Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Look up keyword
Like this
1Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Makalah Diskusi KAMMI Mabda

Makalah Diskusi KAMMI Mabda

Ratings: (0)|Views: 67|Likes:
Published by langitb_13

More info:

Published by: langitb_13 on Mar 02, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/02/2013

pdf

text

original

 
GENEALOGI KAMMI SEBAGAI PERJUANGANPEMBAHARUAN GERAKAN ISLAM INDONESIA
1
Oleh : Inggar Saputra
2
Orang boleh pandai setinggi langit tapi selama ia tak menulis, ia akan hilang dalammasyarakat dan dari sejarah. Karena engkau menulis, suaramu tak padam ditelan angin, akanabadi, sampai jauh di kemudian hari(Pramoedya Ananta Toer)
Tiga Akar Gerakan KAMMI
Mencermati proses kelahiran gerakan KAMMI sesungguhnya tidak dapat dilepaskan daritiga akar kata gerakan yakni tarbiyah, reformasi dan simbolitas gerakan. Hal ini tidak dapatdipungkiri, sebab KAMMI berada dalam pusaran gerakan intelektual yang rodanya digerakkankelompok tarbiyah yang bermukim di masjid kampus. Mereka (aktivis dakwah kampus-red)yang bernaung dalam perwajahan Lembaga Dakwah Kampus adalah stok sumber daya manusia(SDM) yang menopang perjalanan dakwah KAMMI. Apalagi jika menelusuri sejarah KAMMI,ada dua peristiwa strategis yakni kelahiran KAMMI adalah eksekusi politik 60 LembagaDakwah Kampus dan proses karantina politik yang meledakkan KAMMI adalah akumulasi percaturan operasi senyap ADK. Dalam pengertian pertama, Sekretaris Umum pertama KAMMIHaryo Setyoko mengatakan “KAMMI beranggotakan individu yang punya basis kultur religiusyang selama 20 tahun aktivitasnya di LDK terus terjadi penguatan visi keagamaan dan politik”
3
Sedangkan pengertian kedua, kelahiran KAMMI adalah pertemuan dua variable yakni kampussebagai ruang ”suci”, basis religius spiritual dan kampus sebagai pencetak tenaga intelektualitas
4
Akar tarbiyah semakin tampak dalam jenjang pengkaderan KAMMI, dimana sistemmadrasah KAMMI baik berbentuk klasikal dan khos adalah perwujudan sistem berbasiskomunitas berjenjang dengan anggota terdiri dari 10-12 orang. Meski begitu, sulit menilaiKAMMI banyak dipengaruhi identitas gerakan pembaharuan Islam Ikhwanul Muslimin saja. Inidisebabkan, sistem intelektual yang melingkupi mahasiswa cenderung liar, radikal dan bernafaskan rasa keingintahuan yang tinggi. Mahasiswa, dalam pemikirannya cenderung tidak  puas terjebak dalam satu sistem yang bersifat linear tanpa menghasilkan suatu gagasan inovatif hasil pembacaannya terhadap perkembangan gagasan dari luar. Untuk itu, meski beridentitastarbiyah, sudah selayaknya seorang kader KAMMI tidak terjebak satu pemahaman yangsentralistik. Gaya pembacaan terhadap berbagai literatur seperti buku bercorak nasionalisme,
1
Ditulis sebagai bahan pengantar kajian KAMMI di Masjid Al Hikmah, Mampang, Jum’at(01/03/2013)
2
Penulis adalah Kepala Departemen Humas PP KAMMI 2011 - 2013
3
Sudarsono, Amin,
Ijtihad Membangun Basis Gerakan
¸ Muda Cendekia, Jakarta, 2010
4
Eep Saefullah Fatah dalam Majalah Hidayatullah, Edisi 01/Th. XI Muharram 1419 H
 
