Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Look up keyword
Like this
4Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
serial pedang kayu harum - 9 - pendekar mata keranjang [tamat]

serial pedang kayu harum - 9 - pendekar mata keranjang [tamat]

Ratings: (0)|Views: 631|Likes:
Published by Dicky Wizanajani r
Seri Pedang Kayu Harum - 9
Seri Pedang Kayu Harum - 9

More info:

Published by: Dicky Wizanajani r on Feb 24, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

02/01/2013

pdf

text

original

Pendekar Mata Keranjang > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
1
_________________________________________________________________

HUJAN turun sejak sore tadi dan malam ini hujan masih turun rintik-rintik. Walaupun tidak sederas sore
tadi, namun hujan itu masih membuat orang enggan keluar rumah. Apalagi malam itu dingin sekali.
Lebih enak berada di dalam rumah, menghangatkan diri di dekat perapian atau di atas pembaringan
menyusup ke bawah selimut daripada di luar rumah.

Kota Nan-king yang biasanya amat ramai dengan kehidupan malamnya itu kini nampak sunyi sepi
seperti kota mati. Hanya satu dua orang saja nampak melangkah di atas jalan raya yang basah dan
sunyi lagi gelap itu, orang-orang yang mempunyai urusan penting sekali. Mereka itu melindungi tubuh
dengan jubah dan mantel, juga memegang payung.

Di sebuah rumah besar dan kuno yang terletak di tepi jembatan di ujung timur kota itu, suasananya
juga amat sunyi. Rumah itu milik keluarga Siangkoan Leng yang terkenal sebagai keluarga jagoan,
memiliki ilmu silat yang tinggi dan juga dihormati orang karena mereka itu berdagang obat-obatan dan
terkenal pula pandai mengobati orang sakit. Karena pandai mengobati orang, maka Siangkoan Leng
sendiri oleh penduduk kota Nan-king disebut Siangkoan Sinshe yang pandai mengobati orang dengan
tusuk jarum. Perdagangan obatnya laris dan keluarga itu memiliki penghasilan cukup besar.

Akan tetapi keluarga ini pun, yang terdiri dari ayah ibu dan seorang anak,dibantu oleh empat orang
pelayan, sejak sore sudah berada di kamar masing-masing, segan keluar kamar di malam yang sunyi
dan dingin itu.Siangkoan Leng dan isterinya adalah sepasang suami isteri yang memiliki ilmu silat tinggi.
Tiada orang di Nan-king yang pernah mengira, apalagi mengetahui, bahwa suami isteri itu, sebelum
tinggal di Nan-king tujuh tahun yang lalu, pernah dikenal sebagai penjahat-penjahat besar di sepanjang
pantai selatan! Selama belasan tahun mereka merajalela di daerah selatan, merampok, membajak,
membunuh dan tidak ada kejahatan yang mereka pantang. Akan tetapi ketika isteri Siangkoan Leng
yang bernama Ma Kim Li itu mengandung dalam usia hampir empat puluh tahun, peristiwa ini seperti
menyadarkan mereka dan mereka berdua mengambil keputusan untuk memulai hidup baru dengan
anak yang akan dilahirkan. Mereka lalu merantau ke utara dan akhirnya menetap di Nan-king
meninggalkan pekerjaan jahat dan mencari uang secara halal. Mereka telah tinggal di situ selama tujuh
tahun dan anak yang terlahir laki-laki mereka beri nama Siangkoan Hay dan kini telah berusia tujuh

Pendekar Mata Keranjang > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
2
tahun. Sejak anak ini masih kecil, suami isteri itu telah menggembleng tubuh anak mereka dengan
ramuan obat-obatan dan mendidiknya dengan ilmu silat.

Sebagai suami isteri yang pernah malang melintang sebagai tokoh sesat di dunia selatan, tentu saja
Siangkoan Leng dan Ma Kim Li telah menanam bibit permusuhan dengan banyak golongan atau
perorangan. Ketika mereka masih malang-melintang di selatan, mereka selalu hidup dalam keadaan
siap siaga karena setiap waktu bisa saja ada musuh datang menyerang karena setiap saat ada saja
yang mengintai untuk mencelakai mereka sebagai pembalasan dendam. Karena cara hidup yang tidak
aman inilah maka suami isteri itu mengambil keputusan melarikan diri dan meninggalkan dunia hitam.
Mereka tidak ingin anak mereka terlahir dalam keluarga yang selalu terancam keselamatannya. Dan
sejak tinggal di Nan-king, mereka hidup dengan tenang dan tenteram, tidak pernah lagi merasa
khawatir karena tidak ada yang mengenal mereka dan mereka merasa tidak punya musuh.

