kembali dan setengah berlari dia berloncatan naik ke atas puncak.

Pondok itu kecil sederhana dan pintunya terbuka! Maka Ciauw Si yang sudah merasa betapa matanya
berkunang dan kepalanya pening, melangkah masuk. Samar-samar dia melihat seorang kakek duduk
bersila di dalam pondok. Dia cepat melangkah maju dan sempat berkata lirih, \u201c...mohon... mohon
Locianpwe sudi... menolong suami saya...\u201d dan tergulinglah isteri setia ini bersama suami yang
dipanggulnya, roboh ke depan kaki pria tua yang duduk bersila itu.

\u201cSiancai..., siancai...! Jarang di dunia ini ditemui wanita seperti dia ini....\u201d Kakek itu berkata lembut, lalu
turun dari atas pembaringan dan dengan tidak mudah karena dia sudah tua dan tenaganya sudah
lemah, dia mengangkat suami isteri itu seorang demi seorang dan merebahkan mereka di atas
pembaringan kayu sederhana. Dia berdiri menggeleng kepala dan menarik napas panjang memandang
kepada suami isteri yang tampan dan cantik lagi muda itu, yang keduanya dalam keadaan pingsan dan
kelihatan amat menderita. Kemudian, dia menggulung lengan bajunya, mendekati Han Houw dan
dengan teliti sekali dia memeriksa denyut nadi dan detak jantung pria muda itu. Wajah yang keriput itu
nampak terkejut sekali.

\u201cAihhh... kacau dan remuk keadaan dalam tubuh orang muda ini! Hemm... tak tahu aku apakah aku
akan dapat mengobati... sungguh hebat, mengapa kekerasan saja yang timbul dari penumpukan
kepandaian?\u201d

Setelah memeriksa dengan teliti dan berkali-kali dia menggeleng kepala, dia lalu memeriksa keadaan
Ciauw Si dan mengangguk-angguk. \u201cTerlampau lelah, terlampau duka dan gelisah, menderita
kelaparan dan kehausan. Sungguh wanita luar biasa, penuh kasih sayang dan kesetiaan...\u201d

Karena maklum benar bahwa keadaan Ciauw Si tidak apa-apa sebaliknya keadaan Han Houw amat
berbahaya, kakek itu cepat-cepat mengambil akar yang masih segar, lalu mengirisnya tipis-tipis dan
menggodoknya dalam periuk, mencampurinya dengan beberapa macam daun dan bubukan buah
kering. Sambil mengipasi api arang, dia bersenandung mengikuti irama kipas yang dia gerak-gerakkan.

Siapakah kakek ini? Kakek ini adalah seorang sasterawan ahli obat yang sudah lama bertapa di puncak
bukit sunyi itu, menjauhkan dunia ramai dan hanya tekun memperdalam ilmunya untuk mengobati.
Hanya di waktu timbul wabah yang menyerang dusun-dusun atau kota-kota, kakek ini keluar dari
tempat pertapaannya untuk memerangi wabah itu. Selain ini, juga setiap kali ada orang sakit datang
kepadanya, dia selalu mengobatinya dan ternyata obatnya amat manjur sehingga sebentar saja
namanya terkenal di seluruh daerah perbatasan dekat Tembok Besar itu. Karena dia tidak pernah mau
mengakui namanya, maka dia segera diberi julukan Yok-sian (Dewa Obat) yang diterimanya dengan
senyum saja.

Setelah godokan obat itu masak, dia lalu mendinginkannya di atas cawan dan dengan hati-hati dia lalu
memasukkan obat itu sesendok demi sesendok ke dalam mulut Han Houw yang dalam keadaan
setengah sadar meneguk obat itu dengan susah payah. Tak lama kemudian Ciauw Si sadar dari

of 00

Leave a Comment

You must be to leave a comment.
Submit
Characters: ...
You must be to leave a comment.
Submit
Characters: ...