• Embed Doc
  • Readcast
  • Collections
  • 2
    CommentGo Back
 
Masa Depan ItuMiliknya Sang Pemberani, Inovatif, DanPunya Jiwa Wirausaha
Wah, dunia usaha berkembang pesat! Begitu mungkin, kata-kata yangAnda lontarkan, andai Anda orang baru” dalam sebuah bidang usaha.Kian dalam, Anda masuki dan dalami sebuah bidang bisnis, kianbanyaklah hal baru yang Anda lihat. Apa yang lima tahun lalu belum ada,saat ini sudah begitu massal dan eksis di tengah-tengah masyarakat.Bahkan, kejayaan yang diraih pengusaha semasa orangtua kita, dalamperjalanan waktu, mejadi “bisnis kuno” yang tersisa kejayaannya dalamkisah-kisah belaka, karena
the real bussiness
mereka sudah tumbang atausedang diambang kehancuran. Sudah muncul wirausahawan baru, dengan jurus-jurus barunya yang mulai merajai bidang usaha yang ditanganinya.Usahawan seperti apa, yang berkesanggupan membangun dan mengelolakebaruan demi kebaruan seperti itu? Pasti, ia termasuk pribadi yang gigih,wawasannya luas, kemauannya besar.Kita juga belum melihat di Indonesia sendiri ada organisasi bisnis yangcukup tangguh merespon kebaruan. Bahkan, peluang-peluang baru, seringlewat begitu saja karena kita belum mampu meresponnya secara baik. Tidak dipungkiri, tantangan pasar lokal maupun global denganpermintaan, selalu meningkat. Pada sisi lain - selain kebaruan-kebaruandalam bisnis - semangat memberi layanan terbaik berikut inovasi dalamsegi pelayanannya, juga berkembang pesat. Siapa bisa mewujudkanidealitas seperti itu, dan sanggup merespon kebaruan, sekaligus kreatif-inovatif di sisi pemberian pelayanan, akan sukses.Masa depan menjadi milik mereka yang tidak kenal takut, inovatif, yangmengenali betapa pentingnya mengembangkan kepemimpinan wirausahadalam organisasinya.Jangan lalai meluangkan waktu untuk belajar,menulis, meneliti, memberikan saran, konsultasi, dan terus belajar.Organisasi-organisasi terdepan dunia, tak henti melakukan itu. Kamipercaya sepenuhnya pada prinsip bahwa cara terbaik untuk melayani diriAnda, untuk berjuang menjadi yang terbaik yang Anda bisa, adalahdengan cara melayani orang lain. Ada tiga hal yang ingin kami ungkapdalam konteks ini.
Pertama
, meski dalam skala yang lebih sederhana, kami memilikikesempatan untuk belajar melayani yang lain, bersikap kreatif, memimpinyang lain, dan menyelesaikan apa yang kami mulai. Dalam proses itu,yang berangsur luluh dalam pembelajaran, ”bagaimana untuk bertahanhidup” (
to get by 
), daripada untuk membangun kebersamaan (
to get on
).Mungkin saat paling kritis yang terpenting dari proses pertumbuhan kamisesungguhnya adalah bersikap kritis. Seringkali terlalu sering kita menjadilebih ahli dalam menunjuk apa yang salah dari suatu pendapat, daripadayang benar. Karena kita terbiasa berusaha keras untuk bertingkah lakudengan cara yang konsisten dengan apa yang membuat kita merasanyaman, kita menerapkan cara pandang kritis yang sama terhadap ide-ide
 
baru, inovasi baru dan kreativitas. Segala bentuk dari ‘pemikirankewirausahaan’ atau ‘kepemimpinan inovatif’ dalam pandangan kita yangterkondisi, justru kerap dianggap: ”sebaiknya dihindari”.Kurangnya pemikiran kewirausahaan ini berakibat serius. Pertemuan demipertemuan dalam organisasi bisnis, terlalu banyak berisi ”wacana”, tidakbanyak menghasilkan sesuatu yang konkret. Kegagalan wirausahawan,kendati secara kumulatif “sukses” adalah, ketika ditelusuri bagian demibagian, ditemukan bagian-bagian yang kurang bahkan tidak sukses! Adasukses besar yang mensubsidi kegagalan bagian tertentu dalamorganisasi bisnis yang bersangkutan. Yang parah, kegagalan bagian-bagian tertentu yang “tertutupi” sukses kumulatif organisasi, tak banyakdipersoalkan, atau lalai dipersoalkan. Padahal, ini tidak boleh dibiarkan,karena tidak selamanya sukses kumulatif itu bisa diraih. Sebaliknya,sebuah kegagalan di beberapa bagian, berakibat merusak strategipencapaian totalitas sukses organisasi.Kalau diungkapkan dalam momentum yang tepat, dengan cara yang jugatepat, biasanya sebagian besar dari mereka setuju. Dan tindakan kecilnamun penting (tapi tidak ditindak lanjuti sehingga terlupakan selamanya)yang didiskusikan dalam pertemuan tim sampai dengan pesan-pesanstrategis yang disampaikan melalui pertemuan pleno yang mahal (namuntidak diteruskan sehingga tetap tinggal sebagai pesan yang tidakterkomunikasikan), terlalu banyak penggerak bisnis yang sangat terlatihternyata bertolak dari pengalaman berpikir dan bertindak sederhanasebagai orang upahan! Anda bisa bertanya, apa salahnya dengan ”orangupahan”.Bersiaplah mendengar sesuatu yang pedas. Orang-orang semacam ini,hanya mengecewakan apa yang mereka percayai dari instruksi, peranatau tanggung jawab pekerjaan yang diharapkan dari mereka. Tentunyaitu dengan persepsi mereka sendiri. Salah satu dari prinsip yang adadalam buku ini, belajar berpikir kewirausahaan (sebagai wirausaha)daripada kekaryawanan (sebagai karyawan).Hal yang
ketiga
, kami terheran-heran selama bertahun-tahun pada jawaban yang saya terima terhadap pertanyaan sederhana yang ditujukanpada lulusan yang cemerlang dan manajer yang sangat berpengalaman,seperti: ‘Mengapa suatu organisasi mempekerjakan Anda?’. Jawabannyabervariasi dari: ”Karena saya memiliki CV/ MBA/ gelar/pengalaman/pendidikan/latarbelakang/dll. yang baik” sampai dengan: ”Saya dapatmengelola orang/administrasi/sistem kontrol, dll. dengan baik yangberkaitan dengan kebutuhan yang normal.” Padahal, perlu kami tegaskan,suatu organisasi tidak, sebaiknya tidak pada tingkat mana pun,mempekerjakan karyawan dengan kualifikasi tinggi atau berpengalamanbaik karena kualifikasi atau pengalaman mereka.Kalau bukan demikian, lalui apa? Suatu bisnis beroperasi secara suksesketika dia memberikan hasil yang terukur dan meningkat melalui produkdan layanannya. Sukses suatu bisnis memerlukan tujuh ‘In’ dari eksekutif yang ada:1.
In
sight (wawasan) tentang seperti apa masa depan nantinya2.
ln
tuisi untuk membuat keputusan yang benar
 
