Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
10Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
e050104

e050104

Ratings:

4.0

(1)
|Views: 947 |Likes:
Published by Biodiversitas, etc
Possibility of eutrophycation of nutrien content at mangrove soil sediment in Central
Java Province
Possibility of eutrophycation of nutrien content at mangrove soil sediment in Central
Java Province

More info:

Categories:Types, Research, Science
Published by: Biodiversitas, etc on Feb 25, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

02/01/2013

pdf

text

original

ENVIRO 5 (1): 12-17, Maret 2005, ISSN: 1411-4402
\u00a92005 PPLH-Lemlit UNS Surakarta.
\u2665 Alamat korespondensi:

Jl. Ir. Sutami 36A Surakarta 57126
Tel. & Fax.: +62-271-663375
e-mail: uns_journals@yahoo.com

Potensi Eutrofikasi Kandungan Nutrien pada Sedimen Tanah Mangrove di
Propinsi Jawa Tengah
Possibility of eutrophycation of nutrien content at mangrove soil sediment in Central
Java Province
AHMAD DWI SETYAWAN1,3,\u2665, INDROWURYATNO1,2, WIRYANTO1,3, KUSUMO WINARNO1,3

1Jurusan Biologi FMIPA Universitas Sebelas Maret Surakarta 57126
2 Jurusan Ilmu Tanah, Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret Surakarta 57126
3 Program Studi Ilmu Lingkungan, Program Pasca Sarjana Universitas Sebelas Maret Surakarta 57126.

Diterima: 1 Desember 2004. Disetujui: 28 Pebruari 2005.
ABSTRACT

The aims of this research were to find out the content of nutrient parameters at mangrove habitat in northern and southern coast of Central Java Province, namely total organic matter (TOM), nitrate (NO3-), ammonium (NH4

+), and phosphate
(PO4
3-), and it potential eutrophycation in this habitat. This

research was conducted in July until December 2003, at 20 sites of mangrove habitat. The result indicated that the content of total organic material varied from 8.308% (Wulan) to 15.361% (Bulak) with the average of 11.260%. The NO3+c ont e nt varied from 0.327 mg/100g (Cincingguling) to 0.671 mg/100g (Bulak) with the average of 0.4224 mg/100g. The NH4+c ont e n t varied from 0.174 mg/100g (Wulan) to 0.409 mg/100g (Ijo) with the average of 0.2847 mg/100g. The PO4

3- content varied from

4.73 mg/100g (Cincingguling) to 8.39 mg/100g (Ijo) with the average of 6.80 mg/100g. This result indicated that the content of nitrogen was far below the recommended standard quality of sewage. The high concentration of phosphate was the consequence of marine environment in mangrove ecosystem. It can be concluded that was not eutrophycation yet in soil sediment of mangrove environment in Central Java Province.

Key words: nutrient, organic matter, nitrate, ammonium,
phosphate, mangrove environment, Central Java.
PENDAHULUAN

Proses pembangunan secara nyata telah menyebabkan berubahnya penggunaan lahan/habitat, kandungan kimia udara, tanah dan air, laju dan keseimbangan proses-proses biokimia, serta keanekaragaman hayati (Vitousek dkk., 1997a, b). Perubahan penggunaan lahan sangat mempenga-ruhi siklus nutrien dan dapat mempengaruhi masa depan ekosistem perairan tawar dan laut. Hutan tropis banyak diubah menjadi lahan pertanian atau dibuka dan dibiarkan menjadi lahan kritis, sehingga sering kali kurang efisien dalam menyerap karbon dan elemen lain, mengubah siklus hidrologi setempat dan kehilangan sejumlah besar unsur nutrien seperti nitrogen dan fosfor melalui pelindihan aliran permukaan. Hal ini berdampak pada ekosistem akuatik yang secara berkala mendapat masukan berlebih sedimen, air, dan nutrien dari daratan (Downing dkk., 1999).

