• Embed Doc
  • Readcast
  • Collections
  • CommentGo Back
Download
ENVIRO 2 (1): 25-40, Maret 2002, ISSN: 1411-4402
\u00a92002 PPLH-Lemlit UNS Surakarta.
Ekosistem Mangrove sebagai Kawasan Peralihan Ekosistem Perairan
Tawar dan Perairan Laut
Mangrove ecosystem as ecotone of freshwater and marine ecosytems
AHMAD DWI SETYAWAN
Jurusan Biologi FMIPA Universitas Sebelas Maret Surakarta 57126
Diterima: 6 Januari 2002. Disetujui: 11 Maret 2002.
Abstract. Mangrove merupakan salah satu ekosistem

langka dan khas di dunia, karena luasnya hanya 2% permukaan bumi. Indonesia merupakan kawasan ekosistem mangrove terluas di dunia. Ekosistem ini memiliki peranan sosial-ekonomi dan ekologi yang sangat penting. Fungsi sosial-ekonomi hutan mangrove meliputi sumber kayu bangunan, kayu bakar, kayu lapis, bubur kertas, tiang telepon, tiang pancang, bagan penangkap ikan, dermaga, bantalan kereta api, kayu untuk mebel dan kerajinan tangan, atap huma, tannin, bahan obat, gula, alkohol, asam asetat, protein hewani, madu, karbohidrat dan bahan pewarna. Fungsi ekologi hutan mangrove meliputi tempat sekuestrasi karbon, remediasi bahan pencemar, menjaga stabilitas pantai dari erosi, intrusi air laut, dan tekanan badai, menjaga kealamian habitat, menjadi tempat bersarang, pemijahan dan pembesaran berbagai jenis ikan, udang, kerang, burung dan fauna lain, pembentuk daratan, serta memiliki fungsi sosial sebagai areal konservasi, pendidikan, ekoturisme dan identitas budaya. Akan tetapi tingkat kerusakannya ekosistem mangrove dunia, termasuk Indonesia, sangat cepat dan dramatis. Ancaman utama kelestarian ekosistem mangrove adalah kegiatan manusia, seperti pembuatan tambak (ikan dan garam), penebangan hutan, dan pencemaran lingkungan. Di samping itu terdapat pula ancama lain seperti reklamasi dan sedimentasi, pertambangan dan sebab-sebab alam seperi badai. Restorasi hutan mangrove mendapat perhatian secara luas mengingat tingginya nilai sosial-ekonomi dan ekologi ekosistem ini. Restorasi ini berpotensi besar menaikkan nilai sumber daya hayati mangrove, memberi mata pencaharian penduduk, mencegah kerusakan pantai, menjaga biodiversitas dan produksi perikanan.

Kata kunci: mangrove, ekosistem, ekoton.
PENDAHULUAN

Hutan mangrove ataumangal adalah sejumlah komunitas tumbuhan pantai tropis dan sub-tropis yang didominasi oleh pohon dan semak tumbuhan bunga (angiospermae)

terestrial yang dapat menginvasi dan tumbuh di lingkungan air laut (MacNae, 1968; Chap- man, 1976; Tomlinson, 1986; Nybakken, 1993; Kitamura dkk., 1997). Hutan mangrove disebut jugavloedb osh, hutan pasang surut, hutan payau, rawa-rawa payau atau hutan bakau. Istilah yang sering digunakan adalah hutan mangrove atau hutan bakau (Kartawinata, 1979). Namun untuk menghindari kesalahan literasi dianjurkan penggunaan istilah mangro- ve karena bakau adalah nama lokal anggota genusRh izo phora (Widodo, 1987).

Kata mangrove merupakan perpaduan bahasa Melayumangg i-manggi dan bahasa Arabel-gurm menjadimang-gurm. Keduanya sama-sama berartiAvicennia (api-api), pelatinan nama Ibnu Sina, seorang dokter Arab yang banyak mengidentifikasi manfaat obat tumbuhan mangrove (Jayatissa dkk., 2002; Ng dan Sivasothi, 2001). Pakar lain berpendapat kata mangrove merupakan per- paduan bahasa Portugismangue (tumbuhan laut) dan bahasa Inggrisgrove (belukar), yakni belukar di tepi laut (MacNae, 1968). Kata mangrove dapat ditujukan untuk menyebut spesies, tumbuhan, hutan atau komunitas (FAO, 1982; Ng dan Sivasothi, 2001).

