Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
1Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Jenis Air Dalam Kacamata Fiqih

Jenis Air Dalam Kacamata Fiqih

Ratings: (0)|Views: 11 |Likes:
Published by Hairul Mokodongan
cara berwudhu
cara berwudhu

More info:

Published by: Hairul Mokodongan on Mar 09, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/04/2013

pdf

text

original

 
Jenis Air Dalam Kacamata Fiqih
Para ulama telah membagi air ini menjadi beberapa jenis, sesuai dengan hukumnya dalam syariatIslam. Biasanya mereka membaginya menjadi 4 macam, yaitu : air yang suci dan mensucikan, airyang suci tapi tidak mencusikan, air yang tercampur barang yang suci dan air yang tidak suci lantarantercampur dengan benda yang najis.Berikut ini adalah penjabarannya secara ringkas :
1. Air Suci dan Mensucikan / Air Mutlaq
Air mutlaq adalah air yang hukumnya suci dan bisa digunakan untuk mensucikan sesuatu. Dalamfiqih dikenal dengan istilah Thahirun Li nafsihi Muthahhirun li ghairihi.Air yang suci itu banyak sekali, namun tidak semua air yang suci itu bisa digunakan untukmensucikan. Air suci adalah air yang boleh digunakan atau dikonsumsi, misalnya air teh, air kelapaatau air-air lainnya. Namun belum tentu bleh digunakan untuk mensucikan seperti untuk berwudhu`atau mandi. Maka ada air yang suci tapi tidak mensucikan namun setiap air yang mensucikan,pastilah air yang suci hukumnya. Diantara air-air yang termasuk dalam kelompok suci danmensucikan ini antara lain adalah :
a. Air Hujan
Air hujan yang turun dari langit hukumnya adalah suci. Bisa digunakan untuk berwudhu, mandi ataumembersihkan najis pada suatu benda. Meski pun di zaman sekarang ini air hujan sudah banyaktercemar dan mengandung asam yang tinggi, namun hukumnya tidak berubah, sebab kerusakanpada air hujan diakibatkan oleh polusi dan pencemaran ulah tangan manusia dan zat-zat yangmencemarinya itu bukan termasuk najis. Ketika air dari bumi menguap naik ke langit, makasebenarnya uap atau titik-titik air itu bersih dan suci. Meskipun sumbernya dari air yang tercemar,kotor atau najis.Sebab ketika disinari matahari, yang naik ke atas adalah uapnya yang merupakan proses pemisahanantara air dengan zat-zat lain yang mencemarinya. Lalu air itu turun kembali ke bumi sebagai tetesair yang sudah mengalami proses penyulingan alami. Jadi air itu sudah menjadi suci kembali lewatproses itu. Hanya saja udara kota yang tercemar dengan asap industri, kendaraan bermotor danpembakaran lainnya memenuhi langit kita. Ketika tetes air hujan itu turun, terlarut kembalilahsemua kandungan polusi itu di angkasa.Namun meski demikian, dilihat dari sisi syariah dan hukum air, air hujan itu tetap suci danmensucikan. Sebab polusi yang naik ke udara itu pada hakikatnya bukan termasuk barang yang najis.Meski bersifat racun dan berbahaya untuk kesehatan, namun selama bukan termasuk najis sesuaikaidah syariah, tercampurnya air hujan dengan polusi udara tidaklah membuat air hujan itu berubahhukumnya sebagai air yang suci dan mensucikan.Apalagi polusi udara itu masih terbatas pada wilayah tertentu saja seperti perkotaan yang penuhdengan polusi udara. Di banyak tempat di muka bumi ini, masih banyak langit yang biru dan bersihsehingga air hujan yang turun di wilayah itu masih sehat. Tentang sucinya air hujan dan fungsinyauntuk mensucikan, Allah SWT telah berfirman :Ketika Allah menjadikan kamu mengantuk sebagai suatu penenteraman daripada-Nya, dan Allahmenurunkan kepadamu hujan dari langit untuk mensucikan kamu dengan hujan itu danmenghilangkan dari kamu gangguan-gangguan syaitan dan untuk menguatkan hatimu danmesmperteguh dengannya telapak kaki. (QS. Al-Anfal : 11)
 
