• Embed Doc
  • Readcast
  • Collections
  • CommentGo Back
Download
 
Pedang Hati Suci > karya Ching Yung > disadur oleh Gan K.L > published bybuyankaba.com 1________________________________________________________________Cerita silat karya Jin Yong (1963), dengan judul asli: Lian Cheng Que, atau dalamdialekHokkian: Soh Sim Kiam. Disadur ke dalam Bahasa Indonesia oleh Gan KL, dengan totalbuku 11 jilid.Jilid 01Tok .... Tak-tok... tok trok tok ... taaak!Begitulah bunji serentetan beradunja dua batang kaju, terkadang berhenti agaklama, menjusullantas berbunji pula dengan tjepat.Tempat itu adalah sebuah kampung Moa-keh-po diluar kota Wan-ling di wilajahpropinsiOuw-lam barat. Didepan tiga buah gubuk jang berderetan itu ada seorang kakeksedangmenganjam sepatu rumput. Terkadang dia mendongak mengikuti pertarungan antarasepasangmuda-mudi dilapangan djemuran padi sana.Usia kakek itu kira kira setengah abad namun mukanja sudah penuh keriput,rambutnja lebihseparuh sudah ubanan, suatu tanda banjak penderitaan pedjuangan hidup. Tapi waktuitutampak dia mengulum senjum, ia puas terhadap pertandingan pedang sepasang muda-mudiitu.Pemudi jang sedang bertanding itu berumur antara 17-18 tahun berwadjah bundar,bermatadjeli. Keringatnja sudah membasahi keningnja dan mengutjur pula kepipinja. Ketikaiamengusap keringat dengan lengan badjunja, makin tjantiklah tampaknja gadis itu.Adapun usia pemuda itu lebih tua dua-tiga tahun daripada si gadis. Berperawakandjangkung,kulitnja hitam, tulang pipinja agak menonjol, tangan kasar, kaki besar, itulahtjiri tjiri khasanak petani.Pedang kaju jang dimainkannja itu tampil sangat tjepat dan lintjah.Pedang Hati Suci > karya Ching Yung > disadur oleh Gan K.L > published bybuyankaba.com 2Sekonjong-konjong pedang kaju pemuda itu menabas dari atas pundak kiri miringkebawah.Menjusul tanpa menoleh pedangnja berputar dan menusuk kebelakang. Namun si gadissempat menghindar dengan mendekan kepalanja, habis itu iapun membalas menusukbeberapa kali.Mendadak pemuda itu mundur dua tindak, habis itu ia bersuit panjang sekali,pedangnjaberputar, tjepat ia menebas ke kanan dan kekiri beruntun-runtun tiga kali.Karena kewalahan, tiba tiba si gadis itu menarik pedangnja dan berdiri tegak tanpamenangkis, bahkan omelnja: "Baiklah anggap kau lihay, sudah boleh engkau membatjokmatiaku!"Sama sekali pemuda itu tak menduga bahwa sigadis bisa mendadak berhenti dan tidakmenangkis, padahal tabasan ketiga itu sedang dilontarkan kepinggang lawan.Dalam kedjutnja, lekas lekas pemuda itu hendak menarik kembali serangannja, namuntenagajang dikeluarkan itu sudah kadung terlalu kuat, "plek", sekuatnja ia kesampingkanpedangnja,tapi tidak urung lengan kiri sendiri terketok oleh sendjata sendiri. Dalam kagetdan sakitnja
 
tanpa merasa ia mendjerit sekali.Gadis itu tertawa geli, katanja: "Huh, malu tidak kau? Tjoba kalau sendjatamu ituadalahpedang sungguhan, bukankah lenganmu itu sudah terkutung?"Wadjah si pemuda jang kehitam-hitaman itu mendjadi merah, sahutnja: "Aku kuatirtabasankutadi mengenai badanmu, karena itu tanganku sendiri jang terkena. Kalau benar2 maubertempur dengan musuh, masakan orang mau mengalah padamu? Suhu, haraplah engkaumemberi pendapat jang adil? Apa betul tidak kataku ini?"Kata terachir ini ia tudjukan pada si kakek jang masih asjik menjelesaikan sepaturumputnjaitu.Sambil memegangi sepatu rumputnja jang setengah selesai itu, sikakek berbangkitdanberkata: "Di antara 50-an djurus permulaan kalian itu masih boleh djuga, tapidjurus2belakangan makin lama semakin tak keruan."Ia ambil pedang kaju dari sigadis, ia pasang kuda2 dan melontarkan suatu seranganbergajamiring lalu katanja pula: "Ini adalah djurus "Koh-hong-han-siang-lay" (bandjirdatang berteriak2),menjusul ini adalah "Si-heng-put-kan-ko" (ketemu lintang tidak berani lewat).Karena melintang maka harus menabas dan tidak boleh menusuk kedepan ...."Sedang kakek itu asyik mentjerotjos dengan teori ilmu pedangnja, se-konjong2terdengarsuara ketawa orang ter-bahak2 dibalik timbunan jerami sana.Untuk sedjenak sikakek melengak, tapi setjepat panah ia terus melompat kesana.djanganmenjangka sikakek sudah ubanan gerak-geriknja ternjata sangat gesit dan tjekatan,sedikitpuntidak kalah daripada anak muda.Ia mengira suara orang terbahak itu tentu lagi mentertawai tjaranja dia memberipeladjaranilmu pedang pada muridnja tadi. Tapi demi melihat siapa orang itu ia menjadi tahududuknjaPedang Hati Suci > karya Ching Yung > disadur oleh Gan K.L > published bybuyankaba.com 3perkara. Kiranja dibalik timbunan djerami itu berduduk seorang pengemis tua yanglagi sibukmentjari tuma dari badjunja yang rombeng dan berbau itu lantaran tidak pernahditjutji.Sembari mentjari tuma, pengemis itu berjemur diri dibawah sinar sang surya. Ketikadapatmenangkap seekor tuma, tjepat-tjepat ia masukkan kemulutnja terus dikeletak laluia tertawater-bahak2 dan berkata:"Huh, lari kemana kau sekali ini. Ha-ha, kembali seekorlagi!"Kakek itu tersenjum dan putar balik ketempatnja tadi, ia mengulangi pula permainanbeberapadjurus Kiam-hoat tadi. Njata permainannja djauh berbeda daripada kedua anak muda,gerakannja tjepat dan gajanja indah, keruan kedua anak muda-mudi itu merasa kagumtakterhingga hingga bertepuk tangan memudji.Kakek itu kembalikan pedangnja kepada sigadis, katanja:"Kalian boleh melatihsekali lagi. AHong djangan main kelakar, tadi kalau bukan Suko sengadja mengalah, tentu djiwamusudahmelayang!"
 
