Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more ➡
Download
Standard view
Full view
of .
Add note
Save to My Library
Sync to mobile
Look up keyword
Like this
12Activity
×
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
b010103

b010103

Ratings: (0)|Views: 2,952|Likes:
Published by Biodiversitas, etc

More info:

Published by: Biodiversitas, etc on Mar 09, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See More
See less

04/17/2013

pdf

text

original

BioSMART
ISSN: 1411-321X
Volume 1, Nomor 1
April 1999
Halaman: 15-21
\u00a9 1999 Jurusan Biologi FMIPA UNS Surakarta
Pengaruh Radiasi Sinar Gamma Terhadap Pertumbuhan Eksplan
Tebu (Saccharum officinarum L.) Varietas M 442-51 (BZ 148)
SOLICHATUN
Jurusan Biologi FMIPA UNS Surakarta
ABSTRAK
The objectives of this experiment were to observe the effect of gamma radiation, the effect of explant transfer to fresh medium, and the
effect of kinetin addition to the medium on callus formation ability. The explant was of the young leave of sugar caneS acc h aru m
officinarum L. Var. M 442-51 (BZ 148), which is still in the circle form and grows at the young bud. The medium used was a

modification of Murashige-Skoog medium, with or without addition of kinetin (0.5 mg/l) which is combined with 6 mg/l 2,4-D on each medium. Gamma radiation was done using a dosage of 20 Gay. Some of radiated explant were transferred into fresh medium. The composition was the same as the first medium and some of them were remained in the previous medium. The control groups were not radiated. In general, gamma radiation reduced callus production and time initiation. Transfer of mediated explant to the fresh medium decreased the ability of callus formation. Kinetin addition was also reduced the percentage of callus formation, but increased the level of cell proliferation.

Key words: gamma radiation, explant, sugar cane, variety M 442-51 (BZ 144).
PENDAHULUAN

Tanaman tebu (Saccharum officinarum L.) merupakan tanaman pokok penghasil gula. Produktivitas tanaman ini dipengaruhi iklim, jenis tanah, pengairan, jarak tanam dan varietas. Salah satu masalah utama budidaya tebu adalah tingginya kompetisi gulma, terutama ketika tumbuhan masih muda.

Gulma
merupakan
pesaing

untuk mendapatkan air, zat hara, sinar matahari dan ruang tumbuh. Di samping itu dapat menjadi sarang hama dan penyakit serta dapat menghasilkan senyawa sekunder yang bersifat racun. Herbisida merupakan salah satu alternatif untuk mengendalikan gulma, karena penggunaannya sederhana dan efektif. Namun senyawa ini juga dapat mematikan tanaman muda. Untuk itu perlu ditemukan tanaman tebu yang tahan terhadap herbisida.

Penemuan varietas baru dapat dilakukan melalui seleksi. Dasar pemuliaan tanaman adalah adanya kera-gaman genetik pada sel. Keragaman ini dapat dinaikkan dengan induksi radiasi energi tinggi sehingga terjadi mutasi sel (Novak, 1973). Meskipun metode ini sering menimbulkan tanaman baru yang steril, kemampuan regenerasi dan daya hidupnya rendah. Sterilitas dan rendahnya daya hidup sel disebabkan dosis radiasi yang kurang tepat. Sedang rendahnya kemampuan regenerasi disebabkan tingginya frekuensi subkultur (Gao dkk., 1991; Mac Donald dkk., 1991). Menurut Handro (1981) dan Novak (1991) kultur yang telah diradiasi harus segera dipindah ke medium segar, namun sebaliknya menurut Thrope (1982) subkultur dapat menurunkan kemampuan regenerasi.

Botani Tanaman Tebu
Klasifikasi tanaman tebu (Benson, 1957) adalah:
Filum
: Angiospermae
Sub Filum
: Monocotyledoneae
Divisi
: Glumiflorae
Ordo
: Graminales
Familia
: Gramineae
Sub Familia : Panicoideae
Tribe
: Andropogoneae
Sub Tribe
: Saccharine
Genus
:Saccharum
Spesies
:Saccharum officinarum L.

