/  109
 
BAB I
 
AWAL SEBUAH TRAGEDI
 UNGKAPAN berbagai peneliti mengenai "Gerakan 30 September 1965" di Indonesia,berbeda-beda.Antonie C.A. Dake dalam bukunya "In the Spirit of the Red Banteng",mengungkapkan tragedi ini dengan banyak mengacu kepada keterlibatan PKI sebagaiperencana, Bung Karno mengetahui dan Republik Rakyat Tiongkok (RRT) sebagaipensuplai senjata untuk persiapan apa yang disebut Angkatan ke-V, yang dituduhkanakan menjadi kekuatan bersenjata PKI.Ada 22 juta sukarelawan yang sudah mendaftarkan diri di Front Nasional, memenuhiseruan Bung Karno mobilisasi kekuatan rakyat untuk mengganyang Malaysia. Merekainilah katanya yang akan disaring untuk dimasukkan ke dalam Angkatan ke-V.Pembentukan Federasi Malaysia dirancang oleh Perdana Menteri Inggeris, HaroldMcMillan, dan Perdana Menteri Malaya, Tungku Abdul Rahman, dalam perundingandi London pada bulan Oktober 1961 dan dilanjutkan bulan Juli 1962, itulah yangmengawali provokasi politik dan militer meng-contain Indonesia.Ganis Harsono, jurubicara Departemen Luar Negeri R.l. selama 8 tahun di eraSukarno, menulis dalam bukunya "Recollections of an Indonesian Diplomat in theSukarno Era" yang diterbitkan oleh University of Queensland Press, Australia, tahun1977 dan kemudian pada tahun 1985 diterbitkan edisi Indonesianya oleh Inti IdayuPress Jakarta dengan judul "Cakrawala Politik Era Sukarno", menulis bahwa Inggrismemberitahukan kepada Indonesia mengenai rencananya membentuk FederasiMalaysia. Indonesia tidak menentang, karena dipahami bahwa ide pembentukkannyaialah untuk memberikan kemerdekaan kepada wilayah-wilayah jajahan Inggeris diKalimantan Utara.Tetapi setelah Presiden Macapagal dari Filipina mengajukan tuntutan supaya dalamproses pemberian kemerdekaan tersebut, wilayah Sabah dikembalikan kepadaFilipina, karena memang tadinya adalah wilayah kekuasaan Kasultanan Sulu diFilipina Selatan yang dicaplok oleh Inggeris ketika menjajah Kalimantan Utara, justrutimbul reaksi keras dari Kuala Lumpur, yang disampaikan oleh Duta Besarnya diManila, Zaiton Ibrahim, dengan mengatakan kepada Presiden Macapagal bahwasituasi akan menjadi gawat, apabila Filipina menuntut wilayah Sabah. MalahanMenteri Pertahanan Malaya, Najib Tun Razak, memberikan reaksi yang lebih keraslagi: "Kami siap pergi berperang mempertahankan Sabah dalam naungan Malaysia".Tadinya Sabah hanya disewa oleh Inggeris dari Sultan Sulu, Jamal Alam, yangakhirnya jatuh ke bawah penguasaan The British North Borneo Company.Waktu itu Indonesia tidak memberikan reaksi apa-apa, diam saja. Tapi pada tanggal8 Desember 1962, setelah Azhari yang dituduh memberontak di Brunai danmemproklamasikan kemerdekaan Kalimantan Utara yang terdiri dari Brunai, Serawak dan Sabah di Manila, di tempat mana ia melarikan diri bersama teman- temannya,dan menyatakan dirinya sebagai Perdana Menteri Negara Kalimantan Utara, cepat
 
sekali Tungku Abdul Rahman menuding Indonesia sebagai biang keladinya.Padahal duduk persoalannya, Azhari yang memimpin Partai Rakyat Brunai, dalamPemilihan Umum Agustus 1962, memenangkan 54 dari 55 kursi di Dewan Distrik dan16 dari 33 kursi di Dewan Legislatif. 1)1) JAC Mackie, Konfrontasi, The Indonesia-Malaysia Dispute 1963-1966Oxford University Press, Kuala Lumpur -London, hal. 37Apa yang dilakukan oleh Azhari setelah partainya ditumpas dan dia dikejar--kejarsebagai pemberontak, ialah selalu mengadakan kontak dengan Wakil Presidenmerangkap Menteri Luar Negeri Filipina, Immanuel Pelaez, dan sama sekali bukandengan Indonesia.Ketua Umum Partai Nasional Indonesia (PNI), Ali Sastroamidjojo, memberikan reaksimenolak tudingan Tungku.Tungku pun menjadi marah oleh adanya reaksi dari Ali Sastroamidjojo dan langsungmenyerang secara pribadi kepada Bung Karno dengan mengatakan: "Jangan campuriurusan Kalimantan Utara!"Serangan ini sebenarnya datang dari Inggeris, tapi Tungku yang menjadi jurubicaranya.Oleh karena itu, pada bulan April 1963, Bung Karno di hadapan Konperensi WartawanAsia Afrika di Jakarta menjawab ancaman Tungku dengan mengatakan: "Perjuanganrakyat Serawak, Brunai dan Sabah, adalah bagian dari perjuangan negara-negara "thenew emerging forces" yang membenci penghisapan manusia oleh manusia.Karena Jepang melihat bahwa proses pembentukan Federasi Malaysia sudahmenjurus pada kecurigaan Indonesia sebagai proyek neokolonialisme Inggeris, makapada tanggal 3 1 Mei sampai 1 Juni 1963, Tokyo menyediakan tempat pertemuanantara Presiden Sukarno dan Perdana Menteri Tungku Abdul Rahman, untuk mengusahakan pendekatan. Tujuannya ialah untuk menghilangkan kecurigeanmengenai rencana pembentukan Federasi Malaysia, yang terdiri dari Federasi Malayasebagai induknya digabungkan dengan Singapura dan tiga wilayah lainnya diKalimantan Utara.Pertemuan Tokyo menyepakati sebuah prinsip, yaitu tetap memelihara SemangatPerjanjian Persahabatan Indonesia- Malaya tabun 1959.Untuk merumuskan lebih lanjut hasil pertemuan Tokyo, diadakan lagi pertemuan paraMenteri Luar Negeri tiga negara, yaitu: Indonesia, Malaya dan Filipina, di Manila daritanggal 7 sampai 11 Juni 1963.Ketiga Menteri Luar Negeri itu, semuanya mempunyai jabatan rangkap, yaitu:Subandrio di samping Menteri Luar Negeri, juga Wakil Perdana Menteri I, Tun AbdulRazak, Menteri Luar Negeri dan Deputy Perdana Menteri dan Immanuel Pelaez,Menteri Luar Negeri dan sekaligus Wakil Presiden.
 
