Jumlah sampah yang dihasilkan dan dibuang di negara-negara berkembang akhir-akhir ini mencapai jumlah kritis1. Peningkatan penduduk, migrasi dari perdesaan ke kawasan perkotaan, meningkatnya globalisasi pola konsumsi yang kebarat-baratan dan menyebarnya produk-produk serta kemasan-kemasan sekali pakai-buang adalah sebagian dari penyebabnya2. TPA (Tempat Pembuangan Akhir) ataulandfill, biasanya tidak lebih dari timbunan terbuka (open dumps), umumnya menggunung dan wilayah permukiman baru biasanya tersebar di pinggiran kota, membatasi kemungkinan-kemungkinan pengembangan TPA ataulandfills baru. Dalam upaya untuk menemukan solusi baru serta mengatasi meningkatnya masalah-masalah pembuangan, banyak negara beralih kepada pihak swasta, menerima pendekatan-pendekatan yang didorong oleh teknologi (technology-driven approaches), dan beralih ke teknik kuno pembakaran sampah. Bagaimanapun, insinerator \u2013 tidak peduli dimana mereka dibangun \u2013 memiliki beberapa keraguan dan bahaya. Insinerator sampah:
Teknologi insinerasi, dirancang dan diuji untuk menyelesaikan masalah sampah dan infrastruktur di negara-negara industri, bahkan menunjukkan kinerja yang jauh lebih buruk di negara-negara berkembang karena adanya perbedaan karakteristik aliran sampah, lemahnya struktur peraturan dan pengaturan institusional, lemahnya nilai tukar mempersulit pembelian suku-suku cadang yang dibutuhkan, rendahnya kemampuan sumberdaya manusia pekerja, dan system ekonomi yang lebih memihak pada kapital daripada tenaga kerja.
Proposal-proposal insinerator \u2013 bersama dengan proposal system pengelolaan sampah yang terpusat dan diswastakan \u2013 seringkali dipresentasikan sebagai satu-satunya solusi yang mampu menangani masalah sampah yang besar. Beruntung tersedia opsi solusi lain. Tentunya, alternatif
non-insinerasi merupakan suatu opsi yang komprehensif atau menyeluruh, menangani material yang dibuang dari kawasan urban yang luas, dan dapat diterapkan di negara-negara berkembang dengan sumberdaya yang minimal. Lebih jauh lagi, biaya yang dikeluarkan untuk opsi dengan insinerator, dapat digunakan untuk mempekerjakan lebih banyak tenaga kerja dibandingkan solusi dengan insinerator, dan menghasilkan polusi atau pencemaran yang jauh lebih rendah.
Di negara-negara berkembang, program-program pemilahan dari sumber, daur ulang dan pengomposan (dimana material daur ulang dan organik dipisahkan di tingkat rumah tangga) memiliki potensi untuk mencegah pembuangan 90% sampah rumah tangga ke pembuangan akhir. Suatu angka yang tidak dapat dicapai dengan opsi insinerator.
Chennai (dahulu Madras), India, memiliki satu contoh kasus yang baik, menunjukkan contoh yang menggambarkan keuntungan pendekatan daur ulang/pengomposan dibandingkan dengan ketergantungan pada insinerator. Suatu insinerator senilai US $ 41 juta telah diusulkan kepada kota (yang berpenduduk 4.3 juta jiwa) yang akan membakar atau meng-gasifikasi sekitar 600 ton sampah kota per hari.
Pihak berwenang setempat berencana mencari solusi dengan cara swastanisasi pengumpulan sampah yang hasilnya mengacaukan inisiatif-inisiatif daur ulang dan pengomposan yang sudah berbasis di masyarakat. Sebenarnya, Chennai adalah kota asal Exnora International, suatu organisasi non-profit yang mempromosikan pendekatan-pendekatan daur ulang dan pengomposan yang terdesentralisasi yang telah memberi inspirasi ke seluruh penjuru India.
Di Chennai, infrastruktur yang ada hanya mampu mengangkut sekitar 2,500 dari 3,500 ton sampah yang dihasilkan setiap hari. Sekitar 30% sampah yang tidak terangkut, mengotori jalanan dan lingkungan. Hal ini adalah gambaran yang umum terlihat di negara-negara berkembang. Insinerator di Chennai, paling tidak, harus dapat mengolah 2,500 ton sampah per hari. Namun demikian tidak semua material yang dibuang dapat di insinerasi; sekitar 5-10% dianggap sebagai material atau produk samping, sebagai contoh, termasuk di dalamnya adalah material-material yang tidak dapat dibakar seperti blok-blok mesin, atau bagian yang harus dibuang keland fill saat insinerator tidak dapat bekerja. Sebagai tambahan, sekitar rata-rata 25% dari berat material yang dibakar, akan berakhir sebagai abu, yang tetap akan membutuhkan pembuangan atau penanganan di tempat pembuangan akhir.