Tebu varietas M442-51 (BZ 148) merupakan hasil persilangan antara varietas B 37172 dengan M 213- 40 yang diintroduksi dari Mauritius. Batang tebu varietas M 442-51 (BZ 148) berbentuk silindris penampang lintang bulat, lapisan lilin tipis, teras berlubang kecil. Pelepah daun tanpa bulu, bila ada membentuk jalur sempit yang tidak sampai ke ujung pelepah. Upih pendek sampai sedang, tegak. Tepi sayap mata tunas rata, tanpa rambut jambul dan pita. Produktifitas di lahan sawah sekitar 100-140 ton per hektar, sedang di lahan kering 40-96,6 ton per hektar. Keunggulan varietas ini antara lain mampu menyesuaikan diri terhadap berbagai tipe iklim, jenis lahan dan tanah, tahan terhadap hama penggerek batang dan pucuk, serta tahan terhadap penyakit mosaik, pokahbung dan blendok (Anonim, 1982).

Kultur Jaringan Tebu

Kultur in vitro tebu pertama kali dilakukan tahun 1961 oleh Nickell (Liu, 1981). Teknik ini memiliki potensi besar dalam pengembangan dan perbaikan genetik tanaman. Kultur jaringan dapat digunakan

BioSMART Vol. 1, No. 1, April 1999, hal. 15-21
16

untuk menghasilkan tanaman yang seragam dan secara genetik identik dengan tanaman induk (George dan Sherrington, 1984). Penelitian kultur jaringan tebu bertujuan antara lain untuk mengamati keragaman genetik kultur sel dan tanaman hasil regenerasinya, menemukan tanaman yang tahan penyakit, memperoleh tanaman dengan kandungan gula tinggi, mengamati organogenesis dan embryo- genesis pada kultur tebu (Heinz dkk., 1977).

Perbanyakan tanaman dengan kultur jaringan sangat tergantung medium yang digunakan. Medium kultur umumnya tersusun atas beberapa komponen, meliputi hara makro, mikro, vitamin, asam amino, gula, senyawa kompleks dan zat pengatur tumbuh (Gunawan, 1988). Medium terbaik yang digunakan untuk diferensiasi kalus tebu dan perkembangan anakan adalah medium Murashige-Skoog (1962) atau modifikasi dengan penam-bahan senyawa kompleks seperti air kelapa, ekstrak ragi, sari tomat dan ekstrak malt (Heinz dkk., 1977).

Dalam medium yang diberi auksin, penambahan air kelapa membuat pertumbuhan kalus lebih baik (Gunawan,

1988).
Auksin
berperan

dalam pemanjangan sel dan diferensiasi akar, sedangkan sitokinin berperan dalam pembelahan sel dan diferensiasi tunas adventif (Krishnamoorthy, 1983). Sitokinin yang biasa digunakan adalah kinetin (Bhojwani dan Razdan, 1983).

]Radiasi Sinar Gamma

Induksi mutasi secara in vitro pada biji atau bagian vegetatif tanaman dapat dilakukan dengan mutagen fisik dan kimia (Negrutiu, 1990). Mutagen fisik berupa radiasi pengion dari isotop radioaktif, sedangkan mutagen kimia berupa senyawa-senyawa kimia yang dapat menginduksi mutasi. Radiasi pengion

terdiri
dari
radiasi
partikel

dan elektromagnetik. Radiasi partikel meliputi proton, elektron, neutron, sinar alfa dan beta. Sedangkan radiasi elektromagnetik meliputi sinar gamma, sinar X dan sinar ultraviolet (Handro, 1981). Mutagen yang sering diguna-kan adalah sinar gamma dan sinar X (Wattimena, 1992).