3.
In
isiatif untuk bertindak efektif 4.
In
ovasi untuk mencipta secara berbeda5.
ln
tegritas untuk mengikuti dengan tekun dan dengan benar6.
ln
dividualitas untuk menerima kepemilikan7.
In
terdependensi untuk menetapkan hal-hal di atas sebagai rekandalam suatu timOrganisasi bisnis (bahkan organisasi apapun) perlu seriusmengembangkan sumber daya insaninya. Ini kunci mengoptimalkanpotensi kreatif, daya inisiatif dan kepemimpinan. Sukses organisasi bisnisdi masa depan, dimulai dari ikhtiar simultan pengembangankepemimpinan kewirausahaan hari ini. Tak ada yang “terlalu dini” dalamurusan pengembangan kepemimpinan, karena dari kepemimpinan yangantisipatif, visoner, bisa dibangun sukses di masa depan.Disraeli bilang, “Perubahan, adalah sesuatu yang konstan”. Namunhanya sedikit organisasi mapan yang sungguh-sungguh mengakui maknasesungguhnya pernyataan ini, walaupun perubahan bujet sering kali lebihbesar daripada keuntungan dari beberapa organisasi, bahkan di sejumlahnegara kecil. Rasa puas profesional, kurangnya inovasi dan penghindaranrasa memiliki tidak dapat lagi diperkenankan menyebar dalam bisnisseperti saat ini. Organisasi yang berupaya untuk menghasilkanpertumbuhan positif bagi semua
stakeholder 
yang terlibat, harusmengembangkan keseimbangan nyata antara pemikiran kewirausahaandan struktur mapan mereka.Di dalam arena bisnis, hanya sedikit model bisnis yang relevan padasaat ini, baik di tingkat lokal maupun global. Mungkin model yang palingsesuai adalah sebuah gyroskop yang berputar karena kemampuannyauntuk tetap seimbang tanpa memperhatikan sudut dan arah. Modelsemacam ini, sebagai contoh, memastikan bahwa planet yang kita diamimenjaga keseimbangan sempurna dari jagad raya. Di lain pihaktanggapan negatif pada suatu gyroskop merupakan suatu proyektil peluruterhadap keseimbangan dan terarah pada sasaran. Model semacam iniyang konstan, namun tetap bergerak, adalah penggambaran yangsempuma untuk penciptaan budaya wirausaha dalam suatu organisasiyang mapan. Dengan setiap arah strategis, seluruh perusahaan bergeraksembari mempertahankan keseimbangan.Suatu organisasi harus secara penuh memiliki tanggungjawab untukmengembangkan sumber daya manusianya, dan pada gilirannya potensikreativitas, inisiatif dan kepemimpinannya mencapai prestasi optimalnya.Organisasi yang ingin mencapai sukses besok akan mengembangkankepemimpinan kewirausahaan pada hari ini.Bab-bab selanjutnya secara berurutan menunjukan bagaimanamenciptakan organisasi wirausaha karena masa depan menjadi milikmereka yang:
Pemberani, Inovator, dan Punya Jiwa Wirausaha
Pengetahuan Saja Tak Cukup
Bersekolah tinggi-tinggi, membuat pribadi pembelajar memperolehpengetahuan. Tapi belum tentu mereka memiliki ide. Napoleon Hill pemahberkata,”Pikiran adalah benda”. Tapi pikiran biasa tidak akan sanggupmembawa kita kemana-mana. Setiap orang punya pikiran, tapi hanyasedikit yang punya ide. Ide, adalah pikiran yang punya arah atau tujuan.Buat kami, menganggap pengetahuan berharga, maaf saja, itupandangan keliru. Pengetahuan itu statis, idelah yang berguna. Banyak
of 00

Leave a Comment

You must be to leave a comment.
Submit
Characters: ...
You must be to leave a comment.
Submit
Characters: ...