Siluman Goa Tengkorak > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
3
ke ruangan yang berada di luar kamar pengantin. Mereka tetap dijamu di tempat itu,
tempat yang ber-dekatan dengan kamar pengantin untuk menjaga kalau-kalau ada
penjahat yang datang mengganggu. Setelah melihat dua belas orang laki-laki muda yang
bertubuh kekar itu berada di depan kamar pengan-tin, barulah hati Thio Ki merasa lega
dan diapun pergi ke dalam kamamya untuk mengaso. Namun, di dalam kamar inipun dia
dan isterinya rebah de-ngan hati gelisah dan tidak dapat pulas sama sekali. Malam
semakin larut dan amat sunyi. Terdengar suara anjing menggonggong dari kejauhan,
suara gonggongan yang menyedihkan yang kemudian berobah menjadi suara
menyeramkan. Lolong anjing berkepanjangan ini biasanya dilakukan anjing-anjing sambil
mengangkat muka tinggi-tinggi ke atas memandang bulan dan orang menjadi ketakutan
karena katanya saat seperti itu adalah saatnya para iblis gentayangan di permukaan
bumi! Dua belas orang nelayan muda itu sudah tidak lagi makan minum, melainkan
duduk di ruangan depan pengantin dengan sikap siap siaga. Pengantin pria juga tidak
dapat menikmati malam pengantinnya, bahkan terpaksa dia tadi meninggalkan isterinya
untuk ikut berjaga bersama kawan-kawannya. Baru setelah kawan-kawannya
mendesaknya dengan sikap setengah menggoda agar dia tidak membiarkan isterinya
kedinginan seorang diri dalam kamar, pengantin pria memasuki kamarnya lagi. \u201cAku
mengandalkan penjagaan kalian di luar, sedangkan aku sendiri akan berjaga di dalam
kamar,\u201d katanya. Sebagian untuk menutupi rasa malunya kepada kawan-kawannya yang
tentu sudah menggodanya pada malam pertama itu. \u201cHayaaaa... kami mengerti, Si
Kun!\u201d kata seorang temannya. \u201cSudahlah, nikmati malam pengantinmu, biar kami yang
berjaga di sini dan menangkap siluman itu kalau benar dia berani muncul.\u201d \u201cHushh!\u201d cela
seorang kawan lain. \u201cJangan bicara sembarangan di malam seperti ini. Dan masuklah Si
Kun, engkau akan merasa aman dalam pelukan istrimu, ha-ha!\u201d Dua belas orang itu
tersenyum. \u201cAihh, kalian ini bisa saja menggoda orang. Siapa dapat bersenang dalam
keadaan seperti ini?\u201d The Si Kun lalu membuka pintu kamar dan masuk ke dalam,
menutupkan kembali kamarnya. Isterinya juga tidak tidur, melainkan duduk di tepi
pembaringan sambil menundukkan muka karena malu. Muka yang cantik memang, dan
kini setelah tidak tertutup kerudung, nampak betapa sepasang pipi itu halus kemerahan.
Biarpun tadinya dia merasa tegang dan khawatir, kini melihat kecantikan istrinya, Si Kun
tak dapat menahan hatinya dan duduklah dia disamping isterinya, tangannya me-rangkul
dan dengan lembut dia menarik muka itu untuk diciumnya. Tiba-tiba lilin yang berada di
atas meja kamar itu padam. Hal ini diketahui oleh para penjaga di luar kamar, maka
merekapun tertawa-tawa karena padamnya lilin dalam kamar itu membuat mereka
mengira bahwa sepasang pengantin baru itu tentu merasa malu, memadamkan
penerangan agar dapat mencurahkan perasaan hati mereka berdua dengan leluasa. Akan
tetapi, dapat dibayangkan betapa terkejut rasa hati dua belas orang itu ketika tiba-tiba
terdengar teriakan The Si Kun disusul suara gedobrakan di dalam kamar dan tak lama
kemudian terdengar jeritan pengantin wanita, akan tetapi jeritan itu terdengar jauh dari
situ! Dua belas orang itu segera menghampiri pintu kamar dan mendobraknya karena
tidak ada jawaban dari dalam ketika mereka memanggil-manggil. Thio Ki dan isterinya
dan seluruh penghuni rumah yang tadinya memang sudah gelisah itu keluar semua dari
kamar masingmasing dan berlarian menuju ke kamar pengantin. Pintu kamar didobrak
jebol dan mereka berebut masuk. Dari penerangan lampu yang dibawa oleh mereka yang
masuk, nampak pemandangan yang mengerikan. The Si Kun, pengantin pria itu, dengan
tubuh bagian atas telanjang, hanya menggunakan celana saja, rebah di lantai dengan
leher hampir putus. Darah merah masih mengalir dari lehernya dan membasahi lantai.
Pemuda ini sudah tewas, dan pengantin wanitanya tidak nampak bayangannya. Langit-
langit kamar itu terbuka dan berlubang. Maka tahulah semua orang bahwa penjahat
telah masuk dari atas genteng dengan membobol langit-langit kamar. Para wanita
menjerit-jerit dan riuh rendah suara orang menangis. Siluman Guha Teng-korak benar-
benar telah datang, menculik pengantin wanita dan membunuh pengantin pria! Gegerlah
dusun Ban-ceng! Mengapakah penjahat yang selama beberapa minggu ini mengacau di
daerah Tai-goan dan sekitarnya dijuluki orang Siluman Guha Tengkorak? Pertama-tama
adalah karena gambar itu. Setiap kali hendak melakukan kejahatan, terutama sekali
mencuri perhiasan-perhiasan yang serba mahal dan menculik gadis-gadis cantik,
penjahat itu pada siang atau sore harinya selalu tentu memberi tanda gambar tengkorak
Leave a Comment