• Embed Doc
  • Readcast
  • Collections
  • CommentGo Back
Download
 
PRODUSER PEMASUKAN PRODUK PANGAN HEWANI DARILUAR NEGERI KE INDONESIAI. Pendahuluan
Produk Pangan Hewani (daging, susu, telur dan produk olahannya)merupakan bahan makanan yang mudah rusak atau mudah tercemar olehbakteri yang berbahaya, oleh karena itu diperlukan penangan khusus, agar produk yang tercemar tidak mengganggu kesehatan masyarakat konsumen.Prosedur pemasukan produk pangan hewani bertujuan agar aparat pemerintahmaupun masyarakat memperhatikan persyaratan teknis kesehatan masyarakatveteriner sesuai peraturan perundangan yang berlaku, khususnya persyaratankeamanan serta ketentraman batin masyarakat. Tindakan tersebut meliputi :mencegah kemungkinan masuk dan menyebarnya Penyakit Hewan Menular Utama (PHMU) yang dapat ditularkan melalui produk yang diimpor, mencegahpenyakit zoonosa yang dapat menulari konsumen melalui produk yang tercemar,menjaga ketentraman batin konsumen dari ancaman residu dan cemaranmikroba dan produk pangan hewani yang tidak halal. Itu sebabnya, setiappemasukan produk pangan hewani ke wilayah Negara Kesatuan RepublikIndonesia (NKRI) harus memenuhi kriteria Aman, Sehat, Utuh, dan Halal(ASUH).
II. Dasar Hukum
Undang-Undang :
No. 6 Tahaun 1967 tentang Pokok Peternakan dan Kesehatan Hewan.
No. 16 Tahun 1992 tentang Karantina Hewan, Ikan dan Tumbuhan
No. 7 Tahun 1994 tentang Pengesahan Pembentukan OrganisasiPerdagangan Dunia Khususnya Perjanjian SPS
No. 7 Tahun 1996 tentang Pangan
No. 22 Tahun 1999 tentang Otonomi Daerah
No. 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen
Peraturan Pemerintah :
No. 15 Tahun 1977 tentang Penolakan, Pencegahan, Pemberantasan, danPengobatan Penyakit Hewan
No. 22 Tahun 1983 tentang Kesehatan Masyarakat Veteriner 
No. 25 Tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah dan KewenanganPropinsi Sebagai Daerah Otonom
No. 82 Tahun 2000 tentang Karantina Hewan
 
Keputusan Menteri Pertanian :
No. 284/Kpts/OP/4/1980 tentang Penunjukan Pejabat Penerima WewenangMengatur Tindakan Penolakan, Pencegahan, Pemberantasan danPengobatan Penyakit Hewan adalah Direktur Jenderal Peternakan
No. 745/Kpts/TN.220/12/1988 tentang Persyaratan dan PengawasanPemasukan Daging dari Luar Negeri
No. 471/Kpts/LB.720/8/2001 tentang Tempat-Tempat Pemasukan danPengeluaran Media Pembawa Hama dan Penyakit Hewan Karantina
No. 445/Kpts/TN.540/7/2001 tentang Pelarangan Pemasukan TernakRuminansia dan Produknya dari Negara Tertular Penyakit Bovine SpongiformEncephalopathy (BSE).
Surat Edaran Menteri Pertanian :
TN.510/94/A/IV/2001, tanggal 20 April 2001 tentang Tindakan PenolakanPenyakit PMK
Surat Keputusan Dirjen BP Peternakan :
No. 71/TN/690/Kpts/DSP/Deptan/2000 tentang Prosedur Baku ImportasiHewan dan Bahan Asal Hewan
No. 49/TN/530/Kpts/DJBPP/12.02 tentang Petunjuk Teknis PenilaianPersyaratan Kesehatan Masyarakat Veteriner Terhadap Pemasukan DagingUnggas dari Luar Negeri ke dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia
III. Syarat Teknis
1. Kajian awal situasi penyakit calon negara pengekspor bahan asal hewandilakukan berdasarkan laporan rutin Office International des Epizooties (OIE).a. Untuk ruminansia, importasi hanya dari negara yang bebas (PenyakitHewan Menular) PHMU list A-OIE yaitu : Penyakit Mulut dan Kuku (PMK),Rinderpest dan penyakit eksotik lainnya yaitu BSE (Bovine SpongiformEncephalopathy).b. Untuk babi, importasi hanya dari negara yang bebas PHMU yaitu : SwineVesicular Disease, Teschen Disease, African Swine Fever, TransmisibleGastro Enteritis, Trichinosis dan Cysticercotis.c. Untuk unggas, importasi hanya dari negara bebas Highly PhatogenicAvian Influenza (HPAI), Duck Viral Hepatitis dan Duck Viral Enteritis.d. Informasi tentang kesehatan farm dan lingkungan juga diperlukan sebagaibahan evaluasi.2. Penilaian di negara pengekspor untuk melakukan evaluasi epidemologipenyakit di negara pengekspor.
 
3. Dilakukan kesepakatan bilateral antara kedua negara dalam bentukkerjasama “Memorandum of Understanding” (MOU) dan/atau ProtokolPersyaratan Kesehatan Hewan, berdasarkan pada keuntungan bersama.4. Importasi (pemasukan) dilaksanakan berdasarkan pada kesimpulan teknisdari evaluasi yang dilakukan oleh Tim Direktorat Jenderal ProduksiPeternakan dan perlakuan halal oleh Majlis Ulama Indonesia (MUI).5. Pengawasan Karantina di Indonesia terhadap Surat Persetujuan Pemasukan(SPP), Sertifikat Kesehatan Hewan dan dokumen lain yang ilegal yangmemuat tentang negara asal bahan asal hewan, keterangan kesehatan yangdikeluarkan oleh Dokter Hewan berwenang dan sertifikat halal dari LembagaIslam di negara pengekspor yang telah disetujui oleh MUI.6. Pengawasan terhadap distribusi dilakukan oleh Dinas Peternakan setempat.
IV. Kelengkapan Administrasi dan Teknis
SIUP, STDP, APIU, NPWP, KTP/Tanda Pengenal Pimpinan Perusahaan,Akta Perusahaan, Data Penanggung Jawab Pengawas Cold Storage danDistribusi, Rekomendasi Dinas Propinsi/Kab/Kota, Rekomendasi keanggotaanASPIDI, Nomor Kontrol Veteriner (NKV).
V. Prosedur Permohonan
Permohonan secara tertulis disampaikan kepada Dirjen B.P. Peternakan.Dalam Permohonan dicantumkan :
Negara asal produk hewan
Jenis komoditi produk pangan hewan (daging, susu, telur, serta olahannya)secara rutin.
Jenis kelompok kualitas daging atau jenis olahan
Jumlah yang akan dimasukkan (ton)
No. Establisment (Est) negara asal yang telah disetujui oleh pemerintah RI
Tempat pelabuhan pemberangkatan dan pemasukan
Alamat cold storage
Nomor Kontrol Veteriner 
Rencana peredaran/distribusi produk hewani
VI. Pemberian Persetujuan
a. Permohonan pemasukan yang telah disampaikan tertulis di evaluasikeabsahan dan kelayakan dari segi teknis kesmavet.b. Apabila memenuhi seluruh persyaratan teknis akan diberikan SuratPersetujuan Pemasukan (SPP) dalam waktu 14 hari sejak surat diterimaDirjen B.P. Peternakan.
of 00

Leave a Comment

You must be to leave a comment.
Submit
Characters: ...
You must be to leave a comment.
Submit
Characters: ...