• Embed Doc
  • Readcast
  • Collections
  • 1
    CommentGo Back
Download
 
Sinar hijau berkelebat, sebatang pedang Jing-kong-kiam menusuk cepat ke pundakkiri seorang laki-laki setengah umur.Belum lagi serangan itu mengenai sasaran, penyerang itu sudah menggeser ke sampingdan menyerang pula ke leher kanan laki-laki itu.Waktu laki-laki setengah umur itu menegakkan pedangnya, trang, terbenturlah
 kedua pedang dan menerbitkan suara nyaring, menyusul sinar pedang gemerlapan pula,dalam sekejap kedua orang itu sudah saling gebrak beberapa jurus lagi.Mendadak pedang laki-laki setengah umur tadi menebas sekuatnya ke atas kepalapemuda yang memakai pedang Jing-kong-kiam, namun sedikit mengegos ke samping,pemuda itu balas menusuk paha lawan.Serang-menyerang kedua orang itu berlangsung cepat lagi tepat, setiap jurusseakan-akan mengadu jiwa.Di sudut Lian-bu-thia atau ruang berlatih silat itu berduduk seorang tua berumurantara setengah abad lebih, sambil mengelus jenggotnya yang panjang, dia kelihatansangat senang. Pada kedua sampingnya berdiri lebih 20 orang anak murid laki-lakidan perempuan, semuanya asyik mengikuti pertarungan sengit kedua orang tadi denganpenuh perhatian.Di samping sana berduduk belasan tamu undangan, mereka pun memusatkan perhatianmengikuti pertandingan di tengah kalangan dengan mata tak berkedip.Sementara itu sudah lebih 70 jurus pertandingan laki-laki setengah umur melawan sipemuda tadi. Serang-menyerang makin lama makin sengit dan berbahaya, tapi tetapbelum tampak siapa akan menang atau kalah.Sekonyong-konyong pedang lelaki setengah umur itu menebas sekuatnya, agaknyaterlalu keras menggunakan tenaga sehingga tubuhnya kehilangan imbangan dan sedikitterhuyung. Tampak itu, tiba-tiba seorang pemuda berbaju putih di antara tetamutadi mengikik geli, segera ia sadar kelakuannya yang tak pada tempatnya itu, cepatia dekap mulut sendiri.Dan pada saat itulah mendadak si pemuda yang menggunakan Jing-kong-kiam tadimemukul dengan telapak tangan kiri ke punggung laki-laki setengah umur.Karena lelaki itu lagi sempoyongan, ia terus miringkan tubuh ke depan, berbarengpedang berputar dengan cepat sambil membentak, Kena!
Kontan kaki kiri lawan kena ditusuknya.Pemuda itu sempoyongan, untung pedangnya sempat dipakai menahan ke tanah, iategakkan tubuh dan bermaksud bertempur lagi. Namun lelaki setengah umur itu sudahmengembalikan pedang ke sarungnya, katanya dengan tertawa, Maaf, Tu-sute, lukamu
 tidak parah, bukan?
Dengan muka pucat pemuda she Tu itu menjawab sambil menggigit bibir, Terima kasih
 atas kemurahan hati Kiong-suheng!
Kesudahan pertandingan itu rupanya membuat si kakek berjenggot tadi bertambahsenang, dengan tersenyum ia berkata, Sampai babak ini, Tang-cong (sekte timur)
 kami sudah menang tiga kali, tampaknya Kiam-oh-kiong (istana danau pedang) ini
 masih boleh dihuni lima tahun lagi oleh Tang-cong. Sin-sumoay, apakah kita perlu
 