Dalam pertemuan Manila, Indonesia dan Filipina menyatakan tidak keberatandibentuknya Federasi Malaysia, asal hal itu dilakukan atas dasar Hak MenentakanNasib Sendiri bagi rakyat di wilayah- wilayah yang hendak digabungkan, danditentukan oleh otoritas yang bebas dan tidak berpihak, yaitu Sekretaris Jenderal PBB.Pertemuan itu juga mengembangkan pemikiran Presiden Filipina, Macapagal, yaitupembentukan Konfederasi tiga negara serumpun Melayu yang disebut MAPHILINDO(Malaysia-Philipina-lndonesia), gagasan yang langsung ditentang oleh Amerika danInggeris. Ironisnya, dari Peking, Menteri Luar Negeri Chen Yi menuduh MAPHILINDOsebagai proyek Nekolim.Pertemuan tingkat Menteri Luar Negeri ini, diperkuat dengan diadakannya KonperensiTingkat Tinggi antara Perdana Menteri Tungku Abdul Rahman, Presiden Macapagaldan Presiden Sukarno yang dilangsungkan di Manila dari tanggal 31 Juli sampai 1Agustus 1963, yang hakekatnya hanya mengesahkan hasil-hasil yang telah dicapaidalam pertemuan tingkat Menteri Luar Negeri sebelumnya.Dalam perundingan tersendiri antara Presiden Sukarno dan Presiden Macapagal,disetujui apa yang dikenal dengan Doktrin Sukarno - Macapagal yang menegaskanbahwa Masalah Asia supaya diselesaikan oleh bangsa Asia sendiri.Doktrin ini dengan serta merta ditolak oleh Amerika Serikat dan Inggeris, karenadinilai dapat menggagalkan tujuan pembentukan Federasi Malaysia yang dirancang diLondon yang sebenarnya untuk meng-contain Indonesia.Hasil KTT Manila ternyata menggelisahkan London dan Kuala Lumpur.Dengan adanya gagasan Presiden Macapagal yang mengusulkan pembentukanKonfederasi MAPHILINDO dan doktrin Sukarno- Macapagal yang menghendakisupaya masalah Asia diselesaikan oleh bangsa Asia sendiri, maka anasir InteligenInggeris dan Malaysia melansir satu berita bahwa Federasi Malaysia akan dibentuk pada tanggal 31 Agustus 1963, 2) mendahului pelaksanaan Persetujuan Manila yangmenghendaki supaya pembentukan itu dilakukan atas dasar Hak Penentuan NasibSendiri dari rakyat bersangkutan, yang akan diatur oleh Sekretaris Jenderal PBB,waktu itu U Thant.2) Dr. Hidayat Mukmin, TNI dalam politik luar negeri Studi kasuspenyelesaian konfrontasi Indonesia - Malaysia, hal. 95.Dilansirnya berita itu, makin meyakinkan Indonesia bahwa memang ada udang dibalik batu dengan pembentukan Federasi Malaysia yang dirasakan sebagai sangattergesa-gesa.Oleh karenanya, Sekjen PBB segera mengirimkan Misi PBB ke Serawak dan Sabahuntuk meneliti sejauh mana rakyat Kalimantan Utara bersedia bergabung dalamFederasi Malaysia, seperti yang dituntut oleh KTT Manila. Tapi Misi sudah disteldemikian rupa, dengan ketuanya diambilkan dari Amerika yaitu LaurenceMichaelmore, dibantu oleh delapan anggota yang diambilkan dari berbagai negara.Indonesia, Malaya dan Filipina menyertakan juga wakil-wakilnya sebagai peninjau.

Share & Embed

More from this user

Add a Comment

Characters: ...