• Embed Doc
  • Readcast
  • Collections
  • CommentGo Back
Download
 
Lingga-Yoni
Secangkir kopi panas mengepul di sebelahku, aku yakin siapa yang membikinkan: lelakitinggi tegap dengan belahan samping rambutnya. Wangi —kala kuciumi aromanya. Atletisdengan dagu runcing menyertai keelokannya. Yang paling kusuka, tonjolan kaku-keras rahangserta tulang matanya, memberi kesan macho. Tak ketinggalan, kulitnya yang kasar namun terasalembut ketika menyentuh pipi dan bibirku, ah ya, aku ingat sekali waktu itu— kemarin lebihtepatnya.*
Saat lingga dan yoni bertemu, beradu mesra, saat itu pula dekapan malam terasamenenangkan. Seakan memutus rantai ketakutanakan gelap— dan kemudian bercumbudengan indah rembulan: malam, aku dan dia.
*Aku membayangkan kembali malam itu, ketika nyata tak lagi diperhitungkan dan kamisama-sama bersenang. Hihihii….. masih bisa kurasakan jemarinya ketika menyentuh tubuhku,aroma parfumnya yang tajam merangsang, serta kedipan matanya yang memabukkan. Ah, akumerindunya.*
 Dalam buaian lelakiku, aku merasa biar bumi berguncang sehebat apapun dan langit runtuh saat itu juga, aku tak peduli. Aku masih sibuk beradu-dengus dengannya. Mataku awas— mengawasi gerik jemarinya. Sorot tajam matanya juga menusuk, membikin aku terpana
.
Terlebih, aku menikmati bibirnya…
*Kopi itu kuminum
 — 
kusesapi. Kepulan asap tak lagi membayang-bayanginya. Dinginsudah. Sedingin pagi yang muram dengan mendung menggelantungi sinar sang mentari. Akuterpaku diatas dipan. Bingung hendak melakukan apa. Aku hanya senang mengingat-ingatkejadian malam itu
 — 
kemarin lebih tepatnya, tanpa melakukan apa-apa.
of 00

Leave a Comment

You must be to leave a comment.
Submit
Characters: ...
You must be to leave a comment.
Submit
Characters: ...