Sinar gamma merupakan foton atau gelombang elektromagnetik berenergi tinggi (Mev) dengan panjang gelombang pendek. Foton diserap melalui ionisasi, dimana sebagian atau seluruh energi foton ditransfer ke bahan sehingga elektron terlempar keluar. Hal ini dimungkinkan jika energi foton lebih besar dari pada energi atom bahan (Djojosoebagio, 1988). Daya tembus sinar gamma sangat besar. Sumber yang biasa digunakan adalah isotop radioaktif Cobal-60 (60Co) dan Caesium-137 (137C s) (Negrutiu, 1990).

Radiasi dapat mempengaruhi organisme secara morfologi atau genetik. Perubahan morfologi pada tebu yang diradiasi dengan sinar gamma antara lain berupa perubahan permukaan dan ukuran batang,

pengkerdilan dan resistensi terhadap herbisida (Heinz dkk., 1977). Secara genetik sinar gamma dapat menyebabkan aberasi kromosom, seperti putusnya rantai DNA, putusnya kromoson dan translokasi gen (Djojosoebagio, 1988).

Penggunaan radiasi sinar gamma pada tanaman tebu ditujukan untuk memperoleh varietas baru yang resisten terhadap penyakit dan memiliki sifat-sifat unggul.

Heinz dkk. (1977) menyatakan bahwa radiasi sinar gamma dapat menghasilkan varietas baru

yang
resisten
terhadap
serangan
Helminthosporium seccari. Jans-Orn dkk. (1991)

menambahkan bahwa radiasi sinar gamma dengan dosis 5-40 Gay dapat meningkatkan prosentase tanaman tebu yang tidak berbunga pada musim panen, sehingga kadar gulanya lebih tinggi. Soesilawati (1993) melaporkan bahwa toleransi kultur kalus tebu varietas M 442-51 terhadap herbisida glifosfat meningkat dengan perlakuan radiasi sinar gamma pada dosis 20 - 30 Gay.

BAHAN DAN METODE

Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Fisiologi Tumbuhan Jurusan Biologi FMIPA IPB Bogor. Radiasi sinar gamma dilaksanakan di Pusat Aplikasi Isotop dan Radiasi (PAIR) BATAN Jakarta.

Alat dan Bahan

Bahan yang menjadi sumber eksplan adalah tanaman tebu (Saccharum officinarum L.) varietas M 442-51 (BZ 148) yang ditanam dalam polibag di rumah kaca. Eksplan yang digunakan berupa daun muda yang masih menggulung dan tumbuh dari tunas muda.

Bahan-bahan kimia untuk pembuatan medium sesuai dengan komposisi medium dasar Murashige- Skoog (1962) dengan modifikasi. Untuk sterilisasi eksplan digunakan alkohol 96%, Dithane M-45 dan agrimisin.

Peralatan yang digunakan meliputi: botol kultur, cawan petri, gelas piala, gelas ukur, labu elenmeyer, pipet volumetrik, kertas aluminium, pisau diseksi, pinset, timbangan analitik, pH-meter, hot plate, pengaduk magnetik, otoklaf, oven, kotak transfer

(laminar air flow cabinet), lampu spiritus dan
irradiator gamma cell 200.
Cara Kerja

Prosedur penelitian ini meliputi: sterilisasi peralatan, pembuatan medium, sterilisasi eksplan, radiasi eksplan dan pemindahan eksplan ke medium segar.

Sterilisasi Peralatan. Botol kultur, cawan petri dan alat-alat

gelas dicuci bersih dengan air sabun, lalu disterilisasi dengan otoklaf pada temperatur 121oC, tekanan 151 psi selama satu jam. Akuades steril diperoleh dengan memasukkan akuades ke dalam labu elenmeyer yang dilapisi kertas alumunium, lalu disterilisasi dengan cara di atas.

