Penulis sangat berterimaksih kepada teman-teman yang menyebut penulisaliran sesat, karena di saat gelar itu dilabelkan maka di saat itu pulalah penulismendoktrin diri tidak akan berhenti berpikir untuk menyingkap kepalsuan alamrealitas. Sesungguhnya, kesemprunaan itu hanyalah akan menghambat cara berpikir dan kesempurnaan hanyalah milik yang Illah.
1.Kerangka Berpikir
Awalnya hanya semiotika (Zoest, 1993)
, namun berangsur-angsur terlalulangkah itu kian menjemukan, terlalu lama berkecimpung pada tataran strukturalsebab semiotik itu sebenarnya masih terputus setelah kematian Charles SandersPierce, Sausure berhenti pada tataran
Langue
dan
Parole
dan begitu pula Barthestertumpu kepada
mithologies
. Padahal teori itu masih bisa dikembangkan sepertiyang direalisasikan Umberto Eko dalam pandangannya tentang dunia Hiperealitasyang tercermin dalam bukunya
Tamasya Dalam Hyperrealitas
(1987)
. Sejalandengan itu, Piliang juga menyebutnya dengan Hipersemiotika, yang mana penanda dan petanda bermutasi menjadi tanda lain. Ada yang dinamakan dengantanda sebenarnya yang mempunyai hubungan relatif simetris dengan realitas/tandakejujuran, tanda palsu atau tanda gadungan atau hanya menyerupai, tanda dustayang mana tanda yang menggunakan tanda dan penanda yang salah, sementararealitas yang dicapai juga salah, tanda daur ulang tanda yang aneh tapi bermanfaat bagi dunia kekinian, penipuan, tanda buatan yang sengaja diciptakan lewatteknologi mutakhir, dan kemudian tanda ekstrim sebagai tanda yang hiperbola(Piliang, 2003). Begitulah semiotik itu berkembang sesuai dengan kehendak zaman dan realitas yang tampak di relung setiap pribadi. Namun, sebelum Piliang dan Eco, Guattari dan Deleuze (Piliang, 2004) juga telah mebahas konsep yang sama, mereka berbicara tentang keruntuhantembok
transenden
dengan
immanen.
Dua konsep ini tidak lagi dalam status
2
Menurut Pierce semiotika adalah Ilmu yang mempelajari tanda dan segala macam yang berkaitandengannya. Adanya hungan tanda dengan Ground, hubungan tanda dengan Denotatum danhubungan tanda dengan Interpretan (Pierce dalam Zoest, 1993 dan Kristomi, 2004).
3
Eco menganalisis teknik Hologravi yang merupakan mukjizat teknik sinar laser yang palingmutakhir pada tahun 50 an oleh Dennis Gabor. Ia mampu menghadirkan representasi fotografisyang penoh makna lebih dari 3 dimensi . Menghadirkan bayangan semu wanita cantik sedang beradegan seks sesama jenis, sementara penonton dapat menikmatinya dari segala macam sudut pandangan, bahkan wanita yang dihasilkan dari representasi tersebut dapat tersenyum merayu bernafsu terhadap penontonnya ( Eco, 1987: 25).
2
Leave a Comment