Salah satu aktivitas manusia yang berpengaruh nyata terhadap siklus nutrien adalah peningkatan sumbangan unsur nutrien nitrogen (N) dan fosfor (P). Sumbangan ini berasal dari limbah domestik dan pertanian, termasuk kotoran ternak dan pupuk, meningkatnya aliran permukaan akibat pembukaan lahan untuk pertanian dan pemukiman, serta pembakaran bahan bakar fosil (Cole dkk., 1993; Nixon, 1995; Howarth, 1998). Ketersediaan nutrien sering kali menjadi faktor pembatas produktivitas primer. Dari semua nutrien yang ada, nitrogen dan fosfor merupakan dua unsur yang paling sering membatasi pertumbuhan produsen primer (Hauxwell dkk., 2001). Ekosistem perairan tawar dan laut memiliki perbedaan pola siklus kedua nutrien tersebut. Fosfor merupakan faktor pembatas produktivitas primer pada lingkungan perairan tawar, sedangkan nitrogen merupakan faktor pembatas pada lingkungan perairan laut (Smith, 1984; Downing dkk., 1999; Hauxwell, dkk. 2001), sehingga terjadi perubahan besar komposisi komunitas pada kawasan mangrove dan terumbu karang. Perubahan siklus nitrogen berdampak besar terhadap ekosistem akuatik (Downing dkk., 1999).

Secara alamiah nutrien terdapat di alam dan mendukung terbentuknya ekosistem yang subur, namun aktivitas manusia dapat meningkatkan masukan nutrien hingga tingkat yang tidak diinginkan (Hauxwell, dkk. 2001). Aktivitas manusia dapat meningkatkan jumlah nitrogen dan fosfor, serta mempengaruhi siklus biogeokimianya (Schlesinger 1991; Vitousek dkk., 1997a, b). Kelebihan nutrien ini memasuki ekosistem muara dan perairan pantai melalui sungai, air tanah, dan transpor udara (Howarth dkk., 1996; Nixon dkk., 1996). Kesehatan ekosistem pantai sangat terancam akibat berlebihnya nutrien ini (eutrofikasi) (Hauxwell, dkk. 2001). Nutrien pada ekosistem mangrove tidak hanya dihasilkan oleh ekosistem itu sendiri (autochthonous), tetapi juga berasal dari sungai atau laut di sekitarnya (allochthonous) (Ng dan Sivasothi, 2001; Lovelock, 1993).

Di samping kedua unsur nutrien inorganik, nitrogen dan fosfor, ekosistem mangrove dapat menyimpan sejumlah besar nutrien organik/detritus (Matsui, 1998; Fujimoto dkk., 1999), bahkan pada ekosistem mangrove tertentu ketebalan sedimen yang kaya bahan organik dapat mencapai beberapa meter (Twilley dkk., 1992; Lallier- Verges dkk., 1998). Tingginya produksi daun dan serasah, serta cepatnya laju penguraian detritus menyebabkan hutan mangrove menjadi salah satu ekosistem yang paling produktif dan mendukung berbagai kehidupan liar dengan

SETYAWAN dkk. \u2013 Nutrien di lingkungan mangrove
13

kemelimpahan tinggi (Aksornkoae, 1986; Ong, 1995). Sekitar 30-60% total produksi primer ekosistem mangrove adalah serasah (Bunt dkk., 1979). Serasah daun sangat penting dalam menjaga rantai makanan yang berbasis detritus (Ong dkk., 1984; Lee, 1995). Sifat kimia detritus mangrove berubah selama dekomposisi dan penuaan (Rice dan Tenore, 1981). Dedaunan yang jatuh ke dalam air dan basah akan segera mengalami pelindihan bahan organik, termasuk karbon organik, nitrogen organik, dan tanin (Newell dkk., 1984; Robertson, 1988; Steinke dkk., 1993a, b).

