SETYAWAN \u2013 Ekosistem mangrove
27
terdiri lebih dari 40 spesies, sedangkan di
Afrika Barat dan Amerika hanya sekitar 12
spesies (Gambar 1.).
Tumbuhan mangrove dari kedua kawasan
tersebut memiliki perbedaan cukup menyolok.
Rhizophoradan Avicennia, dua genus utama
mangrove, diwakili spesies yang berbeda
mengindikasikan adanya spesiasi yang
mandiri. Di Indo-Pasifik Barat ditemukan
Avicennia oficinalis, A. mari-na, Rhizophora
mucronata,
R.
apiculata,
Bruguiera
gymnorhiza,dan Sonneratia alba, sedang di
Atlantik ditemukan A. nitida, R. racemosa, R.
mangle, R. harrissonii,dan Laguncu-laria
racemosa (Marius, 1977; Aksornkoae, 1997).
Mangrove di Indonesia
Indonesia memiliki hutan mangrove terluas
di dunia. Sekitar 61.250 km2 atau sepertiga
mangrove dunia terdapat di Asia Tenggara,
dimana 42.550 km2 terdapat di Indonesia
(Spalding et al., 1997). Ekosistem mangrove
hanya mencakup 2% daratan bumi, sehingga
secara global sangat langka dan bernilai
dalam konservasi (Ong, 2002). Ekosistem ini
merupakan bagian dari wilayah pesisir yang
mencakup 8% bumi (Birkeland, 1983; Ray dan
McCormick, 1994; Clark, 1996).
Mangrove
di
Indonesia
umumnya
terpencar-pencar dalam kelompok-kelompok
kecil, sebagian besar terletak di Irian Jaya
(Papua). Mangrove tumbuh pada berbagai
substrat seperti lumpur, pasir, terumbu karang
dan kadang-kadang pada batuan, namun
paling baik tumbuh di pantai berlumpur yang
terlindung dari gelombang dan mendapat
masukan air sungai. Tumbuhan mangrove di
Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi dapat
mencapai tinggi 50 m dengan diameter 50 cm,
meski umumnya hanya setinggi 25 m dengan
diameter 18 cm (FAO, 1985).
KLASIFIKASI MANGROVE
Klasifikasi taksonomi
Terdapat berbagai macam klasifikasi
tumbuhan mangrove. Menurut Tomlinson
(1986), mangrove meliputi 16-24 familia terdiri
dari 54-75 spesies. Sedangkan menurut Field
(1996), spesies mangrove sejati sekurang-
kurangnya terdiri dari 17 familia, meliputi
sekitar 80 spesies, dimana 50-60 diantaranya
memberi kontribusi nyata dalam pembentukan
hutan mangrove. Menurut Lovelock (1993) di
dunia terdapat 69 spesies mangrove tergolong
dalam 20 familia.
Jumlah tumbuhan mangrove di Indonesia
masih diperdebatkan. Jumlah yang sering
diacu adalah 37 spesies (Soemodihardjo dan
Ishemat, 1989) atau 45 spesies (Spaldinget
al., 1997) atau 47 spesies (Anonim, 1997).
Spesies
utama
berasal
dari
genera
Rhizophora, Bruguiera, Xylocarpus, Avicennia,
Ceriops, Excoecaria, Nypa, Lumnitzera,
Sonneratia,
Heritiera,
dan
Aegiceras
(Soemodihardjo dan Sumardjani, 1994).
Ciri-ciri tumbuhan mangrove
Tumbuhan mangrove merupakan tumbuh-
an berpembuluh, dapat menggunakan air
garam sebagai sumber air, dengan adaptasi
daun keras, tebal, mengkilat, sukulen, serta
memiliki jaringan penyimpan air dan garam.
Tumbuhan mangrove memiliki mekanisme
untuk mencegah masuknya sebagian besar
garam ke dalam jaringan dan dapat
mengekskresi atau menyimpan kelebihan
garam. Biji dapat mengapung terbawa arus ke
area yang luas dan dapat berkecambah saat
masih di pohon induk (vivipar), serta tumbuh
dengan cepat setelah jatuh dari pohon. Akar
memiliki struktur tertentu (pneumatofora) yang
menyerap oksigen pada saat surut dan
mencegah kelebihan air pada saat pasang,
sehingga dapat tumbuh pada tanah anaerob
(Tomlinson, 1986)..
Tumbuhan mangrove berbentuk pohon dan
semak dengan bentuk dan ukuran beragam.
Semuanya termasuk dikotil kecualiNypa
fruticans. Mangrove mudah dikenali karena
tumbuh pada area di antara rata-rata pasang
dan pasang tertinggi, serta pembentukan akar
yang sangat menyolok untuk menyokong dan
mengait. Sebagian sistem akar terletak di atas
tanah dan berfungsi untuk menyerap oksigen
selama surut.Acro stichum merupakan satu-
satunya Pterydophyta terestrial mangrove (Ng
dan Sivasothi, 2001; Lovelock, 1993).
Klasifikasi vegetasi mangrove
Komposisi dan struktur vegetasi hutan
mangrove beragam, tergantung kondisi
geofisik, geografi, geologi, hidrografi, bio-
geografi, iklim, tanah, dan kondisi lingkungan
lainnya.
Leave a Comment