Gadis itu meleset lidah sekali, mendadak pedangnja terus menusuk dengan tjepatluar biasa.Pemuda itu belum lagi ber-siap2, dalam keadaan kelabakan ia masih sempatmenangkis. Tapikarena telah didahului sigadis ia menjadi ketjetjar hingga untuk semenatar takmapumelantjarkan serangan balasan.Ketika dia sudah terdesak dan tampaknja segera akan kalah, tiba2 dari arah timursana adasuara derapan kuda jang ber-detak2. Seorang penunggang kuda tampak mendatangdengantjepat sekali."Siapakah itu jang datang?" kata sipemuda."Sudah kalah djangan main belit! Siapapun jang datang tiada sangkut-pautnja denganengkau!" bentak sigadis dan be-runtun2 ia menjerang tiga kali pula.Sekuatnja pemuda itu menangkis sambil mendjawab dengan gusar: "Memangnja apa kausangka aku djeri padamu?""Mulutmu jang tidak djeri, tapi hatimu takut!" sahut sigadis sambil menusukkekanan dankekiri, dua serangan jang tjepat dan indah.Tatkala itu sipenunggang kuda tadi sudah dekat dan memberhentikan kudanja, melihatserangan sigadis itu, tak tertahan lagi ia berseru: "Bagus! Serangan hebat! Thian-hoa-loh-puttjin,Kau-dju-niu-ham-hui!" (bunga dilangit bertebaran, di-mana2 burung terbang mentjarimakan)."Mendengar itu, sigadis bersuara heran sekali dan mendadak melompat mundur untukmengamat-amati pendatang asing itu. Ia lihat orang berusia antara 23-24 tahun,berdandanperlente sebagai lazimnja putera hartawan dikota.Tanpa merasa wadjah sigadis mendjadi merah djengah, serunja kepada sikakek: "Tia(ajah),ken............ kenapa dia tahu?"Pedang Hati Suci > karya Ching Yung > disadur oleh Gan K.L > published bybuyankaba.com 4Memangnja sikakek djuga sedang heran demi mendengar sipenunggang kuda itu dapatmenjebut nama2 tipu serangan gadisnja tadi, maka ia bermaksud menegurnja.Sementara itu, sipenunggang kuda sudah lantas melompat turun dan mendekatisikakek, iamemberi hormat dan berkata: "Numpang tanja, Lo-tiang, di Moa-keh-po sini adaseorang ahlipedang, namanja Djik Tiang-hoat, Djik-loyatju, dimanakah tempat tinggalnja?""Aku sendirilah Djik Tiang-hoat," sahut sikakek itu. "Untuk apakah Toaya (tuan)mentjarinja?"Segera pemuda gagah itu mendjura ketanah, katanja: "Wanpwe bernama Bok Heng,denganini memberi hormat kepada Susiok. Wanpwe diperintahkan Suhu untuk mentjari Djik-susiok.""Haha, djangan sungkan2, tak usah banjak adat!" sahut Djik Tiang-hoat dengantertawasambil membangunkan pemuda itu.Ketika tangan memegang tangan, ia sengadja kerahkan sedikit tenaga dalam hinggaseparohtubuh pemuda itu mendjadi kaku linu.Dengan muka merah Bok Heng berbangkit, katanja: "Wah, Djik-susiok telah mengudjiWanpwe, sekali ketemu Wanpwe sudah memalukan.""Lwekangmu memang masih kurang kuat," udjar Tiang-hoat dengan tertawa. "Kau adalahmurid keberapa dari Ban-suko?"Kembali muka Bok Heng merah djengah, sahutnja: "Wanpwe adalah murid Suhu jang
of 00

Leave a Comment

You must be to leave a comment.
Submit
Characters: ...
You must be to leave a comment.
Submit
Characters: ...