Ekosistem mangrove merupakan jalur penting bagi siklus bahan organik di lingkungan tropis, khususnya karbon. Hutan mangrove memiliki produktivitas primer sangat tinggi, serta dapat mempengaruhi dan mengatur siklus nutrien, selanjutnya mengirimkan bahan organik ke laut terbuka dan lingkungan akuatik di sekitarnya, dalam bentuk serasah dan bahan organik partikulat atau terlarut (Clough, 1992; Lee, 1995; Lovelock, 1993; Jickells 1998; Ng dan Sivasothi, 2001); dapat pula melalui perumputan yang dilakukan herbivora, sehingga dipindahkan dalam bentuk energi (Ng dan Sivasothi, 2001; Lovelock, 1993). Tumbuhan mangrove dapat meningkatkan sedimentasi bahan terlarut selama banjir dan mengendapkan material allochtonous (Furukawa dkk., 1997). Sekitar 90% partikel bahan organik yang memasuki kawasan pantai diendapkan ke dalam sedimen melalui flokulasi kimia, adsorbsi dan deposisi fisik akibat pertemuan air tawar dan air laut (Lisitzyn, 1999).

Peningkatan nutrien antropogenik dalam jumlah besar dapat mempengaruhi komposisi dan kemelimpahan produsen primer, sehingga berdampak pada siklus biogeokimia nutrien secara keseluruhan (Worm dkk., 2000). Tumbuhan mangrove sangat penting dalam penyampuran nutrien dan partikulat di kawasan pantai, karena dapat memperlambat arus, memperkuat deposisi dan menyerap nutrien (Levin dkk., 2001). Keragaman spesies yang tinggi dapat membantu keberlanjutan produktivitas melalui stabilisasi komunitas dalam berbagai kondisi lingkungan (McNaughton, 1993). Peningkatan pembuangan limbah di sungai yang dikombinasi dengan peningkatan konsentrasi nutrien dalam sungai menyebabkan meningkatnya nutrien di kawasan muara (Wosten dkk., 2003). Proses biogeokimia pada sedimen di kawasan muara sangat bervariasi tergantung beberapa faktor, seperti: sumber bahan organik dari laut dan darat; variasi salinitas, proses remineralisasi sediment anoksik, adanya makrofauna bentos, dan kondisi redoks sedimen (Burdige, 2001), sehingga status nutrient dapar bervariasi antar tempat.

Tumbuhan mangrove berpotensi untuk mitigasi kelebihan nitrogen dan fosfor, karena dapat melepaskan kedua unsur tersebut selama pertumbuhannya. Di samping itu, sedimen mangrove merupakan habitat yang cocok bagi bakteri denitrifikasi, untuk mengubah NO3- menjadi gas N2. Hal ini dapat mengurangi kelebihan nutrien bagi produsen primer di pantai dan mencegah eutrofikasi di laut (Hauxwell, dkk. 2001). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kandungan bahan organik total (BOT), nitrat (NO3-), ammonium (NH4+), dan fosfat (PO43-) pada lingkungan mangrove di pantai utara dan selatan Jawa Tengah.

BAHAN DAN METODE
Waktu dan lokasi penelitian

Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juli s.d. Desember 2003. Penelitian lapangan dilakukan pada 20 habitat mangrove di pantai utara dan selatan Jawa Tengah.

Keduapuluh lokasi tersebut meliputi: (1) Wulan, Demak (2) Sigrogol, Demak (3) Serang, Demak (4) Bulak, Jepara, (5) Telukawur, Jepara, (6) Tayu, Pati, (7) Juwana, Pati, (8) Pecangakan, Rembang, (9) Pasar Bangi, Rembang, (10) Lasem, Rembang, (11) Bogowonto, perbatasan Kulonprogo dan Purworejo, (12) Cakrayasan, Purworejo, (13) Lukulo, Purworejo, (14) Cincingguling, Kebumen, (15) Ijo, Kebumen, (16) Bengawan, Cilacap, (17) Serayu, Cilacap, (18) Tritih, Cilacap (19) Motean, Cilacap, dan (20) Muara Dua, Cilacap. Lokasi ke-4, 5, 9, dan 10 terletak langsung di tepi pantai dan jauh dari muara sungai besar, lokasi ke-18, 19, 20 terletak di laguna Segara Anakan, sedangkan lokasi sisanya terletak di muara sungai. Penelitian laboratorium dilakukan di Sub-Lab Kimia, Laboratorium Pusat MIPA Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta.

