• Embed Doc
  • Readcast
  • Collections
  • CommentGo Back
Download
 
HYPERREALITAS DAN KEMATIAN INTELEKTUALOleh M. Yunis
1
‘’...yang baik dan yang jahat adalah buatan sejarah. Baik jahat muncul dari sentimen orang-orang kalah secara moral, tidak obahnya merupakan pembalasandendam yang menggumpal. Padahal moral sebelumnya adalah sesuatu yang kodrati datang dari langit, sekarang moral merupakan sesuatu yang dihidupi didunia dan hanya lahir dari rahim-rahim kepentingan duniawi saja...’’ (Frederik  Nietzche)
Terkadang apa yang diimpikan dan apa yang dicita-citakan jarang bersesuaian, bukannya menyalahkan kemajuan teknologi dan bukan pula memberidosa alam realitas. Memang, hidup itu berangkat dari sebuah kehancuran,ekonomi, politik dan budaya. Oleh karena, itu setapak demi setapak kemapananintelektual harus diakali untuk memcapai sebuah pencerdasan moral. Sebab,realitas yang awalnya dianggap sebuah ideologi moral itu berangsur berubahmenjadi ideologi anarkis, Postmodern yang mulanya ditujukan untuk sebuah penerangan kini menjelma menjadi dua buah ideologi yang sangat bertentangan,ditakuti. Di satu sisi menertawakan kekacauan dan di sisi lain mencemoohketentraman. Namun, kedua ideologi itu selalu linglung menentukan posisinya didalam realitas, memakan buah simalakama. Namun, bukan hal itu yang diinginkan ataupun yang dicitakan dalamtulisan ini, bukan menunjuk mengajari apa yang sudah terkukung di dalam sebuahkebenaran dan bukan pula menaklukan dunia beserta isinya. Tetapi, intinya bagaimana mensiasati agar idealisme bangkit dari mati suri dan menyingkirkandampak doktrin-doktrin yang ekstrim terhadap kepentingan duniawi sehinggaintelektual tersebut bangkit melakukan perlawanan dengan berpikir terus menerusdan runtuhkanlah tembok hagemoni. Apa yang benar dan apa yang salah? Siapamenyalahkan siapa?
1
Penulis dan Mahasiswa Pasca Linguistik Kebudayaan Unand. Seorang penulis dan sekarang bergabung dengan Pusat Study Humaniora Universitas Andalas Padang. Blog:www.sastraminangkabau.blogspot.com.
1
 
Penulis sangat berterimaksih kepada teman-teman yang menyebut penulisaliran sesat, karena di saat gelar itu dilabelkan maka di saat itu pulalah penulismendoktrin diri tidak akan berhenti berpikir untuk menyingkap kepalsuan alamrealitas. Sesungguhnya, kesemprunaan itu hanyalah akan menghambat cara berpikir dan kesempurnaan hanyalah milik yang Illah.
1.Kerangka Berpikir
Awalnya hanya semiotika (Zoest, 1993)
2
, namun berangsur-angsur terlalulangkah itu kian menjemukan, terlalu lama berkecimpung pada tataran strukturalsebab semiotik itu sebenarnya masih terputus setelah kematian Charles SandersPierce, Sausure berhenti pada tataran
 Langue
dan
 Parole
dan begitu pula Barthestertumpu kepada
mithologies
. Padahal teori itu masih bisa dikembangkan sepertiyang direalisasikan Umberto Eko dalam pandangannya tentang dunia Hiperealitasyang tercermin dalam bukunya
Tamasya Dalam Hyperrealitas
(1987)
3
. Sejalandengan itu, Piliang juga menyebutnya dengan Hipersemiotika, yang mana penanda dan petanda bermutasi menjadi tanda lain. Ada yang dinamakan dengantanda sebenarnya yang mempunyai hubungan relatif simetris dengan realitas/tandakejujuran, tanda palsu atau tanda gadungan atau hanya menyerupai, tanda dustayang mana tanda yang menggunakan tanda dan penanda yang salah, sementararealitas yang dicapai juga salah, tanda daur ulang tanda yang aneh tapi bermanfaat bagi dunia kekinian, penipuan, tanda buatan yang sengaja diciptakan lewatteknologi mutakhir, dan kemudian tanda ekstrim sebagai tanda yang hiperbola(Piliang, 2003). Begitulah semiotik itu berkembang sesuai dengan kehendak zaman dan realitas yang tampak di relung setiap pribadi. Namun, sebelum Piliang dan Eco, Guattari dan Deleuze (Piliang, 2004) juga telah mebahas konsep yang sama, mereka berbicara tentang keruntuhantembok 
transenden
dengan
immanen.
Dua konsep ini tidak lagi dalam status
2
Menurut Pierce semiotika adalah Ilmu yang mempelajari tanda dan segala macam yang berkaitandengannya. Adanya hungan tanda dengan Ground, hubungan tanda dengan Denotatum danhubungan tanda dengan Interpretan (Pierce dalam Zoest, 1993 dan Kristomi, 2004).
3
Eco menganalisis teknik Hologravi yang merupakan mukjizat teknik sinar laser yang palingmutakhir pada tahun 50 an oleh Dennis Gabor. Ia mampu menghadirkan representasi fotografisyang penoh makna lebih dari 3 dimensi . Menghadirkan bayangan semu wanita cantik sedang beradegan seks sesama jenis, sementara penonton dapat menikmatinya dari segala macam sudut pandangan, bahkan wanita yang dihasilkan dari representasi tersebut dapat tersenyum merayu bernafsu terhadap penontonnya ( Eco, 1987: 25).
2
 
