• Embed Doc
  • Readcast
  • Collections
  • CommentGo Back
Download
BioSMART
ISSN: 1411-321X
Volume 3, Nomor 1
April 2001
Halaman: 19-23
\u00a9 2001 Jurusan Biologi FMIPA UNS Surakarta
Pola Pemanfaatan Lahan di bawah Tegakan Sengon
(Paraserianthes falcataria) dalam Sistem Agrisilvikultur
SUGIYARTO1,2, SOLICHATUN1
1 Jurusan Biologi FMIPA UNS Surakarta
2 Program Studi Pertanian, Program Pascasarjana UNIBRAW Malang
ABSTRACT

Agro-silvicultural systems are developed to optimize the function of land by combining trees and crops in a land-use system. The aims of this study were to identify understorey crop species at sengon\u2019s (Paraserianthes falcataria) stand and describe their cropping systems. The study was conducted by incidental sampling method between November 1998 to April 1999 at Klaten, Magelang, Temanggung, Wonosobo and Banjarnegara districts, Central Java. From 88 sampling locations, there were 14 understorey crop species identified. Local farmers crop bananas (Musa sp.) and Cassava (Manihot esculenta) were the most dominant species. There were three understorey-cropping systems: multipleculture (12,51%), monoculture (54,54%) and fallow system (32,95%). Sengon\u2019s stand ages influenced local farmers on choosing crop species and cropping system.

Key words: agrisilviculture, land-use system, cropping system, understorey crop species, sengon stand
PENDAHULUAN
Peningkatan jumlah penduduk di dunia
membawa
konsekuensi
pada

peningkatan kebutuhan pangan. Sementara itu lahan pertanian yang dapat digunakan untuk pembudidayaan tanaman pangan semakin menurun, baik kualitas maupun

kuantitasnya.
Berbagai
aktivitas
pembangunan
fisik,
seperti

pembanguan permukiman, industri, sarana transportasi dan sebagainya telah banyak mengurangi luas lahan pertanian. Sedangkan menurunnya kualitas lahan pertanian disebabkan oleh pengelolaan lahan yang tidak berwawasan lingkungan serta meningkatnya pengaruh negatif dari berbagai bahan pencemar (ReVelle and ReVelle, 1992).

Sistem pertanian berkelanjutan merupakan salah satu alternatif untuk memecahkan masalah instabilitas ketersediaan pangan maupun degradasi lingkungan. Melalui sistem pertanian berkelanjutan pembudidayaan

tanaman
dilakukan

dengan menyertakan upaya untuk: mempertahankan dan meningkatkan hasil panen dalam jangka panjang, menurunkan

tingkat
kerusakan

lahan, mempertahankan proses-proses seperti yang terjadi pada ekosistem alami serta mempertahankan keanekaragaman hayati, termasuk keanekaragaman tanaman yang dibudidayakan (Sugito, 1997; Lal & Ragland, 1993).

Wanatani atauagr of ore stry merupakan salah satu sistem pembudidayaan tanaman yang dapat dikategorikan

dalam
sistem

pertanian berkelanjutan. Dalam sistem ini selalu diusahakan dua atau lebih jenis tanaman pada lahan yang sama, dimana salah satu jenisnya adalah tanaman perenial berkayu atau tanaman kehutanan. Dengan demikian dari sistem pengelolaan lahan ini akan didapatkan dua atau lebih hasil panen dalam satu periode pengusahaan lahan (Marsono, 1999; Young, 1997; Nair, 1993). Di samping selalu memperhatikan prinsip-prinsip produktivitas, sistem wanatani juga menekankan aspek sustainabilitas dan adaptabilitas.

Sistem wanatani dapat diklasifikasikan menjadi beberapa kelompok berdasarkan: struktur sistem (komponen penyusun), fungsi sistem, zona ekologi dan skala sosio-ekonomi. Berdasarkan komponen utama yang dikelola di dalam sistem wanatani, maka dikenal sistem agrisilvikultur, silvopastoral dan agrosilvopastoral. Agrisilvikultur adalah sistem wanatani dengan komponen utama berupa tanaman perenial dan tanaman pertanian (Nair, 1993). Beberapa

sistem
agrisilvikultur

telah dikembangkan oleh masyarakat Indonesia, seperti sistem talun, tumpangsari, pekarangan, taungnya, budidaya lorong dan sebagainya.

