Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Look up keyword
Like this
4Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Tangga Kesabaran

Tangga Kesabaran

Ratings:

4.0

(1)
|Views: 294|Likes:
Published by Kang Tris
Sebut saja namanya Z, seorang manajer sebuah perusahaan swasta Bandung. Suatu hari datang ke seorang ustadz. Kedatangannya karena keinginan yang menggebu - gebu atas kehampaan jiwa yang sedang ia rasakan. Rutinitas pekerjaan yang ia lakukan, memaksa mengedepankan kemamampuan intelektualnya, namun berbarengan dengan itu sisi spiritual telah diabaikan, hingga pada sebuah titik ia bertemu dengan sebuah kehampaan.
Sebut saja namanya Z, seorang manajer sebuah perusahaan swasta Bandung. Suatu hari datang ke seorang ustadz. Kedatangannya karena keinginan yang menggebu - gebu atas kehampaan jiwa yang sedang ia rasakan. Rutinitas pekerjaan yang ia lakukan, memaksa mengedepankan kemamampuan intelektualnya, namun berbarengan dengan itu sisi spiritual telah diabaikan, hingga pada sebuah titik ia bertemu dengan sebuah kehampaan.

More info:

Published by: Kang Tris on Mar 02, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/07/2011

pdf

text

original

 
Tangga Kesabaran…www.kangtris.com
1
Tangga Kesabaran
Sebut saja namanya Z, seorang manajer sebuah perusahaan swastaBandung. Suatu hari datang ke seorang ustadz. Kedatangannya karenakeinginan yang menggebu - gebu atas kehampaan jiwa yang sedang iarasakan. Rutinitas pekerjaan yang ia lakukan, memaksa mengedepankankemamampuan intelektualnya, namun berbarengan dengan itu sisispiritual telah diabaikan, hingga pada sebuah titik ia bertemu dengansebuah kehampaan.Ketika sudah ketemu dengan sang ustadz, sang ustadzpun tidak banyakbicara dan basa basi lainnya, ia hanya berkata sedikit, ”kamu berlatihsabar dulu, karena orang yang sabar itu bersama Allah.”. Si manajeritupun kembali dari rumah sang ustadz. Dalam perjalanannya ia pulang,iapun bertanya-tanya, ”jauh-jauh datang, ingin mencari pengobat hatiyang hampa, malahan hanya dapat sebuah kalimat pendek. Kalau hanyaseperti itu ngapain jauh – jauh, baca di buku – buku yang bertebaran ditoko buku juga banyak.”Beberapa minggu waktu telah berlalu, namun kehampaan jiwa masihselalu menggelayut dalam benak sang manajer. Rutinitas harian yang ialaluipun, hanya berkutik pada aktivitas intelektual semata. Ibadah ritualyang ia jalankan, seolah tak membekas dalam relung hatinya yangterdalam. Sholatnyapun terasa hanya sebuah penggugur kewajiban, takmembekas di jiwanya,apalagi implikasi sosial.Pada suatu hari ada meeting di kantornya, akibat krisis global yangmelanda dunia, perusahaan tempatnya bekerjapun terkena imbas.Keputusan Dewan Direksi, perusahaan akan memberlakukan PHK, tidakterkecuali di jajaran departemen yang ia manajeri. Sebagai tahap awalmanajemen memutuskan untuk mengurangi karyawan di tingkat staff. Akibat dari keputusan tersebut, si manajer harus melakukan pekerjaanyang tidak sedikit, karena pekerjaan yang biasanya bisa dilimpahkan kestaffnya, maka terpaksa harus dilakukan ia sendiri.Sebagai akibat dari keputusan tersebut, iapun mulai merasakan kepenatanyang lebih. Kalau dulu ia hanya mengkonsep, dan staffnya yang mengetiksurat, maka sekarang ia harus mengonsep sendiri, mengetik sendiri,bahkan harus melakukan hal – hal lain, yang sebenarnya bukan kerjaanseorang manajer. Tidak hanya itu, iapun mulai merasakan kehilangankharismanya. Kalau dulu ia tinggal perintah, maka sekarang minta tolongke temanpun tidak selalu diperhatikan. Ia merasa, bahwa ia kerja sendiri,tidak disupport teman – teman. Masing – masing mulai muncul egoismepribadi. Kalau dulu toleransi begitu mengakar di perusahaan, sekarangtoleransi itu, hampir – hampir sirna termakan kepentingan sendiri – sendiri.
 