bertanding lagi?
Seorang To-koh atau imam perempuan, yang duduk di pojok barat sana menjawab denganpenasaran, Ya, Co-suheng ternyata pintar mendidik murid. Tapi selama lima tahun
 ini entah sampai di mana peyakinan Co-suheng sendiri terhadap Bu-liang-giok-
bik.
Tiba-tiba kakek berjenggot itu memelotot, Apakah Sumoay sudah lupa pada peraturan
 golongan kita?
Teguran itu membuat si To-koh menjadi bungkam, ia mendengus sekali dan tidakbicara lagi.Kiranya kakek berjenggot itu bernama Co Cu-bok, dalam dunia Kangouw terkenaldengan julukan It-kiam-tin-thian-lam atau sebatang pedang menjagoi kolong langit
 selatan. Ia adalah Ciangbunjin atau ketua Bu-liang-kiam sekte timur. Sedang imam
 perempuan tadi bergelar Siang-jing dengan julukan Hun-kong-ciok-eng atau
 menembus sinar menangkap bayangan, ia adalah ketua Bu-liang-kiam sekte barat.Bu-liang-kiam sebenarnya terbagi dalam Tang-cong, Lam-cong dan Se-cong, atau sektetimur, selatan dan barat. Tapi sudah lama sekte selatan terpencil lemah,sebaliknya sekte timur dan barat banyak timbul tunas baru.Sejak Bu-liang-kiam berdiri pada akhir dinasti Tong, lalu terbagi menjadi tigasekte pada permulaan dinasti Song, seterusnya setiap lima tahun sekali anak muriddari ketiga sekte itu harus berkumpul di Kiam-oh-kiong untuk mengukur kekuatan,
 sekte mana yang menang, berhak untuk mendiami istana itu selama lima tahun, lalubertanding lagi pada tahun keenam yang akan datang. Sekte mana yang akanmemenangkan tiga babak dalam pertandingan lima babak, dianggap menang.Maka selama jangka waktu lima tahun itu, yang kalah semakin giat melatih diri agarbisa merebut kemenangan dalam pertandingan yang akan datang, sebaliknya yangmenang juga tidak berani lengah. Tapi selama berpuluh tahun itu, sekte selatantidak pernah menang, sedangkan sekte timur dan barat masing-masing salingbergantian keluar sebagai juara.Sampai pada tangan Co Cu-bok dan Sin Siang-jin, Tang-cong sudah menang dua kalidalam pertandingan lima tahunan itu, sebaliknya sekte barat baru sekali menang.Pertandingan laki-laki setengah umur she Kiong melawan pemuda she Tu tadi adalahbabak keempat dalam pertandingan kali ini. Dengan kemenangan laki-laki she Kiongitu, sekte timur sudah menang tiga babak dari empat babak, maka babak kelima tidakperlu lagi dilanjutkan.Nama Bu-liang-kiam sudah lama termasyhur di dunia Kangouw, ditambah lagi patuhpada peraturan pertandingan lima tahunan di antara golongan sendiri, maka ilmupedang mereka makin lama semakin bagus.Karena sibuk perang saudara itulah maka jarang mereka bertengkar dengan orang
 luar, tokoh-tokoh mereka kebanyakan hidup aman tenteram dan adem ayem sampai haritua, jarang terbinasa karena bunuh-membunuh dalam permusuhan dengan orang luar.Pula sekte timur dan barat itu memandang pertandingan lima tahunan itu besarsangkut-pautnya dengan kehormatan sekte masing-masing, maka pada waktu mengajarmurid, sang guru mencurahkan perhatian sepenuhnya, sebaliknya si murid giatberlatih siang malam tanpa kenal lelah, sehingga banyak jurus ilmu pedang baruyang diciptakan oleh setiap angkatan.Di antara orang-orang yang duduk di sudut barat itu, kecuali Siang-jing, masihbanyak pula tamu tokoh Bu-lim (dunia persilatan) terkemuka yang diundang oleh
 
