Welcome to Scribd. Sign in or start your free trial to enjoy unlimited e-books, audiobooks & documents.Find out more
Download
Standard view
Full view
of .
Look up keyword
Like this
7Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
e020206

e020206

Ratings:

4.0

(1)
|Views: 920|Likes:
Published by Biodiversitas, etc

More info:

Published by: Biodiversitas, etc on Mar 04, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

02/01/2013

pdf

text

original

ENVIRO 2 (2): 35-41, September 2002, ISSN: 1411-4402
\ue000 2002 PPLH-Lemlit UNS Surakarta.
Isolasi dan Seleksi Mikroorganisme Amilolitik serta Pemanfaatannya
dalam Pengolahan Limbah Cair Industri Tapioka
Isolation and selection of amylolitical microorganisms as well as their functions in
waste water processing of the tapioca industry
DWI PRIYANTO, WIRYANTO, RATNA SETYANINGSIH
Jurusan Biologi FMIPA Universitas Sebelas Maret Surakarta 57126.
Diterima: 13 September 2002. Disetujui: 30 September 2002.
Abstract. The aims of this research was to isolate

and to select amylum microorganisms found in the waste water of tapioca industry as well as to find out their ability to improve the efficiency of waste water processing, especially in decreasing the COD and BOD and in neutralizing the pH. Amylolitical microorganisms were isolated and selected by enrichment culture methods. The starch medium was used as the selected medium to get the pure isolate of amylolitical microorganisms. The isolates can be tested by using them as inoculum in treatment of wastewater processing of tapioca industry in order to recognize their ability to improve the efficiency of wastewater processing. The parameters measured were COD, BOD and pH. The result of the research shows that there are 11 amylolitical microorganism isolates, five of which have a great amylolitical capability. Based on the test of waste water processing in laboratory scale, it can be concluded that isolate 8 which used as inoculum on waste water processing of tapioca industry in this research has highest capability on improving the efficiency of waste water processing, especially on the decrease of COD and BOD. On the decrease of COD, isolate 8 has 92,4% efficiency and control has 76,6%. On the decrease of BOD isolate 8 has 92,86% efficiency at 6 days and the efficiency of control is 78,31%. The result of the characterization shows that amylolitical microorganism isolate 8 is categorized into yeast, in the form of short rod with\u00b1 2 x 5 micron and ascus with 4 spores in each ascus, the oval spores. The proliferation is by fission and sporing.

Key word: amylolitical microorganisms, waste water,
tapioca industry.
PENDAHULUAN

Industri tapioka merupakan salah satu industri pangan yang terdapat di Indonesia. Bahan baku industri ini adalah umbi ketela pohon (Manihot uttilissima) yang diolah menjadi tepung tapioka. Menurut Pranoto

(2000), tepung tapioka merupakan salah satu bahan baku maupun bahan pembantu untuk keperluan industri makanan, industri tekstil, industri kertas, dan lain-lain. Sedangkan Syarifah (1996) menyatakan limbah industri tapioka banyak mengandung amilum yang bila terlarut dalam air akan menyebabkan turunnya jumlah oksigen terlarut dan menimbulkan bau busuk yang berasal dari proses degradasi bahan organik yang kurang sempurna.

Meskipun Instalasi Pengolahan Limbah sudah dimiliki oleh suatu industri, namun air limbah yang dilepas ke badan air seringkali masih kurang memenuhi persyaratan. Proses purifikasi air limbah di dalam Instalasi Pengo- lahan Air Limbah (IPAL) memerlukan biaya operasional yang tinggi di samping lamanya waktu yang dibutuhkan untuk mendegradasi bahan organik di dalam air limbah tersebut.

Limbah cair industri tapioka banyak mengandung pati terlarut, asam hidrosianat yang mudah terurai menjadi sianida, nitrogen dan fosfor, juga mengandung senyawa organik yang cukup tinggi (Wiryanto, 1993). Bahan-bahan

organik
tersebut

akan mengalami proses pembusukan oleh berbagai mikroorganisme di dalam air, sehingga terbentuk senyawa-senyawa lain yang lebih sederhana. Untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas pengolahan air limbah dari industri tapioka, perlu dicari metode baru dan atau pengembangan dari metode lama sehingga penanganan limbah berlangsung lebih cepat dan lebih baik. Menurut Mahida (1984), pada prinsipnya penanganan limbah industri pangan adalah mereduksi kandungan bahan organik yang terlarut berdasarkan penanganan secara biologis.

ENVIRO 2 (2): 35-41, September 2002
36

Dalam penanganan air limbah, mikro- organisme merupakan dasar fungsional untuk sejumlah proses pengolahan. Hal utama dalam penanganan air limbah adalah pengembangan dan pemeliharaan kultur yang cocok (Irianto dan Machbub, 1995). Menurut Mason (1991), kultur untuk mendegradasi limbah dapat dibuat dengan cara kultur diperkaya (enrichment culture). Inokulan diambil dari habitat terbuka yang mengandung bahan limbah bersangkutan, kemudian dikultur dan dibiakkan sehingga dapat digunakan sebagai organisme pendegradasi air limbah.

