Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
3Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Metode Penentuan Harga Transfer

Metode Penentuan Harga Transfer

Ratings: (0)|Views: 180 |Likes:
Published by Isna Yuliantii
Metode Penentuan Harga Transfer
Metode Penentuan Harga Transfer

More info:

Published by: Isna Yuliantii on Mar 07, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

08/11/2013

pdf

text

original

 
Metode Penentuan Harga Transfer (TransferPricing)
Dalam menerapkan prinsip kewajaran dan kelaziman usaha terkait dengan transaksi denganpihak yang memiliki hubungan istimewa, maka setelah dilakukan analisis kesebandingan, WajibPajak harus mementukan metode penentuan harga transfer yang tepat. Penentuan metode transferpricing ini wajib didukung dengan kajian mendalam serta kajian tersebut wajibdidokumentasikan.
Jenis-jenis Metode Transfer Pricing
 Terdapat beberapa jenis metode penentuan harga transfer yang dapat dilakukan, yaitu :1.
 
metode perbandingan harga antara pihak yang independen (
comparable uncontrolled  price
 /CUP);2.
 
metode harga penjualan kembali (
resale price method 
 /RPM) atau metode biaya-plus (
cost  plus method 
 /CPM);3.
 
metode pembagian laba (
 profit split method 
 /PSM) atau metode laba bersih transaksional(
transactional net margin method 
 /TNMM).Penerapan metode-metode di atas tidak bebas dilakukan tetapi harus dilakukan secara hirarkis.Pertama dimulai dengan menerapkan metode perbandingan harga antar pihak yang independen(CUP) sesuai dengan kondisi yang tepat. Jika metode perbandingan harga antar pihak yangindependen (CUP) tidak tepat untuk diterapkan, wajib diterapkan metode penjualan kembali(resale price method/RPM) atau metode biaya-plus (cost plus method/CPM) sesuai dengankondisi yang tepat.Dalam hal metode penjualan kembali (resale price method/RPM) atau metode biaya-plus (costplus method/CPM) tidak tepat untuk diterapkan, dapat diterapkan metode pembagian laba (profitsplit method/PSM) atau metode laba bersih transaksional (transactional net marginmethod/TNMM).
Metode Perbandingan Harga Antar Pihak Yang Independen (CUP)
 Metode perbandingan harga antara pihak yang independen (
comparable uncontrolled price
) ataudisingkat metode CUP adalah metode Penentuan Harga Transfer yang dilakukan denganmembandingkan harga dalam transaksi yang dilakukan antara pihak-pihak yang mempunyaiHubungan Istimewa dengan harga dalam transaksi yang dilakukan antara pihak-pihak yang tidak mempunyai Hubungan Istimewa dalam kondisi atau keadaan yang sebanding.Contoh penggunaan metode CUP ini misalnya PT. A memiliki 25% saham PT. B. Ataspenyerahan barang PT. A ke PT. B, PT. A membebankan harga jual Rp. 1.600,- per unit, berbedadengan harga yang diperhitungkan atas penyerahan barang yang sama kepada PT. X (tidak adahubungan istimewa) yaitu Rp. 2.000,- per unit.
 
Pada contoh tersebut harga pasar sebanding (
comparable uncontrolled price
) atas barang yangsama adalah yang dijual kepada PT. X yang tidak ada hubungan istimewa. Dengandemikian harga yang wajar adalah Rp. 2.000,- per unit. Harga ini dipakai sebagai dasarperhitungan penghasilan dan/atau pengenaan pajak.Kondisi yang tepat untuk menggunakan metode CUP ini adalah :1.
 
barang atau jasa yang ditransaksikan memiliki karakteristik yang identik dalam kondisiyang sebanding; atau2.
 