kedua sekte itu untuk hadir sebagai saksi dan juri.Di antara kedelapan orang saksi yang hadir itu, semuanya jago-jago persilatanterkemuka di daerah Hunlam. Hanya si pemuda baju putih tadi yang sama sekali tidakterkenal dan dikenal, tapi justru ia tertawa geli ketika melihat lelaki she Kiongrada sempoyongan.Pemuda berbaju putih itu ikut hadir bersama jago silat tua dari Hunlam selatan, BeNgo-tek. Sebagai saudagar teh yang kaya raya, Be Ngo-tek terkenal bertangan sangatterbuka, setiap orang persilatan yang sedang dirundung nasib malang dan datangminta bantuannya, pasti dia melayani dengan segala senang hati. Sebab itulahpergaulannya dengan orang Bu-lim sangat luas, sebaliknya tentang ilmu silatnyatiada sesuatu yang luar biasa.Ketika hadir dan mendengar Be Ngo-tek memperkenalkan pemuda baju putih itu sheToan, Co Cu-bok tidak menaruh perhatian apa-apa, sebab Toan adalah nama keluargakerajaan Tayli di daerah Hunlam yang sangat umum, ia menduga pemuda she Toan tentuadalah murid Be Ngo-tek, padahal ilmu silat kakek she Be itu hanya biasa saja,muridnya tentu juga tidak sulit untuk diukur. Maka ia hanya menyambut mereka ketempat duduk yang sudah disediakan. Siapa duga pemuda itu berani menertawai anakmurid Co Cu-bok ketika menggunakan jurus pancingan tadi.Dalam pada itu karena sudah menang tiga kali di antara empat babak pertandingan,kemenangan sekte timur sudah pasti, maka beberapa tokoh yang menjadi juri, sepertimurid tertua dari Tiam-jong-pay, Liu Ci-hi, Leng-siau-cu, imam dari kuil Giok-cin-koan di Ay-lo-san, Kah-yap Siansu dari Tay-kak-si dan Be Ngo-tek, beramai-ramaisama mengucapkan selamat pada Co Cu-bok.Dengan tertawa senang Co Cu-bok berkata, Empat murid yang diajukan Sin-sumoay
 tahun ini, ilmu pedangnya ternyata boleh juga, lebih-lebih babak keempat ini,kemenangan kami boleh dikatakan sangat kebetulan. Sungguh Tu-sutit yang masih mudaini tidaklah terbatas hari depannya, bukan mustahil lima tahun yang akan datangsekte timur dan barat kita akan bertukar tempat, Hahaha!
Begitulah habis terbahak-bahak, mendadak lirikan matanya mengarah pada pemuda sheToan, lalu berkata pula, Tadi muridku yang tak becus itu menggunakan tipu
 pancingan untuk mengalahkan lawan, tapi saudara ini tampaknya merasa tidaksepaham. Kita adalah orang sendiri, jika Toan-heng ada minat, marilah silakanturun kalangan memberi petunjuk sejurus-dua? Nama Be-goko mengguncangkan Tin-lam(Hunlam selatan), di bawah panglima pandai tiada prajurit lemah, tentu anakmuridnya tidak boleh dipandang enteng.
Muka Be Ngo-tek menjadi merah, cepat sahutnya, Harap Co-hiante jangan salah
 mengerti. Toan-heng ini bukanlah muridku. Apalagi dengan sedikit kepandaiancakar-kucing yang kumiliki ini mana ada harganya menjadi guru orang, harap Co-
hante jangan bergurau. Kedatangan Toan-heng ini ke sini hanya secara kebetulansaja ingin ikut menyaksikan keramaian, karena mendengar akan diadakan pertandingandi antara kedua sekte golonganmu, maka tanpa pikir aku telah mengajaknya kemari.
Mendengar pemuda she Toan itu tiada hubungan apa-apa dengan Be Ngo-tek, Co Cu-bokpikir kebetulan malah, sebab kalau dia muridnya, betapa merasa sungkan.Orang macam apa aku Co Cu-bok ini sehingga ada orang berani terang-terangan
 menertawai Bu-liang-kiam di dalam Kiam-oh-kiong sini? Karena berpikir demikian,
 dengan tertawa dingin Co Cu-bok berkata pula, O, kiranya demikian. Mohon tanya
 siapakah nama Toan-heng yang terhormat, entah murid orang kosen dari mana?
Cayhe bernama Ki, satu huruf melulu, tidak pernah mengangkat guru juga tidak
 
of 00

Leave a Comment

You must be to leave a comment.
Submit
Characters: ...
You must be to leave a comment.
Submit
Characters: ...