• Embed Doc
  • Readcast
  • Collections
  • CommentGo Back
Download
 
Created by syauqy_arr@yahoo.co.idWeblog, http://hanaoki.wordpress.com1. Bermain Sepak RagaWAKTU asar sudah tiba. Amat cerah hari petang itu. Langittidak berawan, hening jernih sangat bagusnya. Mataharibersinar dengan terang, suatu pun tak ada yang mengalanginya.Lereng bukit dan puncak pohon-pohonan bagai disepuh rupanya. Tetapi lembah dantempat yang kerendahan buramcahayanya. Demikianlah pula sebuah kampung yang terletakpada sebuah lembah, tidak jauh dari Bukittinggi.Dalam sebuah surau, di tepi sungai yang melalui kampungitu, kedengaran orang berkasidah. Suaranya amat merdu, turunnaik dengan beraturan. Apa-lagi karena suara itu dirintangibunyi air sungai yang mengalir, makin enak dan sedap padapendengaran. Seakan-akan dari dalam sungai suara itudatangnya. Hilang-hilang timbul, antara ada dengan tiada."Akan menjadi orang laratkah engkau nanti, Midun?" ujarseseorang dari halaman surau sambil naik. "Bukankah berlaguitu mengibakan hati dan menjauhkan perasaan? Akhir kelaknyabadan jauh jua karenanya.""Tidak, Maun," jawab orang yang dipanggilkan Midun itu,seraya meletakkan tali yang dipintalnya, "saya berkasidahhanya perintang-rintang duduk. Tidak masuk hati, melainkanuntuk memetahkan lidah dalam bahasa itu saja. Dari manakahengkau?""Dari pasar. Tidakkah engkau tahu, bahwa petang ini diadakan permainan sepak raga?Mari kita ke pasar, kabarnya sekaliini amat ramai di sana, sebab banyak orang datang darikampung lain!""Sudah banyakkah orang di pasar engkau tinggalkan tadi?""Banyak juga jenang pun sudah datang. Waktu saya tinggalkan, orang sedangmembersihkan medan.""Si Kacak, kemenakan Tuanku Laras, sudah datangkah?""Belum, saya rasa tentu dia datang juga, sebab dia sukapula akan permainan sepak raga."Midun menarik napas. Maka ia pun berkata pula, katanya,"Ah, tak usah saya pergi, Maun. Biarlah saya di surau sajamenyudahkan memintal tali ini akan dibuat tangguk.""Apakah sebabnya engkau menarik napas? Bermusuhankahengkau dengan dia?" ujar Maun dengan herannya."Tidak, kawan. Tapi kalau saya datang ke sana, boleh jadi
 
mendatangkan yang kurang baik.""Sungguh, ajaib. Bermusuh tidak, tapi boleh jadimendatangkan yang tidak baik. Apa pula artinya itu?""Begini! Maun! Waktu berdua belas di masjid tempo hari,bukankah engkau duduk dekat saya?""Benar.""Nah, adakah engkau melihat bagaimana pemandanganKacak kepada saya?""Tidak.""Masa kenduri itu kita duduk pada deretan yang di tengah.Kacak pada deret yang kedua. Engkau sendiri melihat ketikaorang kampung meletakkan hidangan di hadapan kita. Bertimbun-timbun, hingga hampirsama tinggi dengan duduk kita.Ada yang meletakkan nasi, cukup dengan lauk-pauknya padasebuah talam. Ada pula yang meletakkan penganan dan lain-lain sebagainya, menurut kesukaan orang yang hendak bersedekah. Tetapi kepadaKacak tidak seberapa, tak cukupsepertiga yang kepada kita itu.""Hal itu sudah sepatutnya, Midun. Pertama, engkau seorangalim. Kedua, engkau disukai dan dikasihi orang kampung ini.Oleh Kacak hanya derajatnya jadi kemenakan Tuanku Larassaja yang dimegahkannya. Tentang tingkah laku dan perangainya tidak ada yang akandiharap. Memang dia kurang disukaiorang di seluruh kampung ini.""Sebab itulah, maka suram saja mukanya melihat hidangandi muka kita. Ketika ia melayangkan pemandangannya kepadasaya, nyata benar terbayang pada muka Kacak kebenciannya.Cemburu dan jijik agaknya dia kepada saya.""Suka hatinyalah. Bukankah hal itu kemauan orangkampung. Apa pula yang menyakitkan hatinya kepadamu?""Benar katamu, suka hatinyalah. Tapi harus engkau ingatpula sebaliknya. Kita ini hanya orang kebanyakan saja, tapi diaorang bangsawan tinggi dan kemenakan raja kita di kampungini. Tidakkah hal itu boleh mendatangkan bahaya?""Mendatangkan bahaya? Bahaya apa pulakah yang akan tibakarena itu? Segalanya akan menjadi pikiran kepadamu. Apagunanya dihiraukan, sudahlah. Marilah kita pergi bersamasama!""Patut juga kita pikirkan, mana yang rasanya boleh mendatangkan yang kurang baikkepada diri. Tetapi kalau engkaukeras juga hendak membawa saya, baiklah."
 
