Gadis itu meleset lidah sekali, mendadak pedangnja terus menusuk dengan tjepatluar biasa.Pemuda itu belum lagi ber-siap2, dalam keadaan kelabakan ia masih sempatmenangkis. Tapikarena telah didahului sigadis ia menjadi ketjetjar hingga untuk semenatar takmapumelantjarkan serangan balasan.Ketika dia sudah terdesak dan tampaknja segera akan kalah, tiba2 dari arah timursana adasuara derapan kuda jang ber-detak2. Seorang penunggang kuda tampak mendatangdengantjepat sekali."Siapakah itu jang datang?" kata sipemuda."Sudah kalah djangan main belit! Siapapun jang datang tiada sangkut-pautnja denganengkau!" bentak sigadis dan be-runtun2 ia menjerang tiga kali pula.Sekuatnja pemuda itu menangkis sambil mendjawab dengan gusar: "Memangnja apa kausangka aku djeri padamu?""Mulutmu jang tidak djeri, tapi hatimu takut!" sahut sigadis sambil menusukkekanan dankekiri, dua serangan jang tjepat dan indah.Tatkala itu sipenunggang kuda tadi sudah dekat dan memberhentikan kudanja, melihatserangan sigadis itu, tak tertahan lagi ia berseru: "Bagus! Serangan hebat! Thian-hoa-loh-puttjin,Kau-dju-niu-ham-hui!" (bunga dilangit bertebaran, di-mana2 burung terbang mentjarimakan)."Mendengar itu, sigadis bersuara heran sekali dan mendadak melompat mundur untukmengamat-amati pendatang asing itu. Ia lihat orang berusia antara 23-24 tahun,berdandanperlente sebagai lazimnja putera hartawan dikota.Tanpa merasa wadjah sigadis mendjadi merah djengah, serunja kepada sikakek: "Tia(ajah),ken............ kenapa dia tahu?"Pedang Hati Suci > karya Ching Yung > disadur oleh Gan K.L > published bybuyankaba.com 4Memangnja sikakek djuga sedang heran demi mendengar sipenunggang kuda itu dapatmenjebut nama2 tipu serangan gadisnja tadi, maka ia bermaksud menegurnja.Sementara itu, sipenunggang kuda sudah lantas melompat turun dan mendekatisikakek, iamemberi hormat dan berkata: "Numpang tanja, Lo-tiang, di Moa-keh-po sini adaseorang ahlipedang, namanja Djik Tiang-hoat, Djik-loyatju, dimanakah tempat tinggalnja?""Aku sendirilah Djik Tiang-hoat," sahut sikakek itu. "Untuk apakah Toaya (tuan)mentjarinja?"Segera pemuda gagah itu mendjura ketanah, katanja: "Wanpwe bernama Bok Heng,denganini memberi hormat kepada Susiok. Wanpwe diperintahkan Suhu untuk mentjari Djik-susiok.""Haha, djangan sungkan2, tak usah banjak adat!" sahut Djik Tiang-hoat dengantertawasambil membangunkan pemuda itu.Ketika tangan memegang tangan, ia sengadja kerahkan sedikit tenaga dalam hinggaseparohtubuh pemuda itu mendjadi kaku linu.Dengan muka merah Bok Heng berbangkit, katanja: "Wah, Djik-susiok telah mengudjiWanpwe, sekali ketemu Wanpwe sudah memalukan.""Lwekangmu memang masih kurang kuat," udjar Tiang-hoat dengan tertawa. "Kau adalahmurid keberapa dari Ban-suko?"Kembali muka Bok Heng merah djengah, sahutnja: "Wanpwe adalah murid Suhu jang
Leave a Comment