Zâhid Bukan Shufi
Seorang yang menempuh jalan
zuhud
, maka disebut
zâhid
. Adapun makna zuhudmenurut Imam Ibnul Manzhur dalam
Lisânul ‘Arab
adalah
‘Dhiddur raghbah wal hirsh ‘alad dunya,’
artinya kebalikan dari sangat ingin memiliki dunia. Menurut ImamIbnu Qayyim dalam
Madârijus Sâlikîn,
asal makna zuhud adalah berpaling (
al-inshirâf
), menghinakan (
al-ihtiqâr
) dan menganggap kecil (
tashghîr
) kepadakeadaannya dikarenakan merasa cukup dengan sesuatu yang dianggap lebih baik.Agar tidak terjadi penafsiran yang keliru, maka para ulama mencoba menjelaskanhakikat maknanya. Ibnu Taimiyyah menyebutkan bahwa zuhud adalah meninggalkansesuatu yang tidak bermanfaat untuk kehidupan di akhirat; sementara Hasan Al-Bashri mengatakan: “
Bukanlah zuhud itu mengharamkan sesuatu yang halal danbukan pula menyia-nyiakan harta, melainkan apa yang menjadi hak Allah lebihdiutamakan daripada apa yang menjadi hak manusia.
” (Nâzhim Muhammad Sulthândalam
Qawâ’id wa Fawâ’id Minal Arbain An-Nawawiyyah,
hal. 264-265)Hal ini sejalan dengan firman Allah ‘Azza wa Jalla: “
Dan carilah olehmu apa yang Allah berikan dari kebahagiaan negeri akhirat dan janganlah kamu melupakanbagian yang Allah berikan dari kenikmatan dunia…….”
(Q.S. Al-Qasshâsh/ 28: 77).Juga hadits rasûlullâh saw. sebagai jawaban atas pertanyaan seorang shahabat tentangamalan yang dapat mendatangkan kecintaan Allah dan dicintai manusia. Beliaumenjawab: “
Zuhudlah kamu kepada dunia, pasti Allah mencintaimu. Zuhudlah kamu pada apa yang ada pada manusia, pasti manusia mencintaimu.
” (H.R. Ibnu Majjah,
Kitâbul Zuhd
no. 4103)Imam Ibnu Katsir memberikan penafsiran, bahwa yang dimaksud, ‘janganlah kamumelupakan bagian Allah dari kenikmatan dunia (
wala tansa nashîbaka minad dunya
)’adalah sesuatu yang sudah semestinya dimiliki setiap mukmin berupa makanan,minuman, pakaian, istri dan tempat tinggal yang telah diperbolehkan Allah ‘Azza waJalla. Dikarenakan kamu memiliki hak dari Allah, dirimu memiliki hak yang harusdiberikan, keluargamu memiliki hak dan tetanggamu memiliki hak. Maka berikanlahhak itu pada setiap pemiliknya. (Muhammad Nasib ar-Rifa’i dalam
Taisîrul ‘Âliyil Qadîr li Ikhtishâri Tafsîr Ibni Katsîr
III/ 403)Begitulah Allah ‘Azza wa Jalla telah menetapkan bahwasanya yang harus dicari,diusahakan dengan sungguh-sungguh dan didapatkan oleh setiap mukmin adalahnegeri akhirat. Sungguh negeri akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa(Lihat Q.S. Al-An’âm/ 6: 32). Namun demikian, tidak berarti seorang mukmin harusmeninggalkan dan menghindari kenikmatan dunia, karena kehidupan dan perhiasanduniapun diperuntukkan bagi mereka. (Lihat Q.S. Al-A’râf/ 7: 2)Oleh karenanya, Imam Ahmad memaknai zuhud ini dengan: “
Kamu menggenggamdunia ini tetapi hatimu tidak tertambat kepadanya.
” Lalu Imam Ahmad membagizuhud kepada tiga macam; pertama,
Zuhdul ‘Awwâm
(meninggalkan perkara haram);kedua,
Zuhdul Khawwâsh
(meninggalkan hal-hal yang mubah, berhati-hati dalam perkara yang halal); ketiga,
Zuhdul ‘Ârifîn
(meninggalkan perkara yang menyibukkandan membuat lalai kepada Allah). (Nadzhîm Muhammad Sulthân, hal 266)Dengan demikian, orang-orang yang senantiasa berusaha menempuh kebersihan hati,itulah yang menempuh hidup zuhud, sedangkan orang yang disebut
zâhid,
bukanlah
2
Add a Comment
yogi041004left a comment