Bahan dan alat
Preparasi sampel tanah. Alat yang digunakan meliputi:
soil core, ember plastik, kantung plastik hitam atau botol

polietilen, nampan plastik, kipas angin, timbangan, mortar porselen, saringan stainless steel atau nilon berdiameter 0,5 mm dan 2 mm.

Pengukuran kadar bahan organik total (BOT).B ah an

yang diperlukan adalah: K2Cr2O7, H2SO4, H3PO385%, indokator difenilamin, akuades, dan FeSO4 1N. Alat yang digunakan adalah: timbangan analitik, gelas arloji, gelas beker 50 ml, gelas ukur 10 ml, pipet, labu elenmeyer 50 ml, dan labu titrasi.

Pengukuran kadar nitrat (NO3-). Bahan yang diperlu-

kan adalah: pelarut ekstraktan, asam fenol disulfonat, larutan ammonium, larutan nitrat standard, campuran bubuk Ca(OH)2 dan MgCO3. Alat yang digunakan adalah: timbangan analitik, gelas arloji, cawan evaporasi, pipet volumetri 100 ml, labu elenmeyer 500 ml, shaker, penangas air, dan AAS (Atomic Absorbance Spectrophotometer).

Pengukuran kadar ammonium (NH4+). Bahan kimia

yang diperlukan adalah: KCl 10%, MgO 10%, indikator asam borat 2%, dan larutan standar H2SO4 0,01 N. Alat yang digunakan adalah: timbangan analitik, labu elenmeyer 300 ml, shaker, corong gelas, kertas Whatman 42, gelas arloji, pipet volumetri 20 ml, buret, oven, dan alat destilasi semi-mikro Kjehldal.

Penentuan kadar fosfat (PO43-). Bahan kimia yang

diperlukan adalah: HClO4 dan HNO3 pekat, larutan HCl, larutan molibdat-vanadat, HNO3 2N, larutan fosfat standard (P 20 ppm; 250 ppm). Alat yang digunakan adalah: labu Kjeldahl 100 ml, apparus digesti elektris, pipet, corong gelas, kertas Whatman 42, pipet volumetri 100 ml, tabung gradasi 20 ml, labu volumetri 200 ml dan AAS.

Cara kerja

Pengukuran parameter nutrien merujuk pada: Tan (1996), Prawirowardoyo, dkk. (1987), Hidayat (1978), dan APHA (1969).

Preparasi sampel tanah. Sampel sedimen tanah

diambil dengan soil core di kedalaman + 20 cm dari permukaan sedimen pada lima titik yang ditentukan secara random, dengan jarak sekurang-kurangnya 10 m antara satu dengan lainnya, lalu dicampur dan diaduk secara merata dalam ember plastik. Proporsi sedimen tanah dari kelima titik tersebut relatif sama, dengan hasil akhir sekitar 1-2 kg basah. Di laboratorium, sisa-sisa akar, batu dan material organik dibuang dan disaring dengan saringan berdiameter 2 mm, lalu dilanjutkan dengan saringan berdiameter 0,5 mm.

Pengukuran kadar bahan organik total (BOT).
Sebanyak 1 g sampel tanah kering angin dimasukkan
ENVIRO 5 (1): 12-17, Maret 2005
14

dalam gelas beker 50 ml, ditambah 10 ml K2Cr2O7 dan 10 ml H2SO4 dengan gelas ukur, lalu dikocok hingga homogen. Didiamkan 30 menit hingga larutan menjadi dingin. Ditambahkan 5 ml H3PO3 85% dan 1 ml indikator difenilamin, lalu ditambahkan akuades hingga volume mencapai 50 ml, dikocok hingga homogen dan dibiarkan mengendap. Sebanyak 5 ml larutan yang jernih diambil dengan pipet dan dimasukkan dalam labu elenmeyer 50 ml, dan ditambah 15 ml akuades. Kemudian dititrasi dengan FeSO4 1N hingga berwarna kehijauan. Langkah tersebut dilakukan pula tanpa sampel tanah sebagai blanko.

