Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more ➡
Download
Standard view
Full view
of .
Add note
Save to My Library
Sync to mobile
Look up keyword
Like this
1Activity
×
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Asas – asas pemerintahan yang baik dalam pelaksanaan otonomi daerah di Indonesia

Asas – asas pemerintahan yang baik dalam pelaksanaan otonomi daerah di Indonesia

Ratings: (0)|Views: 328|Likes:
Published by Fatiya M Aziz

More info:

Published by: Fatiya M Aziz on Mar 16, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, DOCX, TXT or read online from Scribd
See More
See less

09/21/2013

pdf

text

original

 
Asas
 – 
asas pemerintahan yang baik dalampelaksanaan otonomi daerah di Indonesia
Sesuai dengan amanat Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, pemerintah daerah berwenang untuk mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahanmenurut asas otonomi dan tugas pembantuan. Pemberian otonomi luas kepada daerahdiarahkan untuk mempercepat terwujudnya kesejahteraan masyarakat melalui peningkatan pelayanan, pemberdayaan dan peran serta masyarakat. Disamping itu daerah diharapkanmampu meningkatkan daya saing dengan memperhatikan prinsip demokrasi, pemerataan,keadilan, keistimewaan dan kekhususan serta potensi dan keanekaragaman daerah dalamsistem Negara Kesatuan Republik IndonesiaOtonomi daerah sesungguhnya bukanlah hal yang baru di Indonesia. Sampai saat iniIndonesia sudah beberapa kali merubah peraturan perundang
 – 
undangan tentang pemerintahan daerah yang menandakan bagaimana otonomi daerah di Indonesia berjalansecara dinamis.Semenjak awal kemerdekaan samapi sekarang telah terdapat beberapa peraturan perundang-undangan yang mengatur tentang kebijakan Otonomi Daerah. UU 1/1945 menganut sistemotonomi daerah rumah tangga formil. UU 22/1948 memberikan hak otonomi danmedebewind yang seluas-luasnya kepada Daerah. Selanjutnya UU 1/1957 menganut sistemotonomi ril yang seluas-luasnya. Kemudian UU 5/1974 menganut prinsip otonomi daerahyang nyata dan bertanggung. UU 22/1999 menganut prinsip otonomi daerah yang luas, nyatadan bertanggungjawab. Sedangkan saat ini di bawah UU 32/2004 dianut prinsip otonomiseluas
 – 
luasnya, nyata dan bertanggung jawab.Pelaksanaan otonomi daerah di Indonesia pun banyak dikatakan sebagai otonomi daerahsetengah hati, masih banyak kekurangan yang mewarnai pelaksanaan otonomi daerah sepertikurangnya koordinasi pusat dan daerah serta masalah
 – 
masalah lain yang kemudian berdampak terhadap masyarakat itu sendiri. Penyelenggaraan desentralisasi mensyaratkan pembagian urusan pemerintahan antara Pemerintah dengan daerah otonom. Pembagianurusan pemerintahan tersebut didasarkan pada pemikiran bahwa selalu terdapat berbagaiurusan pemerintahan yang sepenuhnya/tetap menjadi kewenangan Pemerintah.
2.1 Kendala
 – 
kendala yang dihadapi dalam pelaksanaan otonomi daerah saat ini.
 Sebelum membahas mengenai kendala dalam pelaksanaan otonomi daerah, ada baiknyadiketahui terlebih dahulu pengertian Otonomi daerah. Otonomi daerah adalah hak,wewenang, dan kewajiban daerah otonom untuk mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan dan kepentingan masyarakat setempat sesuai dengan peraturan perundang-undangan
(Pasal 1 ayat (5) UU Nomor 32 Tahun 2004),
sedangkan menurut Menurut kamusWikipedia yang penulis akses pada tanggal 24 Nopember 2009, Otonomi daerah adalahkewenangan daerah otonom untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat sesuai dengan peraturan perundang-undangan.
Pengertian “otonom” secara bahasa adalah “berdiri sendiri” atau “dengan pemerintahansendiri”. Sedangkan “daerah” adalah suatu “wilayah” atau “lingkungan pemerintah”. Dengan
 
demikian pengertian secara istilah “otonomi daerah” adalah “wewenang/kekuasaan pada
suatu wilayah/daerah yang mengatur dan mengelola untuk kepentingan wilayah/daerah
masyarakat itu sendiri.” Pengertian yang lebih luas lagi adalah wewenang/kekuasaan pada
suatu wilayah/daerah yang mengatur dan mengelola untuk kepentingan wilayah/daerahmasyarakat itu sendiri mulai dari ekonomi, politik, dan pengaturan perimbangan keuangantermasuk pengaturan sosial, budaya, dan ideologi yang sesuai dengan tradisi adat istiadatdaerah lingkungannya. (Wikipedia, akses : 24 Nopember 2009)
 Dasar pemikiran yang melatarbelakangi adanya otonomi daerah adalah keinginan untuk memindahkan pengambilan keputusan untuk lebih dekat dengan mereka yang merasakanlangsung pengaruh program dan pelayanan yang dirancang dan dilaksanakan oleh pemerintah. Hal ini akan meningkatkan relevansi antara pelayanan umum dengan kebutuhandan kondisi masyarakat lokal, sekaligus tetap mengejar tujuan yang ingin dicapai oleh pemerintah ditingkat daerah dan nasional, dari segi sosial dan ekonomi.
Dengan lahirnyaUndang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tersebut maka dimulailah babak baru pelaksanaanOtonomi Daerah di Indonesia. Kebijakan Otonomi Daerah ini memberikan kewenanganotonomi kepada Daerah Kabupaten dan Kota didasarkan kepada desentralisasi saja dalamwujud otonomi yang luas, nyata dan bertanggung jawab.Kewenangan Daerah mencakup kewenangan semua bidang pemerintahan, kecualikewenangan di bidang politik luar negeri, pertahanan keamanan, peradilan, moneter danfiskal, agama, serta kewenangan bidang lainnya yang akan ditetapkan dengan PeraturanPemerintah.
 Namun dalam kenyataannya masih ada berbagai kendala
 – 
kendala yang dihadapi dalam pelaksanaan otonomi daerah saat ini khususnya permasalahan terkait  pelaksanaan pemerintahan yang baik. Permasalahan tersebut dapat diklasifikasikan sebagaiberikut :
 1.
 