SOLICHATUN \u2013 Radiasi Sinar Gamma pada Tebu
17
Pembuatan Medium. Medium yang digunakan adalah medium
Murashige-Skoog dengan modifikasi. Medium dibuat dengan
mencampurkan sejumlah larutan baku

MS, lalu ditambah sukrosa dan air kelapa serta diaduk hingga homogen, kemudian diencerkan dengan akuades sampai volume satu liter. Air kelapa diperoleh dari kelapa yang berumur sedang, tidak terlalu tua dan tidak terlalu muda. Sebelum digunakan air kelapa disaring dengan kertas saring. Pengaturan pH dilakukan hingga mencapai nilai 5,8 dengan menambah HCl 1N atau NaOH 1N tetes demi tetes. Setelah itu ditambah 8 g/l agar dan diaduk sampai rata. Larutan dipanaskan hingga mendidih di atas hot plate berpengaduk magnetik.

Medium diberi perlakuan kinetin 0,5 mg/l dan tanpa kinetin, yang masing-masing dipadukan dengan 6 mg/l 2,4-D. Kinetin diharapkan meningkatkan induksi pembentukan kalus. Masing- masing perlakuan terdiri dari 5 ulangan dan tiap ulangan terdiri dari 5 kultur.

Medium dituang ke dalam botol steril, masing-masing sebanyak kurang lebih 20 ml, lalu ditutup kertas aluminium. Kemudian disterilisasi dengan otoklaf pada temperatur 20oC, tekanan 20 psi, selama 20 menit. Medium steril disimpan dalam rak pada temperatur ruang selama 2-3 hari untuk mengetahui ada tidaknya kontaminasi.

Sterilisasi Eksplan. Umumnya sterilisasi dilakukan dengan

mencelupkan tunas batang tebu ke dalam alkohol 96% lalu dipanaskan dengan api sampai alkoholnya terbakar habis (Hutajulu, 1993; Soesilowati, 1993). Namun prosedur ini tidak mampu menekan tingkat kontaminasi, sehingga dilakukan cara berikut:

Tunas muda batang tebu dengan diameter 0,8-1 cm dipotong- potong sepanjang 5-10 cm, lalu direndam dalam air sabun selama 15 menit dan dibilas dengan air mengalir sampai bersih. kemudian disterilisasi dengan cara sebagai berikut:

a. Dicelup dalam alkohol 96% selama satu menit dan dibakar
sampai alkoholnya habis.

b. Direndam dalam larutan agrimisin 0,2% selama 1,5 jam, lalu direndam dalam larutan Dithane M-45 0,2% selama 1,5 jam, yang masing-masing telah ditambah 2 tetes Tween 80. Lalu dibilas akuades steril sebanyak 3-4 kali.

c. Sama dengan b, tetapi setelah itu dicelup ke dalam alkohol
96% selama satu menit dan dibakar sampai alkoholnya habis.

d. Direndam dalam larutan agrimisin 0,5% selama 1,5 jam, lalu dalam larutan Dithane M-45 0,5% selama 1,5 jam, yang masing-masing telah ditambah 2 tetes Tween 80, lalu dibilas dengan akuades steril sebanyak 3-4 kali.

e. Direndam dalam larutan agrimisin 0,5% selama satu jam, lalu dalam larutan Dithane M-45 0,5% selama satu jam, yang masing-masing telah ditambahi 2 tetes Tween 80, lalu dibilas dengan akuades steril sebanyak 3-4 kali. Setelah itu dicelup ke dalam alkohol 96% selama satu menit dan dibakar sampai alkohol habis.

Sterilisasi dilakukan dalam kotak transfer yang telah disterilisasi dengan sinar UV selama 2 jam. Eksplan yang ujungnya mengalami klorosis akibat pengaruh larutan pensteril dipotong dan dibuang karena diperkirakan jaringan eksplan tersebut telah mati. Eksplan yang masih segar dipotong-potong sepanjang 0,5-1 cm dengan pisau diseksi steril.

Penanaman Eksplan. Eksplan ditanam dalam medium dengan

posisi tegak dan diletakkan dalam ruang kultur pada temperatur 25-27oC, dengan intensitas penyinaran 800-1000 lux selama 16 jam per hari.