kondisi transaksi yang dilakukan antara pihak-pihak yang mempunyai HubunganIstimewa dengan pihak-pihak yang tidak memiliki Hubungan Istimewa identik ataumemiliki tingkat kesebandingan yang tinggi atau dapat dilakukan penyesuaian yangakurat untuk menghilangkan pengaruh dari perbedaan kondisi yang timbul.Apabila tak ada kondisi di atas yang sesuai, maka metode CUP tidak dapat digunakan dan WajibPajak harus menggunakan metode lainnya yang sesuai.
Metode Penjualan Kembali (RPM)
 Metode harga penjualan kembali (
resale price method 
) atau disingkat metode RPM adalahmetode Penentuan Harga Transfer yang dilakukan dengan membandingkan harga dalamtransaksi suatu produk yang dilakukan antara pihak-pihak yang mempunyai Hubungan Istimewadengan harga jual kembali produk tersebut setelah dikurangi laba kotor wajar, yangmencerminkan fungsi, aset dan risiko, atas penjualan kembali produk tersebut kepada pihak lainyang tidak mempunyai Hubungan Istimewa atau penjualan kembali produk yang dilakukandalam kondisi wajar.Misalkan PT. A memiliki 25% saham PT. B. Atas penyerahan barang ke PT. B, PT. Amembebankan harga jual Rp. 1.600,- per unit. PT. A tidak melakukan penjualan kepada pihak ketiga yang tidak ada hubungan istimewa. PT. B menjual kembali barang yang dibeli dari PT. Ake pihak yang tidak ada hubungan istimewa dengan harga Rp. 2.500,- per unit. Laba kotorsebanding untuk penjualan barang tersebut adalah 20% dari harga jualnya.Dalam menguji kewajaran harga penjualan dari PT. A ke PT. B, dapat diterapkan metode RPM.Dengan menerapkan metode tersebut maka harga penjualan barang PT. A ke PT. B yang wajaruntuk perhitungan pajak penghasilan/dasar pengenaan pajak adalah Rp. 2.000,- {Rp. 2.500,-
 – 
 (20% x Rp. 2.500,-)}.Kondisi yang tepat untuk menggunakan metode ini adalah :1.
 
tingkat kesebandingan yang tinggi antara transaksi antara Wajib Pajak yang mempunyaiHubungan Istimewa dengan transaksi antara Wajib Pajak yang tidak mempunyaiHubungan Istimewa, khususnya tingkat kesebandingan berdasarkan hasil analisis fungsi,meskipun barang atau jasa yang diperjualbelikan berbeda; dan2.
 
pihak penjual kembali (
reseller 
) tidak memberikan nilai tambah yang signifikan atasbarang atau jasa yang diperjualbelikan.
 
Metode Biaya Plus (CPM)
 Metode biaya-plus (
cost plus method 
) atau metode CPM adalah metode Penentuan HargaTransfer yang dilakukan dengan menambahkan tingkat laba kotor wajar yang diperolehperusahaan yang sama dari transaksi dengan pihak yang tidak mempunyai Hubungan Istimewaatau tingkat laba kotor wajar yang diperoleh perusahaan lain dari transaksi sebanding denganpihak yang tidak mempunyai Hubungan Istimewa pada harga pokok penjualan yang telah sesuaidengan Prinsip Kewajaran dan Kelaziman Usaha.Contoh misalnya PT. A memiliki 25% saham PT. B. Atas penyerahan barang ke PT. B, PT. Amembebankan harga jual Rp. 1.600,- per unit. PT. A tidak melakukan penjualan kepada pihak ketiga yang tidak ada hubungan istimewa.Dalam contoh di atas, maka harga yang wajar adalah harga pasar atas barang yang sama (denganbarang yang diserahkan PT. A) yang terjadi antar pihak-pihak yang tidak ada hubunganistimewa. Apabila ditemui kesulitan untuk mendapatkan harga pasar sebanding untuk barangyang sama (terutama karena PT. A tidak menjual kepada pihak yang tidak adahubungan istimewa), maka dapat ditanggulangi dengan menerapkan harga pasar wajar daribarang yang sejenis atau serupa, yang terjadi antar pihak-pihak yang tidak ada hubunganistimewa.Dalam hal terdapat kesulitan untuk mendapatkan harga pasar sebanding untuk barang yangsejenis atau serupa, karena barang tersebut mempunyai spesifikasi khusus, misalnya semifinished products, maka pendekatan harga pokok plus (
cost plus method 
) dapat digunakanuntuk menentukan kewajaran harga penjualan PT. A.Misalnya diketahui bahwa PT. A memperoleh bahan baku dan bahan pembantu produksinya daripara pemasok yang tidak mempunyai hubungan istimewa. Harga pokok barang yang diproduksiper unit adalah Rp. 1.500,- dan laba kotor yang pada umumnya diperoleh dari penjualan barangyang sama antar pihak yang tidak mempunyai hubungan istimewa (comparable mark up) adalah40% dari harga pokok.Dengan menerapkan metode harga pokok plus maka harga jual yang wajar atas barang tersebutdari PT. A kepada PT. B untuk tujuan penghitungan penghasilan kena pajak/dasar pengenaanpajak adalah Rp. 2.100 {Rp. 1.500 + (40% x Rp. 1.500)}.Kondisi yang tepat apabila akan menggunakan metode CPM ini adalah1.
 
barang setengah jadi dijual kepada pihak-pihak yang mempunyai Hubungan Istimewa;2.
 
terdapat kontrak/perjanjian penggunaan fasilitas bersama (
 joint facility agreement 
) ataukontrak jual-beli jangka panjang (
long term buy and supply agreement)
antara pihak-pihak yang mempunyai Hubungan Istimewa; atau3.
 
bentuk transaksi adalah penyediaan jasa.
Metode Pembagian Laba (PSM)
 

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->