Dari pengamatan secara fisika dan semiotika terhadap medium-medium kultural dalammembangun relasi antara karya dengan audiens–– terutama kolektor––inilah munculketidakadilan bagi sekelompok pekarya sehingga bagi mereka, karyanya tak sempatdicahayai. Ketidaksempatan inilah yang kemudian keberadaan seorang pekarya punhilang, sebagaimana kita tak dapat menangkap citra visual atas karya-karya seni rupaketika mati lampu atau dalam keadaan gelap gulita.Maka, lahirlah suatu kegelapan dalam realitas kesenirupaan bagi kelompok tertentu yangtidak punya “kemampuan” berdamai dengan pihak penguasa medium-medium kultural.Atas realitas kesenirupaan seperti itu, maka lahirlah suatu parodi eksistensial dalamkonsep cartesian. diriku ada ketika karyaku dicahayai.
2. Kegelapan Sebagai Metafor
Pada prinsipnya, manusia dapat melihat kegelapan namun tidak dapat melihatdalam kegelapan. Melalui kredo semacam ini, maka kegelapan menjadi metaforaatas realitas kesenirupaan; metafora atas penguasaan medium-medium kulturaldalam menghadirkan karya oleh pihak-pihak yang berdiri tegak demi kepentinganekonomi pasar.
Manakala kegelapan diposisikan sebagai metafora, maka ia pun memuatberbagai pesan. Dari sinilah dapat digagas dan kemudian dikembangkansuatu dialektika atas realitas kesenirupaan yang mewujud dalamkomodifikasi karya seni yang menghasilakan
booming
lukisan yang amatmencengangkan sehingga menguntungkan kurator dan galeri, mematikankritik seni, memperpanjang nafas kolektor dan menciptakan wilayah pusatdan pinggiran dalam penghadiran sebuah karya kepada audiens yangluas. Dialektika itu bisa jadi berbentuk antitesis dan dapat pula sintesaatas kegelapan yang tengah berlangsung.
B. Pameran yang Bercerita tentang Kegelapan
Berangkat dari kenyataan bahwa medium-medium kultural dalam menghadirkan karya seni rupakepada audiens dikuasi oleh pihak tertentu untuk memaksimalkan peluang-peluang ekonomi,maka perlu digagas sebuah pameran yang mampu berkata tentang keliyanan (
the otherness
)tanpa memperkukuh mentalitas perkubu-kubuan dan tanpa memerangi dan memusnahkancorak, gaya, langgam dan mazhab kesenirupaan yang telah ada. Sesuatu yang telah ada dalamrelasi antara pekarya-karya dengan audiens selama ini, membutuhkan mitra dialog denganpihak-pihak yang diliyankan; pekarya baru, pekarya perempuan atau pekarya yang tidakterhimpun dalam kantong-kantong senirupa yang dominasi (secara ekonomis).Dari sini, pameran seni rupa pun musti dipandang sebagai sebuah pengejawantahan suatudialektika atas realitas seni rupa mayor yang mewakili narasi-narasi (yang sedang) besar (
grand narration
). Oleh karena itu, penggagasan suatu pameran bisa jadi berangkat dari realitaskesenirupaan yang memunculkan pihak liyan yang terjebak dalam komidifikasi praktekkesenirupaan sebagai obyek kepentingan ekonomi. Maka kini, tengah digagas sebuah pameranatas potensi-potensi pengiriman pesan melalui medium-medium kultural untuk mencapai alamat-alamat penerima agar kehadiran dalam kondisi tanpa cahaya bagi karya-karya yang terabaikanmenjadi tercahayai sehingga keberdaannya terinderai dan bergerak menuju wilayah-wilayahpemaknaan para audiens.