Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
2Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Eksternalitas

Eksternalitas

Ratings: (0)|Views: 134 |Likes:
Published by Gunawan Pramono

More info:

Published by: Gunawan Pramono on Mar 07, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/29/2013

pdf

text

original

 
Sejarah Ekonomi Perikanan Pada Zaman Mesolitikum
Peninggalan atau bekas kebudayaan Indonesi zaman Mesolitikum, banyak ditemukandi Sumatra, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, dan Flores. Kehidupannya masih dari berburu danmenangkap ikan. Bekas-bekas tempat tinggal manusia zaman Mesolitikum ditemukan di goa-goa dan di pinggir pantai yang biasa disebut Kyokkenmoddinger (di tepi pantai) dan AbrisSous Roche (di goa-goa).
Sejarah Ekonomi Perikanan Pada Zaman Neolitikum
Periode Neolithic (3000 – 2000 SM) penduduk asli Indonesia yang disebut sebagaiWajak, hidup secara promitif dengan cara menangkap ikan dan berburu. Manusia Wajak adalah manusia modern (Homo Sapiens) yang fosilnya ditemukan di daerah Wajak, JawaTimur. Manusia Wajak ini disebut sebagai manusia Homo Sapiens yang paling arkaik ataumanusia modern paling kuno yang dalam perkembangannya melahirkan populasi aktualSelain itu, penangkapan ikan hiu juga telah dilakukan ribuan tahun silam oleh penduduk asliIndonesia terutama mereka yang berada di wilayah timur Indonesia.
Sejarah Ekonomi Perikanan Abad Ke 15 Dan 16 ( Etnis Bajo, Bajini )
Suku Bajo adalah salah satu suku laut yang dimiliki oleh Indonesia. Menurut tulisan perjalanan antropolog Perancis Francois Robert Zacot
Orang Bajo: Suku Pengembara Laut  Pengalaman Seorang Antropolog 
, dikatakan bahwa dari legenda Bajo Sulawesi Selatan sukuini dipercaya berasal dari sebutir telur. Ada juga legenda lain yang mengatakan bahwa ditempat orang Bajo dulu tinggal, banyak burung bertelur di atas pohon sehingga semua pohontumbang dan menyebabkan banjir. Orang Bajo lantas memakai kayu pohon tersebut untuk membuat perahu agar bebas banjir. Inilah cerita yang mendasari kenapa orang Bajo lekatdengan sebutan manusia perahu (suku laut yang senang tinggal di Soppe).Kelompok etnis yang disebut Bajini, Makassar, Bugis, dan Bajo merintis perdagangantripang dan trochus untuk diperdagangkan dengan kelompok pedagang asal Cina. Suku Bajodikenal sebagai pelaut-pelaut yang tangguh. Namun, sejarah lebih mengenal suku Makassar,suku Bugis, atau suku Mandar, sebagai raja di lautan. Padahal, suku Bajo pernah disebut-sebut pernah menjadi bagian dari Angkatan Laut Kerajaan Sriwijaya. Namun, terlepas dari dua legenda asal-muasalnya, suku Bajo telah terkenal sejak abad16 sebagai
 sea nomads
, yakni suku laut yang senang berpindah-pindah tempat. Mereka1
 