Pengukuran kadar nitrat (NO3-). Sebanyak 20 g

sampel tanah dimasukkan dalam labu elenmeyer 500 ml yang telah diisi 100 ml larutan ekstraktan. Ditambah 0,7 g campuran Ca(OH)2 dan MgCO3 dan ditutup dengan sumbat karet. Lalu digojok selama 10 menit dengan shaker, dibiarkan beberapa menit dan disaring dengan kertas saring Whatman 42. Dipipet 25 ml ekstrak ke cawan penguap dan dikeringkan di atas penangas air. Setelah dingin ditambahkan 2 ml asam fenol disulfonat dengan pipet dan cawan diputar-putar hingga merata, didiamkan 10 menit. Ditambahkan 15 ml akuades dan diaduk hingga seluruh residu terlarut. Lalu ditambahkan larutan NH4OH dan diaduk hingga berwarna kuning alkali. Dipindahkan ke dalam labu volumetri 100 ml dan ditambahkan akuades hingga tanda. Kemudian absorbansi diukur dengan AAS pada panjang gelombang 410 m\u03bc. Proses di atas lakukan pula terhadap larutan nitrat standard (NO3-: 20 ppm; 250 ppm).

Pengukuran kadar ammonium (NH4+). Sebanyak 20 g

sampel tanah dimasukkan dalam labu elenmeyer 200 ml yang telah diisi 100 ml KCl 10%, lalu digojok selama 30 menit dengan shaker dan disaring dengan kertas saring Whatman 42. Setelah itu labu elenmeyer 100 ml berisi 5 ml asam borat 2% sebagai indikator diletakkan di bawah kondensor. Sebanyak 20 ml larutan dipipetkan ke dalam labu Kjeldahl, ditambahkan 10 ml suspensi magnesium oksida 10% dan dibersihkan dengan akuades. Didistilasi selama 5 menit, hingga hasil distilasi tinggal sekitar 35 ml. Ujung kondensor dicuci dengan akuades, setelah dingin dititrasi dengan H2SO4 0,01 N hingga berwarna merah muda. Langkah tersebut dilakukan pula tanpa sampel tanah sebagai blanko.

Pengukuran kadar fosfat (PO43-). Sebanyak 2 g

sampel tanah dimasukkan dalam labu Kjeldahl 100 ml yang telah diisi 2 g pasir kuwarsa. Ditambahkan 6 ml HNO3 pekat, dipanaskan dan digojok pelahan-lahan dalam apparatus digesti elektris pada suhu di bawah 80oC. Setelah gas NO2

menguap sempurna dan dingin, ditambahkan 6 ml HClO4 pekat dan suhu dinaikkan hingga 120oC, serta digojok hingga diperoleh larutan jernih. Didinginkan dan ditambah 1 ml HCl pekat, lalu dipanaskan 30 menit dan didinginkan lagi. Kemudian leher labu Kjeldahl dicuci dengan air dan disaring ke dalam labu volumetri 100 ml, ditambahkan akuades hingga tanda batas dan digojok pelahan-lahan. Sebanyak 1 ml larutan dipipetkan ke dalam tabung gradasi 20 ml, ditambahkan 5 ml HNO3 2N dan akuades hingga mencapai 15 ml. Ditambahkan 2 ml molibdat-vanadat dan akuades hingga 20 ml, serta digojok dan dibiarkan selama 20 menit. Kemudian absorbansi diukur dengan AAS pada panjang gelombang 420 m\u03bc. Proses di atas lakukan pula terhadap larutan fosfat standard (P: 20 ppm; 250 ppm).

