• Embed Doc
  • Readcast
  • Collections
  • CommentGo Back
Download
Harta Karun Jengis Khan > karya Kho Ping Hoo > publshed by buyankaba.com
1
_________________________________________________________________

KOTA An-keng terletak di tepi Sungai Yang-ce, sebuah kota besar di utara Sungai itu dari Propinsi An-
hwi. Karena letaknya yang strategis, dekat dengan Sungai besar Yang-ce yang datang dari kota besar
Wu-han dan menuju ke kota Nan-keng, maka kota An-keng ini amat ramai dan menjadi pusat
perdagangan yang diangkut melalui Sungai itu. Perdagangan yang amat ramai di kota itu membuat An-
keng menjadi tempat yang banyak dikunjungi para pedagang sehingga bukan hanya toko-toko besar,
akan tetapi juga restoran-restoran dan hotel-hotel tumbuh bagaikan jamur di musim hujan.

Selain terkenal sebagai kota dagang yang ramai, juga An-keng mempunyai tempat plesiran di tepi
Sungai Yang-ce yang sengaja dibuat oleh pemerintah daerah. Tempat ini adalah sebuah telaga buatan
yang mendapatkan airnya dari sungai itu dan di sekitar telaga ini ditanami bunga-bunga yang indah.
Juga telaga itu sendiri merupakan tempat bersantai yang menarik. Di satu bagian terdapat tanaman
bunga teratai merah putih yang melatarbelakangi angsa-angsa putih berleher panjang yang berenang-
renang dengan cantiknya di sekitar bunga-bunga teratai itu. Ada bagian di mana orang dapat
memancing ikan, berperahu, atau duduk dengan santainya di restoran-restoran di tepi danau buatan,
minum arak sambil menikmati pemandangan indah, melihat perahu-perahu berlalu lalang ditumpangi
muda mudi yang asik berpacaran. Angin yang sejuk membuat orang makin betah dan suasana yang
nyanian itu membuat orang lupa bahwa dia telah menghabiskan seekor bebek panggang yang terkenal
di tempat itu, ditemani arak seguci kecil! Makin mabok, makin menarik dan indahlah suasana di sekitar
Telaga Teratai Merah Putih di kota An-keng dan di sana sini terdengar sasterawan-sasterawan yang
sudah mabok bernyanyi atau membaca sajak-sajak yang indah. Makin siang, suasana menjadi semakin
meriah, apa lagi karena beberapa orang hartawan telah menyewa sekelompok wanita pemain musik
dan penyanyi, membawa mereka ke dalam perahu dan suara nyanyian dan yang-kim mengalun
bersama-sama permukaan air danau yang diguncang oleh perahu-perahu itu.

Harta Karun Jengis Khan > karya Kho Ping Hoo > publshed by buyankaba.com
2

Di dalam sebuah di antara restoran-restoran yang dibangun di tepi pantai, bangunannya merupakan
panggung agak tinggi yang menjulur ke air sehingga para tamu yang duduk makan minum seolah-olah
merasa berada di atas perahu besar yang tidak bergerak, nampak sepasang orang muda duduk sambil
menghadapi bebek panggang dan arak. Mereka itu merupakan pasangan yang cocok dan sedap
dipandang. Yang pria berusia kurang lebih duapuluh tiga tahun, berkulit muka putih dengan sepasang
alis hitam berbentuk golok, wajahnya tampak sekali dan gerak-geriknya amat halus. Pakaiannya seperti
pakaian seorang pemuda pelajar, akan tetapi kulau biasanya para pelajar itu berpakaian dan bersikap
sederhana, sebaliknya pakaian pemuda itu rapi sekali, bahkan mendekati pesolek walaupun sikapnya
tidak berlebih-lebihan seperti biasa sikap pemuda-pemuda bangsawan yang kerjanya hanya menjual
tampang dan memamerkan kekayaan padahal batinnya kosong. Pemuda ini berpakaian rapi, bersikap
halus dan senyum manis selalu tersungging di bibirnya. Akan tetapi, kalau ada orang yang sudah biasa
berkecimpung di dunia persilatan dan mempunyai pandang mata seorang ahli, tentu dia curiga terhadap
pemuda halus tampan ini. Sepasang matanya mencorong penuh kekuatan, tajam menusuk seperti
hendak menembus dada orang lain untuk menjenguk isi hatinya. Selain itu, juga ada sesuatu
tersembunyi dalam gerakan halus itu, sesuatu yang membayangkan kekuatan yang amat hebat.
Regangan-regangan jari tangannya kalau bergerak, kedudukan tubuh dan kedua lengannya, bagi orang
yang berpemandangan tajam tentu akan mengenal gerakan otomatis seorang ahli silat!

