• Embed Doc
  • Readcast
  • Collections
  • CommentGo Back
Download
B i oSMAR T
ISSN: 1411-321X
Volume 2, Nomor 2
Oktober 2000
Halaman: 8-14
\u00a9 2000 Jurusan Biologi FMIPA UNS Surakarta
Reduksi Air Limbah Rumah Tangga oleh Larva Nyamuk
Culex quinquefasciatusSa y.
SUGIYARTO, MARTI HARINI, KUSUMO WINARNO, AHMAD DWI SETYAWAN, EDWI MAHAJOENO
Jurusan Biologi FMIPA UNS Surakarta
ABSTRAK

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kepadatan populasi larva nyamuk Culex quinquefasciatus Say yang paling efektif dan efisien dalam mereduksi kandungan bahan pencemar air limbah rumah tangga. Dalam penelitian ini dilakukan percobaan dengan perlakuan berupa tingkat kepadatan larva nyamuk, yaitu: 0, 20, 40 dan 60 ekor per 100 ml air limbah. Percobaan dilakukan dengan rancangan acak lengkap, masing-masing perlakuan dengan tiga ulangan. Parameter kualitas air diamati pada hari ke 0, 2, 4 dan 6 setelah perlakuan dengan variabel yang diukur meliputi: COD, kandungan zat padat total dan populasi bakteri Coliform dan Escherichia coli. Data penelitian dianalisis dengan analisis varian dilanjutkan dengan uji beda nyata terkecil dengan tingkat kepercayaan 95%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keberadaan larva uji dapat menurunkan COD dan kandungan zat padat total, tetapi tidak berpengaruh terhadap populasi bakteri Coliform dan E. coli . Populasi larva nyamuk yang paling efektif dan efisien dalam meningkatkan kualitas air limbah rumah tangga adalah 20 ekor/100 ml air limbah.

Key words: reduksi, air limbah rumah tangga, Culex quinquefasciatus Say.
PENDAHULUAN

Air merupakan kebutuhan pokok makhluk hidup, termasuk manusia. Oleh karena kuantitas air di dunia tetap, maka diperlukan upaya menjaga kelestarian sumberdaya air Dengan meningkatnya jumlah penduduk, maka kuantitas air yang dieksploitasi juga meningkat, namun di sisi lain terjadi penurunan kualitas. Karena tercemarnya air oleh berbagai materi dan atau energi dari berbagai kegiatan manusia. Sehingga diperlukan upaya untuk memulihkan kembali kualitas air agar dapat dimanfaatkan kembali.

Kegiatan rumah tangga menghasilkan berbagai macam limbah, termasuk air limbah yang mengandung berbagai macam zat atau bahan terlarut, seperti sabun, air seni, feses, sisa makanan, minuman dan sebagainya. Pada umumnya pencemar air limbah rumah tangga adalah bahan organik. Untuk itu teknologi pengolahan air limbah rumah tangga perlu diarahkan untuk mereduksi bahan organik tersebut. Pada saat ini telah dikenal banyak teknik pengolahan air limbah, baik secara alamiah maupun melalui rekayasa. Secara alamiah air limbah rumah tangga dapat mengalami proses pemulihan selama kapasitas/daya dukung alam belum terlewati. Akan tetapi dengan meningkatnya jumlah penduduk, kapasitas alamiah tersebut umumya terlewati sehingga diperlukan rekayasa. Saat ini, telah dikenal banyak teknik rekayasa pengolahan air limbah seperti penyaringan, pengendapan, penguapan, penambahan zat kimia

maupun introduksi agen biologi/dekomposer, terutama mikroorganisme. Tetapi semua teknik tersebut belum dapat mengatasi masalah limbah.

Teknologi pengolahan air limbah dengan menggunakan agen biologi merupakan alternatif yang memberikan harapan besar. Teknik ini tidak banyak menimbulkan efek samping, sederhana dan murah. Berbagai mikroorganisme seperti bakteri, algae maupun protozoa dapat dimanfaatkan sebagai agen biologi, misalnya dalam proses \u2018lumpur aktif kontinyu\u2019 (\u2018Continuous Activated Sludges\u2019/CAS) dan \u2018Rotating Biological Contactor\u2019/RBC.

