Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
1Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Model Model Pengembangan Kurikulum

Model Model Pengembangan Kurikulum

Ratings: (0)|Views: 86 |Likes:
Published by Rangga Febrian II
Model Model Pengembangan Kurikulum
Model Model Pengembangan Kurikulum

More info:

Published by: Rangga Febrian II on Mar 10, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/03/2013

pdf

text

original

 
 
Model Pengembangan Kurikulum
-Makalah Model Model Pengembangan Kurikulum - Sayarasa masih banyak beberapa masyarakat dunia pendidikan maupun mahasiswa kependidikanyang masih belom banyak tahu tentang model model pengembangn kurikulum, maka dari itudengan hadirnya makalah ini insyaallah dapat membantu sahabat sahabat semua yang sedangmencari referensi dalam membuat
makalah Model Model Pengembangan Kurikulum
.Oh ya tidak hanya
makalah Model Model Pengembangan Kurikulum
saja yang saya postingdisini melainkan beberapa makalah sudah teposting, dan beberapa contoh makalah mengenaikurikulum juga akan saya posting di blog ini semoga bermanfaat ya. Silahkan anda bacadibawah ini.
A. MODEL-MODEL PENGEMBANGAN KURIKULUM
 Banyak model yang dapat digunakan dalam pengembangan kurikulum, pemilihan suatu
modelpengembangan kurikulum
bukan saja didasarkan atas kelebihan dan kebaikan-kebaikanyaserta kemungkinan tercapainya hasil yang optimal, tetapi juga perlu disesuaikan dengan sistempendidikan dan sistem pengelolaan pendidikan yang dianut serta model konsep pendidikan mana yang digunakan. Model pengembangan kurikulum dalam sistem pendidikan dan pengelolaan yang sifatnya sentralisasi berbeda dengan desentralisasi. Model pengembangandalam kurikulum yang sifatnya subjek akademis berbeda dengan kurikulum humanistik,teknologis dan rekontruksi sosial.Sekurang-kurangnya dikenal enam 
 yaitu:1. The Administrative Model.
Model pengembangan kurikulum
ini merupakan model paling lama dan paling banyak dikenal.Diberi nama model administratif atau line staf, karena inisiatif dan gagasan pengembangandatang dari para administrator  pendidikan dan menggunakan proseduadministrasi . Dengan wewenang administrasi nya, administrator  pendidikan (apakah dirjen, direktur atau kepala kantor wilayah pendidikan dan kebudayaan) membentuk suatu komisi atau tim pengarahpengembangan kurikulum. Anggota-anggota komisi atau tim ini terdiri atas, pejabat dibawahnya,para ahli pendidikan, ahli kurikulum, ahli disiplin ilmu, dan para tokoh dari dunia kerja dan perusahaan, tugas tim atau komisi ini adalah merumuskan konsep-konsep dasar, landasan- landasan, kebijaksanaan dan strategi utama dalam pengembangan kurikulum. Setelah hal-halmendasar ini terumuskan dan mendapat pengakajian yang seksama, administrator  pendidikan menyusun tim atau komisi kerja pengembangan kurikulum. Para anggota tim atau komisi initerdiri atas para ahli pendidikan/kurikulum, ahli disiplin ilmu dari perguruan tinggi, guru -guru bidang studi yang senior.Tim kerja pengembangan kurikulum bertugas menyusun kurikulum yang sesungguhnya yanglebih operasional, yang dijabarkan dari konsep-konsep dan kebijaksanaan dasar yang telahdigariskan oleh tim pengarah. Tugas tim kerja ini merumuskan tujuan-tujuan yang lebih operasional dari tujuan-tujuan yang lebih umum, memilih dan menyusun sekuens bahanpelajaran, memilih strategi pengajaran dan evaluasi, serta menyusun pedoman-pedomanpelaksanaan kurikulum tersebut bagi para guru . Setelah semua tugas dari tim kerja pengembangan kurikulum tersebut selesai, hasilnya dikaji ulang oleh tim pengarah serta para ahli lain yang berwewenang atau pejabat yang kompeten.Setelah mendapat beberapa penyempurnaan, dan dinilai telah cukupbaik,administrator  pemberi tugas menetapkan berlakunya kurikulum tersebut serta memerintahkan sekolah -sekolah untuk melaksanakan kurikulum tersebut. Karena sifatnya yang datang dari atas,
model pengembangan kurikulum
 
demikian disebut juga model “top down”
 