menyisiri lautan dengan rumah perahu mereka (Soppe) dan hidup di atas rumah perahu.Kegiatan sehari-hari seperti tidur, makan bahkan beranak-pinak mereka lakukan di atasrumah. Meski tak jarang juga mereka pergi ke daratan untuk berjualan hasil tangkapan laut.Bahkan, mereka telah lama terlibat dalam arus perdagangan internasional dengan menjualhasil-hasil tangkapan laut mereka, misalnya ke Australia.Zacot mengatakan dalam bukunya, kehidupan setiap pelaut terutama Bajo merupakan jalinan dari berbagai keberangkatan, ketidakhadiran dan resiko. Bagi masyarakat Bajo,kehidupan sangat dinamis mulai dari pikiran yang bisa tiba-tiba berubah saat melaut, perankhusus anak-anak, jadwal yang menentukan kegiatan, rute-rute laut yang harus diperhatikansampai tempat-tempat bermukim baru yang mesti ditemukan. Pola nomaden inilah yangkemudian tertanam dalam psikologis dari suku Bajo, bahwa kehidupan ibaratnya angin yang berubah-ubah.Sejak abad ke 19 hingga tahun 1960 nelayan Bajau telah berlayar ke wilayah utaraAustralia untuk menangkap teripang tanpa adanya pengawasan daripemerintah Australia.Pada tahun 1974, untuk melindungi sumberdaya hayati perairan wilayah utaraAustralia, Pemerintah Australia dan Indonesia membuat nota kesepahaman (MOU) untuk menetapkan lima lokasi (Ashmore Reef, Cartier Islet, Scott Reef, Seringapatam Reef andBrowse Islet) di perairan utara Australia dimana nelayan Indonesia diperbolehkan menangkapteripang, lola, kerang hijau, sponge dan semua molluska. Menurut sebuah laporan NationalOceanic and Atmospheric Administration (NOAA), spesies tropis dan sub-tropis yang sangatdieksploitasi secara global dan populasi yang terancam habis meliputi Holothuria fuscogilva,H. whitmaei, H. scabra dan T. ananas, dan spesies yang banyak ditangkap di negara-negaratertentu termasuk Asia adalah: A.echinites, H. scabra versicolor, A. lecanora, A. miliaris, A.mauritiana, S. herrmanni, S.horrens dan S. chloronotus. Spesies berada di bawah ancaman potensial penangkapan ikan adalah B. argus dan H. fuscopunctata.. Di daerah beriklim subtropis, teripang termasuk A. japonicus juga telah dilaporkan akan habis di Korea Utara danRusia. Pada akhir tahun 1980 dan awal tahun 1990 nelayan Bajau di pulau Wanci kepulauanTukang Besi beralih ke penangkapan ikan hiu karena tingginya harga sirip hiu dan semakinkurangnya hasil tangkapan teripang.
Sejarah Ekonomi Perikanan Pada Abad Ke 20
2
 
Pada abad ke 20, perairan Indonesia memiliki tidak kurang dari 1.500 sampai 2.000 jenis ikan, khususnya Laut Jawa mempunyai potensi; yaitu 738,320 ton/tahun untuk ikan
demersal 
dan 624,840 ton/tahun untuk ikan
 pelagic.
Oleh karena itu, di sepanjang pantaiutara Jawa dan Madura sudah lama dikenal daerah-daerah yang mempunyai banyak ikan,dengan beraneka jenis.Di samping kekayaan ikan, aneka biotik laut dan lingkungan alam jugamenjadi faktor yang turut menentukan berlangsungnya usaha penangkapan. Bahwa pantaiutara Jawa dengan pantai yang landai, berlumpur, banyak muara sungai, menjadikan banyak tempat di sepanjang pantai dapat digunakan sebagai tempat pendaratan ikan.Demikian juga dengan dua angin muson yang berlangsung secara teratur dalam setiaptahunnya, menjadikan nelayan di kawasan ini sudah sejak lama meng gunakan perahu yangdilengkapi dengan berbagai macam alat tangkap.
Sejarah Ekonomi Perikanan Pada Tahun 1215
Regulasi perikanan sendiri mengalami sejarah perjalanan yang cukup panjang. Padamasa awal – awal sejarah peradaban manusia, sebagian besar sumber daya alam memangawalnya masih dianggap sebagai Ferae Naturae atau disediakan alam sehingga siapa pun boleh memanfaatkan tanpa aturan yang harus membatasinya. Namun kemudian dalam derajattertentu, pembiaran terhadap pengambilan sumber daya ikan tersebut telah menyebabkan banyak konflik, sehingga aturan aturan non formal yang mengikat kemudian banyak diadopsi untuk menghindari konflik pemanfaatan sumber daya alam termasuk ikan, agar bisadimanfaatkan secara lebih adil.Dalam catatan resmi, regulasi formal mengenai perikanan tercatat pertama kali padaabad ke enam pada masa kekaisaran Bizantium. Dalam kodifikasi hukum yang disebut “Digest of Justinian “, kekaisaran Bizantium mengatur akses publik terhadap perikanan ( Fenn,1925 ). Pada masa itu hak atas perikanan khususnya perikanan tuna yang dimiliki olehseseorang diatur dan dipisahkan atas hak kepemilikan terhadap suatu kawasan. Sebelum adahukum ini, hak atas perikanan biasanya diberikan secara cuma – cuma atau dijual olehkekaisaran pada pihak pihak tertentu. Meski pada abad ke enam ini overfishing danovercapacity bukanlah masalah besar dalam perikanan, dokumen ini sudah menunjukanadanya “ political will “ dari penguasa ketika itu untuk mengatur pengelolaan sumber dayaikan. Hak publik atas sumber daya ikan ini kemudian juga dikuatkan oleh piagam MagnaCarta yang ditandatangani tahun 1215 di Inggris.3

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->