Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Look up keyword
Like this
1Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Khiyar

Khiyar

Ratings: (0)|Views: 30 |Likes:
Published by Emirul_Umara
Khiyar
Pengertian Khiyar
Pengertian khiyar menurut ulama fiqh adalah

“Suatu aqid yang menyebabkan aqid memiliki hak untuk memutuskan haknya, yaitu menjadikan atau membatalkannya baik khiyar syarat, ‘aib, atau ru’yah, dan hendaklah memilih di antara dua barang jika khiyar ta’yin.”

Secara bahasa khiyar berarti pilihan. Dalam transaksi jual beli pihak pembeli maupun penjual memiliki pilihan untuk menentukan apakah mereka betul-betul akan membeli atau menjual, membatalkannya dan atau menentukan pilihan di antara barang yang ditawarkan.
Dalam Kompilasi Hukum Ekonomi Syariah, “Khiyar adalah hak pilih bagi penjual dan pembeli untuk melanjutkan atau membatalkan akad jual-beli yang dilakukannya.
1. A. Pembagian Khiyar
Pembagian khiyar sangat beragam pengelompokannya dan para ulama berbeda pendapat dalam membagi khiyar.
Ulama Malikiyah berpendapat bahwa khiyar majlis itu batal dan membagi khiyar menjadi dua bagian
1. Khiyar at-taammul (melihat, meneliti), khiyar secara mutlak
2. Khiyar naqish (kurang), apabila terdapat kekurangan atau ‘aib pada barang yang dijual (khiyar al-hukmy).

Ulama Syafi’iyah[3] berpendapat bahwa khiyar terbagi menjadi dua
1. Khiyar at-tasyahi, khiyar yang menyebabkan pembeli memperlama transaksi sesuai dengan seleranya terhadap barang, baik dalam majlis ataupuan syarat.
2. Khiyar Naqishah, khiyar yang disebabkan adanya perbedan dalam lafazh atau adanya kesalahan dalam perbuatan atau adanya penggantian.

Ulama Hanabilah membagi khiyar menjadi delapan macam. Sedangkan ulama Hanafiyah membagikhiyar dalam tujuh belas bagian.

Secara umum, khiyar masyhur dibagi menjadi tiga
1. 1. Khiyar Majlis
Majlis berasal dari fi’il madhi ” jalasa” yang berarti duduk kemudian dirubah ke isim makan “majlis” yang berarti tempat duduk. Tempat duduk tersebut dapat dijabarkan lagi menjadi tempat transaksi. Jadi, khiyar majlis adalah khiyar yang dilakukan pada satu tempat. Mauqud ‘alaih (barang) menjadi sah milik penjual atau pembeli ketika keduanya sudah berpisah. Batasan satu tempat tersebut menurut jumhur ulama berdasarkan adat.
Seperti kejadian berikut. Ronald penjual buku. Fagundez pembelinya. Di toko Ronald sudah ada tulisan, “Barang tidak boleh dikembalikan sesudah meninggalkan lokasi toko”. Dengan ketentuan di atas, jika Fagundez jadi membeli buku maka Ronald sudah tidak bertanggung jawab terhadap buku tersebut ketika Fagundez meninggalkan toko dan buku tersebut sepenuhnya milik Fagundez. Jika Fagundez sempat memilih buku dan akhirnya tidak jadi membeli karena tidak sepakat harga atau lainnya, maka buku tersebut tetap milik Ronald dan ia berhak menjual buku tersebut kepada orang lain.
Hadis Nabi[6]
Dari Ibnu Umar ra, dari Rasulullah saw bahwa Rasulullah saw bersabda, “Apabila ada dua orang melakukan transaksi jual beli, maka masing-masing dari mereka (mempunyai) hak khiyar, selama mereka belum berpisah dan mereka masih berkumpul atau salah satu pihak memberikan hak khiyarnya kepada pihak yang lain. Namun jika salah satu pihak memberikan hak khiyar kepada yang lain lalu terjadi jual beli, maka jadilah jual beli itu, dan jika mereka telah berpisah sesudah terjadi jual beli itu, sedang salah seorang di antara mereka tidak (meninggalkan) jual belinya, maka jual beli telah terjadi (juga).” (Muttafaqun ‘alaih: Fathul Bari IV: 332 no: 2112, Muslim 1163 no: 44 dan 1531, dan Nasa’i VII: 249).
Dan haram meninggalkan majlis kalau khawatir dibatalkan:
Dari Amr bin Syu’aib dari bapaknya dari datuknya bahwa Rasulullah saw bersabda, “Pembeli dan penjual (mempunyai) hak khiyar selama mereka belum berpisah, kecuali jual beli dengan akad khiyar, maka seorang di antara mereka tidak boleh meninggalkan rekannya karena khawatir dibatalkan.”(Shahih: Shahihul Jami’us Shaghir no: 2895, ‘Aunul Ma’bud IX: 324 no: 3439 Tirmidzi II: 360 no: 1265 dan Nasa’i VII: 251).
Imam Syafi’i berkata,”Setiap dua orang yang melakukan jual beli pada zaman dahulu dengan cara jatuh tempo, utang, menukar atau dengan cara yang lainny
Khiyar
Pengertian Khiyar
Pengertian khiyar menurut ulama fiqh adalah

