Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga punya perhatian serius dan memerintahkankamum muslimin untuk merubah kemungkaran, sebagaimana sabdanya Shallallahu‘alaihi wa sallam : “Barang siapa di antara kalian yang melihat kemungkaran hendaklahmerubah dengan lisannya, dan apabila tidak mampu, maka hendaklah merubah denganlisannya, dan apabila tidak mampu, maka dengan hatinya, dan itu adalah selemah-lemahiman.” (HR.Muslim)4. Hendaklah mereka memperhatikan dakwah kepada tauhid dengan serius, danmendahulukannya atas yang lainnya, demi mengamalkan sabda Rasulullah Shallallahu‘alaihi wa sallam : “Jadikanlah per tama kali yang kalian dakwahkan kepada merekaadalah syahadat (kalimat tauhid) la ilaha illallah.” (HR.Bukhari dan Muslim). Dalamriwayat lainnya, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Sampai mereka(benar-benar) mentauhidkan Allah.” (HR.Bukhari).“Mentauhidkan Allah”, maksudnya adalah : mengesakan Allah dalam semua jenis ibada,lebih-lebih dalam hal Do’a, karena Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :“Do’a adalah Ibadah,” (HR.Tirmidzi. Beliau berkata : Hadits ini hasan shahih).Kepada Kelompok Ikhwanul Muslimin1. Hendaklah mereka mengajarkan kepada anggota kelompoknya tauhid dan macam-macamnya, yakni : tauhid rububiyah, tauhid uluhiyah dan tauhid asma dan sifa, karena ituadalah masalah yang sangat urgent yang berpengaruh pada terwujudnya kebahagiaanindividu maupun masyarakat, dari pada sibuk dalam politik praktis dan yang merekasangka seperti fiqih waki’ (realita –ed). Ini bukan berarti buta dengan keadaan dunia danmanusia, tapi tidak berlebi-lebihan dengannya dan tidak pula menyepelekannya.2. Hendaklah mereka menjauhi pemikiran-pemikiran Sufi yang menyelisihi akidah islam,karene banyak kita jumpai dalam kitab-kitab mereka akida-akidah sufi yang batil :a. Lihatlah pimpinan mereka di Mesir, yaitu Umar Tilmisani yang banyak menyebutkandalam bukunya “Syahidul Mihrab” akidah-akidah Sufi yang sangat membahayakan. Disamping membolehkan belajar musik. b. Inilah Sayyid Quthub, menyebutkan dalam kitabnya zilalul Qur’an” akidah Sufiwihdatul wujud pada awal surat al-Hadid, dan lain sebagainya dari takwil-takwil yang batil. Sungguh saya telah menyampaikannya kepada saudaranya sendiri, yaituMuhammad Qutub agar mengomentari kesalahan-kesalahan aqidah, karena ia adalah penanggung jawab penerbitan “as-Syuruq”, akan tetapi dia menolaknya dan mengatakan :Saudara saya sendiri yang akan menanggungnya. Dan saikh Abdul Latif Badr, penanggung jawab majalah at-Tau’iyah di Mekah menyarankan kepadaku agar sayamendatanginya lagi.c. Lihatlah Said Hawa, beliau menyebutkan dalam kitabnya “Tarbiyahtuna ar-Ruhiyat”akidah-akidah Sufi, sebagaimana sudah disebutkan diawal kitab2.