Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more ➡
Download
Standard view
Full view
of .
Add note
Save to My Library
Sync to mobile
Look up keyword
Like this
2Activity
×
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Naskah Akademik Pemberlakuan Kpmpilasi Hukum Adat

Naskah Akademik Pemberlakuan Kpmpilasi Hukum Adat

Ratings: (0)|Views: 515|Likes:
Published by HeroHerlambang
Dewasa ini di daerah mulai marak mentransformasikan kaedah adat ke dalam Peraturan Daerah. Pada umunya, Dewan daerah meminta pihak pemerintah daerah untuk memuat Naskah Akademik terlebih dahulu sebelum menyusun suatu peraturan daerah.
Dewasa ini di daerah mulai marak mentransformasikan kaedah adat ke dalam Peraturan Daerah. Pada umunya, Dewan daerah meminta pihak pemerintah daerah untuk memuat Naskah Akademik terlebih dahulu sebelum menyusun suatu peraturan daerah.

More info:

Published by: HeroHerlambang on Feb 28, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, DOCX, TXT or read online from Scribd
See More
See less

02/28/2013

pdf

text

original

 
BAB IPENDAHULUANA.
 
Latar Belakang
Dalam buku Pengantar Hukum Adat Indonesia, Roelof van Dijk seorang sarjana hukum
 berkebangsaan Belanda menulis bahwa pada hakikatnya frasa ‘hukum adat’ merupakan suatu
istilah yang merujuk pada hukum yang tidak dikodifikasikan yang diperuntukkan bagi kalanganorang Indonesia Asli dan kalangan orang timur asing (china, Arab dan lain sebagainya).
Kata ‘adat’ yang semula merupakan unsur serapan dari bahasa arab pada ak 
hirnyaditerima dalam perbendaharaan kata bahasa indoneisa yang berarti suatu kebiasaan-kebiasaan
1
.Kebiasaan-kebiasaan yang lahir tersebut kemudian bermanifesatasi dalam bentuk kesusilaan disemua lingkup tata kehidupan individu, masyarakat serta proses sosial yang terjadi dalamnya.Kebiasaan-kebiasaan tersebut pada perkembangannya menjadi sejenis aturan tidak langsung danmenjadi landasan pedoman tingkah laku masyarakat komunal sehingga timbulah berbagai macam persekutuan-persekutuan adat yang mencoba untuk mengaktualisasikan kehendak masyarakatadat yang lahir dari berbagai bentuk kebiasaan-kebiasaan.Persekutuan adat, sebagai bentuk dari cerminan keterwakilan aspirasi segolonganmasyarakat yang menamakan dirinya masyarakat adat pada prakteknya berusaha untuk menciptakan banyak sekali kaedah-kaedah yang dapat berlaku adaptif dan impresif bagimasyarakat adatnya. Kaedah yang pada awalnya hanya berupa kebiasaan-kebiasaan padaakhirnya menjelma menjadi suatu panduan atau tolak ukur dalam bertingkah laku di masyarakat.Kebiasaan-kebiasaan tersebut bahkan dibuat lebih ketat lagi dengan menerapakan sanksi adat
1
Imam Sudiyat, SH, Asas-Asas Hukum Adat, Penerbit Liberty, Yogyakarta, Tahun 2000, hal 11.
 
(adatsanctie)
yang diperuntukkan bagi orang atau segolongan orang yang melanggar kebiasaan-kebiasaan (adat) tersebut.Oleh karena hukum adat tumbuh berdasarkan kebiasaan-kebiasaan yang hidup, tumbuh,dan berkembang di tengah-tengah lingkungan masyarakat, maka perkembangan hukum adat itusendiri akan menghasilkan suatu ragam atau corak atau karakteristik yang diferensial. Perbedaantersebut terjadi sebagai akibat interaksi sosial yang terjadi dalam suatu masyarakat adat tentu akan berbeda pula prosesnya dengan interaksi sosial pada masyarakat adat lainnya. Hal tersebut bisaterjadi karena berbagai faktor yang diantaranya adalah, faktor genealogis, tipologis wilayah, pendekatan religius ideologis dan faktor-faktor lainnya.Pada dasarnya, untuk mengetahui seberapa jauh konsistensi peenrapan hukum adat dimasyarakatnya adalah hal yang cukup sulit, hal tersebut karena diakibatkan beberapa hal sebagai berikut, yaitu :1.
 
Hukum Adat masih terus dalam masa pertumbuhan; dan2.
 
Hukum Adat secara langsung membawa kita kepada 2 (dua) keadaan yang justru merupakansifat dan pembawaan hukum adat, yaitu :a.
 
Tertulis dan tidak tertulis; b.
 
Pasti atau tidak tidak pasti; danc.
 
Hukum Raja atau Hukum Rakyat dan sebagainya.
2
 Indonesia, sebagai satu-satunya negara yang diakui sebagai tonggak awal bagi berdirinyaHukum Adat pada kenyataannya memiliki pluralisme adat yang merupakan representatif dari berbagai daerah tidak terkecuali dengan Provinsi Bengkulu. Lebih dari 10 (sepuluh) jenismasyarakat adat yang tergabung dalam satu suku atau etnis yang mendiami Provinsi Bengkulu.
2
 
Ibid 
. hal 6.
 
Mulai dari penduduk asli, kaum pendatang termasuk kaum pendatang yang sudah terasimilasisecara temporal dengan penduduk asli. Suku-suku tersebut antara lain adalah sebagai berikut :1.
 
Suku Rejang;2.
 
Suku Serawai;3.
 
Suku Melayu Bengkulu;4.
 
Suku Lembak;5.
 
Suku Pasemah;6.
 
Suku Enggano;7.
 
Suku Minangkabau;8.
 
Suku Jawa;9.
 
Suku Batak;10.
 
Suku Sunda dan lainnya.Suku-suku tersebut pada dasarnya mewakili berbagai macam karakteristik masyarakatadatnya masing-masing dengan tipologi budaya dan khasanah adat yang berbeda-beda juga. SukuSerawai, sebagai salah satu suku terbesar yang ada di Provinsi Bengkulu, secara domisili beradadan berasal dari salah satu Kabupaten Seluma yang merupakan kabupaten pemekaran dariKabupaten Bengkulu Selatan yang ada di Provinsi Bengkulu. Suku Serawai, dengan segalakeunikan dan kompleksitas adatnya tentu menjadikannya sebagai salah satu lingkunganmasyarakat adat yang sangat patut untuk dlindungi dan dilestarikan.Pelestarian dan perlindungan hukum adat di suku (tanah/tana) Serawai secara yuridisnormatif tidak bertentangan dengan hukum positif yang menjadi landasan hukum utama diIndonesia, asalkan proses legalisasi hukum tersebut tetap memperhatikan asas-asas danmekanisme pembentukan hukum yang berlaku di Indonesia.

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->