Sengon (P. falcataria) merupakan salah satu jenis tanaman kehutanan yang akhir-akhir ini ditanam secara meluas di Indonesia dalam program

BioSMART Vol. 3, No. 1, April 2001, hal. 19-23
20

penghijauan yang dikenal dengan program sengonisasi (Poerwowidodo, 1991). Kelebihan tanaman sengon dibanding jenis lain adalah kegunaannya yang luas, pertumbuhannya cepat serta mudah pengelolaannya. Tujuan utama penanaman sengon adalah sebagai penghasil kayu bangunan, di samping itu juga untuk perbaikan atau rehabilitasi lahan-lahan kritis, sebagai tanaman peneduh dan penghasil pakan ternak (Atmosuseno, 1998; Prajadinata dan Masano, 1994). Dijelaskan pula bahwa lahan pengusahaan sengon, baik milik perorangan atau perusahaan Perhutani berpotensi untuk dimanfaatkan sebagai lahan pengembangan agrisilvikultur, terutama sistem taungnya yaitu menanam tanaman pertanian di bawah tegakan tanaman kehutanan. Hal ini dikarenakan sengon termasuk anggota tanaman Leguminosae yang mampu bersimbiosis dengan Rhizobium dan Mycorhiza sehingga mempunyai peran positif bagi kesuburan tanah. Di samping itu, dengan tajuknya yang berbentuk kubah, helaian daun kecil-kecil dan digugurkan sepanjang tahun maka tanaman sengon memberikan kesempatan bagi pertumbuhan tanaman di bawah tegakannya, karena masih cukupnya intensitas cahaya matahari yang menembus tajuk serta besarnya suplai bahan organik yang dapat berfungsi sebagai pupuk alami. Kuswandana (1994) melaporkan bahwa di KPH Kediri telah diusahakan berbagai jenis tanaman pangan seperti nanas, cabe, jagung dan kacang- kacangan di bawah tegakan sengon yang berumur 0 hingga 3 tahun oleh para pesanggem.

Mengingat besarnya potensi pengembangan sistem agrisilvikultur pada lahan pengusahaan tanaman sengon, maka perlu dilakukan berbagai studi yang dapat digunakan sebagai bahan acuan untuk studi kelayakan. Salah satu hal yang menarik untuk dikaji adalah evaluasi tentang sistem/pola pemanfaatan lahan di bawah tegakan sengon yang telah dilakukan oleh masyarakat secara mandiri. Dari data hasil evaluasi ini dapat diberikan berbagai informasi tentang aspek ekologi, ekonomi dan sosiologi petani untuk dasar pengembangan lebih lanjut. Penelitian ini dilakukan untuk

mendiskripsikan pola pemanfaatan lahan di bawah tegakan sengon dalam sistem agrisilvikultur yang dilakukan oleh petani di daerah Kabupaten Klaten, Magelang,

Temanggung,
Wonosobo
dan
Banjarnegara, Jawa Tengah.
BAHAN DAN METODE

Penelitian ini dilakukan selama musim penghujan (Nopember 1998 hingga April 1999). Lokasi penelitian meliputi daerah Kabupaten Klaten, Magelang, Temanggung, Wonosobo dan Banjarnegara, Jawa Tengah. Sedangkan identifikasi dan klasifikasi tanaman yang ditemukan dilakukan di Laboratorium Biologi FMIPA UNS Surakarta.

Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode survai atau penjelajahan pada lokasi penanaman sengon yang dibudidayakan oleh masyarakat (Cox, 1972). Sampel tegakan sengon ditentukan dengan metode incidental sampling. Variabel yang diamati meliputi: umur tegakan sengon (dari informasi penduduk setempat), jenis tanaman bawah yang dibudidayakan serta kondisi lingkungan terutama sistem pengairannya. Hasil pengamatan disajikan secara deskriptif kuantitatif.

HASIL DAN PEMBAHASAN
Pola Pemanfaatan Lahan

Hasil pengamatan lokasi pembudidayaan tanaman sengon yang dilakukan oleh masyarakat di Kabupaten Klaten, Magelang, Temanggung, Wonosobo dan Banjarnegara disajikan pada tabel 1. Dari 88 lokasi pengamatan tegakan sengon, 60% di antaranya merupakan daerah kering dan 40% lainnya merupakan daerah basah/beririgasi. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa pengusahaan tanaman sengon lebih banyak dilakukan di daerah kering. Hal ini sejalan dengan program sengonisasi yang dilakukan oleh Perum Perhutani Unit II Jawa Timur yang hampir semua lahan yang digunakan adalah lahan kering (Kuswandana, 1994).

Tabel 1. Pola pemanfaatan lahan di bawah tegakan sengon yang dibudidayakan oleh masyarakat di daerah
Kabupaten Klaten, Magelang, Temanggung, Wonosobo dan Banjarnegara, Jawa Tengah.
Lahan kering
Lahan basah
No
Lokasi pengamatan
(Kabupaten)
Jumlah
sampel
Bero (%)
Ditanami (%)
Bero (%)
Ditanami (%)
1.
2.

3. 4. 5.

Klaten
Magelang
Temanggung
Wonosobo
Banjarnegara

30
2

12 23 21

4,540
5,68
7,960
14,770

1,14 13,64 12,50

7,95 1,14 2,27 1,14 2,27

6,82 1,14 4,55 3,41 9,08

Jumlah
88
18,18
42,05
14,77
25,00
SUGIYARTO dan SOLICHATUN \u2013 Agrisilfikultur Tegakan Paraserianthes falcataria
21
Tabel 2. Frekuensi ditemukan jenis-jenis tanaman yang dibudidayakan di bawah berbagai tingkat umur tegakan sengon.
Umur (tahun)
No
Nama jenis tanaman
<2
2-4
>4
Jumlah
1.