oposisi biner, dalam artian bahwa keduanya telah membaur. Kemudian Budrillar dalam kerangka
 patafisika,
istilah ini digunakannya untuk menjelaskan realitasyang melampoi fikisa dan metafisika sekaligus. Lalu muncul pula
 simulakra
yangmerangkan hal-hal yang tidak tercapai oleh pengetahuan dapat ditembus lewatkecanggihan teknologi artifisial virtual. Menghadirkan Karl Marxs dalam duniasimulasi sangat memungkin ataupun Plato di saat sekarang adalah wajar dan tuhan pun dapat diserupai dalam simulasi. Budrillar menyebutnya sebagai
 solisiimajiner 
yaitu proses menjadikan suatu yang non-empiris, mengobjekan lewatkecanggihan teknologi simulasi sehingga menjadi sebuah fakta, dapat dilihat,dirasakan, didiami meskipun tanpa melalui hukum fisika sebagai sebuah benda(Piliang 2004;69). Inilah simulasi seperti yang dikatakan Budrillar itu, yang manarealitas diciptakan tanpa pondasi dan realitas.Bebicara soal kejenuhan itu, pas betul seperti konsep yang hasilkan olehPostmoderen, yang mana Piliang menjealaskan dalam
 Dunia yang Dilipat,
bahwaPostmoderen akan menghasilan dua buah konsep yang saling bertentangan, pertama Ideologi yang timbul tanpa asal usul, tanpa pondasi, tanpa makna,akhirnya mengarah kepada tindakan yang ekstrim dan tidak menghargai idelisme.Berbahayanya ideologi ini telah merambah ke kota-kota besar di dunia, dalamalam nyata, dampaknya masyarakat komsumer menolak aturan moral yangmengikat, mereka berusaha membuat aturannya sendiri dalam dunianya sendiri, beralih ke dalam isu-isu lokal dengan gaya dan corak anarkis yang berlainan.Contohnya saja seks bebas yang melanda remaja di kota-kota besar, pengkomsumsian obat-obatan diluar batas, menganiaya diri sendiri denganteknologi dan segala macamnya. Ini adalah pintu masuk ke dalam
 geneologimoral 
yang pernah diungkit oleh Nietzche, dia menerangkan bahwa manusia
resentiment 
membenci, tapi takut bertindak, sehingga kebencian tersebut meresapisegala yang dipikirkan dan diperbuatnya. Orang tahu cara memafaafkan tetapitidak tahu kekuatan melupakan dan akhirnya menimbulkan dendam, mengingat-ingat masa lalu yang pernah terjadi. Akibatnya, kekuatan
resentiment 
tersebut berbalik ke dalam dan menciptakan seorang subjek emosi-emosi yang tidak diungkapkan. Si aku (subjek moralitas) adalah objek yang dilahirkan dari3
of 00

Leave a Comment

You must be to leave a comment.
Submit
Characters: ...
You must be to leave a comment.
Submit
Characters: ...