Temannya juga amat menarik perhatian. Seorang wanita muda yang usianya sebaya, andaikata lebih
tua sedikitpun tidak akan ketahuan karena memang wanita itu cantik sekali dan ada kelembutan yang
membuat ia nampak lebih muda dari pada temannya. Wanita muda itu cantik jelita dan manis, kulitnya
putih kemerahan dan seperti juga temannya itu, iapun berpakaian indah. Wajahnya yang cantik manis
itu tidak memakai hiasan terlalu tebal, dan memang hal itu tidak perlu, bahkan mungkin akan merusak
kecantikannya yang aseli. Bibir yang tipis penuh itu memang tidak membutuhkan pemerah lagi karena
sudah merekah merah dan selalu seperti basah. Alisnya yang kecil panjang itu memang sudah hitam
sekali, tidak perlu ditambah penghitam alis lagi. Ketawanya cerah dan suaranya merdu. Sepasang
matanya juga akan membuat ahli silat yang berpemandangan tajam terkejut karena mata itu kadang-
kadang mencorong, kadang-kadang mengeluarkan sinar yang demikian dingin menyeramkan, akan
tetapi kadang-kadang juga penuh gairah yang hangat dan hidup. Sejak tadi keduanya duduk di restoran
itu, makan minum, bercakap-cakap, kadang-kadang berbisik-bisik dan nampak nyata kasih sayang
terpancar pada pandang mata mereka kalau mereka sudah berbisik-bisik saling pandang seperti itu.
Ada kalanya mereka kelihatan seperti sepasang muda mudi yang asik berpacaran, akan tetapi kadang-
kadang mereka bicara serius. Ketika terdengar suara nyanyian dan suara sasterawan-sasterawan tua
yang mabok bersajak di atas perahunya yang meluncur tanpa tujuan di atas air, terdengar wanita muda
itu tertawa merdu dan tangan kirinya menutupi mulut dengan gaya yang menarik.

"Apa yang kauketawakan?" tanya pemuda itu sambil menatap wajah temannya dengan penuh kagum.
Sudah tiga tahun dia hidup di samping gadis ini namun setiap kali dia masih terpesona mengagumi
kecantikannya. Kalau gadis itu sudah tertawa, dengan sepasang matanya ikut tertawa, hidungnya yang
kecil itu agak dikernyitkan seperti itu, ada sesuatu yang membuatnya merasa terharu, keharuan yang
muncul karena rasa sayang yang amat besar yang seolah-olah menembus jantungnya dan membuat
dia yakin betapa besar rasa cintanya kepada gadis ini. Rasa cinta inilah yang mendatangkan semua
keindahan dan kecantikan itu. Bagi pandang mata orang lain, belum tentu gadis itu akan nampak
sedemikian cantik dan indahnya di waktu tertawa seperti itu, akan tetapi bagi dia, dunia seolah-olah ikut
tertawa bersama mata yang bersinar-sinar, hidung yang tertarik ke atas dan gigi yang mengintai sekilas
di balik sepasang bibir merah basah yang terbuka itu.

Harta Karun Jengis Khan > karya Kho Ping Hoo > publshed by buyankaba.com
3
"Kau tidak dengar sajak sasterawan tua yang berdiri bergoyang-goyang mabok di atas perahunya yang
lewat tadi?"

"Tentu saja. Sajaknya indah dan dia mengeluh tentang hari tuanya. Dia ingin selamanya tinggal muda
untuk menikmati keindaban Danau Teratai Merah Putih." jawab si pemuda. "Sajak itu menyedihkan,
kenapa kau tertawa mendengarnya? Kurasa tidak ada lucunya di situ."

"Hi-hik, itulah karena engkaupun sama dengan dia. Beberapa tahun lagi dan engkaupun akan
menangisi usia tuamu seperti dia, hidup sebatang-kara dan kesepian, hi-hik!"
"Ihh, mana mungkin? Kan ada engkau di sisiku?"

"Akupun akan tua dan meratapi nasibku kalau aku bersikap sepertimu. Itulah yang lucu. Kenapa dia
menyesali hari tuanya? Lihat, bukankah danau ini, Sungai Yance itu, jauh lebih tua dari pada kita, dari
pada sasterawan cengeng tadi? Namun lihat, berkurangkah keindahannya? Nampakkah tuanya?
Adakah penyesalan pada danau dan sungai, dan pohon-pohon tua di seberang itu, akan ketuaannya?
Sama sekali tidak, mereka semua itu masih tetap muda, cantik menarik bahkan dalam ketuaan mereka
sekalipun."

Pemuda itu memandang serius dan mengangguk-angguk. "Ada isinya dalam ucapanmu itu, sayang.
Memang. keindahan dan kebahagiaan terdapat di mana-mana dan pada saat apapun. Seorang
mudapun tidak akan dapat melihat keindahan dan menikmati kebahagiaan kalau dia tidak mengenal
indahnya SAAT INI. Dia, seperti sasterawan itu, hanya akan menyesali diri, menyalahkan nasib,
menginginkan hal-hal yang tidak ada, maka datanglah kekecewaan, penyesalan dan duka cita. Wah,
wah, sepagi ini engkau sudah mulai berfilsafat!"

Gadis itu tertawa. "Alam seindah ini, cuaca senyaman ini, hawa sesejuk ini, siapa orangnya yang tidak
berobah menjadi penyair dan ahli filsafat?"

Tiba-tiba pemuda itu menyentuh tangan si gadis yang terletak di atas meja. Gadis itu terkejut karena
sentuhan itu bukan sentuhan biasa, melainkan sentuhan yang menyatakan guncangan perasaan. Maka
iapun menengok dan memandang ke arah pemuda itu memandang ke luar jendela dan iapun melihat
seorang laki-laki mendayung perahunya lewat di bawah tempat itu dengan tergesa-gesa. Laki-laki itu

of 00

Leave a Comment

You must be to leave a comment.
Submit
Characters: ...
You must be to leave a comment.
Submit
Characters: ...