3. Dilakukan kesepakatan bilateral antara kedua negara dalam bentukkerjasama “Memorandum of Understanding” (MOU) dan/atau ProtokolPersyaratan Kesehatan Hewan, berdasarkan pada keuntungan bersama.4. Importasi (pemasukan) dilaksanakan berdasarkan pada kesimpulan teknisdari evaluasi yang dilakukan oleh Tim Direktorat Jenderal ProduksiPeternakan dan perlakuan halal oleh Majlis Ulama Indonesia (MUI).5. Pengawasan Karantina di Indonesia terhadap Surat Persetujuan Pemasukan(SPP), Sertifikat Kesehatan Hewan dan dokumen lain yang ilegal yangmemuat tentang negara asal bahan asal hewan, keterangan kesehatan yangdikeluarkan oleh Dokter Hewan berwenang dan sertifikat halal dari LembagaIslam di negara pengekspor yang telah disetujui oleh MUI.6. Pengawasan terhadap distribusi dilakukan oleh Dinas Peternakan setempat.
IV. Kelengkapan Administrasi dan Teknis
SIUP, STDP, APIU, NPWP, KTP/Tanda Pengenal Pimpinan Perusahaan,Akta Perusahaan, Data Penanggung Jawab Pengawas Cold Storage danDistribusi, Rekomendasi Dinas Propinsi/Kab/Kota, Rekomendasi keanggotaanASPIDI, Nomor Kontrol Veteriner (NKV).
V. Prosedur Permohonan
Permohonan secara tertulis disampaikan kepada Dirjen B.P. Peternakan.Dalam Permohonan dicantumkan :
Negara asal produk hewan
Jenis komoditi produk pangan hewan (daging, susu, telur, serta olahannya)secara rutin.
Jenis kelompok kualitas daging atau jenis olahan
Jumlah yang akan dimasukkan (ton)
No. Establisment (Est) negara asal yang telah disetujui oleh pemerintah RI
Tempat pelabuhan pemberangkatan dan pemasukan
Alamat cold storage
Nomor Kontrol Veteriner
Rencana peredaran/distribusi produk hewani
VI. Pemberian Persetujuan
a. Permohonan pemasukan yang telah disampaikan tertulis di evaluasikeabsahan dan kelayakan dari segi teknis kesmavet.b. Apabila memenuhi seluruh persyaratan teknis akan diberikan SuratPersetujuan Pemasukan (SPP) dalam waktu 14 hari sejak surat diterimaDirjen B.P. Peternakan.
Leave a Comment