Pada contoh Chennai, insinerasi hanya mampu mengubah 1,750 ton metrik sampah per hari atau setengah dari total sampah yang dihasilkan. Kontrasnya, pendekatan pengelolaan sampah terdesentralisasi yang berbasis masyarakat yang diterapkanExnora mencakup pengumpulan sampah yang masih dapat didaur ulang yang telah terpilah dan materi organik untuk dikomposkan. Kegiatan ini berpeluang mengubah 90% dari total 3,500 ton sampah yang dihasilkan tiap harinya. Inti dari program/pendekatanExnora adalah mengajarkan kepada masyarakat untuk bertanggungjawab atas sampah mereka sendiri dan tidak membuangnya. (Lihat halaman 47-51 untuk informasi lebih jauh tentang pendekatan ini). Pendekatan ini lebih jauh dapat diterapkan dan dikombinasikan dengan kebijakan dan praktek-praktek produksi bersih agar dapat produk- produk dapat dirancang sedemikian rupa sehingga dapat masuk ke aliran sampah secara aman dan dapat dikomposkan, digunakan kembali atau didaur-ulang. Dalam hal pembiayaan, pendekatan daur ulang dan pengomposan jauh lebih efektif (sekitar US $ 4.6 juta dibandingkan dengan US $ 119 juta untuk insinerator). Lebih jauh lagi, system insinerasi telah dan dapat menimbulkan dampak yang lebih berbahaya terhadap lingkungan, pembangunan ekonomi lokal, dan aspek-aspek kualitas hidup lainnya seperti meningkatnya arus lalu lintas truk. Lihat Tabel 1.
Ton metrik per hari
sampah diubah dari
pembuangan di
landfill
Menurunkan jumlah trafik truk (lebih
bergantung pada pengangkutan non-
motor)
Catatan: Biaya insinerasi adalah berdasarkan 600 ton-per-hari insinerator yang dirancang untuk Perungudi di Chennai (biaya instalasi
adalah Rs 200 crore atau setara US $ 41 juta). (Satu crore adalah 10 juta Rupees). Tiga inisinerator akan diperlukan untuk
menangani 1,750 ton sampah per hari. Kriteria disain yang digunakan untuk insinerator ini adalah gambaran insinerator di Amerika
Serikat. Biaya-biaya dan penerapan pendekatan daur-ulang/pengomposan diekstrapolasikan dari model program daur-
ulang/pengomposan Exnora International, yang diterapkan di banyak komunitas di seluruh India. Data tonase untuk Chennai
dilaporkan oleh The Hindu, pada 18 June, 2002, dan bersumber dari Exnora International.
Meski gambaran di atas bersifat teoritis, angka-angka itu diambil berdasarkan data aktual dari biaya operasional proyek. Tentu saja, beberapa proyek di dunia telah menunjukkan bahwa program-program sampah yang terpadu mencakup pencegahan dihasilkannya sampah, pemanfaatan kembali, daur-ulang, dan pengomposan dapat secara signifikan mengurangi pembuangan sampah dengan biaya yang jauh lebih murah dibandingkan dengan insinerasi.
Agar lebih efektif, sistem pengelolaan sampah harus diterapkan berdasarkan solusi teknis yang tepat dan dirancang sesuai dengan kondisi setempat serta kebutuhan yang riil. Kebanyakan negara berkembang hanya memiliki pengalaman terbatas dalam mengoperasikan dan memelihara system pengelolaan sampah yang terpusat. Dengan demikian, lebih sedikit teknologi yang digunakan, tingkat kesuksesan program menjadi lebih tinggi. Kebanyakan negara berkembang memiliki sektor informal yang cukup signifikan yang selama ini telah terlibat dalam kegiatan-kegiatan daur- ulang yang intensif. Suatu system yang dirancang dalam kerangka kemitraan dengan sektor informal dan upaya-upaya masyarakat lainnya serta usaha kecil dan menengah, memiliki peluang sukses yang lebih besar. Pada kenyataannya, mengintegrasikan sektor informal dengan inisiatif masyarakat ke dalam perencanaan pengelolaan sampah kota tidak hanya dimungkinkan, sebaliknya malah dapat menjadi kunci sukses. Sektor informal dan program di masyarakat hanya membutuhkan struktur institutional dan lahan untuk kegiatan pengomposan yang dapat dimanfaatkan untuk skala kota. Untuk itu, proyek-proyek yang melibatkan masyarakat dapat menjadi solusi yang utama. Tidak selamanya cocok diterapkan di level mikro atau contoh aplikasi skala kecil saja.