Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
1Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
PENINGKATAN PERAN TNI.docx

PENINGKATAN PERAN TNI.docx

Ratings: (0)|Views: 48 |Likes:
Published by noesimbah

More info:

Published by: noesimbah on Mar 10, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

09/18/2013

pdf

text

original

 
PENINGKATAN PERAN TNI-AD DALAM OPERASI PERBANTUAN KEPADA POLRI DAN PEMERINTAHAN DAERAH.
PENINGKATAN PERAN TNI-AD DALAM
 
OPERASI PERBANTUAN KEPADA POLRI DAN PEMERINTAHAN DAERAH.
 
 Amandemen UUD 1945, Ketetapan-Ketetapan MPR RI dan perundangan-undangan yang mengatur pemisahan, peran, fungsi TNI dan Polri telah secara tegasmengatur, namun terdapat kegiatan-kegiatan dibidang pertahanan dan keamananberdasarkan perkembangan situasi, ada keterkaitan yang mengharuskan TNI dan Polrisaling bekerjasama dan atau bantu-membantu.
 
Penjabaran pengaturan tentang kerjasama dan perbantuan TNI kepada Polridalam tugas keamanan sebagaimana yang diamanatkan Tap. MPR RI No.
VI/MPR/2000 dan No. VII/MPR/2000 “belum ada”, namun perkembangan riil situasi
yang ada di masyarakat, dirasakan bahwa tuntutan bantuan TNI kepada Polri perlusegera di ambil langkah-langkah pemecahannya.
 
Dengan menyikapi beberapa peristiwa/konflik yang terjadi dibeberapa daerahsebagai gangguan keamanan yang perlu ditanggulangi dengan melaksanakan kegiatandan Operasi Kepolisian terpusat maupun kewilayahan, permasalahan yang harus
dipecahkan adalah “Bagaimana upaya Perbantuan TNI kepada Polri dalampelaksanaan kegiatan dan Operasi Kepolisian terpusat maupun operasi kewilayahan” ?
.
 
Untuk menjawab permasalahan tersebut di atas maka kita mencobamembahasnya melalui metoda pendekatan deskriptif analisis dan studi kepustakaanyang didapat, sebagai alat untuk menjelaskan dan membendah permasalahan agar ditemukan sebuah konsepsi yang baik tentang upaya Perbantuan TNI kepada Polridalam pelaksanaan kegiatan dan Operasi Kepolisian terpusat maupun operasikewilayahan.
 
Segala bentuk pengerahan kekuatan TNI, termasuk untuk tujuan perbantuankepada Polri, harus diputuskan melalui pemerintah pusat, dalam hal ini presiden,dengan pertimbangan DPR dan, bila sudah terbentuk (sesuai mandat UU No. 3 tahun2002) Dewan Keamanan Nasional.
 
 
TNI dan Polri merupakan dua aktor keamanan yang tidak bisa diletakkan dibawah satu institusi. Keduanya memiliki karakter peranan berbeda dan dengandemikian membutuhkan prosedur dan kode etik yang berbeda pula. Meskipunpemisahan institusional dan fungsional sudah dilakukan, tetapi koordinasi TNI dan Polrimasih tetap diperlukan, yaitu pada keadaan ketidakamanan dalam negeri yang tidakmungkin dihadapi sendiri oleh Polisi.
 