Biarpun demikian, karena sejak muda suami isteri itu adalah orang-orang yang selalu berkecimpung di
dunia persilatan, apalagi kini mereka bermaksud menggembleng putera tunggal mereka menjadi
seorang yang akan mewarisi ilmu-ilmu mereka, maka keduanya tak pernah lalai berlatih, bahkan
berusaha untuk memperdalam ilmu mereka. Malam itu pun mereka tidak tidur seperti diperkirakan
orang melainkan duduk bersamadhi di dalam kamar mereka, bersila di atas tempat tidur dan melatih
ilmu baru yang sedang mereka ciptakan bersama untuk diturunkan kepada putera mereka. Dan
bagaimana dengan Siangkoan Hay? Dasar anak tunggal dari suami isteri jagoan, anak ini pun suka
sekali dengan ilmu silat dan malam itu pun dia duduk bersila untuk melatih diri menghimpun hawa murni
dalam tubuhnya, sendirian di dalam kamarnya.

Akan tetapi, empat orang elayan, dua laki-laki dan dua wanita, yang tidur di kamar-kamar belakang
sejak tadi sudah tidur keenakan dalam udara dingin yang menerobos masuk ke dalam kamar
mereka.Tak seorang pun dari tujuh penghuni rumah besar itu yang tahu bahwa ada dua sosok tubuh
orang yang berjalan sambil berlindung di bawah sebatang payung, berhimpitan dan keduanya
mengenakan mantel yang lebar, kini berhenti di depan rumah, menoleh ke kanan kiri. Sepi di sekitar
tempat itu dan dua orang itu lalu memasuki pekarangan rumah keluarga Siangkoan. Di bawah sinar
lampu yang tergantung di luar, di pojok rumah, nampak sekelebatan wajah dua orang laki-laki dan
perempuan, yang laki-laki bertubuh jangkung kurus dan yang perempuan bertubuh sedang. Hanya
sekelebatan saja wajah mereka nampak karena keduanya segera menyelinap ke dalam bayangan
gelap dan hanya dua pasang mata mereka yang mencorong dalam kegelapan malam.

Dengan tenang mereka lalu menutup payung, membuka mantel, membungkus payung dalam mantel
dan mengikat mantel-mantel itu di atas punggung. Kini mereka berpakaian ringkas, pakaian berwarna
hitam yang membuat bayangan mereka sukar dapat dilihat. Dengan gerakan yang amat cekatan,
setelah saling berbisik, keduanya lalu meloncat ke atas tembok pagar dan terus berloncatan ke atas
genteng rumah besar itu. Gerakan mereka demikian ringan dan cepat, seperti dua ekor kucing saja
ketika kaki mereka menginjak genteng tanpa menimbulkan suara sama sekali, dan bagaikan dua ekor
burung saja ketika mereka meloncat.

Di ruangan belakang rumah itu, dua orang itu berloncatan turun. Dengan tenang mereka lalu
menghampiri dua buah kamar di mana empat orang pelayan itu tidur. Masing-masing menghampiri
sebuah kamar, yang laki-laki menghampiri pintu kamar pertama dan yang perempuan menghampiri
pintu kamar ke dua, mereka berdua menggunakan tangan kanan mendorong daun pintu.

"Krekkk!" Daun pintu yang terkunci dari dalam itu jebol dan terbuka. Di dalam kamar pertama tidur dua orang pelayan pria dan laki-laki jangkung itu lalu menggerakkan tangan kirinya. Sinar hitam menyambar ke arah pembaringan dan dua tubuh pelayan laki-laki yang sedang tidur pulas itu berkelojotan dan

Pendekar Mata Keranjang > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
3
tewas tak lama kemudian tanpa sempat membuka mata atau mengeluarkan suara.

