• Embed Doc
  • Readcast
  • Collections
  • CommentGo Back
Download
 
BAB IPENDAHULUAN
1.1Deskripsi Masalah
Visi Pembangunan Nasional yang tertuang dalam RencanaPembangunan Jangka Menengah tahun 2004 2009 adalah: (1)Terwujudnya kehidupan masyarakat, bangsa dan Negara yang aman,bersatu, rukun dan damai; (2) Terwujudnya masyarakat, bangsa, danNegara yang menjunjung tinggi hokum, kesetaraan, dan hak asasimanusia, serta (3) Terwujudnya perekonomian yang mampumenyediakan kesempatan kerja dan penghidupan yang layak sertamemberikan pondasi yang kokoh bagi pembangunan yangberkelanjutan.Selanjutnya berdasarkan visi pembangunan nasional tersebutditetapkan 3 (tiga) Misi Pembangunan Nasional Tahun 2004-2009,yaitu (1) mewujudkan Indonesia yang aman dan damai (2)mewujudkan Indonesia yang adil dan demokretis (3) mewujudkanIndonesia yang sejahtera.Krisis multidimensi yang melanda Indonesia sejak tahun 1997 yanglalu memilikidampak yang sangat besar terhadap kehidupanberbangsa dan bernegara. Pemerintah menyadari bahwa terpuruknyaIndonesia dalam krisis ini disebabkan oleh berbagai faktor, yang salahsatunya adalah penyelenggaraan negara yang buruk (
 poor governance
) –populer dengan sebutan KKN (korupsi, kolusi, dannepotisme). Akses pada sumberdaya ekonomi yang tersedia hanya
1
 
terbatas pada segelintir komponen masyarakat, sehinggapertumbuhan ekonomi yang tinggi (sebelum krisis) padakenyataannya hanya dinikmati sebagian kecil penduduk.Mekanisme kontrol dan partisipasi publik untuk “menjaga”pembangunan agar selalu berpihak kepada kepentingan rakyatbanyak lagi-lagi mengalami distorsi.
Pertama
, lemahnya posisi lembaga legislatif terhadap eksekutif, baik
“by design” 
seperti posisi DPRD yang menjadi subordinasi dari kepaladaerah, maupun dalam implementasinya yang diwarnai denganberbagai bentuk intervensi kekuasaan eksekutif.
Kedua
, kesempatan masyarakat untuk mengorganisasikan dirinya diluar “pakem” yang telah ditetapkan pemerintah membuat apa yangdinamakan
civil society 
tidak pernah sepenuhnya terbentuk.
Ketiga
, proses pembangunan yang sentralistis dan
top-down
mengakibatkan partisipasi masyarakat –dalam proses perencanaan,pelaksanaan dan pemantauan– tidak dapat berjalan. Seluruh kondisiini diperparah dengan lemahnya penegakan hukum (
law enforcement 
) yang mengakibatkan berbagai upaya pemantauan danpengawasan yang dilakukan tidak berguna, sehingga sedikit banyakberkontribusi pada ketidakpercayaan masyarakat terhadappemerintah.Semua ini menyadarkan kita akan pentingnya reorientasi terhadaptata kehidupan bernegara (
governance
) untuk mewujudkan kehidupanyang demokratis, yaitu yang menjamin berlakunya mekanisme
check and balance,
distribusi kekuasaan secara sehat dan
fair 
, adanyaakuntabilitas pemerintahan, tegaknya supremasi hukum dan hak asasi
2
 
manusia (HAM), serta struktur ekonomi yang adil dan berorientasikepada masyarakat luas.Pemilihan umum pada bulan Juni tahun yang lalu dapat dikatakansebagai pesta demokrasi rakyat pertama dan teradil dalam jangkawaktu empat dekade belakangan ini. Melalui proses Sidang UmumMPR yang kemudian diikuti dengan pemilihan presiden yangdemokratis dan transparan pada bulan Oktober 1999 diharapkantelahdihasilkan pemerintahan yang mempunyai legitimasi publik.Sejalan dengan proses demokratisasi yang tengah berlangsung,proses transisi menuju otonomi daerah juga telah dimulai denganpengesahan dua undang-undang (UU) baru, yaitu UU nomor 22 tahun1999 tentang Pemerintahan Daerah dan UU nomor 25 tahun 1999tentang Perimbangan Keuangan antara Pusat dan Daerah pada bulanMei 1999. Hal ini dilakukan untuk mengatasi kelemahan pendekatanpembangunan di masa lalu yang sentralistis dan
top-down
, sehinggamenciptakan “keseragaman” institusional di seluruh Indonesia, tanpamemandang karakteristik dan kemampuan masing-masing daerah.Di luar beberapa kelemahan yang dimilikinya, kedua UU yangmenurut rencana akan diimplementasikan pada tahun anggaran 2001mendatang2 merupakan sebuah upaya besar untuk merubahpendekatan pembangunan tersebut sehingga kewenangan dansumberdaya terdistribusi secara berimbang di tiap wilayah (pusat,propinsi, dan kabupaten/kota), setiap daerah dapat mengembangkandiri sesuai dengan kondisi spesifiknya masing-masing, dandemokratisasi pembangunan di tingkat lokal dapat terjadi.
3
of 00

Leave a Comment

You must be to leave a comment.
Submit
Characters: ...
You must be to leave a comment.
Submit
Characters: ...