atau “line staff”. Pengembangan kurikulum dari atas, tidak selalu segera berjalan, sebab
menuntut kesiapan dari pelaksanaanya, terutama guru -guru. Mereka perlu mendapatkan petunujuk-petunjuk dan penjelasan atau mungkin juga peningkatan pengetahuan danketrampilan. Kebutuhan akan adanya penataran sering tidak dapat dihindarkan.Dalam pelaksanaan kurikulum tersebut, selama tahun-tahun permulaan diperlukan pula adanyakegiatan monitoring pengamatan dan pengawasan serta bimbingan dalam pelaksanaanya.Setelah berjalan beberapa saat perlu juga dilakukan evaluasi, untuk menilai baik validitaskomponen-komponenya prosedur pelaksanaan maupun keberhasilanya. Penilaian menyeluruhdapat dilakukan oleh tim khusus dari tingkat pusat atau daerah. Sedang penilaian persekolahdapat dilakukan oleh tim khusus sekolah yang bersangkutan. Hasil penilaian tersebut merupakan umpan balik, baik bagi instansi pendidikan di tingkat pusat, daerah maupun sekolah.2. The Grass Roots ModelModel pengembangan ini merupakan lawan dari model pertama. Inisiatif dan upayapengembangan kurikulum, bukan datang dari atas tetapi datang dari bawah, yaitu guru-guru atausekolah. Model pengembangan kurikulum yang pertama,digunakan dalam sistim pengelolaanpendidikan/kurikulum yang bersifat sentralisasi, sedangkan Grass Roots Model akanberkembang dalam sistem pendidikan yang bersifat desentralisasi. Dalam model pengembanganGrass Roots seorang guru, sekelompok guru atau keseluruhan guru di suatu sekolahmengadakan upaya pengembangan kurikulum.Pengembangan atau penyempurnaan ini dapat berkenaan dengan suatu komponen kurikulum,satu atau beberapa bidang studi atau seluruh bidang studi dan keseluruhan komponenkurikulum. Apabil kondisinya telah memungkinkan, baik dilihat dari kemampuan guru-guru,vasilitas, biaya maupun bahan-bahan kepustakaan, pengembangan kerikulum Grass RootsModel akan lebih baik. Hal ini didasarkan atas pertimbangan bahwa guru adalah perencana,pelaksana, dan juga penyempurna dari pengajaran di kelasnya. Dialah yang paling tahukebutuhan kelasnya, oleh karna itu dialah yang paling berkompeten menyusun kurikulum bagikelasnya. Hal itu sesuai dengan prinsip-prinsip pengembang kurikulum yang deikemukakan olehsmith, stanley dan shores (1957:429) dalam pengembangan kurikulum karangan Prof. DR. NanaSyaodih Sukmadinata.Pengembangan kurikulum yg bersifat Grass Roots Model mungkin hanya berlaku untuk bidangstudi tertentu atau sekolah tertentu tetapi mungkin pula dapat digunakan untuk bidang studisejenis pada sekolah lain, atau keseluruhan bidang studi pada sekolah atau daerah lain.Pengembangan kurikulum yang bersifat desentralisasi dengan model grass rootsnya,memungkinkan terjadinya kompetisi di dalam meningkatkan mutu dan sistem pendidikan yangpada giliranya akan melahirkan manusia-manusia yang lebih mandiri dan kreatif.3.
Beauchamp’s System.
 
Model Pengembangan Kurikulum
 Model pengembangan kurikukum ini, dikembangkan oleh Beauchamp seorang ahli kurikulumBeauchamp. Mengemukakan lima hal di dalam pengembangan suatu kurikulum.1) Pertama, menetapkan arena atau lingkup wilayah yang akan dicakup oleh kurikulumtersebut, apakah suatu sekolah, kecamatan, kabupaten atau seluruh negara . Pentahapan arena ini ditentukan oleh wewenang yang dimiliki oleh pengambil kebijaksanaan dalanmpengembangan kurikulum, serta oleh tujuan pengembangan kurikulum. Walaupun daerah yangmenjadi wewenang kepala kanwil pendidikan dan kebudayaan mencakup suatu wilayah propinsi,tetapi arena pengembangan kurikulum hanya mencakup suatu daerah akabuapten saja sebagaipilot proyek.2) Kedua, menetapkan personalia, yaitu siapa-siapa yang turut serta terlibat dalampengembangan kurikulum. Ada empat kategori orang yang turut berpartisipasi dalampengembangan kurikulum yaitu:
 
 
Para ahli pendidikan/kurikulum yang ada pada pusat pengembangan kurikulum dan paraahli bidang ilmu dari luar,
 
Para ahli pendidikan dari perguruan tinggi atau sekolah dan guru-guru terpilih,
 
Para profesional dalam sistem pendidikan.
 
