Kang Zusi http://cerita-silat.co.cc/Mendadak diantara suara gemuruh derap kuda itu terselingpula suara-suara suitan, bahkan suara-suara suitan itu sahutmenyahutdari berbagai jurusan. Ternyata segenap penjuruHau-kam-cip itu sudah terkepung dengan rapat.Kembali semua orang terperanjat. Bagi orang-orang yangberpengalaman lebih luas lantas timbul kesangsian: Wah,
�
jangan-jangan adalah kaum bandit?
�
Seorang pegawai toko kelontong bermerek Ho An ditepi jalan
� �
itu telah berkata: Wah, celaka! Mungkin saudara-saudara tua
�
kita itu yang datang!
�
Ong-ciangkui, si juragan toko memangnya sedang gemetarketakutan, sekarang mendengar pegawainya bermulut cerewet,kontak ia mengangkat sebelah tangannya dengan gaya hendakmenabok, sambil membentak: Kurang ajar! Bicara saja tidak
�
tahu aturan. Kalau benar tuan-tuan besar dari golongan ituyang datang, hm, tentu tentu kau bisa mampus. Padahal
�
jarang terdengar ada orang melakukan pekerjaan begitudisiang hari bolong? Wah, ini ini memang agak aneh.
� � �
Belum selesai ucapannya ia menjadi melongo dan tidaksanggup meneruskan lagi, sebab saat itu dari jurusan timurada empat-lima penunggang kuda sedang menerjang tiba.Penunggang-penunggang kuda itu seluruhnya berbaju hitammulus, kepala memakai caping dan semuanya bersenjata golokmengkilap.Wahai, dengarkan segenap penduduk! Hendaklah setiap
�
orang tetap tinggal ditempatnya masing-masing, kalau beranisembarangan bergerak, jangan menyesalkan senjata kamiyang tak bermata ini! demikian penunggang-penunggang kuda
�
itu berteriak-teriak. Sambil mem-bentak2 terus melarikan kudamereka kejurusan barat.Tapal kuda mereka yang beradu dengan jalan yangberlapiskan balok-balok batu menimbulkan suara ketuprakketuprak
� �
telah menggetarkan perasaan setiap orang.