Terdapat setidaknya empat masalah yang dapat membutuhkan bantuanpenanganan TNI, yaitu kegiatan kemanusiaan, kegiatan sosial kemasyarakatan,penyelenggaraan fungsi keamanan dan ketertiban umum, pemeliharaan perdamaian dunia.Penyelenggaraan fungsi keamanan dan ketertiban umum yang dimaksud tentu yangmelibatkan kekuatan senjata terdiri dari aksi terorisme, pemberontakan untuk memisahkandiri (insurgency), dan tindakan subversi.Sudahkah pemaduan TNI dan Polri diatur oleh perundangan sektor keamananIndonesia? UU No. 3 tahun 2002 tentang Pertahanan Negara telah menyebutkan operasimiliter selain perang sebagai salah satu fungsi TNI (Pasal 10 ayat 3), tetapi tidak merinciapa saja yang termasuk pada fugnsi ini, meskipun menyerahkan wewenang koordinasifungsi ini kepada instansi yang membutuhkan bantuan TNI (Pasal 19).UU TNI dan UU Polri menimbulkan tumpang tindih fungsi keamanan dalam negeribagi kedua aktor keamanan. Pasal 41 UU Polri mengatur bahwa Polri dapat memintabantuan TNI, dan hal ini lebih lanjut diatur dengan Peraturan Pemerintah tentang bantuaTNI kepada Polri. Sementara itu pasal 7 (10) UU TNI menyebutkan bahwa TNI membantuPolri dalam rangka tugas keamanan dan ketertiban masyarakat yang diatur dalam undang-undang. Tidak hanya menimbulkan kerancuan dalam hal apa yang harus dirancang, PPatau UU, tetapi badan apa yang mengatur mobilisasi (dan demobilisasi) TNI untukmembantu Polri serta posisi kedua aktor (siapa yang harus memegang kendali operasi)ketika diturunkan bersamaan sama sekali belum jelas. Potensi besar akan timbulnyaperseteruan kedua aktor ketika diturunkan bersama sebenarnya berada pada kedua poinyang belum diatur ini.Pemaduan fungsional TNI dan Polri juga terjadi pada UU No.23 tahun 1959 tentangKeadaan Bahaya. Meskipun banyak suara masyarakat sipil telah mendesak revisi terhadapUU tersebut, terutama dengan alasan karakter UU yang represif, belum ada penggantiterhadap UU ini. UU Penanggulangan Keadaan Bahaya sebenarnya dimaksudkan untukmengganti tetapi upaya yang dilaksanakan pada masa kepemimpinan Habibie ini dicurigaimasih bersifat represif, khusususnya terhadap mahasiswa, dan ada pula keberatan
 
terhadap beberapa pasal. Maka UU Keadaan Bahaya yang sudah dirubah dengan UU No.52 PRP/1960 ini pun masih digunakan dalam menetapkan koordinasi antar aktor keamanandalam kondisi-kondisi khusus, baik tertib sipil, darurat sipil, darurat militer, dan keadaanperang. Darurat militer di Aceh tahun 2003 lalu misalnya, ditetapkan dengan Keppres No.28 Tahun 2003 Tentang Keadaan Darurat Militer Aceh, yang diturunkan dari UU KeadaanBahaya.Segala bentuk pengerahan kekuatan TNI, termasuk untuk tujuan perbantuan kepadaPolri, harus diputuskan melalui pemerintah pusat, dalam hal ini presiden, denganpertimbangan DPR dan, bila sudah terbentuk (sesuai mandat UU No. 3 tahun 2002) DewanKeamanan Nasional. Presiden dan DPR membawahi menteri pertahanan (untuk bidangpertahanan) dan berbagai menteri di bidang keamanan. Menhan selanjutnya berfungsimenyusun kebijakan strategis di bidang pertahanan, yang mencakup operasi militer danoperasi militer selain perang. Sementara Kapolri, bersama lembaga-lembaga pemolisianlain, merupakan pelaksana kebijakan strategi keamanan negara yang disusun menteri-menteri terkait. Fungsi-fungsi yang dijalankan dalam kebijakan strategis keamanan negaraadalah peringatan dini, perlindungan masyarakat, pencegahan kejahatan, dan penegakanhukum. Tugas perbantuan TNI kepada Polri pada prinsipnya menjembatani kedua fungsipertahanan dan keamanan ini.Perbantuan TNI dalam fungsi kepolisian harus didasarkan pada keputusanpemerintah pusat, melalui Keputusan Presiden. Hal ini didasarkan pada dua alasan,pertama TNI bersifat nasional (tidak bisa didesentralisasi), kedua kewenangan daerahuntuk mengerahkan TNI dapat menimbulkan penyalahgunaan kewenangan TNI dalamkonflik lokal. Keputusan Pemerintah pusat ini, bagaimanapun, harus didasarkan padapenilaian, baik pemerintah pusat sendiri, pemerintah daerah maupun kepolisian, bahwatelah terjadi suatu keadaan gangguan terhadap keamanan dan ketertiban yang tidak dapatditangani oleh kepolisian. Permintaan pemerintah daerah kepada pemerintah pusat untukmeminta perbantuan TNI harus dilakukan secara tertulis, melalui mengutarakan alasanperbantuan, wilayah perbantuan, sumber dan besaran anggaran yang diperlukan, struktur komando pengendalian, lama waktu perbantuan, dan waktu pelaksanaan.Sistem pertahanan dan keamanan rakyat semesta yang diimplementasikan melaluiperlawanan semesta memungkinkan negara dalam situasi yang ditetapkan oleh undang-undang, melakukan mobilisasi dan demobilisasi dalam memanfaatkan semua sumber dayapertahanan nasional yang meliputi seluruh warga negara, sumber daya alam, sumber dayabuatan serta sarana dan prasarana yang ada di wilayah nasional. Dengan demikianperwujudan Sishankamrata adalah konsep pendayagunaan kemanunggalan TNI, POLRI

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->