2. 3. 4.

5.

6. 7. 8.

9.
10.
11.

12. 13. 14.

Ubikayu (Manihot esculenta)
Kimpul (Xanthosoma sagittifolia)
Ubijalar (Ipomoea batatas)
Ganyong (Canna edulis)
Jagung (Zea mays)
Kapulaga (Amomum cardomomum)
Lengkuas (Alpinia galanga)
Kacang panjang (Vigna sequipedalis)
Cabe rawit (Capsicum frutescens)
Tembakau (Nicotiana tabaccum)
Kopi (Coffea sp.)
Pisang (Musa sp.)
Salak (Zallaca edulis)
Rumput kalanjana (Panicum muticum)

121222200030
640
18800204231
15
27
117
11000000003
203
31
10
22424234
18

35 15 10

Jumlah
34
98
10
142

Dari Tabel 1 dapat dikemukakan bahwa baik pada lahan kering maupun basah, lebih banyak lahan di bawah tegakan sengon yang dimanfaatkan untuk budidaya tanaman (42,05% dan 25%) dibanding yang diberokan (18,18% dan 14,77%). Dari Tabel 1 juga tampak bahwa pola penanaman tanaman sela di bawah tegakan sengon lebih banyak dilakukan di lahan kering dibanding lahan basah. Akan tetapi sejauh ini belum diketahui faktor yang mendorong penanaman tanaman sela di lahan kering tersebut.

Masyarakat petani di lima kabupaten yang diteliti memiliki kesadaran jauh lebih besar untuk memanfaatkan lahan di bawah tegakan sengon dengan

sistem
agrisilvikultur

(taungnya) dibandingkan dengan masyarakat di sekitar Perum Perhutani unit II Jawa Timur. Seperti dilaporkan Kuswandana (1994), pemanfaatan lahan di bawah tegakan sengon pada lahan perusahaan tersebut untuk budidaya tanaman pertanian hanya sekitar 25%, sedangkan dalam penelitian ini pemanfaatan lahan tersebut mencapai 60%.

Jenis-jenis Tanaman Budidaya

Dari identifikasi jenis-jenis tanaman yang dibudidayakan di bawah tegakan sengon ditemukan sebanyak 14 jenis tanaman seperti disajikan pada tabel 2. Dari hasil pengamatan tersebut tampak bahwa tanaman pisang (Musa sp.) dan ubi kayu (Manihot

esculenta)
merupakan

komoditas tanaman yang paling banyak dibudidayakan oleh petani setempat. Sedangkan jika dilihat dari umur tegakan sengonnya, terlihat perbedaan tingkat keragaman tanaman bawah pada umur tegakan yang berbeda. Keragaman tanaman bawah tertinggi

terjadi pada umur tegakan sengon 2-4 tahun (11 jenis dengan tanaman pisang yang dominan), kemudian disusul pada umur <2 tahun (9 jenis dengan tanaman ubikayu yang dominan) dan pada umur >4 tahun (5 jenis dengan tanaman kopi dan rumput kalanjana yang dominan). Di samping itu terdapat 3 jenis tanaman yang dibudidayakan pada semua tingkat umur tegakan sengon, yaitu: ubikayu, kimpul dan pisang.

Dilihat dari struktur maupun umur tanaman, ke- 14 jenis tanaman di atas juga menunjukkan keragaman. Ubikayu, ubijalar, jagung, tembakau, kacang panjang dan cabe rawit merupakan jenis- jenis tanaman herba berumur pendek (annual). Kimpul, ganyong, kapulaga, lengkuas dan rumput kalanjana serta pisang merupakan kelompok tumbuhan herba berumur sekitar 2 tahun (biannual), sedangkan salak dan kopi merupakan tanaman

berkayu
yang
berumur
panjang
(perennial).
Sistem Pertanaman

Dilihat dari sistem pertanamannya maka terdapat dua sistem atau cara penanaman tanaman sela di bawah tegakan sengon yang dilakukan oleh petani,

yaitu
sistem
penanaman

tunggal/ \u201dmonoculture\u201d (54,54%) dan sistem penanaman campuran/\u201dmultipleculture\u201d (12,51%). Sedangkan yang diberokan sebanyak 32,95%. Dari hasil pengamatan terlihat adanya berbagai jenis komoditas tanaman yang dibudidayakan seperti disajikan pada tabel 3. Pada sistem pertanaman tunggal dapat dilihat adanya 6 kelompok komoditas tanaman yaitu: (1) tanaman pangan (19,31%) yang meliputi: ubikayu, jagung, kimpul, ubijalar dan

of 00

Leave a Comment

You must be to leave a comment.
Submit
Characters: ...
You must be to leave a comment.
Submit
Characters: ...