/  3
 
AHLUS SHUFFAH BUKAN SHÛFIYAH
Sebagian kaum muslimin beranggapan, bahwa setiap orang yang memiliki perilaku baik atau secara umum, moralitasnya sangat tinggi dan terpuji, maka orang tersebutdikenal dengan sebutan
 shufi
yaitu pengamal ajaran
tashawwuf 
. Mereka beralasandengan beragam argumen, semuanya itu bermuara kepada ‘sosok seseorang yangdianggap suci atau bersih’ yang dihubungkan dengan akar kata mirip dengan kata
 shufi.
Benarkah demikian?
Beberapa Tanggapan
Diantara mereka ada yang menyandarkannya pada sekelompok komunitas miskinshahabat rasûlullâh saw. yang menghibahkan dirinya di jalan Allah, dimana merekatinggal di serambi mesjid Nabawi. Mereka itulah yang disebut
ahlus shuffah
atau
ashâbus shuffah.
(Al-Asqalani dalam
 Hadyus Sâri Muqaddimah Fathil Bâri,
hal. 221)Hal ini diperkuat dengan pernyataan shahabat Abu Hurairah ra.: “
 Aku pernah melihat tujuh puluh orang diantara ahlus shuffah, tidak seorangpun dari mereka yanmemakai kain yang menutupi bagian atas tubuh mereka, mereka hanya memakai kainatau sarung yang mereka ikatkan ke leher. Diantara kain yang dipakainya itu, ada yang menutupi hanya separuh betis dan ada yang menutupnya sampai kedua matakaki, juga ada diantara mereka yang memegang kain dengan tangannya karenakhawatir nampak terbuka auratnya.
(H.R. Al-Bukhari dalam
 Fathul Bâri
I/694 no.442)Maka jelaslah, hadits ini memberikan gambaran tentang kondisi mereka yang serbakekurangan karena ketidakmampuan, sehingga mereka harus tinggal di mesjid.Abdurrahman bin Abu Bakar menyebutnya dengan
ashâbus shuffal al-fuqarâ.
(
 Fathul  Bâri
I/692)Adapula yang menyandarkannya pada kata
 shaff 
(orang yang berada pada garis depandalam menghadap Allah ‘Azza wa Jalla), juga ada pendapat menyebutkandisandarkan pada kata
 shafwah
(akhlak yang bersih). Bahkan ada pendapat yangmenyebutkan disandarkan pada nama seorang tokoh Makkah kuno yang ahli ibadah bernama Shuffah bin Bisyir bin ‘Add bin Thanjah.Pandangan-pandangan tersebut dibantah oleh
Syaikhul Islam
Ibnu Taimiyyah dalam
 Kitâbut Tashawwuf.
Menurutnya: “
Sesungguhnya kata shufi tidaklah popular padatiga abad pertama sebagaimana pendapatnya imam kaum muslimin seperti Imam Ahmad bin Hanbal dan Abi Sulaiman ad-Darâni. Apabila kata shufi disandarkan pada kata tersebut maka istilahnya menjadi shufiyy. Juga apabila disandarkan padakata shafwah itupun keliru, karena kalaupun disandarkan padanya maka istilahnyamenjadi shafawiy. Demikian pula apabila disandarkan pada nama Shuffah bin Bisyir bin ‘Add bin Thanjah yang ahli ibadah di masa jahiliyah, itupun lemah pula, karena penisbatan ini tidak popular di kalangan ahli ibadah, baik shahabat, tâbi’in, tâbi’ut tâbiin dan sudah tentu mereka tidak akan ridha untuk disandarkan kepada kabilah jahiliyah yang tidak ada dalam Islam.”
(Ibnu Taimiyah dalam
Majmû’ Fatâwâ
XI/ 5-6)
1
 