Analisis data
Untuk mengetahui kemungkinan telah terjadinya
pencemaran lingkungan (i.e. eutrofikasi) oleh unsur nutrien,

maka data dianalisis dengan membandingkan kandungan nutrien dalam sedimen tanah dengan ketentuan dalam Kepmen LH No. Kep-51/MENLH/10/1995 tentang Baku Mutu Limbah Cair dan PP 82/2001 tentang Kriteria Mutu Air berdasarkan Kelas untuk kelas I, yakni air dengan kualitas terbaik. Hal ini dilakukan mengingat peraturan yang secara khusus dibuat untuk menerangkan kandungan nutrien yang diperkenankan dalam tanah sedimen tidak ada. Dari perbandingan tersebut diharapkan dapat diketahui ada tidaknya pencemaran nutrien (eutrofikasi) pada sedimen lingkungan mangrove.

HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil

Parameter nutrien yang diamati dalam penelitian ini adalah kandungan bahan organik total (BOT), nitrat (NO3-), ammonium (NH4+), fosfat (PO43-). Parameter-parameter di atas, merupakan beberapa parameter yang memiliki karakteristik khas untuk lingkungan mangrove. Data pengamatan selengkapnya tersaji pada Tabel 1.

Tabel 1. Hasil pengukuran karakter fisik-kimia pada kawasan
ekosistem mangrove di pantai utara dan selatan Jawa Tengah.
Unsur hara/nutrien
Lokasi
BOT
(%)
NO3-
(mg/100gr)
NH4+
(mg/100gr)
PO43-
(mg/100gr)
1. Wulan
8,308
0,354
0,174
4,86
2. Sigrogol
12,355
0,438
0,316
6,68
3. Serang
10,337
0,412
0,223
6,02
4. Bulak
15,361
0,671
0,401
8,05
5. Telukawur
11,738
0,512
0,251
7,36
6. Tayu
11,435
0,477
0,203
7,44
7. Juwana
13,068
0,414
0,328
7,79
8. Pecangakan
9,194
0,379
0,235
6,07
9. Pasar Banggi
11,010
0,405
0,308
7,13
10. Lasem
13,523
0,425
0,345
7,87
11. Bogowonto
9,986
0,565
0,304
6,26
12. Cakrayasan
11,203
0,361
0,340
7,15
13. Lukulo
11,080
0,354
0,215
6,71
14. Cingcingguling
9,160
0,327
0,263
4,73
15. Ijo
14,564
0,391
0,409
8,39
16. Bengawan
11,136
0,459
0,365
6,96
17. Serayu
9,766
0,366
0,267
5,73
18. Tritih
10,403
0,333
0,240
6,99
19. Motean
10,148
0,396
0,230
6,77
20. Muara Dua
11,429
0,408
0,276
7,06
Rata-rata
11,260
0,4224
0,2847
6,80
Bahan organik total (BOT)

Bahan organik total sering kali diartikan sebagai bahan organik karbon, karena karbon merupakan unsur utama penyusun makhluk hidup. Unsur karbon merupakan kerangka dasar (backbone) semua senyawa yang ada dalam tubuh makhluk hidup. Kandungan bahan organik dalam sedimen tanah mangrove berasal dari produktivitas primer setempat yang sebagian besar disumbangkan oleh tumbuhan mangrove (autochthonous) dan masukan yang terbawa oleh aliran aliran permukaan dari daerah aliran sungai yang bermuara padanya (allochthonous). Oleh karena itu kelebatan vegetasi hutan mangrove maupun hutan-hutan di sepanjang daerah aliran sungai, serta kegiatan antropogenik dapat mempengaruhi kandungan bahan organik total di lingkungan mangrove.

Bahan organik total sangat penting dalam menentukan derajat keasaman (pH) tanah sedimen, namun bukan merupakan satu-satunya faktor penentu pH tanah. Menurut Rao (1994)

Activity (10)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 hundred reads
1 thousand reads
ananherliani liked this
Ana Yuliani liked this
w1w2 liked this
siska_a liked this
tokichi liked this
ARIANDI liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->