Larva nyamuk Culex quinquefasciatus Say merupakan salah satu organisme yang berpotensi untuk mereduksi kandungan bahan organik air limbah. Nyamuk ini sangat melimpah, terutama di daerah perkotaan, bertelur pada genangan air yang mengandung banyak bahan organik, termasuk air limbah rumah tangga. Setelah telur menetas akan tumbuh larva yang memakan bahan organik dan mikroorganisme dalam air. Larva dapat hidup dalam air yang kandungan oksigennya sangat rendah, karena oksigen diperoleh langsung dari udara atmosfer melalui suatu sifon.

Kemampuan larva C. quinquefasciatus Say memakan bahan organik dan mikroorganisme dalam air limbah rumah tangga tergantung faktor internal seperti kepadatan, laju pertumbuhan, lamanya fase larva dan daya tahan atau adaptasi dari larva; serta faktor eksternal seperti suhu, pH, ketersediaan makanan dan sebagainya. Hingga sekarang belum diketahui kepadatan populasi

BioSMART, Vol. 2, No. 2, Oktober 2000, hlm. 8-14
9

optimum bagi pertumbuhan dan perkembangan larva nyamuk. Mulyani (1997) menyebutkan bahwa peningkatan populasi larvaC.q uinq uef asci atus Say dalam air limbah rumah tangga dapat meningkatkan oksigen terlarut serta mempercepat penjernihan air. Oleh karena itu penelitian ini dilakukan dengan penekanan pada pengamatan pengaruh besarnya populasi larva nyamuk terhadap kualitas air.

METODE PENELITIAN

Penelitian ini dilakukan dengan metode eksperimen menggunakan rancangan acak lengkap (RAL). Variabel bebas berupa kepadatan populasi larva nyamuk C. quinquefasciatus Say, yang meliputi empat tingkat kepadatan, yaitu 0, 20, 40 dan 60 ekor per 1000 ml air limbah rumah tangga. Untuk masing-masing perlakuan dibuat tiga ulangan. Variabel terikat berupa COD, zat padat total, populasi bakteri Coliform danEscheric hi a

coli, masing-masing diamati pada hari ke-0, 2, 4
dan 6 setelah perlakuan.
Waktu dan Tempat Penelitian

Penelitian dilakukan pada bulan Oktober- Desember 1998 di Desa Merjosari, Kecamatan Lowokwaru, Kodya Malang, Jawa Timur. Sedang analisis COD, penimbangan zat padat total dan penghitungan populasi bakteri Coliform dan E. Coli dilakukan di Laboratorium Kimia Analitik dan Laboratorium Mikrobiologi FMIPA Universitas Brawijaya Malang.

Cara Kerja
Persiapan

Pada tahap ini dilakukan: koleksi telur dan rearing larva nyamuk, pengambilan sampel air limbah rumah tangga serta persiapan alat, bahan dan analisis. Telur nyamuk dikoleksi di daerah perumahan penduduk, yaitu pada jamban keluarga dengan pipet tetes. Telur ditampung pada wadah berisi air limbah kemudian dibiarkan menetas. Larva dipelihara hingga umur empat hari, lalu digunakan sebagai larva uji.

Air limbah rumah tangga diperoleh dari jamban atau tempat penampungan air limbah rumah tangga sebelum dialirkan ke selokan. Sampel air limbah ditampung pada ember besar dan diaduk hingga homogen. Alat dan bahan yang digunakan meliputi botol air mineral ukuran 250 ml, plastik bening, karet gelang, gelas ukur, pipet tetes, saringan lembut, hand counter, erlenmeyer, kondensor Liebig, batu didih, pemanas listrik, bunsen, buret, dispenser, pipet ukur, gelas beker, cawan penguap,

oven, desikator, timbangan analitis, cawan petri, inkubator, autoklaf, colony counter, pH meter dan botol sampel; media kaldu lauril triptosa, media EC, media kaldu brillian green lactose bile, kertas saring, larutan standard kalium bikromat, perak sulfat, asam sulfat, reagen asam sulfat, larutan standard fero-ammonium sulfat, indikator feroin, merkuri sulfat, asam sulfamat dan kapas.