“Suatu aqid yang menyebabkan aqid memiliki hak untuk memutuskan haknya, yaitu menjadikan atau membatalkannya baik khiyar syarat, ‘aib, atau ru’yah, dan hendaklah memilih di antara dua barang jika khiyar ta’yin.”

Secara bahasa khiyar berarti pilihan. Dalam transaksi jual beli pihak pembeli maupun penjual memiliki pilihan untuk menentukan apakah mereka betul-betul akan membeli atau menjual, membatalkannya dan atau menentukan pilihan di antara barang yang ditawarkan.
Dalam Kompilasi Hukum Ekonomi Syariah, “Khiyar adalah hak pilih bagi penjual dan pembeli untuk melanjutkan atau membatalkan akad jual-beli yang dilakukannya.
1. A. Pembagian Khiyar
Pembagian khiyar sangat beragam pengelompokannya dan para ulama berbeda pendapat dalam membagi khiyar.
Ulama Malikiyah berpendapat bahwa khiyar majlis itu batal dan membagi khiyar menjadi dua bagian
1. Khiyar at-taammul (melihat, meneliti), khiyar secara mutlak
2. Khiyar naqish (kurang), apabila terdapat kekurangan atau ‘aib pada barang yang dijual (khiyar al-hukmy).

Ulama Syafi’iyah[3] berpendapat bahwa khiyar terbagi menjadi dua
1. Khiyar at-tasyahi, khiyar yang menyebabkan pembeli memperlama transaksi sesuai dengan seleranya terhadap barang, baik dalam majlis ataupuan syarat.
2. Khiyar Naqishah, khiyar yang disebabkan adanya perbedan dalam lafazh atau adanya kesalahan dalam perbuatan atau adanya penggantian.

Ulama Hanabilah membagi khiyar menjadi delapan macam. Sedangkan ulama Hanafiyah membagikhiyar dalam tujuh belas bagian.

Secara umum, khiyar masyhur dibagi menjadi tiga
1. 1. Khiyar Majlis
Majlis berasal dari fi’il madhi ” jalasa” yang berarti duduk kemudian dirubah ke isim makan “majlis” yang berarti tempat duduk. Tempat duduk tersebut dapat dijabarkan lagi menjadi tempat transaksi. Jadi, khiyar majlis adalah khiyar yang dilakukan pada satu tempat. Mauqud ‘alaih (barang) menjadi sah milik penjual atau pembeli ketika keduanya sudah berpisah. Batasan satu tempat tersebut menurut jumhur ulama berdasarkan adat.
Seperti kejadian berikut. Ronald penjual buku. Fagundez pembelinya. Di toko Ronald sudah ada tulisan, “Barang tidak boleh dikembalikan sesudah meninggalkan lokasi toko”. Dengan ketentuan di atas, jika Fagundez jadi membeli buku maka Ronald sudah tidak bertanggung jawab terhadap buku tersebut ketika Fagundez meninggalkan toko dan buku tersebut sepenuhnya milik Fagundez. Jika Fagundez sempat memilih buku dan akhirnya tidak jadi membeli karena tidak sepakat harga atau lainnya, maka buku tersebut tetap milik Ronald dan ia berhak menjual buku tersebut kepada orang lain.
Hadis Nabi[6]
Dari Ibnu Umar ra, dari Rasulullah saw bahwa Rasulullah saw bersabda, “Apabila ada dua orang melakukan transaksi jual beli, maka masing-masing dari mereka (mempunyai) hak khiyar, selama mereka belum berpisah dan mereka masih berkumpul atau salah satu pihak memberikan hak khiyarnya kepada pihak yang lain. Namun jika salah satu pihak memberikan hak khiyar kepada yang lain lalu terjadi jual beli, maka jadilah jual beli itu, dan jika mereka telah berpisah sesudah terjadi jual beli itu, sedang salah seorang di antara mereka tidak (meninggalkan) jual belinya, maka jual beli telah terjadi (juga).” (Muttafaqun ‘alaih: Fathul Bari IV: 332 no: 2112, Muslim 1163 no: 44 dan 1531, dan Nasa’i VII: 249).
Dan haram meninggalkan majlis kalau khawatir dibatalkan:
Dari Amr bin Syu’aib dari bapaknya dari datuknya bahwa Rasulullah saw bersabda, “Pembeli dan penjual (mempunyai) hak khiyar selama mereka belum berpisah, kecuali jual beli dengan akad khiyar, maka seorang di antara mereka tidak boleh meninggalkan rekannya karena khawatir dibatalkan.”(Shahih: Shahihul Jami’us Shaghir no: 2895, ‘Aunul Ma’bud IX: 324 no: 3439 Tirmidzi II: 360 no: 1265 dan Nasa’i VII: 251).
Imam Syafi’i berkata,”Setiap dua orang yang melakukan jual beli pada zaman dahulu dengan cara jatuh tempo, utang, menukar atau dengan cara yang lainny