ASAL DAN DISTRIBUSI
Asal usul spesies mangrove

Para peneliti berteori bahwa mangrove berasal dari kawasan Indo-Malaysia, karena kawasan ini merupakan pusat biodiversitas mangrove dunia. Spesies mangrove tersebar ke seluruh dunia karena propagul dan bijinya dapat mengapung dan terbawa arus laut. Dari Indo-Malaysia, spesies mangrove tersebar ke barat hingga India dan Afrika Timur, serta ke

ENVIRO 2 (1): 25-40, Maret 2002
26

arah timur hingga Amerika dan Afrika Barat. Penyebaran mangrove dari pantai barat Amerika ke laut Karibia melewati selat yang kini menjadi negara Panama, antara 66 s.d. 23 juta tahun yang lalu, tanah genting ini masih berupa laut. Selanjutnya propagul mangrove terbawa arus hingga pantai barat Afrika. Mangrove di Afrika Barat dan Amerika dikolonisasi oleh spesies yang sama dan keragamannya lebih rendah, karena harus melewati samudera Pasifik yang luas, sedangkan mangrove di Asia, India, dan Afrika Timur memiliki lebih banyak spesies, karena jaraknya yang lebih dekat dengan kepulauan Nusantara (Walsh, 1974; Tomlison, 1986).

Distribusi mangrove
Mangrove biasa ditemukan di sepanjang

pantai daerah tropis dan subtropis, pada garis lintang di antara 25oLU dan 25oLS, meliputi Asia, Afrika, Australia dan Amerika. Sebagai perkecualian, mangrove ditemukan di selatan hingga Selandia Baru (38oLS) dan di utara hingga Jepang (32oLU). Faktor lingkungan setempat seperti aliran laut yang hangat, embun beku, salinitas, gelombang laut, dan lain-lain mempengaruhi distribusi mangrove (Ng dan Sivasothi, 2001; Lovelock, 1993).

Berdasarkan keanekaragaman spesiesnya, Walsh (1974) membagi dunia mangrove menjadi dua kawasan utama, yaitu kawasan Indo-Pasifik Barat yang meliputi Asia, India dan Afrika Timur, serta kawasan Amerika - Afrika Barat. Mangrove dari kawasan Indo- Pasifik Barat sangat terkenal dan beragam,

Gambar 1. Distribusi mangrove dunia dari total luas 18.107.700 ha. Keterangan: A. Kawasan Indo-Pasifik
Barat, B. Kawasan Amerika \u2013 Afrika Barat (Spalding et al., 1997; FAO 1985; Walsh, 1974).
23.36%7.36%
6.31%
5.77%
4.31%
3.68%
3.53%
3.17%
2.96%
2.92%
36.63%
Indonesia (42.550 km2)
Brazil (13.400 km2)

Australia (11.500 km2)
Nigeria (10.515 km2)
Kuba (7.848 km2)
India (6.700 km2)

M alaysia (6.424 km2)
Banglades (5.767 km2)
Papua Nugini (5.399 km2)
M eksiko (5.315 km2
Lain-lain (66.727 km2)
Asia Tenggara &
Selat an
41%
Australia &
Oseania
10%
Afrika Timur &
Timur Tengah
6%
Afrika Barat
16%
Amerika
27%
B
A
SETYAWAN \u2013 Ekosistem mangrove
27

terdiri lebih dari 40 spesies, sedangkan di Afrika Barat dan Amerika hanya sekitar 12 spesies (Gambar 1.).

Tumbuhan mangrove dari kedua kawasan
tersebut memiliki perbedaan cukup menyolok.
Rhizophoradan Avicennia, dua genus utama

mangrove, diwakili spesies yang berbeda mengindikasikan adanya spesiasi yang mandiri. Di Indo-Pasifik Barat ditemukan

Avicennia oficinalis, A. mari-na, Rhizophora
mucronata,
R.
apiculata,
Bruguiera
gymnorhiza,dan Sonneratia alba, sedang di
Atlantik ditemukan A. nitida, R. racemosa, R.
mangle, R. harrissonii,dan Laguncu-laria
racemosa (Marius, 1977; Aksornkoae, 1997).
Mangrove di Indonesia

Indonesia memiliki hutan mangrove terluas di dunia. Sekitar 61.250 km2 atau sepertiga mangrove dunia terdapat di Asia Tenggara, dimana 42.550 km2 terdapat di Indonesia (Spalding et al., 1997). Ekosistem mangrove hanya mencakup 2% daratan bumi, sehingga secara global sangat langka dan bernilai dalam konservasi (Ong, 2002). Ekosistem ini merupakan bagian dari wilayah pesisir yang mencakup 8% bumi (Birkeland, 1983; Ray dan McCormick, 1994; Clark, 1996).