"Ah, belum tumbuh sudah engkau siangi. Terlampau arif diribinasa, kurang arif badan celaka. Engkau rupanya terlalu arifbenar dalam hal ini. Lekaslah, tidak lama lagi permainan akandimulai orang."Maka kelihatanlah dua orang sahabat berjalan menuju arahke pasar di kampung itu. Midun ialah seorang muda yang baruberumur lebih kurang 20 tahun. Ia telah menjadi guru tua disurau. Pakaiannya yang bersih dan sederhana rupanya itumenunjukkan bahwa ia seorang yang suci dan baik hati.Parasnya baik, badannya kuat, bagus, dan sehat. Tiada lamaberjalan mereka keduapun sampailah ke pasar. Didapatinyaorang sudah banyak dan permainan sepak raga tidak lama lagiakan dimulai.Adapun pasar di kampung itu terletak di tepi jalan besar.Pada seberang jalan di muka pasar, berderet beberapa buahrumah dan lepau nasi. Di belakang rumah-rumah itu mengalirsebuah sungai, Pasar itu diramaikan hanya sekali sepekan, yaitutiap-tiap hari Jumat. Itu pun ramainya hanya hingga tengahhari saja. Oleh sebab itu, segala dangau-dangau diangkatorang. Tetapi dangau-dangau yang sebelah ke tepi pasar dibiarkan tertegak. Gunanyaialah untuk orang musafir atau siapasaja yang suka bermalam di situ, atau untuk berlindung daripada panas akanmelepaskan lelah dalam perjalanan dan lain-lain sebagainya. Lain. daripada hari Jumat, pasar itu dipergunakan orang jugauntuk bermain sepak raga, rapat negeri,dan lain-lain.Ketika Midun kelihatan oleh beberapa orang muda di pasaritu, mereka itu pun datanglah mendapatkannya. Mereka itusemuanya amat bergirang hati melihat Midun. Begitu pulaketika ia bersalam dengan orang-orang tua yang duduk berkelompok-kelompok di situ,nyata terbayang pada muka orang-orang itu kesenangan hatinya.Apakah sebabnya demikian?Memang Midun seorang muda yang sangat digemari orang dikampungnya. Budi pekertinya amat baik dan tertib sopansantun kepada siapa jua pun. Tertawanya manis, sedap didengar; tutur katanya lemahlembut. Ia gagah berani lagi baikhati, penyayang dan pengasih, jarang orang yang sebaik diahatinya. Sabar dan tak lekas marah, serta tulus ikhlas dalamsegala hal. Hati tetap dan kemauannya keras; apa yang dimaksudnya jika tidaksampai, belum ia bersenang hati. Adalah
of 00

Leave a Comment

You must be to leave a comment.
Submit
Characters: ...
You must be to leave a comment.
Submit
Characters: ...