More info:

Categories:Types, School Work
Published by: Emirul_Umara on Feb 28, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/26/2013

pdf

text

original

 
Khiyar Pengertian Khiyar 
 Pengertian
khiyar 
menurut ulama fiqh adalah
“Suatu
aqid yang menyebabkan aqid memiliki hak untuk memutuskan haknya, yaitumenjadikan atau membatalkannya baik khiyar syarat,
„aib,
atau
ru‟yah,
dan hendaklahmemilih di antara dua barang jika khiyar 
ta‟yin.” 
 Secara bahasa
khiyar 
berarti pilihan. Dalam transaksi jual beli pihak pembeli maupunpenjual memiliki pilihan untuk menentukan apakah mereka betul-betul akan membeliatau menjual, membatalkannya dan atau menentukan pilihan di antara barang yangditawarkan.
Dalam Kompilasi Hukum Ekonomi Syariah, “Khiyar adalah hak pilih bagi penjual dan
pembeli untuk melanjutkan atau membatalkan akad jual-beli yang dilakukannya.1.
A. Pembagian Khiyar 
 Pembagian
khiyar 
sangat beragam pengelompokannya dan para ulama berbedapendapat dalam membagi
khiyar 
.Ulama Malikiyah berpendapat bahwa
khiyar 
majlis itu batal dan membagi khiyar menjadi dua bagian1.
Khiyar 
 
at-taammul 
(melihat, meneliti),
khiyar 
secara mutlak2.
Khiyar naqish
(kurang), apabila terdapat kekurangan atau
„aib
pada barang yangdijual (
khiyar al-hukmy 
).
Ulama Syafi‟iyah
 berpendapat bahwa
khiyar 
terbagi menjadi dua1.
Khiyar at-tasyahi, khiyar 
yang menyebabkan pembeli memperlama transaksisesuai dengan seleranya terhadap barang, baik dalam majlis ataupuan syarat.2.
Khiyar Naqishah, khiyar 
yang disebabkan adanya perbedan dalam lafazh atauadanya kesalahan dalam perbuatan atau adanya penggantian.Ulama Hanabilah membagi
khiyar 
menjadi delapan macam. Sedangkan ulamaHanafiyah membagi
khiyar 
dalam tujuh belas bagian.Secara umum,
khiyar 
masyhur dibagi menjadi tiga1.
1. Khiyar Majlis
 
Majlis berasal dari fi‟il madhi ”
 
 jalasa” 
yang berarti duduk kemudian dirubah ke isimmakan
“majlis” 
yang berarti tempat duduk. Tempat duduk tersebut dapat dijabarkan lagimenjadi tempat transaksi. Jadi, khiyar majlis adalah khiyar yang dilakukan pada satu
 
tempat.
Mauqud 
„alaih
(barang) menjadi sah milik penjual atau pembeli ketika keduanyasudah berpisah. Batasan satu tempat tersebut menurut jumhur ulama berdasarkanadat.Seperti kejadian berikut. Ronald penjual buku. Fagundez pembelinya. Di toko Ronald
sudah ada tulisan, “Barang tidak boleh dikembalikan sesudah meninggalkan lokasitoko”. Dengan ketentuan di atas, jika Fagundez jadi membeli buku maka Ronald s
udahtidak bertanggung jawab terhadap buku tersebut ketika Fagundez meninggalkan tokodan buku tersebut sepenuhnya milik Fagundez. Jika Fagundez sempat memilih bukudan akhirnya tidak jadi membeli karena tidak sepakat harga atau lainnya, maka bukutersebut tetap milik Ronald dan ia berhak menjual buku tersebut kepada orang lain.Hadis NabiDari Ibnu Umar ra, dari Rasulullah saw bahwa Rasulullah saw bersabda,
“Apabila
adadua orang melakukan transaksi jual beli, maka masing-masing dari mereka(mempunyai) hak khiyar, selama mereka belum berpisah dan mereka masih berkumpul atau salah satu pihak memberikan hak khiyarnya kepada pihak yang lain. Namun jikasalah satu pihak memberikan hak khiyar kepada yang lain lalu terjadi jual beli, maka jadilah jual beli itu, dan jika mereka telah berpisah sesudah terjadi jual beli itu, sedang salah seorang di antara mereka tidak (meninggalkan) jual belinya, maka jual beli telahterjadi 
(juga).” 
 