BAHAN DAN METODE
Bahan

Bahan yang digunakan dalam penelitian ini meliputi bahan untuk isolasi mikroorganisme amilolitik yaitu medium pati cair dan medium pati agar dan sampel air limbah industri tapioka. Bahan untuk pengukuran nilai BOD dan COD yaitu larutan buffer fosfat, larutan MgSO4, larutan CaCl2, larutan ferri chlorida, larutan K2Cr2O7, H2SO4, Ag2SO4, indikator feroin dan larutan Fe(NH4)2(SO4)2.

Cara kerja
Pengambilan sampel air limbah

Limbah cair industri tapioka diambil dari kolam penampungan limbah PT Cahaya Surya Tunas Tapioka Sonoharjo, Wonogiri.

Isolasi dan purifikasi mikrobia amilolitik
Kultur diperkaya. Air limbah sampel diino-

uasikan ke dalam medium pati cair yang mengandung amilum sebagai satu-satunya sumber karbon dan energi. Inkubasi dilakukan pada suhu 34 \u00baC selama 48 jam (Bangun, 1989).

Isolasi bakteri amilolitik dari kultur diperkaya.

Mikroorganisme diisolasi dengan metode taburan (cawan tuang) dengan menggunakan medium pati agar. Inkubasi dilakukan pada suhu 34 \u00baC selama 48 jam. Untuk memilih mikroorganisme yang bersifat amilolitik, medium yang telah ditumbuhi mikroorganisme tersebut

dituangi
larutan
JKJ.

Koloni mikroorganisme yang di sekelilingnya nampak terang adalah mikroorganisme amilolitik, koloni-koloni tersebut dipindahkan ke medium agar miring dan diinkubasi pada suhu 34\u00baC selama 24 jam (Bangun, 1989).

Uji aktivitas amilolitik untuk seleksi isolat
mikroorganisme.
Isolat

mikroorganisme amilolitik diambil dari koloni yang terdapat pada medium agar miring, dipindahkan ke medium pati cair dan ditaburkan ke medium pati agar, kemudian diinkubasi pada suhu kamar selama 48 jam. Uji aktivitas daya amilolitik dilakukan dengan cara menuangkan larutan JKJ ke masing-masing koloni mikroorganisme yang telah diisolasi. Koloni mikroorganisme diseleksi untuk mendapatkan mikroorganisme yang mampu memecah amilum paling banyak dengan cara dipilih koloni yang di sekelilingnya nampak terang dengan diameter yang paling besar. Koloni mikroorganisme yang mempunyai daya amilolitik yang tinggi dipindahkan ke medium agar miring dan diinkubasi pada suhu 34 \u00baC selama 48 jam (Sembiring, 1991).

Pengolahan limbah cair industri tapioka
dengan isolat terseleksi
Masing-masing
isolat

mikroorganisme ditumbuhkan dalam kultur cair dengan medium pati cair sebanyak 100 ml pada suhu 34 \u00baC selama 96 jam. Kultur mikroorganisme sebanyak 25 ml dari masing-masing isolat diinokulasikan ke dalam sampel air limbah sebanyak 225 ml. Nilai COD dan BOD air limbah sampel sebelum diinokulasi ditetapkan terlebih dahulu. Sampel air limbah yang telah diinokulasi isolat mikroorganisme diinkubasi pada suhu kamar dan tiap 48 jam dihitung nilai COD dan BOD serta nilai pH sampel air limbah tersebut. Kontrol perlakuan dilakukan dengan menginkubasikan air limbah sampel pada suhu kamar tanpa diinokulasi dengan isolat mikroorganisme. Efisiensi penurunan COD dan BOD pada masing-masing perlakuan dihitung dengan rumus:

c
a
b
a
=
\u00d7
\u2212
%
100
a:
Nilai COD/BOD awal
b:
Nilai COD/BOD akhir
c
:
Efisiensi pengolahan limbah
(Sembiring, 1991)
Karakterisasi isolat terseleksi. Preparat dari

isolat yang terseleksi dibuat dan diamati de- ngan mikroskop mulai dari perbesaran lemah sampai perbesaran sedang, pengamatan awal difokuskan pada bentuk dan ukuran sel. Pengukuran terhadap sel dilakukan dengan

PRIYANTO dkk. \u2013 Mikroorganisme amilolitik limbah tapioka
37

menggunakan mikrometer (Jutono, dkk., 1973). Karakterisasi pada tahap berikutnya disesuaikan dengan golongan mikroorganisme yang ditemukan berdasarkan bentuk dan ukuran sel isolat terseleksi.