Dia lah yang meniupkan angin pembawa kabar gembira dekat sebelum kedatangan rahmat-nya ; danKami turunkan dari langit air yang amat bersih. (QS. Al-Furqan : 48 )
b. Salju
Salju sebenarnya hampir sama dengan hujan, yaitu sama-sama air yang turun dari langit. Hanya sajakondisi suhu udara yang membuatnya menjadi butir-butir salju yang intinya adalah air juga namunmembeku dan jatuh sebagai salju. Hukumnya tentu saja sama dengan hukum air hujan, sebabkeduanya mengalami proses yang mirip kecuali pada bentuk akhirnya saja. Seorang muslim bisamenggunakan salju yang turun dari langit atau salju yang sudah ada di tanah sebagai media untukbersuci, baik wudhu`, mandi atau lainnya.Tentu saja harus diperhatikan suhunya agar tidak menjadi sumber penyakit. Ada hadits RasulullahSAW yang menjelaskan tentang kedudukan salju, kesuciannya dan juga fungsinya sebagai mediamensucian. Di dalam doa iftitah setiap shalat, salah satu versinya menyebutkan bahwa kita memintakepada Allah SWT agar disucikan dari dosa dengan air, salju dan embun.Dari Abi Hurairah ra bahwa Rasulullah SAW bersabda ketika ditanya bacaan apa yang diucapkannyaantara takbir dan al-fatihah, beliau menjawab,`Aku membaca,`Allahumma Ba`id Baini Wa BainaKhathaya Kamaa Baa`adta Bainal Masyriqi Wal Maghrib. Allahumma Naqqini min Khathayaa KamaaYunaqqats Tsaubal Abyadhu Minad-danas. Allahumma aghsilni min Khathayaaya Bits-tsalji Wal Ma`iWal Barad.(HR. Bukhari 744, Muslim 597, Abu Daud 781 dan Nasai 60)Artinya : Ya Allah, Jauhkan aku dari kesalahn-kesalahanku sebagaimana Engkau menjauhkan antaraTimur dan Barat. Ya Allah, sucikan aku dari kesalahan-kesalahanku sebagaimana pakaian dibersihkandari kotoran. Ya Allah, cucilah aku dari kesalahan-kesalahanku dengan salju, air dan embun.
c. Embun
Embun juga bagian dari air yang turun dari langit, meski bukan berbentuk air hujan yang turun deras.Embun lebih merupakan tetes-tetes air yang akan terlihat banyak di hamparan kedaunan pada pagihari. Maka tetes embun yang ada pada dedaunan atau pada barang yang suci, bisa digunakan untukmensucikan, baik untuk berwudhu, mandi, atau menghilangkan najis. Dalilnya sama dengan dalil diatas yaitu hadits tentang doa iftitah riwayat Abu Hirairah ra.
d. Air Laut
Air laut adalah air yang suci dan juga mensucikan. Sehingga boleh digunakan untuk berwudhu,mandi janabah ataupun untuk membersihkan diri dari buang kotoran (istinja`). Termasuk juga untukmensucikan barang, badan dan pakaian yang terkena najis.Meski pun rasa air laut itu asin karena kandungan garamnya yang tinggi, namun hukumnya samadengan air hujan, air embun atau pun salju. Bisa digunakan untuk mensucikan. Sebelumnya parashahabat Rasulullah SAW tidak mengetahui hukum air laut itu, sehingga ketika ada dari mereka yangberlayar di tengah laut dan bekal air yang mereka bawa hanya cukup untuk keperluan minum,mereka berijtihad untuk berwudhu` menggunakan air laut.Sesampainya kembali ke daratan, mereka langsung bertanya kepada Rasulullah SAW tentang hukummenggunakan air laut sebagai media untuk berwudhu`. Lalu Rasulullah SAW menjawab bahwa airlaut itu suci dan bahkan bangkainya pun suci juga.
:
?:, ,
?,
?, 
?:,
.
:
 
