Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
1Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Artikel Disintegrasi Bangsa

Artikel Disintegrasi Bangsa

Ratings: (0)|Views: 228|Likes:
Published by Egy Martin
Kewarganegaraan
Kewarganegaraan

More info:

Categories:Types, School Work
Published by: Egy Martin on Mar 17, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/27/2013

pdf

text

original

 
Disintegrasi Bangsa
Oleh Gumilar R sumantri (Anggota TA FKP-DPR-RI)
Krisis ekonomi dan keuangan yang parah menyentakkan bangsa Indonesia daritidur pilas. Bangsa ini selama tiga puluh tahun dininabobokan oleh prestasi pembangunan ekonomi yang semu. Ketika perekonomian ambruk, munculgerakan reformasi yang dimotori kalangan cendikia di tanah air. Pergantian pemerintahan pun terjadi sebagai dampak gelombang tuntutan reformasi.Menyusul peristiwa ini, muncul gejala kian menguat ketidakpuasan kelompok masyarakat di beberapa kawasan di Indonesia terhadap negara kesatuanIndonesia. Dalam konteks ini, issue disintegrasi menjadi sentral. Pertanyaan kitakini adalah, apakah reformasi yang ber-ruhkan demokratisasi berbanding lurusdengan disintegrasi atau sebaliknya? Apa langkah terbaik bangsa ini ke depanagar keutuhan dapat dipertahankan secara tidak artifisial?
Disintegrasi secara harfiah difahami sebagai perpecahan suatu bangsa menjadi bagian-bagian yang saling terpisah (
Webster’s New Encyclopedic Dictionary
1996). Indikasi lain dari potensi ini adalah usia bangsa (
age of nation
) yang relatif muda (53 tahun). Bangsa biasanya didefinisikan secara harfiah sebagai
“acommunity of people composed of one or more nationalities with its own territoryand governmen
(
Webster’s New Encyclopedic Dictionary
1996). Dalamdiskursus sosiologis konsep bangsa ini mendapat perhatian penting pada gejala
nation state
(Giddens 1995). Jarry dan Jarry (1997) mengatakan bahwa negara bangsa tidak lain adalah bentuk modern dari negara. Ia mempunyai batas wilayahyang jelas. Dalam hal ini batas negara dan masyarakat cenderung bersifatkoekstensif. Maksudnya, wilayah yang diklaim suatu negara bertalian erat dengan pembagian budaya, ethnik dan linguistik. Fenomena bangsa (
nation
) adalah relatif  baru dalam peradaban manusia. Dari ratusan bangsa yang kini ada, hanya 45 yangmengklaim telah ada sebelum abad 20. Sekitar 120 bangsa mengklaim merekamuncul kurang lebih 90 tahun silam. Dan 90 bangsa lainnya baru lahir pada 45tahun terakhir ini. Diyakini secara meluas, bahwa aspek usia bangsa inimempunyai pengaruh pada tingkat integrasi suatu bangsa.
 
Selama ini integrasi bangsa Indonesia yang sangat multi budaya (
multicultural 
)dan majemuk (
 plural 
), direkat oleh beberapa faktor. Pertama adalah faktor kepemimpinan dan pemerintahan yang kuat (
 strong leadership and strong state
).Di tengah masyarakat madani (civil society) yang lemah, memang faktor inimenyumbang secara signifikan terhadap integrasi. Issue dan gerakan disintegratif seperti separatisme Aceh, Irian, Timor-Timur dapat ditepis secara relatif mudah.Faktor kedua adalah peranan ABRI lengkap dengan pendekatan keamanannya.ABRI yang cukup kuat, solid dan efisien mampu meredam disintegrasi meskiwarna koersif relatif dominan. Akan tetapi, dewasa ini pendekatan keamanan banyak digugat oleh banyak kalangan terutama masyarakat yang selama inimarjinal. Pendekatan ini identik dengan kekerasan, pelanggaran hak asasimanusia, primitif dan sebagainya.
Faktor ketiga adalah kesamaan pengalaman historis bercengkerama dengankolonialisme Belanda. Perekat ini kian pudar sejalan dengan meningkatnya pengetahuan dan kesadaran masyarakat mengenai demokrasi dan keadilan sosial.Faktor keempat adalah pembangunan ekonomi yang impresif, meskipun tidak secara nyata berkolerasi dengan keadilan sosial,
happiness
, demokrasi dan aspek hakikat lainnya dari kehidupan manusia yang asasi. Ketika ekonomi bangsa ini bangkrut, daya rekat faktor ini menuju titik anomali.
Tatkala keempat faktor perekat integrasi kehilangan keampuhannya, disintegrasidiambang pintu. Jika kita ingin bangsa ini utuh di masa kini dan juga jauh kedepan tentunya harus dicari pemersatu baru yang tidak bersifat sementara. Faktor  pendukung integrasi yang telah dikemukakan terlebih dahulu terbukti efektif untuk jangka pendek dan memoles integrasi semu. Bagaimana menata sistemmasyarakat Indonesia dalam konteks ini agar dicapai integrasi kuat? Tampaknya, penumpuan fungsi integrasi pada peranan kelompok ethnik (agama, kelompok suku bangsa, dsb.) dan budaya (linguistik, dsb.) bukan pilihan tepat di masyarakatmajemuk dan multi budaya seperti Indonesia. Bergantung pada peranan merekaseperti ini, kita akan terjebak pada realita kelompok mayoritas dan minoritas. Jikatidak disiasati dengan baik, hal ini merupakan bibit disintegrasi baru.
Tampaknya yang langgeng menjadi peredam disintegrasi adalah demokratisasi

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->