sosialisme, komunisme dan corak pandang liberalistik adalah sebuah kebutuhan sebagai pembanding dalam percaturan olah pikiran.Sedangkan jika merujuk reformasi, sejarah tidak pernah berkata bohong bagaimana proses kejatuhan Soeharto yang dikenal sebagai reformasi menyertakan nama KAMMI sebagaisebuah bagian besar pergerakan mahasiswa. Meski ketika itu, banyak front mahasiswa dangerakan yang lahir seperti Famred, HMI (Dipo dan MPO), PMII, Forum Kota dan lainnya,KAMMI tetap memegang peran penting. Dengan usianya yang baru seumur jagung, KAMMIterbukti mampu meledakkan massa dalam jumlah besar untuk menopang bangunan reformasi1998. Di kemudian hari, sejarah juga mencatat proses transisi kepemimpinan kepada Habibie,Abdurrahman Wahid, Megawati dan kini, Susilo Bambang Yudhoyono tidak melupakanKAMMI. Pembacaan yang lebih utuh terhadap reformasi adalah kelahiran enam visi reformasiyang digagas aktivis KAMMI sebagai tawaran gerakan pembaharuan Indonesia. Sedangkandalam mengawal isu ke-Islaman, KAMMI beberapa kali aktif terlibat dalam perjalanan panjangRUU Pornografi dan Pornoaksi, RUU Badan Hukum Pendidikan dan pembatalan UU Migas belakangan ini. Hal ini mengindikasikan, pembacaan reformasi harus terjadi dalam skala luas, bukan dalam skala pembaharuan yang imparsial sehingga cenderung sekuleristik.Kedua aspek di atas yakni tarbiyah dan reformasi harus dilengkapi simbolitas gerakan.Ketiganya jelas sangat terpadu, penuh sinergitas dan saling memiliki kecenderungan yangterkait. Proses tarbiyah pada masa awal perjuangan KAMMI menggerakkan aktivis KAMMI berjalan pada rel gerakan oposisi kebatilan (1998-2004), Proses ini membawa KAMMI dalamsentuhan gerakan radikalisme. Penerjemahan radikalisme ini dapat dilihat dalam bentuk aksiturun ke jalan dalam menyikapi setiap kebijakan pemerintah
5
.Pemerintah diposisikan“selalusalah” sehingga tidak mengherankan aktivis KAMMI vis a vis dengan pemerintah dalammengawal dan menilai kebijakan yang digulirkan. Dalam beberapa aspek, peran oposisikebatilan dimainkan dalam demonstrasi lapangan yang cenderung berakhir rusuh dan penangkapan aktivis oleh aparat keamanan.Tetapi, mengutip kata Umar Bin Khattab, “Setiap zaman memiliki seleranya”. Memasukitahun kedua perjalanan gerakannya, KAMMI mulai mengikuti irama kaum tarbiyah yangcenderung bersifat pragmatis dalam menilai situasi yang berkembang. Gerakan KAMMI dibatasinilai bertajuk intelektual profetik (2004-2006), sehingga nuansa demonstrasi khas reformasi1998 dianggap sebagai sebuah nostalgia gerakan saja. Posisi intelektual profetik, secara tidak langsung “menggelandang” KAMMI dalam pusaran politik semu. KAMMI mulai terjebak deal politik dan terperangkap demonstrasi menunggu momentum. Alur gerakan banyak dituangkandalam aspek sosial, nilai akademik dan mengutamakan kepemimpinan kompromistik dalamsuatu momentum, seketika bersikap keras dalam momentum lain terhadap penguasa.Reformasi yang semakin menjauh, ditambah polarisasi gerakan tarbiyah yang merapatkekuasaan membuat KAMMI masuk dalam lubang bertajuk “Muslim Negarawan(2006-
5
Syarifudin, “Reposisi dan Daya Hidup KAMMI, “ dalam Republika, Sabtu 4 September 2004
 
sekarang)
6
 Mengutip teori sejarawan Arnold Tonybee tentang keruntuhan sebuah peradaban,KAMMI mulai bergerak kepada minoritas kreatif yakni sekelompok manusia muda yang yangmemiliki kemampuan untuk memilih apa yang hendak dilakukan secara tepat dengan semangatyang kuat
7
.Minoritas kreatif akan digantikan minoritas despot yang tidak memiliki kemampuanmerumuskan tantangan zaman dan berorientasi kekuasaan sehingga keruntuhan semakin dekat.Dalam kondisi ini, kecenderungan gerakan aksi lapangan mulai tergantikan budaya santunintelektual seperti menulis, diskusi dan penanaman nilai akademik. Gerakan berbentudemonstrasi dikurangi, jikapun ada maka berjalan sesuai momentum yang terjadi. Melalui prosesmuslim negarawan, KAMMI memposisikan diri dengan logika gerakan mahasiswa yang setaradengan pejabat pemerintahan dalam peran
balancing power 
(kekuatan penyeimbang). KAMMIdikembangkan sebagai gerakan yang bukan lagi “menuntut” melainkan gerakan mahasiswaIslam yang dituntut memberikan kontribusi dalam menyelesaikan persoalan bangsa dan negara
8
 
Menyalakan Api Ke-KAMMI-an
Dalam membahas proses gerakan mahasiswa, dapat dikatakan tidak ada cerminan yangideal. Kita dapat melihat, pola gerakan mahasiswa sejak 1966, semua bergerak pada kesatuan berbasiskan identitas dan afiliasi politik. Mereka mengambil sikap atas nalar, sikap dan afiliasi pergerakan yang mendukungnya. Himpunan Mahasiswa Islam, menegasikan sikap Masyumisebagai identitas dan afiliasi gerakannya. PMKRI dapat dianggap sebagai corong kelompok muda Kristiani dalam membumikan ruang segar perjuangannya. Sedangkan GMNI sebagai anak kandung Soekarno dalam bingkai marhaenisme dan CGMI yang berafiliasi kepada perjuanganPartai Komunis Indonesia.Meski begitu, dalam konteks kekinian penting menjaga mahasiswa agar tidak terjebak  politik praktis. Ini disebabkan sejatinya politik mahasiswa adalah politik moral (etik-red).Gerakan mahasiswa khususnya KAMMI harus mampu berangkat dari kesadaran dan tanggung jawab moralitas, dimana KAMMI tidak masuk dalam wilayah politik kekuasaan, melainkansebagai pendorong proses politik menuju politik bermoral. Sebab sejatinya gerakan moral dapat berdampak politis, karena tidak ada perubahan sosial yang terjadi tanpa kebijakan politik.Untuk mendekatkan peran itu, mengutip Anis Matta, KAMMI harus mampumerekonstruksikan tiga tangga kehidupan yakni afiliasi, partisipasi dan kontribusi. Afiliasidipahami sebagai bagaimana seorang kader KAMMI harus menjadikan Islam sebagai identitasyang membentuk paradigm, mentalitas dan karakternya. Dengan memiliki basis ideologis Islamyang mengakar, seorang kader KAMMI akan menjadikan islam sebagai titik tolak pergerakanyang mewarnai dan kebijakan gerakan KAMMI. Dalam memposisikan Islam sebagai sebuahideology, kader KAMMI harus meyakini Islam sebagai keyakinan agama
(aqidah diniyyah),
67
Sarjadi, Soegeng,
Kepemimpinan dan Etika
, Soegeng Sarjadi School of Government, Jakarta, 2009
8
Imam, Rijalul,
Menyiapkan Momentum,
Muda Cendekia, Jakarta, 2008

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->