• Embed Doc
  • Readcast
  • Collections
  • CommentGo Back
Download
 
Clinical Governance
dan aplikasinya di Rumah Sakit
Dr. Dody Firmanda, SpA, MA.
Pendahuluan
Sebagaimana telah diketahui istilah dan definisi ‘mutu’ itu sendiri mempunyai arti/maknadan perspektif yang berbeda bagi setiap individu tergantung dari sudut pandang masingmasing. Dapat ditinjau dari segi profesi medis/perawat, manajer, birokrat maupun konsumen pengguna jasa pelayanan sarana kesehatan. (‘
Quality is different things to different peoplebased on their belief and norms’ 
). Begitu juga mengenai perkembangan akan ‘mutu’ dari cara
inspection
’,
quality control 
,
quality assurance
sampai ke
total quality
. Jepangmenggunakan istilah
quality contro
untuk seluruhnya, sedangkan di Amerika memakaiistilah ‘
continuous quality improvement 
’ untuk ‘
total quality
’ dan Inggris memakai istilah
quality assurance
untuk
quality assurance’,
continuous quality improvement 
maupununtuk ‘
total quality
 
dan tidak membedakannya. Di negara kita dikenal juga akan istilah
Gugus Kendali Mutu/GKM 
’ dan ‘
 Akreditasi
’.Bila kita pelajari, evolusi perkembangan mutu berasal dari bidang industri pada awal akhir abad ke sembilan belas dan awal abad ke dua puluh di masa perang dunia pertama. Padawaktu itu industri senjata menerapkan kaidah ‘
inspection
’ dalam menjaga kualitas produksiamunisi dan senjata. Shewart mengembangkan dan mengadopsi serta menerapkan kaidahstatistik sebagai ‘
quality control’ 
serta memperkenalkan pendekatan siklus P-D-S-A (
 P 
lan,
 D
o,
tudy dan
 A
ct) yang mana hal ini kemudian dikembangkan oleh muridnya Demingsebagai P-D-C-A (
 P 
lan,
 D
o,
heck dan
 A
ction). Kaidah PDCA ini menjadi cikal bakal yangkemudian dikenal sebagai ‘generic form of quality system’ dalam ‘quality assurance’ dariBSI 5751 yang kemudian menjadi seri EN/ISO 9000 dan 14 000. Tatkala Demingdiperbantukan ke Jepang dalam upaya memperbaiki dan mengembangkan industri, beliau
Disampaikan pada Pendalaman Materi Rapat Kerja RS Pertamina Jaya , Jakarta 29 Oktober 2001.
1
 
mengembangkan dengan memadukan unsur budaya Jepang ‘kaizen’ dan filosofi Sun Tzudalam hal ‘benchmarking’ maupun manajemen dan dikenal sebagai ‘total quality’.Sedangkan untuk bidang kesehatan, Donabedian dengan ‘
 structure, process
dan
outcome
 pada awal tahun 80an memperkenalkan tentang cara penilaian untuk standar, kriteria danindikator. Selang beberapa tahun kemudian Maxwell mengembangkan ‘
 six dimensions of quality
’. Tehnik Donabedian dan Maxwell ini lebih menitikberatkan tentang hal membuatstandar dan penilaiannya (akreditasi) yang merupakan 2 dari 3 komponen
‘qualityassurance’ 
. Komponen ke tiga (‘
continuous quality improvement’ 
) tidak berkembang,sehingga akibatnya meskipun suatu organisasi pelayanan kesehatan tersebut telah mendapatakreditasi akan tetapi ‘mutu’nya tetap tidak bergeming dan tidak meningkat. Apa yang yangsalah?Akhir akhir sering muncul dan semakin popular akan istilah ‘Clinical governance’ yangdikatakan sebagai upaya dalam rangka
continuous quality improvement 
(CQI) berdasarkan pendekatan “Evidence-based Medicine/EBM” yang terdiri dari empat aspek yaitu
 professional performance, resource use (efficiency), risk managemen
dan
 patients’  satisfaction.
 
Penerapan
‘Clinical Governance’ 
dalam suatu organisasi pelayanan kesehatanmemerlukan beberapa persyaratan yakni
organisastion-wide transformation, clinical leadership
dan
 positive organizational cultures
. Istilah
Clinical Governance
(CG) ini pertama kali muncul di negara Inggris sekitar tahun 1998 tatkala kampanye politik PartaiBuruh yang dipimpin oleh Tony Blair yang mengangkat isu kesehatan dan sentimenmasyarakat pada saat itu dengan terbongkarnya kasus di RS Bristol dikarenakan keteledoran penanganan kasus tersebut.Latar belakang pendahuluan diatas tersebut akan coba dibahas dalam makalah ini dansekaligus dipadukan serta diimplementasikan di rumah sakit.
Definisi
Secara sederhana
Clinical governance
adalah suatu cara (sistem) upaya menjamin danmeningkatkan mutu pelayanan secara sistematis dalam satu organisasi penyelenggara2
 
 pelayanan kesehatan (rumah sakit) yang efisien. Clinical governance is
“a framework through which organisations are accountable for continuously improving the quality of thei services and safeguarding high standards of care by creating an environment in whichexcellence in clinical care will flourish
.”Sedangkan istilah Kedokteran Berbasis Bukti (KBB)/
 Evidence-based Medicine
(EBM) itusendiri adalah suatu cara pendekatan untuk mengambil keputusan klinis dalam penatalaksanaan pasien secara
eksplisit
dan
sistematis
berdasarkan bukti penelitian terakhir yang
sahid
(
valid 
) dan
bermanfaat
.
Konsep
Secara konsep CG yang asli dapat dilihat sebagaimana Gambar 1 dibawah dengan komponenutamanya terdiri dari:1.Akauntabilitas dan alur pertanggung jawaban yang jelas bagi mutu pelayanan secaraumum dan khusus.2.Kegiatan program peningkatan mutu yang berkesinambumgan.3.Kebijakan manajemen resiko.4.Prosedur profesi dalam identifikasi dan upaya perbaikan/peningkatan kinerja.3
of 00

Leave a Comment

You must be to leave a comment.
Submit
Characters: ...
You must be to leave a comment.
Submit
Characters: ...