Perlakuan

Sebanyak 96 botol bekas air mineral diisi 100 ml air limbah rumah tangga, lalu dikelompokkan menjadi empat, masing-masing sebanyak 24 botol. Kelompok 1 tidak diisi/ dinokulasi larva uji, kelompok 2 diisi 20 ekor larva uji, kelompok 3 diisi 40 ekor larva uji dan kelompok 4 diisi 60 ekor larva uji per botol. Kemudian semua botol ditutup plastik bening, diikat dengan karet gelang dan diletakkan di tempat percobaan secara acak. Pengamatan kualitas air limbah dilakukan pada hari ke-0, 2, 4 dan 6 setelah perlakuan.

Pengamatan

Untuk pengamatan hari ke-0 digunakan botol perlakuan untuk pengamatan ketiga parameter kualitas air (masing-masing 3 botol untuk satu parameter yang diamati). Sedangkan pada pengamatan hari ke ke-2, 4 dan 6, masing-masing diambil 6 botol sampel per perlakuan per pengamatan; 3 botol untuk pengamatan zat padat total, 3 botol untuk analisis COD dan populasi bakteri. Sebelum pengamatan dilakukan larva uji diambil dari botol per comaad dengan cara disaring dengan saringan halus (saringan teh). Adapun metode analisis parameter kualitas air limbah dijelaskan pada sub bab di bawah.

COD (Chemical Oxygen Demand)

Analisis COD dilakukan dengan metode oksidasi bahan organik menggunakan kalium kromat dengan prosedur sebagai berikut:

Dimasukkan 0,4 g HgSO4 ke dalam gelas erlenmeyer COD (gelas refluks) 250 ml dan 5 buah batu didih. Ditambahkan 20 ml sampel air limbah dan 10 ml larutan kalium kromat 0,25N. Disiapkan 30 ml reagen asam sulfat-perak sulfat dan dengan menggunakan dispenser sebanyak 5 ml reagen tersebut dipindahkan ke dalam erlenmeyer COD, lalu dikocok perlahan-lahan hingga merata. Erlenmeyer COD diletakkan di bawah kondensor yang telah dialiri air pendingin, kemudian sisa reagen ditambahkan sedikit demi sedikit dengan dispenser

sambil
digoyang-goyang

hingga tercampur merata. Kondensor dan erlenmeyer COD dipanaskan pada bunsen selama 2 jam, didinginkan, lalu keduanya dipisahkan. Larutan dalam

SUGIYARTO dkk. - Reduksi Limbah olehLa r va Culex quinquefasciatus Say.
10

erlenmeyer COD diencerkan dengan 200 ml air suling kemudian ditambahkan 3 - 4 tetes indikator feroin dan dititrasi dengan larutan standard fero amonium sulfat 0,10 N sampai warna hijau-biru menjadi coklat-merah. Untuk pembanding, dibuat blangko yang diisi 20 ml air suling

Dilakukan perhitungan nilai COD (mg O2/1)
dengan rumus sebagai berikut:
(a - b) x N x 8000
COD =

ml sampel
a: ml FAS untuk titrasi blangko
b: ml FAS untuk titrasi sampel
c: Normalitas larutan FAS

Zat Padat Total
Analisis berat zat padat total dilakukan dengan
metode
penguapan
(volatilisasi),
diteruskan
penimbangan dengan urutan kerja sebagai berikut:

Cawan penguap dibersihkan, lalu dipanaskan pada oven dengan suhu 1050C selama 1 jam, didinginkan dalam desikator dan ditimbang. Dituangkan sebanyak 50 ml sampel air limbah yang telah dikocok merata ke cawan penguap, lalu dimasukkan dalam oven; mula-mula suhu diatur kurang dari 1000C hingga sampel yang tersisa tinggal sedikit kemudian dinaikkan menjadi 1050C selama 1 jam, didinginkan dalam desikator dan ditimbang. Dilakukan perhitungan berat zat padat total dengan rumus sebagai berikut:

