Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Look up keyword
Like this
1Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Mungkinkah Dari Demokrasi Lahir UU Islami

Mungkinkah Dari Demokrasi Lahir UU Islami

Ratings: (0)|Views: 0|Likes:
Published by Rizky M Faisal

More info:

Published by: Rizky M Faisal on Mar 12, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/04/2014

pdf

text

original

 
https://konsultasi.wordpress.com/2013/03/04/mungkinkah-dari-demokrasi-lahir-uu-islami/ 1/4
Konsultasi Islam
Mengatasi Masalah dengan SyariahMungkinkah dari Demokrasi Lahir UU Islami?
Posted by Farid Ma'ruf pada 4 Maret 2013
Soal:
 Apakah ada produk perundangan-undangan yang dihasilkan melalui sistem demokrasi yang benar-benar Islami?
Jawab:
Undang-undang (
qânûn
) didefinisikan sebagai perintah dan larangan yang wajib dipedomani disuatu negara. Denganmengalisis karakter hukum syariah yang dinyatakan dalam sumber syariahIslam, serta memperhatikan sirah Nabi saw., maka tampak ada dua kategori perundang-undangan(
qawânîn
), kaidah (
qawâ’id
) dan hukum (
ahkâm
) yang mengatur masyarakat Islam.
Pertama
: perundang-undangan (
qawânîn
) yang dalam pengambilannya, para penguasa dan kaumMuslim tidak boleh meninggalkan sumber-sumber syariah, dan melihat sumber-sumber lain,apapun alasannya. Ini bisa didefinisikan dengan hukum dan perundang-undangan syariah(
qawânîn tasyrî’iyyah
). Perundang-undangan yang masuk wilayah
tasyri’
ini seperti UUD, UUParpol, UU Perkawinan, UU Perdata dan Pidana, UU Pornografi dan Pornoaksi, UU Perbankan,dan lain-lain.
Kedua
qawânîn
) dan hukum (
ahkâm
), dimana syariah menyerahkan kepadapara penguasa dan individu Muslim untuk mengambilnya, berdasarkan pertimbangankemaslahatan yang menjadi pandangannya dari manapun sumbernya, dengan catatan tidakmenegasikan atau bertentangan dengan syariah. Kategori ini disebut hukum dan perundang-undangan administrasi (
qawânîn ijrâ’iyyah
). Perundang-undangan yang masuk wilayah
ijrâ’i
ini,seperti peraturan lalu lintas.Dalam konteks perundang-undangan yang pertama, satu-satunya sumber yang sah adalahwahyu, yaitu al-Quran dan as-Sunnah, dan apa yang ditunjukkan oleh keduanya, yaitu IjmakSahabat dan Qiyas. Ini berbeda dengan kategori perundang-undangan yang kedua; perundang-undangan ini diserahkan kepada manusia, karena menyangkut teknis dan administrasi, dan
 
https://konsultasi.wordpress.com/2013/03/04/mungkinkah-dari-demokrasi-lahir-uu-islami/ 2/4
termasuk dalam wilayah
uslûb
yang mubah. Tentu dengan catatan, jika tidak bertentangandengan syariah. Hanya saja, meski berbeda sumber dan rujukannya, proses pengambilanpendapat yang digunakan untuk menyusun perundang-undangan tersebut harus tetap mengikutiketentuan Islam dalam mengambil pendapat.Di sinilah bedanya Islam dengan sistem demokrasi. Jika dalam sistem demokrasi, prosespengambilan pendapat tidak dipilah, antara mana pendapat yang masuk wilayah
qawânîntasyrî’iyyah
 , dan mana yang masuk wilayah
qawânîn ijrâ’iyyah
. Semuanya diputuskan berdasarkan suara mayoritas. Adapun dalam sistem Islam, pendapat yang masuk wilayah
qawânîntasyrî’iyyah
diambil berdasarkan mana pendapat yang paling kuat dalilnya, tanpa melihat apakahpendapat tersebut didukung oleh suara mayoritas atau tidak. Selain itu, satu-satunya yang berhakmenyusun dan mengundang-undangkan bukanlah parlemen, tetapi kepala negara (Khalifah). Ini juga berlaku dalam
qawânîn ijrâ’iyyah
.Karena itu, bisa dikatakan, bahwa semua perundang-undangan yang dihasilkan oleh sistemdemokrasi ini sejatinya bertentangan dengan sistem Islam, karena beberapa alasan.
Pertama
: dariaspek sumber perundang-undangan (
mashâdir tasyrî’
). UU yang dihasilkan oleh sistem demokrasi jelas tidak menjadikan Islam sebagai sumbernya. Di Indonesia, misalnya, UU yang dihasilkanharus bersumber dari UU yang lebih tinggi, dan tidak boleh bertentangan dengannya, sepertiUUD 45 dan Pancasila. Karena itu, sekalipun UU tersebut diklaim bersumber dari syariah, ketikaUU tersebut diterima, alasannya bukan karena kesesuaiannya dengan syariah, melainkan karenatidak bertentangan dengan UU di atasnya, atau bertentangan dengan sumber perundang-undangan yang ada.
Kedua
: dari aspek standar (
maqâyis
). UU yang dihasilkan oleh sistem demokrasi jelas tidakmenjadikan halal dan haram sebagai standarnya, melainkan asas manfaat (benefit). Sebagaicontoh, UU Perbankan Syariah. UU ini disusun untuk mengakomodasi kepentingan kaumMuslim yang menginginkan dirinya bebas dari perbankan konvensional, yang menggunakansistem riba. Memang benar riba dihilangkan, tetapi di sana ada
nisbah
(prosentasi keuntungan),sebagaimana dalam kasus
mudharabah
. Memang riba dihilangkan, tetapi di sana ada
ujrah
dari jasapenggunaan uang, sebagaimana dalam kasus Dana Talangan Haji. Ini semuamerupakan
hîlah
(siasat) untuk mendapatkan keuntungan, yang semestinya tidak sah, namundisiasati agar menjadi absah, karena standar yang digunakan bukan halal dan haram, melainkanasas manfaat.
Ketiga
: dari aspek proses penyusunannya (
tasyrî’ wa taqnîn
). UU yang lahir dalam sistemdemokrasi jelas prosesnya berbeda dengan UU yang lahir dari sistem Islam. Di dalam sistemdemokrasi, semua UU digodok dan dihasilkan berdasarkan suara mayoritas. Ini jelas berbedadengan Islam:1- Dalam masalah hukum syariah, Islam menetapkan bahwa UU harus bersumber dari wahyu,yaitu al-Quran dan as-Sunnah, serta apa yang ditunjukkan oleh keduanya, yaitu Ijmak Sahabatdan Qiyas. Pasal-perpasal di dalam UU ini disusun berdasarkan dalil yang paling kuat (
râjih
).2- Rancangan UU tersebut, setelah terbukti dalilnya paling kuat, diadopsi oleh Khalifah (kepalanegara) sebagai satu-satunya pihak yang memegang otoritas dalam mengadopsi hukum untukdijadikan UU.
 
