• Embed Doc
  • Readcast
  • Collections
  • CommentGo Back
Download
 
Langit Senja Yang Menggantung
Tabik.Salam penghormatan seperti yang disampaikan pada orang-orang tertinggi derajatnya itukini terarah kepadaku. Siapakah aku ini? Istri raja bukan, anak bupati juga tidak. Tapi mengapaorang-orang yang berseliweran —yang bisanya acuh tak acuh saja— kini memberiku tabik semacam itu?
 Njenengan menika calon Sri Rajasangga,
” jelas seseorang dengan tali kekang dalamgenggaman, Dia itu kusir dan agak sinting rupa-rupanya. Katanya aku ini calon Sri Rajasangga.Aku tidak mengerti apa yang sedang dibicarakannya.Dokar tetap berderak lambat-cepat. Lambat jika menyusuri jalan ditengah keramaian,cepat jika tanpa aral melintang.Aku sempat berbincang— basa-basi— mengenai hendak dibawa kemana aku ini. Tapikusir tidak waras— menurutku— itu hanya tersenyum simpul. Rugi aku berbicara padanya.Inderaku kembali mengamati pemandangan membosankan: jalan lurus tanpa kelok,rumput dipinggir jalan yang banyak belukarnya dan orang-orang yang sedikit-sedikit memberitabik.Aku tahu mungkin mereka memberi tabik tidak khusus untukku, pasti pada pemilik dokar ini. Yah, bisa dibayangkan, ibarat menjual beragam perhiasan, baru dokar bagus ini bisa dimiliki.Tak heran jika orang-orang memberi tabik atas keelokannya. Tentu mereka pikir dokar ini milik Sri Sultan atau Baginda Raja.*
 Nduk, kowe
itu cantik, semlohe, dan banyak yang suka. Kok ndak kawin-kawin,
to
?”suatu hari ibuku menanyai pertanyaan yang selalu kuhindari.“Mau jadi dokter dulu, Mak, baru kawin,” jawabku asal-asalan. Padahal lulus SekolahRakyat pun tidak. Ibuku terburu memingitku karena dirasa sudah cukup umur untuk menikah.Saat itu usiaku baru 11 tahun. Bagaimana mungkin perempuan sepertiku tiba-tiba bisa menjadidokter yang begitu dipuja-puja di banyak kampung begitu.
Cah wadon
itu yang penting kawin, nikah, jadi istri yang soleha,” ujarnya lagi sambilmenata piring-piring dalam rak. Aku tau maksudnya baik, pun begitu cara didikan Eyangku dulu.Tapi tetap saja, aku tidak mau kawin diusia muda begini. 22 tahun. Bagaimana bisa akumengurus anak jika masa kanak-kanak pun tidak kuhayati.“Mak, kalau sahaya ini merantau, ke kota, cari duit,
 pripun
, Mak?” tanyaku ketika Ibuselesai membereskan piring-piringnya.Air mukanya tiba-tiba berubah, yang semula kalem menjadi tegang. Mulutnya terkatup-menganga gemetaran. Ia begitu terkejut. Helaan nafas panjang pun mengakhiri degupan keras jantungnya, memompa darah begitu cepat hingga ke ubun-ubun.
 
 Kowe iku
 
cah wadon
,
nduk 
. Ngomong apa
kowe
mau cari duit, cari duit. Dipikir enak apa? Cari suami saja sudah cukup,
nduk 
. Jangan
kowe
tinggal Emakmu sendirian begini!Jeritnya putus asa. Perlahan, airmata menggenangi pelupuknya yang sayu. Aku tak tegameneruskan kalimat terakhirku untuk minggat keesokan harinya.*
 Ndoro
, sudah sampai,” kusir tidak waras — menurutku— itu membangunkanku darilamunan. Sebenarnya, tidak haya lamunan, lebih-lebih renungan penyesalan karena telahmeninggalkan Ibu sendirian di kampung. Bagaimanapun, aku harus ke kota. Entah untuk mencari duit, atau apapun. Aku hanya ingin menikmati hidup bebas dari pingitan berbelas-belastahun sebelum akhirnya menginjakkan kaki di Batavia.“Silakan masuk,
ndoro
,” Kusir tadi membukakan pintu-rumah megah, semegah istana,itu untukku. Janggal memang. Bukan perihal rumahnya, tapi perlakuan kusir dan orang-orang bertabik tadi.“Jadi, ini rumahnya,” gumamku tak percaya. Aku menapaki tegel demi tegel hingga ke penghujung ruangan. Sebuah area luas dengan beragam perabot mengkilat-mahal. Aku tahu pemiliknya bukan orang sembarangan. Dia pasti kaya raya.Yang aku tangkap sebelum dibawa kusir tidak waras— menurutku— itu adalah bahwakata Pakdhe Sarimin, ada kenalannya di kota yang bisa memberiku pekerjaan. Jadilah akuminggat dan di jemput kusir tidak waras yang selalu menyebut-nyebut “calon Sri Rajasangga”tersebut. Aku tidak paham betul makna dari igauannya, yang pasti, orang yang disebut-sebut tadiharus memberiku pekerjaan.“Selamat datang, Marni,” Seseorang dengan perawakan tinggi-besar berkepala botak menyambutku. Senyuman terlebar yang pernah kulihat disunggingkannya dengan sedikitdeheman-deheman khas pengidap batuk menahun. Matanya yang lebar tertutup oleh kacamatahitam seperti tukang pijat panggilan. Aku tahu matanya lebar karena setelah itu ia mencopotkacamatanya dan mengamati dengan jelas— sejelas-jelasnya— dari ubun-ubun hingga ujungkaki.“Semlohe,” ujarnya nyaris tak berkedip. Aku tahu, tapi ragu, apakah pandangannya itu bentuk dari kagum atau penuh hawa nafsu. Biasanya aku memerhatikan gerak-gerik semacam itu pada Pak Lurah yang tak pernah mengalihkan pandangan dari Mbok Ras, janda cantik bahangunjingan satu kampung.“Jadi, ini to,
barang 
yang dijanjikan Sarimin,” ia bercakap dengan kusir tidak waras — menurutku— tadi. Si kusir mengangguk dan menunjukku dengan ibu jarinya. Lelaki tinggi-besar  bermata lebar yang itu mengelus pipiku. Sialan. Dikiranya boneka aku ini, biarlah, mungkin iaingin memastikan aku layak jadi pegawainya atau apa.“Jadi, kapan sahaya dapat bekerja, Tuan?” tanyaku penasaran. Baru kai ini aku berbicarasetelah tadi-tadi hanya mengamati dia dengan kusir dengan perabotan-perabotan yang mengkilat-mahal.
of 00

Leave a Comment

You must be to leave a comment.
Submit
Characters: ...
You must be to leave a comment.
Submit
Characters: ...