Mangrove
di
Indonesia

umumnya terpencar-pencar dalam kelompok-kelompok kecil, sebagian besar terletak di Irian Jaya (Papua). Mangrove tumbuh pada berbagai substrat seperti lumpur, pasir, terumbu karang dan kadang-kadang pada batuan, namun paling baik tumbuh di pantai berlumpur yang terlindung dari gelombang dan mendapat masukan air sungai. Tumbuhan mangrove di Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi dapat mencapai tinggi 50 m dengan diameter 50 cm, meski umumnya hanya setinggi 25 m dengan diameter 18 cm (FAO, 1985).

KLASIFIKASI MANGROVE
Klasifikasi taksonomi

Terdapat berbagai macam klasifikasi tumbuhan mangrove. Menurut Tomlinson (1986), mangrove meliputi 16-24 familia terdiri dari 54-75 spesies. Sedangkan menurut Field (1996), spesies mangrove sejati sekurang- kurangnya terdiri dari 17 familia, meliputi sekitar 80 spesies, dimana 50-60 diantaranya

memberi kontribusi nyata dalam pembentukan hutan mangrove. Menurut Lovelock (1993) di dunia terdapat 69 spesies mangrove tergolong dalam 20 familia.

Jumlah tumbuhan mangrove di Indonesia masih diperdebatkan. Jumlah yang sering diacu adalah 37 spesies (Soemodihardjo dan Ishemat, 1989) atau 45 spesies (Spaldinget

al., 1997) atau 47 spesies (Anonim, 1997).
Spesies
utama
berasal
dari
genera

Rhizophora, Bruguiera, Xylocarpus, Avicennia, Ceriops, Excoecaria, Nypa, Lumnitzera, Sonneratia,

Heritiera,
dan
Aegiceras
(Soemodihardjo dan Sumardjani, 1994).
Ciri-ciri tumbuhan mangrove

Tumbuhan mangrove merupakan tumbuh- an berpembuluh, dapat menggunakan air garam sebagai sumber air, dengan adaptasi daun keras, tebal, mengkilat, sukulen, serta memiliki jaringan penyimpan air dan garam. Tumbuhan mangrove memiliki mekanisme untuk mencegah masuknya sebagian besar garam ke dalam jaringan dan dapat mengekskresi atau menyimpan kelebihan garam. Biji dapat mengapung terbawa arus ke area yang luas dan dapat berkecambah saat masih di pohon induk (vivipar), serta tumbuh dengan cepat setelah jatuh dari pohon. Akar memiliki struktur tertentu (pneumatofora) yang menyerap oksigen pada saat surut dan mencegah kelebihan air pada saat pasang, sehingga dapat tumbuh pada tanah anaerob (Tomlinson, 1986)..

Tumbuhan mangrove berbentuk pohon dan semak dengan bentuk dan ukuran beragam. Semuanya termasuk dikotil kecualiNypa

fruticans. Mangrove mudah dikenali karena

tumbuh pada area di antara rata-rata pasang dan pasang tertinggi, serta pembentukan akar yang sangat menyolok untuk menyokong dan mengait. Sebagian sistem akar terletak di atas tanah dan berfungsi untuk menyerap oksigen selama surut.Acro stichum merupakan satu- satunya Pterydophyta terestrial mangrove (Ng dan Sivasothi, 2001; Lovelock, 1993).

Klasifikasi vegetasi mangrove

Komposisi dan struktur vegetasi hutan mangrove beragam, tergantung kondisi geofisik, geografi, geologi, hidrografi, bio- geografi, iklim, tanah, dan kondisi lingkungan lainnya.

of 00

Leave a Comment

You must be to leave a comment.
Submit
Characters: ...
You must be to leave a comment.
Submit
Characters: ...