1. Desentralisasi Korupsi
 
 Dengan adanya penerapan sistem otonomi daerah, maka terbuka pula peluang yang sebesar-besarnya bagi pejabat daerah terutama oknum pejabat untuk melalukan praktek KKN. Hal tersebut terlihat pada contoh kasus seperti yang dimuat pada majalah Tempo Kamis 4 November 2004www.tempointeraktif.com
 )
Desentralisasi Korupsi Melalui Otonomi
Daerah”
 
“Setelah Gubernur Nanggroe Aceh Darussalam, resmi menjadi tersangka korupsi pembelian
 genset senilai Rp 30 miliar, lalu giliran Gubernur Sumatera Barat Zainal Bakar resmi sebagai tersangka kasus korupsi anggaran dewan dalam APBD 2002 sebesar Rp 6,4 miliar,oleh Kejaksaan Tinggi Sumatera Barat. Dua kasus korupsi menyangkut gubernur ini, masihditambah hujan kasus korupsi yang menyangkut puluhan anggota Dewan Perwakilan Rakyat  Daerah di berbagai wilayah di Indonesia, dengan modus mirip: menyelewengkan APBD.
………………………
 
Sehingga ada ketidak jelasan akuntabilitas kepala daerah terhadap masyarakat setempat, yang membuat bentuk-bentuk tanggung jawab kepala daerah ke publik pun menjadi belum jelas. ?Karena posisi masyarakat dalam proses penegakan prinsip akuntabilitas dantransparansi pemerintah daerah, belum jelas, publik tidak pernah tahu bagaimana kinerjabirokrasi di daerah,? ujarnya.
………………………….
 
 
Untuk itu Andrinof mengusulkan, selain dicantumkan prosedur administrasi dalam pertanggung jawaban anggota Dewan, juga perlu ada prosedur politik yang melibatkanmasyarakat dalam mengawasi proyeksi dan pelaksanaan APBD. Misalnya, dengan adanyarapat terbuka atau laporan rutin ke masyarakat melalui media massa. Berikut ini beberapa modus korupsi di daerah:1. Korupsi Pengadaan Barang Modus : a. Penggelembungan (mark up) nilai barang dan jasa dari harga pasar. b. Kolusi dengan kontraktor dalam proses tender.
 
2. Penghapusan barang inventaris dan aset negara (tanah) Modus :a. Memboyong inventariskantor untuk kepentingan pribadi. b. Menjual inventaris kantor untuk kepentingan pribadi.
 
3. Pungli penerimaan pegawai, pembayaran gaji, keniakan pangkat, pengurusan pensiun dan sebagainya. Modus : Memungut biaya tambahan di luar ketentuan resmi.
 
4. Pemotongan uang bantuan sosial dan subsidi (sekolah, rumah ibadah, panti asuhan dan jompo) Modus : a. Pemotongan dana bantuan sosial b. Biasanya dilakukan secara bertingkat (setiap meja).
 
5. Bantuan fiktif dan Penyelewengan dana proyek. Modus : Membuat surat permohonan fiktif seolah-olah ada bantuan dari pemerintah ke pihak luar, Mengambil dana proyek  pemerintah di luar ketentuan resmi serta memotong dana proyek tanpa sepengtahuan orang lain.
 
6. Manipulasi hasil penerimaan penjualan, penerimaan pajak, retribusi dan iuran. Modus :a. Jumlah riil penerimaan penjualan, pajak tidak dilaporkan. b. Penetapan target penerimaan
…………………………………”
 
Sumber : The Habibie Center 
 1.
 
Potensi Konflik di daerah
 
 Pelaksanaan otonomi daerah merupakan suatu upaya untuk mempertahankan kesatuan Negara Indonesia, karena dengan diterapkannya kebijakan ini diharapkan dapat meredamdaerah-daerah yang ingin memisahkan diri dengan NKRI, terutama daerah-daerah yang merasa kurang puas dengan sistem atau apa saja yang menyangkut NKRI. Tetapi disatu sisiotonomi daerah berpotensi menyulut konflik antar daerah. Konflik yang dimaksud disiniadalah konflik kepentingan serta hal 
 – 
hal yang terkait dengan pemekaran daerah, sumber daya alam termasuk juga mengenai perbatasan. Banyak daerah saat ini menyimpan potensikonflik yang sangat besar. Hubungan sosial antar anggota masyarakat yang tidak harmonis,kesenjangan sosial, serta kebijakan pemerintah yang tidak sensitif terhadap konflik merupakan faktor-faktor yang sangat potensial bagi munculnya konflik di daerah.
 1.
 
SDM dalam hal pelayanan publik.
 
 Dengan adanya otonomi daerah, maka setiap daerah akan diberi kebebasan dalammenyusun program dan mengajukannya kepada pemerintahan pusat. pemerintah daerahdiharapkan untuk dapat membuat perencanaan dan melaksanakan program. Program inidiidentifikasi dan diprioritaskan menurut kebutuhan daerah dengan berkonsultasi pada

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->