Analisis hasil. Perlakuan diberikan dengan

inokulan kultur murni dan dihitung perubahan nilai COD dan BOD serta pH tiap selang waktu 48 jam untuk mengetahui kecepatan perombakan dari pengolahan air limbah dengan masing-masing perlakuan tersebut. Efisiensi penurunan nilai COD dan BOD antar perlakuan dan selang waktu dianalisis dengan Rancangan Acak Kelompok Lengkap dan apabila ada beda nyata maka dilanjutkan dengan uji Duncan\u2019s Multiple Range Test. Karakterisasi dilakukan terhadap isolat yang mempunyai efektivitas paling tinggi dalam perbaikan kualitas limbah cair industri tapioka.

HASIL DAN PEMBAHASAN
Isolasi dan seleksi mikrobia amilolitik

Menurut Mason (1991), kultur untuk mendegradasi limbah dapat dibuat dengan cara kultur diperkaya (enrichment culture), inokulan diambil dari habitat terbuka yang mengandung bahan limbah yang bersang- kutan. Parameter yang digunakan pada proses isolasi adalah kemampuan isolat mikroorganisme amilolitik dalam membentuk zona jernih pada medium pati agar setelah ditetesi dengan larutan JKJ. Menurut Hadioetomo (1990), JKJ merupakan larutan yang bereaksi dengan amilum secara cepat membentuk kompleks warna biru atau ungu.

Dari proses isolasi dida- patkan 11 koloni mikroor- ganisme amilolitik yang pada tahap selanjutnya koloni-koloni ini dianggap sebagai isolat. Kandungan amilum dalam medium pati agar digunakan oleh mikro- organisme

amilolitik sebagai sumber energi dan karbon, sehingga setelah diinkubasi selama bebe- rapa waktu, kandungan amilum di sekitar koloni akan habis terdegradasi oleh aktivitas mikroorganis- me ini. Pembentukan zona

jernih di sekitar koloni menunjukkan bahwa medium jernih tersebut sudah tidak mengan- dung amilum. Koloni-koloni yang mampu membentuk zona jernih setelah penetesan larutan JKJ diambil dan dibiakkan sebagai kultur murni pada medium agar miring.

Seleksi mikroorganisme amilolitik dilakukan berdasarkan luas zona jernih yang terbentuk di sekitar koloninya setelah ditetesi dengan larutan JKJ. Pada proses seleksi ini diambil lima isolat yang mempunyai daya amilolitik lebih tinggi dibanding isolat lainnya yaitu isolat 1, isolat 5, isolat 6, isolat 8 dan isolat 10. Selanjutnya kelima isolat ini digunakan sebagai perlakuan dalam tahap pengolahan limbah cair industri tapioka skala laboratorium. Perlakuan dalam tahap ini merupakan proses seleksi secara kuantitatif yang dilakukan berdasarkan pada pengaruh masing-masing isolat

dalam
meningkatkan

efisiensi pengolahan limbah cair industri tapioka, khususnya dalam menetralkan keasaman dan penurunan nilai COD dan BOD-nya.

Pengolahan limbah cair industri tapioka
dengan perlakuan isolat terseleksi
Nilai COD dan BOD

Pengaruh perlakuan penambahan isolat mikroorganisme amilolitik dan waktu terhadap kadar COD limbah cair industri tapioka disajikan pada Tabel 1. Uji jarak berganda Duncan taraf 5% menunjukkan bahwa perlakuan

penambahan

mikroorganisme amilolitik isolat 8 memberikan nilai COD rata- rata yang terendah yaitu 590,31 mg/liter. Sedangkan nilai COD rata-rata tertinggi

Tabel 1. Nilai COD limbah cair industri tapioka dengan perlakuan
penambahan isolat mikroorganisme amilolitik dan waktu.
Nilai COD sampel limbah cair tapioka (mg/liter)
Jenis IsolatHari ke-0 Hari ke-2 Hari ke-4 Hari ke-6
Rata-rata
Kontrol
1280
1122
609
299
827,48C
Isolat 1
1280
1032
600
412
830,96C
Isolat 5
1280
1062
705
297
836,11C
Isolat 6
1280
942
561
242
756,18C
Isolat 8
1280
672
312
97
590,31A
Isolat 10
1280
982
456
185
725,63B
Rata-rata
1280d
968.67c 540.5b
255,28a

Keterangan: Angka yang diikuti huruf yang sama menunjukkan tidak berbeda nyata pada uji jarak berganda Duncan taraf 5%. Huruf besar notasi untuk faktor jenis isolat. Huruf kecil notasi untuk faktor waktu.

Activity (7)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 hundred reads
1 thousand reads
xboslearn liked this
Eka Barkah liked this
Ricky Batavian liked this
NITNOT liked this

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->