Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Look up keyword
Like this
7Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Dody Firmanda 2003 - 030. Audit (dalam Clinical Governnace) -RSUD Soetomo 2003

Dody Firmanda 2003 - 030. Audit (dalam Clinical Governnace) -RSUD Soetomo 2003

Ratings:

5.0

(1)
|Views: 557|Likes:
Published by Dody Firmanda
Pelaksanaan Audit Medik - disampaikan dalam Semiloka Pelaksanaan Audit Medik di RSUD Dr. Soetomo, Surabaya pada tanggal 11 Desember 2003. (Dr. Dody Firmanda)
Pelaksanaan Audit Medik - disampaikan dalam Semiloka Pelaksanaan Audit Medik di RSUD Dr. Soetomo, Surabaya pada tanggal 11 Desember 2003. (Dr. Dody Firmanda)

More info:

Published by: Dody Firmanda on Feb 25, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/30/2013

pdf

text

original

 
Pelaksanaan Audit Medik 
Dr. Dody Firmanda, SpA, MA.Ketua Komite Medik, RS Fatmawati, Jakarta.
Latar Belakang
Salah satu peran utama suatu sarana pelayanan kesehatan (rumah sakit) adalahmemberikan pelayanan medis. Sedangkan salah satu pasal dari 17 pasal dalam Kode Etik Kedokteran Indonesia (KODEKI) adalah seorang dokter harus senantiasa berupayamelaksanakan profesinya sesuai dengan standar profesi sesuai dengan standar profesiyang tertinggi. Sedangkan yang dimaksud dengan ukuran ‘tertinggi’ adalah yang sesuaidengan perkembangan IPTEK kedokteran, etika umum, etika kedokteran, hukum danagama, sesuai tingkat/jenjang pelayanan kesehatan, serta kondisi dan situasi setempat.
1-2
Bila merujuk kepada Struktur Organisasi dan Tata Kerja (SOTK) Perjan RS FatmawatiPasal 33 tentang Komite Medik dan Pasal 38 tentang Staf Medik Fungsional (SMF); bahwa secara definisi Komite Medik adalah wadah profesional medik yangkeanggotaannya terdiri dari Ketua Staf Medik Fungsional (SMF). Sedangkan definisiSMF itu sendiri adalah kelompok dokter/dokter gigi, spesialis dan subspesialis berdasarkan tugas dan wewenang keahliannya. Bila kita tinjau Sistem Kesehatan Nasional yang baru, RS Fatmawati termasuk dalam strata tiga untuk Upaya KesehatanPerorangan (UKP) yakni menyelenggarakan upaya kesehatan perorangan strata ketigaadalah
“praktik dokter spesialis konsultan, praktik dokter gigi spesialis konsultan, klinik  spesialis konsultan, rumah sakit kelas B pendidikan dan A milik pemerintah (termasuk TNI/POLRI dan BUMN) serta rumah sakit khusus dan rumah sakit swasta. Berbagai sarana pelayanan ini di samping memberikan pelayanan langsung juga membantu sarana upaya kesehatan perorangan strata kedua dalam bentuk pelayanan rujukanmedik. Seperti juga strata kedua, upaya kesehatan perorangan strata ketiga ini jugadidukung oleh berbagai pelayanan penunjang seperti apotek, laboratorium klinik danoptik. Untuk menghadapi persaingan global upaya kesehatan perorangan strata ketiga perlu dilengkapi dengan didirikannya beberapa pusat pelayanan unggulan nasional, seperti pusat unggulan jantung nasional, pusat unggulan kanker nasional, pusat  penanggulangan stroke nasional, dan sebagainya. Untuk meningkatkan mutu perludilakukan lisensi, sertifikasi dan akreditasi.”
Fungsi dan wewenang Komite Medik adalah menegakkan etika profesi medik dan mutu pelayanan medik berbasis bukti. Adapun tugas dan fungsi dari SMF adalah melaksanakankegiatan pelayanan medik, pendidikan, penelitian dan pengembanagn keilmuannya yang berpedoman pada ketetapan Komite Medik atas etika profesi medik dan mutu keprofesianmedik. Jadi profesi medik dalam melaksanakaan profesinya berdasarkan falsafahmeliputi etika, mutu dan e
vidence-based medicine.
Disampaikan dalam Semiloka Pelaksanaan Audit Medik di RSUD Dr. Soetomo, Surabaya pada tanggal11 Desember 2003.
1
 