Tangga Kesabaran…www.kangtris.com
2Hari – hari berlalu tanpa terasa, hingga akhirnya si manajerpun datangkembali ke tempat sang ustadz. Kalau dulu ia datang dengan tujuanmencari pencerahan dari kehampaan jiwa, maka sekarang ia datang untukmengadukan kepenatan lingkungan kerjanya.Setelah sampai ke tempat sang ustadz, sang ustadzpun dengan santaihanya memberi satu kalimat sederhana, ” kamu, baru dikasih satu tanggauntuk menuju kesabaran”. Si manajerpun terangguk- angguk, bukankarena mengerti kata-kata sang ustadz, tapi karena bagi dia tambahbingung.Sesampai di rumah, si manajer masih saja bingung, dengan kata – katasang ustadz. Logika berfikirnya masih belum bisa menerima. Di kantor iasudah pusing dengan kondisi perusahaan. Ketika datang ke sang ustadz,hanya dikasih seuntai kalimat, yang ia terngiang – ngiang, ”tanggakesabaran”.Di sebuah malam, tidak seperti biasanya sang manajer bisa bangunmalam, tepat jam tiga ia berusaha melakukan sholat tahajud. Ada sebuahkedamaian yang ia rasakan setelah sholat. Beban – beban yang ia rasakandi siang hari,seolah tak menggelayut di relung fikirannya.Sehabis sholat dan wiridan, iapun bergegas ke teras depan. Sambilmenunggu waktu shubuh iapun duduk termenung, hingga pada sebuahtitik ia mulai dianugerahi sebuah pencerahan. Ia mulai mengingat, duludatang ke tempat sang ustadz, dengan tujuan mencari pencerahan ataskehampaan jiwanya. Namun setelah datang ke tempat sang ustadz, justrudi kantornya terjadi kondisi yang selalu memancing emosinya...., kondisiyang seolah menghilangkan kharismanya...., terjadi kondisi yangmembuat perasaannya semakin tersiksa....., kenapa ??? ia mulai bertanyakepada dirinya sendiri. Yah.... itulah sebuah kenyataan, yang memaksa diri untuk bertindak sabar.”Kalau saya selalu emosi, kurang percaya diri, merasa dikhianati, berartiterjerembab oleh sebuah keadaan.” gumannya dalam hati. ”Padahalbukan sebuah kebetulan, bila kondisi itu memang sengaja diberikan sama Allah, supaya saya bisa belajar sabar....” jawabnya dalam hati. Iapunkemudian berujar, ”Karena kondisi ini, maka saya dipaksa belajar sabar,bila sabar telah tertoreh, maka pertolongan Allah akan datang, jadi kondisiitu hanyalah sebuah anak tangga menuju kesabaran.”Demikianlah, seberkas cahanya telah merasuk dalam dinding kalbunya,hingga saat adzan shubuh terdengar, kakinya ringan melangkah menujumasjid. Ketika pagi telah menjelang, iapun berjalan menuju kantor denganraut wajah yang terang, sorot matanyapun berbinar tidak nampak kelesuandisana. Langkahnyapun terlihat tegap, seolah langkah menuju ke tempatyang selama ini ia rindukan.

Activity (4)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 hundred reads
1 thousand reads
Achmad Rasyidi liked this
Anta Nija liked this

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->