Zâhid Bukan Shufi
Seorang yang menempuh jalan
 zuhud 
, maka disebut
 zâhid 
. Adapun makna zuhudmenurut Imam Ibnul Manzhur dalam
 Lisânul ‘Arab
adalah
‘Dhiddur raghbah wal hirsh ‘alad dunya,’ 
artinya kebalikan dari sangat ingin memiliki dunia. Menurut ImamIbnu Qayyim dalam
Madârijus Sâlikîn,
asal makna zuhud adalah berpaling (
al-inshirâf 
), menghinakan (
al-ihtiqâr 
) dan menganggap kecil (
tashghîr 
) kepadakeadaannya dikarenakan merasa cukup dengan sesuatu yang dianggap lebih baik.Agar tidak terjadi penafsiran yang keliru, maka para ulama mencoba menjelaskanhakikat maknanya. Ibnu Taimiyyah menyebutkan bahwa zuhud adalah meninggalkansesuatu yang tidak bermanfaat untuk kehidupan di akhirat; sementara Hasan Al-Bashri mengatakan: “
 Bukanlah zuhud itu mengharamkan sesuatu yang halal danbukan pula menyia-nyiakan harta, melainkan apa yang menjadi hak Allah lebihdiutamakan daripada apa yang menjadi hak manusia.
” (Nâzhim Muhammad Sulthândalam
Qawâ’id wa Fawâ’id Minal Arbain An-Nawawiyyah,
hal. 264-265)Hal ini sejalan dengan firman Allah ‘Azza wa Jalla: “
 Dan carilah olehmu apa yang  Allah berikan dari kebahagiaan negeri akhirat dan janganlah kamu melupakanbagian yang Allah berikan dari kenikmatan dunia…….”
(Q.S. Al-Qasshâsh/ 28: 77).Juga hadits rasûlullâh saw. sebagai jawaban atas pertanyaan seorang shahabat tentangamalan yang dapat mendatangkan kecintaan Allah dan dicintai manusia. Beliaumenjawab: “
 Zuhudlah kamu kepada dunia, pasti Allah mencintaimu. Zuhudlah kamu pada apa yang ada pada manusia, pasti manusia mencintaimu.
” (H.R. Ibnu Majjah,
 Kitâbul Zuhd 
no. 4103)Imam Ibnu Katsir memberikan penafsiran, bahwa yang dimaksud, ‘janganlah kamumelupakan bagian Allah dari kenikmatan dunia (
wala tansa nashîbaka minad dunya
)’adalah sesuatu yang sudah semestinya dimiliki setiap mukmin berupa makanan,minuman, pakaian, istri dan tempat tinggal yang telah diperbolehkan Allah ‘Azza waJalla. Dikarenakan kamu memiliki hak dari Allah, dirimu memiliki hak yang harusdiberikan, keluargamu memiliki hak dan tetanggamu memiliki hak. Maka berikanlahhak itu pada setiap pemiliknya. (Muhammad Nasib ar-Rifa’i dalam
Taisîrul ‘Âliyil Qadîr li Ikhtishâri Tafsîr Ibni Katsîr 
III/ 403)Begitulah Allah ‘Azza wa Jalla telah menetapkan bahwasanya yang harus dicari,diusahakan dengan sungguh-sungguh dan didapatkan oleh setiap mukmin adalahnegeri akhirat. Sungguh negeri akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa(Lihat Q.S. Al-An’âm/ 6: 32). Namun demikian, tidak berarti seorang mukmin harusmeninggalkan dan menghindari kenikmatan dunia, karena kehidupan dan perhiasanduniapun diperuntukkan bagi mereka. (Lihat Q.S. Al-A’râf/ 7: 2)Oleh karenanya, Imam Ahmad memaknai zuhud ini dengan: “
 Kamu menggenggamdunia ini tetapi hatimu tidak tertambat kepadanya.
” Lalu Imam Ahmad membagizuhud kepada tiga macam; pertama,
 Zuhdul ‘Awwâm
(meninggalkan perkara haram);kedua,
 Zuhdul Khawwâsh
(meninggalkan hal-hal yang mubah, berhati-hati dalam perkara yang halal); ketiga,
 Zuhdul ‘Ârifîn
(meninggalkan perkara yang menyibukkandan membuat lalai kepada Allah). (Nadzhîm Muhammad Sulthân, hal 266)Dengan demikian, orang-orang yang senantiasa berusaha menempuh kebersihan hati,itulah yang menempuh hidup zuhud, sedangkan orang yang disebut
 zâhid,
 bukanlah
2

Share & Embed

More from this user

Add a Comment

Characters: ...

yogi041004left a comment

untuk tulisan resmi dapat dilihat di www.pusdiklat-dewandakwah.com