∗∗∗∗
KOPERASI PRODUSEN SUSU :MODEL KLASTER INDUSTRI PETERNAKAN*Oleh : Noer Soetrisno**A.
Latar Belakang
1. Sejarah panjang gerakan koperasi di dunia, terutama koperasi yang bergerak disektor pertanian, di manapun selalu menampilkan koperasi produsen susu atau koperasipeternak sapi perah sebagai contoh keberhasilan. Contoh ini selalu benar di manapun danpada saat apapun serta dalam sistem perekonomian apapun, paling tidak kemajuan relatif dibandingkan dengan keberhasilan koperasi yang lain di tempat atau negeri yang sama.Ungkapan ini pantas menjadi renungan dan bahan analisis untuk mencari sumberkekuatan koperasi dari pengalaman empires.2. Peternakan sapi perah mempunyai ciri yang berbeda dengan usaha pertanianlainnya karena mempunyai kecenderungan terjadinya aglomorasi yang tinggi dalamlingkungan atau kawasan tertentu. Kemudian dari kawasan tersebut melahirkan berbagaikegiatan terkait baik dalam sistem pendukung maupun outlet (jaringan keluar). Isolasitidak pernah menjadi hambatan, bahkan sangat sering menjadi kekuatan untuk melahirkan lembaga yang membuka kepentingan para peternak secara bersama-sama.Oleh karena itu lembaga koperasi dapat tumbuh secara kokoh dibandingkanpengorganisasian koperasi yang bergerak pada kegiatan ekonomi lainnya.3. Ciri-ciri sebagaimana dikemukakan diatas memberikan penjelasan untuk melihat lebih jauh kehadiran dan potensi koperasi produsen susu di Indonesia untuk berkembang lebih lanjut terutama dalam membawa kehidupan peternakan sapi perahuntuk dapat memenuhi misinya dalam perekonomian nasional. Karakter industripersusuan yang lekat dengan kehadiran koperasi seharusnya menjadi dasarpengembangan industri persusuan nasional
B.
Proyeksi Persusuan Nasional
4. Majalah LACTO MEDIA melaporkan bahwa kebutuhan konsumsi susu diIndonesia pada tahun 2000 mencapai 1,2 juta ton setahun, sedang produksi dalam negeribaru berhasil mencapai sekitar 400.000 ton. Hal ini berarti bahwa setiap tahun nya masihterdapat pasar sebesar 800.000 ton yang dapat diperebutkan dari para pesaing yaituproduk impor yang mengisi kekurangan tersebut. Dengan demikian terbuka kesempatanluas untuk mengembangkan produksi susu secara sehat.5. Dilihat dari potensi produksi susu memang pada saat ini memperlihatkan trendyang melemah karena populasi sapi terlihat pada tahun 2000 hanya tinggal 143.626 ekorpadahal tahun 1997 menjelang krisis telah mencapai 148.901 ekor. Kemorosotan ini tidak
* Makalah disampaikan pada Sarasehan Revitalisasi Persusuan di Jawa Timur, diselenggarakan oleh GKSI tanggal6 Januari 2002** Deputi Menteri Negara Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah Bidang Pengkajian Sumberdaya Usaha KecilMenengah dan Koperasi
Leave a Comment