https://konsultasi.wordpress.com/2013/03/04/mungkinkah-dari-demokrasi-lahir-uu-islami/ 3/4
3- Jika di kemudian hari terbukti ada kelemahan dalam pasal-perpasal UU yang diadopsi olehKhalifah itu, tugas untuk mengoreksinya ada di tangan Mahkamah Mazhalim.Sebagai produk pemikiran, UU jelas berbeda dengan
madaniyyah
 , seperti mobil, HP maupun yanglain. Boleh dan tidaknya mengambil dan memanfaatkan
madaniyyah
ditentukan oleh,apakah
madaniyyah
tersebut bertentangan atau tidak dengan peradaban Islam. Jika bertentanganmaka hukum mengambil dan memanfaatkannya jelas haram. Contoh, lukisan makhluk hidup danpatung.Berbeda dengan UU, sebagai produk pemikiran, UU bukanlah
madaniyyah
 , tetapi merupakan bagian dari
hadhârah
(peradaban) itu sendiri. Karena itu, kriteria apakah UU tersebut sesuai atautidak dengan syariah Islam tidak cukup dijadikan alasan untuk menyatakan bahwa UU tersebutislami. Karena selain kriteria sesuai dengan syariah Islam, dan tidak bertentangan dengannya, jugaharus ada dua kriteria lagi, yaitu:1- UU tersebut harus dibangun berdasarkan akidah Islam (
mabniyy[un] ‘alâ al-‘aqîdah al-Islâmiyyah
). Dengan kata lain, akidah Islam benar-benar menjadi dasar dan pondasi dalammenyusun UU tersebut. Dengan akidah Islam dijadikan sebagai dasar dan pondasinya, maka UUtersebut tidak akan mengandung pemikiran yang bertentangan dengan Islam.2- UU tersebut juga harus terpancar dari akidah Islam (
 yanbatsiqu ‘an ‘aqîdah al-Islâmiyyah
). Inidibuktikan dengan adanya dalil yang bersumber dari wahyu, yaitu al-Quran dan as-Sunnah, sertaapa yang ditunjukkan oleh keduanya, yaitu Ijmak Sahabat dan Qiyas. Dengan kata lain, setiappasal-perpasal yang ada di dalamnya diambil dari dalil-dalil syariah tersebut. Jika kedua kriteria di atas bisa dipenuhi, maka produk UU yang dihasilkan bisa disebut sebagaiperundang-undangan syariah (
qawânîn syar’iyyah
). Namun jika tidak, maka produk UU tersebuttidak layak disebut sebagai perundang-undangan syariah (
qawânîn syar’iyyah
) meski disertai lebelsyariah, seperti UU Perbankan Syariah, Bursa Efek Syariah, dan sebagainya.Dalil mengenai kriteria pertama adalah firman Allah SWT:
 ﯿ І
 
І ﯿ ІІ І
 
І І
 
ﯾІ ІІ
 
 
ﯿ І І
 
ﯿ І
 
ﯾІІ
 
І І І
Demi Tuhanmu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakimdalam perkara yang mereka perselisihkan. Kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatukeberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya
(QS an-Nisa’ [4]: 65).Menjadikan Nabi saw. sebagai
hâkim
 , berarti menjadikanya sebagai sumber hukum. Orang yangtidak bersedia atau keberatan menjadikan Nabi saw. sebagai sumber hukum dianggap tidak beriman. Artinya, jika dia benar-benar beriman, maka dia akan bersedia dan tidak keberatanmenjadikan Nabi saw. sebagai sumber hukum. Itu artinya, bahwa iman atau akidah Islam itumerupakan dasar bagi hukum dan perundang-undangan.Nabi saw. juga bersabda:
 ﮫ І І І І І
 
ﯾІІ І
 
ﯾІ
 

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->