Profesioanal lain dan tokoh -tokoh masyarakat. Beauchamp mencoba melibatkan para ahli dan tokoh -tokoh pendidikan seluas mungkin, yang biasanya pengaruh mereka kurang langsung terhadap pengembangan kurikulum, dibandingdengan tokoh lain seperti; para penulis dan penerbit buku, para pejabat pemerintah, politikus, dan pengusaha serta industriwan. Penetapan personalia ini sudah tentu disesuaikan dengantingkat dan luas wilayah dan arena. Untuk tingkat propinsi atau nasional tidak terlalu banyakmelibatkan guru-guru. Sebaliknya untuk tingkat kabupaten, kecamatan atau sekolah keterlibatanguru semakin besar.Mengenai keterlibatan kelompok-kelompok personalia ini, Beauchamp mengemukakan tigapertanyaan:
 
Haruskah kelompok ahli/pejabat/profesi tersebut dilibatkan dalam pengembangankurikulum?
 
Bila iya, apakah peranan mereka?
 
 Apakah mungkin ditemukan alat dan cara yang paling efektif untuk melaksanakan perantersebut?.3) Ketiga, organisasi dan prosedur pengembangan kurikulum. Langkah ini harus berkenaandengan prosedur yang harus ditempuh dalam merumuskan tujuan umum dan tujuan yang lebihkhusus, memilih isi dan pengalaman belajar  serta kegiatan evaluasi dalam menentukan keseluruhan desain kurikulum.4) Keempat, implementasi kurikulum. Langkah ini merupakan langkah mengimplementasikanatau melaksanakan kurikulum yang bukan sesuatu yang sederhana, sebab membutuhkankesiapan yang menyeluruh, baik kesiapan guru-guru, siswa, fasilitas, bahan maupun biaya,disamping kesiapan manajerial dari pimpinan sekolah atauadministrator  setempat. Lebih jauh lagi mengemukakan lima langkah di dalam pengembangan suatu kurikulum, yaitu :a. Menetapkan arena atau lingkup wilayah yang akan dicakup kurikulum, apakah suatusekolah, kecamatan, kabupaten propinsi atau bahkan seluruh negara . Penetapan wilayah ditentukan oleh pihak yang memiliki wewenang pengambil kebijaksanaan dalam pengembangankurikulum, serta oleh tujuan pengembangan kurikulum.b. Menetapkan personalia yang akan turut serta terlibat dalam pengembangan kurikulum. Adaempat kategori orang yang dapat dilibatkan yaitu :
Model Pengembangan Kurikulum
 
 
Para ahli pendidikan/kurikulum yang ada pada pusat pengembangankuruikulum/pendidikan dan para ahli bidang ilmu dari luar;
 
Para ahli pendidikan dari perguruan tinggi atau sekolah dan guru-guru terpilih;
 
Para profesional dalam sistem pendidikan; dan
 
Profesional lain dan tokoh masyarakat. c. Organisasi dan prosedur pengembangan yaitu berkenaan dengan prosedur yang harusditempuh dalam merumuskan tujuan umum dan tujuan yang lebih khusus, memilih isi danpengalaman belajar  , serta kegiatan evaluasi dan dalam menentukan desain kurikulum. Beauchamp membagi keseluruhan kegiatan ini dalam lima langkah, yaitu :
 
membentuk tim pengembang kurikulum;
 
mengadakan evaluasi atau penelitian terhadap kurikulum yang berlaku;
 
studi penjajagan kemungkinan penyusunan kurikulum baru;
 
merumuskan kriteria-kriteria bagi penentuan kurikulum baru; dan
 
penyusunan dan penulisan kurikulum baru.
 
Implementasi kurikulum merupakan langkah mengimplementasikan atau melaksanakankurikulum yang sesungguhnya bukanlah hal sederhana, sebab membutuhkan kesiapanmenyeluruh, baik guru, peserta didik, fasilitas, bahan maupun biaya, disamping kesiapanmanajerial dan pimpinan sekolah atau administrator  setempat. e. Evaluasi kurikulum, pada langkah ini minimal mencakup empat hal yaitu:
 
evaluasi tentang pelaksanaan kurikulum oleh guru;

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->