 Dari Abi Hurairah ra bahwa ada seorang bertanya kepada Rasulullah SAW,`Ya Rasulullah, kamimengaruhi lautan dan hanya membawa sedikit air. Kalau kami gunakan untuk berwudhu, pastilahkami kehausan. Bolehkah kami berwudhu dengan air laut ?`. Rasulullah SAW menjawab,`(Laut) itusuci airnya dan halal bangkainya. (HR. Abu Daud 83, At-Tirmizi 79, Ibnu Majah 386, An-Nasai 59,Malik 1/22).
e. Air Zam-zam
Air Zam-zam adalah air yang bersumber dari mata air yang tidak pernah kering. Mata air itu terletakbeberapa meter di samping ka`bah sebagai semua sumber mata air pertama di kota Mekkah, sejakzaman Nabi Ismail as dan ibunya pertama kali menjejakkan kaki di wilayah itu. Selain disunnahkanuntuk minum air zam-zam, juga bisa dan boleh digunakan untuk bersuci, baik untuk wudhu, mandi,istinja` ataupun menghilangkan najis dan kotoran pada badan, pakaian dan benda-benda. Semua itutidak mengurangi kehormatan air zam-zam. Tentang bolehnya air zam-zam untuk digunakan bersuciatau berwudhu, ada sebuah hadits Rasulullah SAW dari Ali bin Abi Thalib ra.Dari Ali bin Abi thalib ra bahwa Rasulullah SAW meminta seember penuh air zam-zam. Beliaumeminumnya dan juga menggunakannya untuk berwudhu`. (HR. Ahmad).
f. Air Sumur atau Mata Air
Air sumur, mata air dan dan air sungai adalah air yang suci dan mensucikan. Sebab air itu keluar daritanah yang telah melakukan pensucian. Kita bisa memanfaatkan air-air itu untuk wudhu, mandi ataumensucikan diri, pakaian dan barang dari najis. Dalil tentang sucinya air sumur atau mata air adalahhadits tentang sumur Bidho`ah yang terletak di kota Madinah.Dari Abi Said Al-Khudhri ra berkata bahwa seorang bertanya,`Ya Rasulullah, Apakah kami bolehberwudhu` dari sumur Budho`ah?, padahal sumur itu yang digunakan oleh wanita yang haidh,dibuang ke dalamnya daging anjing dan benda yang busuk. Rasulullah SAW menjawab,`Air itu sucidan tidak dinajiskan oleh sesuatu`. (HR. Abu Daud 66, At-Tirmizy 66, An-Nasai 325, Ahmad3/31-87,Al-Imam Asy-Syafi`i 35).
g. Air Sungai
Sedangkan air sungai itu pada dasarnya suci, karena dianggap sama karakternya dengan air sumuratau mata air. Sejak dahuu umat Islam terbiasa mandi, wudhu` atau membersihkan najis termasukberistinja dengan air sungai. Namun seiring dengan terjadinya perusakan lingkungan yang tidakterbentung lagi, terutama di kota-kota besar, air sungai itu tercemar berat dengan limbah beracunyang meski secara hukum barangkali tidak mengandung najis, namun air yang tercemar denganlogam berat itu sangat membahayakan kesehatan.Maka sebaiknya kita tidak menggunakan air itu karena memberikan madharrat yang lebih besar.Selain itu seringkali air itu sangat tercemar berat dengan limbah ternak, limbah wc atau bahkanorang-orang buang hajat di dalam sungai. Sehingga lama-kelamaan air sungai berubah warna, baudan rasanya. Maka bisa jadi air itu menjadi najis meski jumlahnya banyak.Sebab meskipun jumlahnya banyak, tetapi seiring dengan proses pencemaran yang terus menerussehingga merubah rasa, warna dan aroma yang membuat najis itu terasa dominan sekali dalam airsungai, jelaslah air itu menjadi najis. Maka tidak syah bila digunakan untuk wudhu`, mandi ataumembersihkan najis. Namun hal itu bila benar-benar terasa rasa, aroma dan warnanya berubahseperti bau najis.Namun umumnya hal itu tidak terjadi pada air laut, sebab jumlah air laut jauh lebih banyakmeskipun pencemaran air laut pun sudah lumayan parah dan terkadang menimbulkan bau busuk

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->