Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Look up keyword
Like this
6Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Kamp-05 Hirarki Akuntan Sebagai Moderasi Hubungan Antara

Kamp-05 Hirarki Akuntan Sebagai Moderasi Hubungan Antara

Ratings:

5.0

(2)
|Views: 500 |Likes:
Published by Msr A

More info:

Categories:Types, Research
Published by: Msr A on Feb 24, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/10/2014

pdf

text

original

 
SNA VIII Solo, 15 – 16 September 2005 
 643643
HIRARKI AKUNTAN SEBAGAI MODERASI HUBUNGAN ANTARAKOMITMEN AFEKTIF DAN BERKELANJUTAN DENGANKOMITMEN PROFESIONALJANTJE EDUARD LEKATOMPESSY
Universitas Pattimura Ambon
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk menguji secara empiris perbedaan komitmenprofessional diantara hirarki akuntan, dan menguji apakah komitmen afektif danberkelanjutan berpengaruh pada komitmen professional, dan apakah hirarki akuntanberpengaruh pada hubungan antara komitmen afektif dan berkelanjutan dengan komitmenprofessional.Penyempelan menggunakan teknik konveniens. Responden adalah para akuntanyang bekerja pada kantor akuntan publik. Terdapat 140 responden berpartisipasi dalampenelitian ini. Model diuji dengan menggunakan oneway ANOVA dan moderatedregression analysis (MRA).Hasil Penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan komitmen professionaldi antara para akuntan. Komitmen afektif berpengaruh secara positif dan signifikandengan komitmen professional sedangkan komitmen berkelanjutan tidak berpengaruhdengan komitmen professional. Hirarki akuntan memoderasi hubugan antara komitmenafektif dan berkelanjutan dengan komitmen professional.Kata kunci: hirarki akuntan, komitmen afektif, komitmen berkelanjutan, komitmenprofesional
1. PENDAHULUAN
Menurut teori sosiologi klasik tentang profesi (Goode 1957) menyebutkan bahwamasyarakat mempunyai prestise dan kekuatan terhadap profesi disebabkan karena paraprosefesional mempunyai bodies of knowledge yang terkait dengan pusat keinginan dannilai dari suatu sistem social. Untuk diharapkan para professional dalam menjalankantugas profesinya harus berpegang pada nilai-nilai professional. Larson (1977) dalamAranya dkk (1981) mengatakan bahwa masyarakat mengharapkan para professionaluntuk berkomitmen terhadap jasa yang diberikan kepada publik melebihi insentif material.Berkaitan dengan hal tersebut, maka akuntan sebagai suatu profesi harusmenunjukkan sikap professional dalam melakukan pekerjaan. Aranya dkk (1981)berpendapat bahwa profesi akuntan berbeda dengan profesi lainnya. Profesi akuntanmelakukan praktek publik yang diharapkan dapat memberikan jasanya kepada pihak ketiga disamping pihak klien yang menginginkannya.Untuk itu berbagai peneliti telah melihat masalah tersebut terutama dalamhubungan dengan komitmen professional. Porter dkk (1974) dan Mowday dkk (1979)mengatakan bahwa komitmen berkaitan dengan a) adanya keinginan yang kuat danpenerimaan atas tujuan dan nilai-nilai organisasi; b) kesediaan untuk berusaha yangsebesar-besarnya untuk organisasi; dan c) adanya keinginan yang pasti untuk mempertahankan keikutsertaan dalam oganisasi. Para peneliti dalam bidang akuntansiyang melakukan penelitian misalnya Aranya dkk (1981); Aranya dan Ferris (1984);Harrel dkk (1986); Kalbers dan Fogarty (1995); serta McGregor dkk (1989). Merekamengkaji hubungan antara professional dengan komitmen dalam organisasi. Penelitian-penelitian tersebut juga mengkaji hubungan antara komitmen organisasional dengankomitmen professional. Komitmen professional menurut Aranya dan Ferris (1981)didefinisikan sebagai a) adanya keinginan yang kuat dan penerimaan atas tujuan dannilai-nilai profesi; b) kesediaan untuk berusaha yang sebesar-besarnya untuk profesi; danc) adanya keinginan yang pasti untuk mempertahankan keikutsertaan dalam profesi.
 