Akan tetapi dua orang pelayan wanita yang berada di dalam kamar ke dua, ternyata belum pulas benar.
Suara jebolnya daun pintu mengejutkan mereka. Keduanya bangkit duduk dan terbelalak memandang
ke arah daun pintu yang sudah jebol. Ketika mereka melihat munculnya seorang wanita yang bermuka
pucat dingin di tengah ambang pintu mereka terkejut dan ketakutan. Akan tetapi wanita itu pun sudah
menggerakkan tangan kirinya dan sinar hitam menyambar ke arah dua orang pelayan wanita. Seorang
di antara mereka sempat menjerit kecil sebelum ia roboh ke atas pembaringan kembali seperti
temannya dan tubuh mereka berkelojotan lalu terdiam, mati. Sinar lampu di ruangan luar kamar itu kini
menyinari dua muka pembunuh itu. Wajah seorang laki-laki yang kurus akan tetapi cukup tampan,
kumisnya kecil panjang berjuntai ke bawah, bersatu dengan jenggotnya yang pendek dan sudah
berwarna dua. Usianya sekitar lima puluh tahun. Wajah wanita itu pucat akan tetapi cantik, dengan
hidung dan mulut yang membayangkan keangkuhan. Kini mereka saling pandang dan tersenyum, akan
tetapi senyum mereka itu bagi orang lain tentu mengerikan karena seperti senyum iblis yang
mengandung kekejaman.

Kini dua ekor anjing yang berlari dari belakang, datang sambil menggonggong dan hendak menyerang
dua orang itu. Akan tetapi, dua orang itu menggerakkan tangan seperti orang menampar ke arah dua
ekor anjing itu dan suara anjing itu pun terhenti seketika dan mereka pun terpelanting dan tewas
dengan mulut, hidung dan telinga mengeluarkan darah. Dua orang itu lalu berkelebatan di belakang
rumah. Beberapa kali terdengar suara ayam berkeyok dan jerit pendek babi-babi yang berada di
kandang belakang. Kalau saja air hujan rintik-rintik tidak membuat suara gaduh di atas genteng,
agaknya dua orang suami isteri yang sedang bersamadhi itu akan dapat
mengetahui akan datangnya dua orang penyebar maut itu. Betapapun tinggi ilmu ginkang (meringankan
tubuh) yang dimiliki tamu-tamu gelap itu, agaknya pendengaran suami isteri yang sedang bersamadhi
itu akan mampu menangkapnya, karena pendengaran mereka amat tajam dan terlatih dengan baik.
Suara gaduh yang ditimbulkan air hujan yang merintik di atas genteng menutupi semua suara lain. Akan
tetapi jerit pelayan wanita tadi masih dapat menembus celah-celah dan memasuki kamar.

"Suara apa itu?" Ma Kim Li bertanya, sadar dari samadhinya. Suaminya juga sudah membuka mata dan memandangnya, menggeleng kepala. Akan tetapi karena tidak terdengar suara apa-apa lagi yang mencurigakan, mereka pun merasa lega. "Mungkin mereka mengigau dalam tidur ," kata Siangkoan Leng, sama sekali tidak menduga buruk karena selama bertahun-tahun ini tidak pernah terjadi sesuatu menimpa keluarganya.

Akan tetapi kelegaan hati mereka itu tidak berlangsung lama. Kecurigaan hati mereka kembali diusik
ketika terdengar gonggong kedua ekor anjing peliharaan mereka, apalagi ketika suara menggonggong
kedua ekor anjing itu tiba-tiba saja terhenti. Hal ini tidak wajar, pikir mereka. dari pandang mata saja
kedua suami isteri itu sudah saling sepakat untuk melakukan penyelidikan. Berbareng mereka meloncat
turun dari pembaringan, mengenakan sepatu dan keluar dari dalam kamar. Pertama-tama.mereka
membuka daun pintu putera mereka dan melihat betapa putera mereka masih duduk bersila, akan
tetapi agaknya juga terganggu oleh suara gonggongan anjing-anjing itu.

"Anjing-anjing itu kenapa, Ibu?" tanya Siangkoan Hay yang sangat menyayang anjing peliharaan
mereka.

"Kau di sinilah, kami akan melihat ke belakang." kata ibunya. Mereka lalu keluar dari kamar itu,
menutupkan kembali daun pintunya dan dengan langkah ringan namun cepat, suami isteri itu lalu berlari
ke belakangDan apa yang dilihatnya pertama-tama membuat mereka terbelalak dan wajah mereka

Activity (4)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 hundred reads
1 thousand reads
rromayanda added this note
trimks ceritanya
hermantoarmani liked this

You're Reading a Free Preview

Download