(Muttafaqun „alaih: Fathul Bari IV: 332 no: 2112, Muslim 1163 no: 44 dan
1531, dan N
asa‟i VII: 249).
 Dan haram meninggalkan majlis kalau khawatir dibatalkan:
Dari Amr bin Syu‟aib dari bapaknya dari datuknya bahwa Rasulullah saw
bersabda,
“Pembeli 
dan penjual (mempunyai) hak khiyar selama mereka belumberpisah, kecuali jual beli dengan akad khiyar, maka seorang di antara mereka tidak boleh meninggalkan rekannya karena khawatir 
dibatalkan.” 
(Shahih: Shahihul Jami‟usShaghir no: 2895, „Aunul Ma‟bud IX: 324 no: 3439 Tirmidzi II: 360 no: 1265 dan Nasa‟i
VII: 251).
Imam Syafi‟i berkata,”Setiap du
a orang yang melakukan jual beli pada zaman dahuludengan cara jatuh tempo, utang, menukar atau dengan cara yang lainnya, dimanakeduanya melakukan hal tesebut dengan dasar suka sama suka, keduanya tidakberpisah dari tempat berdiri atau duduknya dimana keduanya melakukan transaksi jualbeli itu. Jika keduanya dalam posisi demikian. Maka diperbolehkan bagi masing-masinguntuk mrmbatalkan jual belinya. Setiap mereka wajib melakukan transaksi penjualanpada tempat dimana keduanya melakukan transaksi jual beli, atau jual beli yangdilaksanakan dengan cara khiyar. Maka, sesungguhnya penjualan itu ditetapkandengan adanya perpisahan atau dengan cara
khiyar 
.”
 
Dari pendapat Imam Syafi‟i di atas dapat dirumuskan syarat
-syarat khiyar majlis1. Dengan dasar suka sama suka atau rela dengan aqad tersebut.2. Keduanya belum berpisah dari tempat transaksi.
2.
 
Khiyar Syarat
 
 
Khiyar Syarat adalah khiyar yang terjadi dengan ketentuan kesepakatan „aqid dalam
menentukan batas waktu untuk meneruskan atau membatalkan jual beli.Pengertian khiyar syarat menurut ulama fiqh
“Suatu
keadaan yang membolehkan salah seorang yang akad atau masing-masing yang akad atau selain kedua pihak yang akad memiliki hak atas pembatalan atau penetapan akad selama waktu yang 
ditentukan.” 
 Seperti contoh. Rudi mempunyai showroon mobil. Toni akan membeli mobil darishowroom Rudi. Setelah negoisasi, disepakati bahwa Toni boleh membawa mobiltersebut selama tiga hari dengan jaminan sertifikat rumah untuk dicoba dan belummembelinya. Selama masa
khiyar 
tiga hari, Rudi tidak boleh menjual mobil yang dibawatoni kepada orang lain. Ketika jatuh tempo, jika Toni jadi membeli mobil maka aqad bisaterjadi. Jika tidak jadi, Toni berhak mengembalikan mobil tersebut kepada Rudi tanpaada biaya apapun.Dari Ibnu Umar ra, dari Nabi saw Beliau bersabda,
“Sesungguhnya
dua orang yang melakukan jual beli mempunyai hak khiyar dalam jual belinya selama mereka belumberpisah, atau jual belinya dengan akad 
khiyar.” 
 
(Muttafaqun „alaih: Fathul Bari IV: 326
no: 2107, Muslim II
I: 1163 no: 1531 dan Nasa‟i VII: 248).
 
Berakhirnya masa
 
khiyar
 
Khiyar 
syarat itu paling lama adalah 3 hari semenjak mengikat syarat, baik itudisyaratkan dalam aqad ataupun majelis akad. Lain halnya jika syarat yang disebutkanadalah secara mutlak atau persyaratan tersebut melebihi 3 hari, maka aqadnya tidaksah Pernyataan ini berdasarkan hadis Nabi
:” Jika kamu menjual maka kataakanalah : Tidak ada kecurangan. Dan saya memiliki
kh
iyar selama tiga hari”. H. R. Bukhori.
 
  
 
  
 
      
 
 
 
“Engkau boleh khiyar pada segala macam barang yang telah engkau beli selama tigahari tiga malam” (HR.Baihaqi dan Ibnu Majah)
 Ulama Hanafiyah dan
Ja‟far berpendapat bahwa waktu tiga hari adalah waktu cukup
dan memenuhi kebutuhan seseorang. Dengan demikian, jika melewati tiga hari, jual belitersebut batal. Akan tetapi akad tersebut dapat menjadi shahih, jika diulangi dan tidak

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->