(a - b) x 1000
mg zat padat total =

c
a: berat cawan penguapan
b: berat cawan penguapan kosong
c: volume sampel air limbah

Populasi Bakteri Coliform dan E. Coli

Populasi bakteri coli dihitung menggunakan metode MPN (Most Probable Number) dengan urutan kerja sebagai berikut:

Dibuat ekstrak agar triptosa-glukosa dan disimpan. Air sampel diencerkan hingga 1/10.000. Disiapkan tabung reaksi/fermentasi sebanyak 5 buah per tingkat pengenceran, lalu diisi 10 ml kaldu lauril triptosa, dimasukkan dalam tabung Durham, ditutup kapas dan disterilkan dalam autoklaf. Dituangkan 1 ml sampel yang telah diencerkan ke dalam tabung fermentasi; disiapkan pula 1 tabung blangko berisi air suling. Dilakukan tes pendugaan dengan menginkubasi tabung fermentasi pada suhu 350C selama 24 jam atau 48 jam hingga terbentuk gas. Dilakukan tes penegasan dengan mengambil 2 tetes sampel yang telah difermentasi dan dituangkan ke dalam tabung reaksi berisi medium EC atau kaldu

brilliant green lactose bile dan diberi tabung

Durham, kemudian diinkubasi pada suhu 440C atau 350C selama 24 atau 48 jam, hingga terbentuk gas. Jumlah tabung Durham yang terisi gas dan yang tidak merupakan dasar untuk menghitung populasi bakteri. Perhitungan populasi bakteri merujuk pada tabel MPN. Sebagai catatan: medium EC dengan suhu inkubasi 440C dan lama inkubasi 24 jam digunakan untuk menghitung bakteri E. coli, sedang medium kaldu brilliant green lactose bile dengan suhu inkubasi 350C dan lama inkubasi 48 jam digunakan untuk menghitung bakteri Coliform.

Analisis Data

Data dianalisis dengan menggunakan analisis varian (ANAVA). Apabila terdapat perbedaan nyata antar perlakuan pada setiap variabel yang diukur, maka dilanjutkan dengan uji beda nyata terkecil (BNT) pada tingkat kepercayaan 95%

HASIL DAN PEMBAHASAN

Pengamatan hari ke-0, menunjukkan bahwa air limbah rumah tangga yang dikoleksi di daerah pemukiman penduduk Desa Merjosari, Kecamatan Lowokwaru, Kodya Malang memiliki COD, populasi bakteri Coliform total dan bakteri E. coli cukup tinggi, namun kandungan zat padat totalnya relatif rendah. Menurut Alaerts dan Santika (1987), angka COD merupakan ukuran tingkat pencemaran air oleh bahan-bahan organik yang secara alamiah dapat dioksidasi melalui proses mikrobiologi. Sedang menurut Daryanto (1995) air limbah rumah tangga dikenal sebagai penghabis oksigen karena tingginya kandungan bahan organik.

COD (kebutuhan oksigen kimia)

Hasil pengukuran COD air limbah dapat dilihat pada tabel 1. Sedangkan gambar 1 menunjukkan grafik hubungan antara hari pengamatan dan COD untuk keempat perlakuan populasi larva uji.

Tabel 1. Rerata COD air limbah rumah tangga akibat
perlakuan larva nyamuk C. quinquefasciatus Say. Pada
pengamatan hari ke-0, 2, 4 dan 6.
Perlakuan
COD (ppm) hari ke:
0
2
4
6

0 ekor
20 ekor
40 ekor
60 ekor

859,37---

630,19 d
386,55 c
210,08 b
33,61 a

529,37 c
16,81 a
176,47 b
25,21 a

126,05c 16,81 a 42,02 b 16,81 a

Keterangan: Angka dalam kolom yang sama dan diikuti
huruf yang sama tidak menunjukkan perbedaan yang
nyata pada uji BNT dengan taraf kepercayaan 95%.
of 00

Leave a Comment

You must be to leave a comment.
Submit
Characters: ...
You must be to leave a comment.
Submit
Characters: ...