SNA VIII Solo, 15 – 16 September 2005 
 644644
Penelitian-penelitian tersebut mengkaji komitmen organisasional dalamhubungan dengan komitmen professional, misalnya Aranya dkk (1981) serta Aranya danFerris (1984) dengan melihat sisi komitmen dari unsur unidimensional. Pada halKetchand & Strawser (1998) bahwa individu mengembangkan komitmen dalamorganisasi melalui berbagai dimensi. Meyer dan Allen (1984 menyimpulkan bahwasetidaknya ada dua sumber komitmen yaitu komitmen afektif dan komitmenberkelanjutan.Penelitian ini mereplikasi penelitian yang dilakukan oleh Aranya dkk (1981).Perbedaan utama antara penelitian ini dengan penelitian sebelumnya adalah dari variablekomitmen organisasi. Bila penelitian sebelumnya memasukkan komitmen organisasionaldari unidimensional, maka penelitian ini melihatnya dari sisi dimensi ganda yaitukomitmen afektif dan komitmen berkelanjutan. Untuk itu penelitian ini akan mengkajikedua komitmen tersebut (afektif dan berkelanjutan) dalam hubungannya dengankomitmen professional. Penelitian ini juga mencoba memasukkan variable hirarkiakuntan sebagai variable moderasi.Bertolak dari uraian di atas, maka dapatlah dirumuskan pertanyaan penelitiansebagai berikut:a.
 
Apakah terdapat perbedaan komitmen professional antara hirarkiakuntan (akuntan yunior, akuntan senior, supervisor, manajer, danpartner)?b.
 
Apakah terdapat pengaruh antara komitmen afektif dan komitmenberkelanjutan dengan komitmen professional?c.
 
Apakah hirarki akuntan merupakan variable moderating yangmenghubungkan komitmen afektif dan komitmen berkelanjutan?Dengan demikian penelitian ini bertujuan untuk memperoleh bukti empirismengenai a) komitmen professional diantara hirarki akuntan; b) pengaruh komitmenafektif dan komitmen berkelanjutan dengan komitmen professional; dan c) hirarkiakuntan merupakan variable moderating yang menghubungkan komitmen afektif dankomitmen berkelanjutan.
2. KAJIAN TEORI DAN PENGEMBANGAN HIPOTESIS2.1. Hirarki Akuntan
Orientasi professional pada dasarnya berkaitan dengan level organisasi (Sorensendan Sorensen, 1974). Berbagai penelitian mempertanyakan apakah ada nilai-nilaiprofessional yang berbeda antara berbagai posisi oragnisasional, misalnya antara paratnerdan staf akuntan. Studi yang dilakukan oleh Sorensen dan Sorensen (1974) menunjukkanbahwa meningkatnya orisentasi birokrasi dan berkurangnya orientasi professional beradapada posisi rendah ke posisi tinggi, misalnya yunior ke senior akuntan.Sorensen dan Sorensen (1974) berpendapat bahwa nilai-nilai profesioal ataukomitmen professional didefinisikan sebagai a) keinginan yang kuat untuk menjadibagian dari profesi; dan b) berkeinginan yang kuat untuk menjadi anggota profesi.Dengan demikian partner akhirnya merasa lebih memiliki dibandingkan stafnya.Sedangkan Aranya dkk (1981) berpendapat bahwa staf akuntan yang berada padatingkat bawah merasa bahwa dalam tahap transisional karena berkaitan dengan kariermaka nilai professional perlu untuk ditingkatkan.Berdasarkan hal di atas, maka hipotesis pertama dirumuskan sebagai berikut:
 H1: Tidak terdapat perbedaan komitmen professional antara akuntan yunior,akuntan senior, supervisor, manajer, dan partner 
.
2.2. Komitmen Afektif, Komitmen Berkelanjutan, dan Komitmen Profesional
Aranya dan Ferris (1984) mengemukakan beberapa alasan yang menyebabkanmeningkatnya keinginan untuk menghubungkan konstruk komitmen yaitu (1) tingginyakomitmen mendorong para karyawan untuk melakukan yang terbaik bagi organisasidaripada rendahnya komitmen (Jauch, Glueck dan Osborn, 1978); (2) komitmenorganisasi menjadi ramalan terbaik terhadap
turnover 
karyawan daripada kepuasan kerja
 