Dalam World Health Assembly pada tanggal 18 Januari 2002 lalu, WHO ExecutiveBoard yang terdiri 32 wakil dari 191 negara anggota telah mengeluarkan suatu resolusiyang disponsori oleh pemerintah Inggris, Belgia, Itali dan Jepang untuk membentuk  program manajemen resiko (‘
 patient safety’ 
) yang terdiri dari 4 aspek utama yakni:
4-6
1.
“Determination of global norms, standards and guidelines for definition,measurement and reporting in taking preventive action, and implementing measuresto reduce risks;
2.
 Framing of Evidence-based Policies in global standards that will improve patient care with particular emphasis on such aspects as product safety, safe clinical  practice in compliance with appropriate guidelines and safe use of medical productsand medical devices and creation of a culture of safety within healthcare and teaching organisations;
3.
 Development of mechanism through accreditation and other means, to recognise thecharacteristics of health care providers that over a benchmark for excellence in patient safety internationally;
4.
 Encouragement of research into patient safety.”
Keempat aspek diatas sangat erat kaitannya dengan era globalisasi bidang kesehatan yangmenitikberatkan akan ‘mutu’. Maka tidak heran bila setiap negara maju maupun berkembang berusaha meskipun secara implisit untuk memproteksi jasakedokteran/kesehatan’ yang merupakan sebagai salah satu industri jasa strategis baginegara masing masing.
7-10
Sebagai contoh, negara Inggris dengan
Clinical Governance
(yang merupakan suatu pengembangan dari sistem
quality assurance
),
11-13
negara Eropadaratan dengan EFQM
15-16
dan Amerika dengan MBNQA.
16-17
Bila berbicara mengenai sistem maka secara langsung akan membahas konsep,struktur/kontruksi, model atau paradigma multi dimensi yang meliputi struktur, prosesdan
outcome/ouput 
.
Konsep dan filosofi Komite Medik RS Fatmawati
Konsep dan filosofi Komite Medik RS Fatmawati adalah perpaduan antara ketigakomponen yang terdiri dari Etika Profesi, Mutu Profesi dan
 Evidence-based Medicine
(EBM) sebagaimana terlihat dalam Gambar 1.
 
2
 
Gambar 1. Konsep dan Filosofi Komite Medik RS Fatmawati: Etika, Mutu dan
 Evidence-based Medicine
(EBM)Istilah dan definisi ‘mutu’ mempunyai arti/makna dan perspektif yang berbeda bagi setiapindividu tergantung dari sudut pandang masing masing. Dapat ditinjau dari segi profesimedis/perawat, manajer, birokrat maupun konsumen pengguna jasa pelayanan saranakesehatan. (‘
Quality is different things to different people based on their belief and norms’ 
).
15-18
Begitu juga mengenai perkembangan akan ‘mutu’ itu sendiri dari cara
inspection
’,
quality control 
,
quality assurance
sampai ke
total quality
. Jepangmenggunakan istilah
quality control 
untuk seluruhnya, sedangkan di Amerika memakaiistilah ‘
continuous quality improvement 
’ untuk ‘
total quality
’ dan Inggris memakai istilah
quality assurance
untuk ‘
quality assurance’,
continuous quality improvement 
’ maupununtuk ‘
total quality
 
dan tidak membedakannya. Di negara kita dikenal juga akan istilah
Gugus Kendali Mutu/GKM 
’ dan ‘
 Akreditasi Rumah Sakit 
’.Bila kita pelajari, evolusi perkembangan mutu itu sendiri berasal dari bidang industri pada awal akhir abad ke sembilan belas dan awal abad ke dua puluh di masa perang dunia pertama. Pada waktu itu industri senjata menerapkan kaidah ‘
inspection
’ dalam menjagakualitas produksi amunisi dan senjata. Kemudian Shewart mengembangkan danmengadopsi serta menerapkan kaidah statistik sebagai
quality control’ 
sertamemperkenalkan pendekatan siklus P-D-S-A (
 P 
lan,
 D
o,
 S 
tudy dan
 A
ct) yang mana halini kemudian dikembangkan oleh muridnya Deming sebagai P-D-C-A (
 P 
lan,
 D
o,
heck dan
 A
ction). Kaidah PDCA ini menjadi cikal bakal yang kemudian dikenal sebagai
‘generic form of quality system’ 
dalam
‘quality assurance’ 
dari BSI 5751 (BritishStandards of Institute) yang kemudian menjadi seri EN/ISO 9000 dan 14 000. TatkalaDeming diperbantukan ke Jepang dalam upaya memperbaiki dan mengembangkanindustri, beliau mengembangkan dengan memadukan unsur budaya Jepang
‘kaizen’ 
danfilosofi Sun Tzu dalam hal
‘benchmarking’ 
maupun manajemen dan dikenal sebagai
‘total quality’.
15-17
Sedangkan untuk bidang kesehatan, Donabedian dengan ‘
 structure, process
dan
outcome
 pada awal tahun 80an memperkenalkan tentang cara penilaian untuk standar, kriteria danindikator.
18
Selang beberapa tahun kemudian Maxwell mengembangkan ‘
 six dimensions
3Etika Profesi(KODEKI)Mutu ProfesiEBM

Activity (7)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 hundred reads
1 thousand reads
Eryani Fadlilah liked this
Dody Firmanda liked this
Ivo Abu liked this
clonidin liked this

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->