Perlakuan Radiasi. Setelah kultur berumur 2 minggu dilakukan
radiasi sinar gamma dengan sumber radiasi isotop60Co dalam
irradiator gamma cell 220. Dosis yang diberikan sebesar 20 Gay.
Pada kontrol tidak dilakukan radiasi.
Pemindahan ke Medium Segar. Setelah diradiasi, sebagian
kultur segera dipindah ke medium segar dan sebagian lagi
dibiarkan tumbuh pada medium semula (tanpa pemindahan).

Komposisi medium segar yang digunakan sama dengan medium awal. Pengamatan dilakukan selama 8 minggu. Parameter yang diamati meliputi: tingkat kontaminasi kultur, penampakan umum, waktu inisiasi kalus, prosentase kultur yang membentuk kalus, tingkat proliferasi kalus dan prosentase pembentukan embryo somatik.

HASIL DAN PEMBAHASAN
Sterilisasi Eksplan

Sterilisasi eksplan dilakukan dengan beberapa metode, agar diperoleh metode paling baik. Sterilisasi yang baik akan menghasilkan tingkat kontaminasi rendah dan tingkat kesegaran jaringan tinggi, sehingga eksplan mampu tumbuh pada medium kultur. Dari tabel 1 terlihat bahwa sterilisasi dengan agrimison 0,5% (1,5 jam) diikuti Dithane M-45 0,5% (1,5 jam) dan dicelup alkohol 96% lalu dibakar, memberikan hasil paling baik, sehingga metode sterilisasi tersebut digunakan dalam penelitian selanjutnya.

Tabel 1. Tingkat kontaminasi, kesegaran jaringan dan jenis
kontaminan pada penelitian sterilisasi.
No
Perlakuan
Kontami-nas
i
(%)
Kesegaran
Jaringan
Jenis
Kontaminan
A. Alkohol 96% dibakar
100
-
Bakteri
B. Agrimisin 0,2% (1,5 jam)
Dithane 0,2% (1,5 jam)
100
-
Bakteri

C. Agrimisin 0,2% (1,5 jam)
Dithane 0,2% (1,5 jam)
Alkohol 96% dibakar

100
+
Cendawan,
Bakteri
D. Agrimisin 0,5% (1,5 jam)
Dithane 0,5% (1,5 jam)
50
-
Cendawan,
Bakteri

E. Agrimisin 0,5% (1,5 jam)
Dithane 0,5% (1,5 jam)
Alkohol 96% dibakar

33,3
+
Cendawan,
Bakteri
Keterangan:
- : kesegaran jaringan kurang
+ : kesegaran jaringan baik

Kontaminasi bakteri dan cendawan merupakan masalah umum dalam kultur jaringan, keduanya tumbuh dengan cepat dan dapat mematikan eksplan. Kematian eksplan dapat disebabkan persaingan nutrisi dan timbul-nya senyawa racun dari mikroorganisme (Bhojwani dan Razdan, 1983). Kontaminasi berasal dari medium, bahan tanaman, udara dan tubuh pekerja (Gunawan, 1988). Kontaminasi dari medium dapat terjadi karena pencucian botol kultur yang kurang bersih, sterilisasi botol kurang baik atau sterilisasi medium tidak sempurna, sehingga masih ada spora cendawan atau bakteri yang belum mati. Kontaminasi dari jaringan tanaman, umumnya disebab-kan bakteri dan cendawan tumbuh di dalam eksplan, sehingga sangat sulit diatasi. Kontaminan ini sering dicoba diatasi dengan antibiotik, bakterisida atau fungisida sistemik (Gunawan, 1988).

Activity (12)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 hundred reads
1 thousand reads
yuswarnis liked this
Dyan Chyank Ayah liked this
Nuraini Paduka liked this
fregocar6582 liked this
YohanaSilviani liked this
vinson_lai liked this
oyasmart liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->