SNA VIII Solo, 15 – 16 September 2005 
 645645
(Porter
et al.,
1974); dan (3) komitmen organisasional digunakan sebagai suatu indikatordari efektivitas keseluruhan suatu organisasi (Steers, 1977).Meyer dan Allen (1984) membedakan komitmen menjadi komitmen ganda yaitukomitmen
affective
dan
continuance
. Kedua istilah tersebut
(affective
dan
continuance)
digunakan oleh Meyer & Allen (1984) dengan memadukan komitmen organisasional dariPorters
et al,
(1974) dan Becker (1960). Porter
et al.,
(1974) menggambarkan komitmenseseorang sebagai suatu kekuatan identifikasi individual dan keterlibatannya denganorganisasi (Meyer et al., 1989). Komitmen seperti ini yang biasanya dijumpai dan diukurdengan OCQ. Dengan demikian komitmen
affective
diidentikkan dengan komitmenorganisasional Sedangkan Becker (1960) menggambarkan komitmen sebagaikecenderungan untuk ikut serta dalam suatu aktivitas yang konsisten karena biaya-biayayang dikeluarkan akan hilang jika meninggalkan organisasi tersebut. Komitmen sepertiini diidentikkan dengan komitmen
continuance
. Alasan inilah yang mengakibatkanmunculnya komitmen
affective
dan
continuance
. Untuk itu pengukuran komitmenorganisasional dalam OCQ yang menggunakan konstruk tunggal
(unidimensional),
mulaimenggunakan konstruk ganda
(multidimensional)
dalam beberapa penelitian komitmenorganisasional (Bar-Hayim & Berman, 1992; Angle & Perry, 1981).
 Affective commitment 
yang dikembangkan oleh Meyer & Allen (1984) didasarkanpada konsep
individual organizational goal congruence.
 
 Affective commitment 
mencerminkan kekuatan kecenderungan seseorang untuk tetap bekerja di suatu organisasikarena orang tersebut setuju dengan organisasi dan senang bekerja di organisasi tersebut(Meyer & Allen, 1984).
Continuance commitment 
berkaitan dengan teori
side bets
dari Becker (1960).Komitmen
continuance
merujuk pada kekuatan kecenderungan seseorang untuk tetapbekerja di suatu organisasi karena tidak ada alternatif pekerjaan lain. Dengan kata lainindividu yang tetap bekerja dalam organisasi karena mereka mengakumulasikan manfaatyang lebih (atau memberi beban yang lebih besar jika keluar) yang akan mencegahmereka mencari pekerjaan lain (Meyer & Allen, 1984). Meyer & Allen (1991)berpendapat bahwa
side bets
potensial yang mungkin terjadi di tingkat komitmen
continuance
yang tinggi meliputi waktu dan usaha yang dilakukan dalam mendapatkanketerampilan yang tidak dapat ditransfer dan hilangnya manfaat yang menarik atau hak-hak istimewa sebagai senior.Komitmen profesional adalah kekuatan identifikasi individual denganketerlibatannya secara khusus dengan suatu profesi. Dengan demikian individual dengankomitmen profesional yang tinggi dikarakteristikkan sebagai (1) adanya keyakinan yangkuat dan penerimaan atas tujuan profesi; (2) kesediaan untuk berusaha sebesar-besarnyauntuk profesi; dan (3) adanya keinginan yang pasti untuk keikutsertaan dalam profesi(Mowday
et al.,
1979).Hasil penelitian Aranya dkk (1981) mengenai komitmen organisasional denganmenggunakan komitmen yang bersifat unidimensional menunjukkan bahwa tidak terdapatpengaruh antara komitmen organisasional dengan komitmen professional. Dengandemikian penelitian ini juga beranggapan bahwa komitmen dengan dimensi ganda jugatidak berpengaruh pada komitmen professional.Selain itu penelitian ini juga akan memasukkan hirarki akuntan sebagai variablemoderasi yang memoderasi hubungan antara komitmen afektif dan berkelanjutan dengankomitmen professional. Dengan demikian dirumuskan hipotesis kedua dan ketiga sebagaiberikut:
 H2a: Komitmen afektif tidak berpengaruh pada komitmen professional H2b: Hirarki akuntan tidak memoderasi hubungan antara komitmen afektif dengan komitmen professional. H3a: Komitmen berkelanjutan tidak berpengaruh pada komitmen professional. H3b: Hirarki akuntan tidak memoderasi hubungan antara komitmen afektif dengan komitmen professional.

Activity (6)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 hundred reads
1 thousand reads
Nariya Kayu liked this
Ichsan Akbar liked this
Kurniawan Wawan liked this
makanmulu liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->