Pendekar Mata Keranjang > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
2
tahun. Sejak anak ini masih kecil, suami isteri itu telah menggembleng tubuh anak mereka dengan
ramuan obat-obatan dan mendidiknya dengan ilmu silat.
Sebagai suami isteri yang pernah malang melintang sebagai tokoh sesat di dunia selatan, tentu saja
Siangkoan Leng dan Ma Kim Li telah menanam bibit permusuhan dengan banyak golongan atau
perorangan. Ketika mereka masih malang-melintang di selatan, mereka selalu hidup dalam keadaan
siap siaga karena setiap waktu bisa saja ada musuh datang menyerang karena setiap saat ada saja
yang mengintai untuk mencelakai mereka sebagai pembalasan dendam. Karena cara hidup yang tidak
aman inilah maka suami isteri itu mengambil keputusan melarikan diri dan meninggalkan dunia hitam.
Mereka tidak ingin anak mereka terlahir dalam keluarga yang selalu terancam keselamatannya. Dan
sejak tinggal di Nan-king, mereka hidup dengan tenang dan tenteram, tidak pernah lagi merasa
khawatir karena tidak ada yang mengenal mereka dan mereka merasa tidak punya musuh.
Biarpun demikian, karena sejak muda suami isteri itu adalah orang-orang yang selalu berkecimpung di
dunia persilatan, apalagi kini mereka bermaksud menggembleng putera tunggal mereka menjadi
seorang yang akan mewarisi ilmu-ilmu mereka, maka keduanya tak pernah lalai berlatih, bahkan
berusaha untuk memperdalam ilmu mereka. Malam itu pun mereka tidak tidur seperti diperkirakan
orang melainkan duduk bersamadhi di dalam kamar mereka, bersila di atas tempat tidur dan melatih
ilmu baru yang sedang mereka ciptakan bersama untuk diturunkan kepada putera mereka. Dan
bagaimana dengan Siangkoan Hay? Dasar anak tunggal dari suami isteri jagoan, anak ini pun suka
sekali dengan ilmu silat dan malam itu pun dia duduk bersila untuk melatih diri menghimpun hawa murni
dalam tubuhnya, sendirian di dalam kamarnya.
Akan tetapi, empat orang elayan, dua laki-laki dan dua wanita, yang tidur di kamar-kamar belakang
sejak tadi sudah tidur keenakan dalam udara dingin yang menerobos masuk ke dalam kamar
mereka.Tak seorang pun dari tujuh penghuni rumah besar itu yang tahu bahwa ada dua sosok tubuh
orang yang berjalan sambil berlindung di bawah sebatang payung, berhimpitan dan keduanya
mengenakan mantel yang lebar, kini berhenti di depan rumah, menoleh ke kanan kiri. Sepi di sekitar
tempat itu dan dua orang itu lalu memasuki pekarangan rumah keluarga Siangkoan. Di bawah sinar
lampu yang tergantung di luar, di pojok rumah, nampak sekelebatan wajah dua orang laki-laki dan
perempuan, yang laki-laki bertubuh jangkung kurus dan yang perempuan bertubuh sedang. Hanya
sekelebatan saja wajah mereka nampak karena keduanya segera menyelinap ke dalam bayangan
gelap dan hanya dua pasang mata mereka yang mencorong dalam kegelapan malam.
Dengan tenang mereka lalu menutup payung, membuka mantel, membungkus payung dalam mantel
dan mengikat mantel-mantel itu di atas punggung. Kini mereka berpakaian ringkas, pakaian berwarna
hitam yang membuat bayangan mereka sukar dapat dilihat. Dengan gerakan yang amat cekatan,
setelah saling berbisik, keduanya lalu meloncat ke atas tembok pagar dan terus berloncatan ke atas
genteng rumah besar itu. Gerakan mereka demikian ringan dan cepat, seperti dua ekor kucing saja
ketika kaki mereka menginjak genteng tanpa menimbulkan suara sama sekali, dan bagaikan dua ekor
burung saja ketika mereka meloncat.
Di ruangan belakang rumah itu, dua orang itu berloncatan turun. Dengan tenang mereka lalu
menghampiri dua buah kamar di mana empat orang pelayan itu tidur. Masing-masing menghampiri
sebuah kamar, yang laki-laki menghampiri pintu kamar pertama dan yang perempuan menghampiri
pintu kamar ke dua, mereka berdua menggunakan tangan kanan mendorong daun pintu.
"Krekkk!" Daun pintu yang terkunci dari dalam itu jebol dan terbuka. Di dalam kamar pertama tidur dua
orang pelayan pria dan laki-laki jangkung itu lalu menggerakkan tangan kirinya. Sinar hitam menyambar
ke arah pembaringan dan dua tubuh pelayan laki-laki yang sedang tidur pulas itu berkelojotan dan
Leave a Comment
trimks ceritanya